Abizar masuk ke dalam kamar oma dan menghampiri sang nenek yang ternyata sudah terbangun.
“Oma sudah bangun?” ucap Abizar sembari duduk di kursi di hadapan neneknya.
Oma hanya tersenyum. “Oma sekarang sudah baik-baik saja. Kau tahu, ini semua berkat Jelita. Sungguh beruntung suaminya itu, pria yang mendapatkan wanita setulus Jelita akan sangat bahagia hidupnya. Oma yakin, mertua Jelita itu sangat menyukainya, iya kan?” oma Laura terlihat sangat antusias bercerita tentang Jelita.
“Benar Oma, ia sangat di sayangi oleh nenek mertuanya,” sahut Abizar sambil tersenyum.
“Wah, Jelita juga memiliki nenek mertua? Pasti neneknya itu sangat bahagia. Abizar, lain kali Oma mau Jelita berkunjung ke mari, ya. Bujuk dia supaya mau, kalau perlu telepon suaminya saja,” ucap Oma.
Abizar hanya mengangguk, ia sangat senang melihat neneknya menjadi lebih bersemangat. Neneknya sangat menyukai Jelita sehingga ia berjanji akan membuat Jelita tinggal bersama sang nenek suatu hari nanti.
“Iya, Oma. Jangan khawatir. Jelita pasti mau kalau Oma yang panggil. Oya Oma, ada sesuatu yang ingin Abizar tanyakan,” ucap Abizar memulai pembicaraannya. Melihat neneknya bersemangat, berarti ini adalah kesempatan bagus untuk menanyakan tentang Jovanka.
“Apa itu?” tanya Oma Laura masih dengan wajah cerianya. Ia merasa sangat senang karena Jelita akan datang.
“Ini tentang sesuatu yang mungkin Oma ketahui terkait Jovanka.” Raut wajah Oma langsung berubah. Hanya dengan mendengar nama Jovanka Oma menjadi muram dan pendiam. Padahal baru saja Oma dengan begitu semangatnya bercerita tentang kebaikan Jelita.
“Untuk apa kau menyinggung nama perempuan itu di depan Oma? Oma benar-benar sudah muak dengannya Abizar. Terserah jika kau sangat menyukai istrimu itu, tapi tolong jangan pernah bawa dia ke hadapanku.” Wajah Oma memerah menahan amarah. Bahkan nafas wanita tua itu mulai memburu hanya dengan memikirkan Jovanka.
“O…Oma, tolong tenang dulu. Aku tidak bermaksud mengingatkan Oma. Aku hanya penasaran alasan Oma kenapa sangat membenci Jovanka.”
“Kau ingin tahu tabiat buruk wanita yang kau pikir sangat kau cintai itu? dia telah menyembunyikan kebenaran dan membuat kebohongan besar untukmu. Oma sudah berulang kali mencoba bicara padamu tapi kau tidak pernah mau mendengarkan, Oma. Bahkan sejak awal, Oma sudah memperingatkanmu. Jadi jika kau ingin tahu kebohongan apa yang Oma maksud, cari tahu sendiri. Oma tidak ingin membicarakan perempuan itu lagi,” ucap oma Laura sambil kembali merebahkan tubuhnya .
Abizar terdiam, ia menghela nafas panjang lalu menyelimuti neneknya. Ia menatap sang nenek beberapa saat lalu keluar dari kamar.
Abizar membuka ponsel dan melihat email yang sudah dikirim oleh orang kepercayaannya. Wajahnya tiba-tiba berubah menghitam saat melihat apa yang ada di layar ponselnya.
Beberapa gambar Jovanka dengan pria itu, di tambah seorang anak kecil bersama mereka yang tampaknya sedang bersenang-senang di taman bermain. Pria yang beberapa waktu lalu ia dapati bersama Jovanka di apartemen itu.
Rahang Abizar mengeras menahan kemarahan, saat melihat foto lain, yaitu seorang anak yang kira-kita berumur 5 tahun sedang memeluk Jovanka dengan manja, sedangkan Jovanka menciumnya dengan penuh kasih sayang.
Dan puncaknya saat melihat video yang berdurasi cukup panjang, di mana Jovanka dan anak itu sedang bermain dengan gembira, berlibur berdua. Abizar melihat kalau Jovanka begitu sangat menyayangi anak perempuan itu.
Di detik lainnya, Abizar melihat pria itu bermain dengan anak kecil itu, mereka juga seperti ayah dan anak. Anak itu terlihat sangat menyayangi pria itu.
Beberapa dokumen tentang riwayat hidup Jovanka juga ternyata ada. Belum reda rasa syok Abizar menyangkut hubungan mereka bertiga, ia kini kembali melihat hal yang sangat mengejutkan lainnya.
Kartu tanda penduduk dan akta lahir seseorang yang sangat mirip dengan Jovanka dengan nama yang tertulis jelas di sana adalah Jovina Tamara, bukan Jovanka Andiana, nama istrinya.
Berbagai macam pertanyaan muncul di dalam benar Abizar, hal itu membuat hati dan pikirannya semakin memanas. Kening Abizar tidak berhenti tertaut memikirkan apa yang baru saja dilihatnya.
Ia pun menghubungi seseorang.
“Temui aku di kantor sekarang juga!” perintahnya, lalu menutup sambungan telepon. Ia mengusap wajahnya dengan gusar sambil terus memikirkan semua yang ia lihat. Ia benar-benar sangat berharap apa yang dilihatnya itu hanyalah sebuah kebohongan.
Setelah beberapa lama, seorang pria bertopi hitam dengan pakaian dengan warna senada masuk dan duduk di hadapan Abizar.
“Apakah semua ini benar-benar bisa kau jamin kebenarannya?” tanya Abizar.
“Kau tahu sendiri kan, aku memiliki banyak sekali informan handal yang keridibilitas mereka tidak perlu diragukan lagi. Jangankan hanya mengungkap hal kecil seperti ini, kami bahkan bisa mengungkap sebagian besar kebohongan orang –orang penting di Negara ini.
Oh, ya satu lagi. ini…” pria itu mengeluarkan map berwarna cokelat dan menyerahkannya kepada Abizar.
“Aku baru saja mendapatkan itu dari orang-orang yang aku tugaskan. Di situ sudah tertulis jam dan waktunya, jadi kau bisa lebih yakin,” jelasnya.
Abizar membuka map itu dan lagi-lagi ia terkejut melihat Jovanka dengan pakaian yang tadi pagi pakai saat meminta izin ke butik terlihat sedang berada di sebuah mall bersama anak kecil itu.
“Abizar, mungkin apa yang aku bicarakan ini akan sangat membutamu terpukul, tapi sudah saatnya kau harus mengetahuinya.
“Apa maksudmu?”
“Sebenarnya kecelakaan yang terjadi 6 tahu lalu, adalah peristiwa yang telah merenggut nyawa Jovanka, tunanganmu waktu itu. Mayatnya di sembunyikan lalu di kebumikan oleh saudara kembarnya sendiri, Jovina tanpa diketahui oleh orang-orang.
Kau yang mengalami lupa ingatan saat itu tidak tahu apa-apa. Setelah ingatanmu kembali, Jovanka pun sudah kembali ke hadapanmu. Kau akhirnya menikah dengannya. Ingat Jovanka yang sebenarnya sudah meninggal, sehingga yang kau nikahi tanpa sadar adalah Jovina, saudara kembar Jovanka.”
Tubuh Abizar bergetar, dadanya tiba-tiba terasa sesak dan panas. Nafasnya tersengal, ia merasakan sakit di bagian d**a dan tenggorokannya setelah mendengar ucapan pria bertopi itu. Wajahnya memerah dan matanya panas berair. Ia benar-benar merasa seakan ingin meledak.
“Abizar.. Abizar…!!” pria itu bangkit dari duduknya menghampiri Abizar yang sedang tidak baik-baik saja.
“Abizar, sadarlah, ini minum air dulu. Tenangkan dirimu, aku tahu ini akan terjadi makanya aku tidak pernah berani mengatakannya padamu,” gumannya cemas.
Abizar meneguk air putih itu sampai habis, nafasnya masih memburu. Setelah beberapa lama ia baru bisa mengendalikan reaksi tubuh dan perasaannya. Ia benar-benar sangat syok.
“Apakah, hanya aku saja yang tidak tahu apa-apa?” tanya Abizar, tatapan kosong tidak bersemangat.
“Sayangnya iya, saat itu kau baru pulih dari trauma dan amnesia. Jovina dengan mulut manisnya menyakinkan Oma untuk menggantikan posisi Jovanka dengan berpura-pura menjadi dirinya dan membuatmu bahagia. Oma sangat tidak setuju tapi beliau tidak punya pilihan lain. Jovina mengancam jika Oma buka mulut maka kesehatan dan nyawamu akan menjadi taruhan,” jelas pria itu.
“Jadi bagaimana dengan anak perempuan yang ada di foto itu?”
“Sebelum kejadian itu, Jovina telah melahirkan seorang anak dan menitipkan anak itu kepada sepupunya. Ia meninggalkan bayinya untuk mengurus dirimu sekaligus meyakinkanmu menikah dengannya. Setelah kalian menikah, ia kembali mengunjungi anaknya dan menyembunyikan semua itu darimu. Oma tidak tahu bagian itu, aku yang menyelidiki sendiri.”
“Kau tahu semuanya tapi kau baru berbicara sekarang,” Abizar menatap pria itu dengan tajam.
“Oma tidak ingin kau mengetahuinya karena melihat kau sudah hidup bahagia dengan Jovanka palsu itu. Bukankah Oma sudah mencoba memberitahumu tapi kau tidak pernah mau mendengarkannya. Aku juga sangat tersiksa menyembunyikan kebenaran besar ini darimu, tapi selama ini kalian terlihat sangat harmonis, sehingga aku pikir tidak ada alasan untuk memberitahukan kebenaran itu, dan membuatmu kembali menderita. Sampai kau sendiri yang menghubungiku untuk menyelidiki semau ini. Maafkan aku untuk hal ini,” ucap pria itu.
“Jadi orang yang aku anggap sebagai wanita yang aku cintai ternyata seorang penipu? Aku menghabiskan waktu dan mengobanka mengobanka yang nerhatga hanya untuk pembohong sepertinya? Jovina… kalau benar-benar seorang aktris yang sangat berbakat. Kita akan lihat sampai di mana kau bisa bersandiwara kali ini…” ucap Abizar dengan suara bergetar menahan geram dan sakit hati.
*
*
*
Hai para readersku yang setia, mungkin kalian akan kecewa karena untuk selanjutnya cerita ini akan hiatus sementara waktu sampai koleksi lovenya mencapai target. Saya terpaksa harus melakukan ini karena kebijakan pusat. Jadi, jika kalian memang ingin cerita ini berlanjut, tolong dukung penulis dengan memberikan love untuk cerita ini.
Tapi cerita lain akan tetap berlanjut, jika kalian suka vampir ganteng penghisap darah, silahkan baca, VAMPIRE, I LOVE YOU dan jangan lupa Lovenya juga.
Terima kasih banyak.