“Ceklek..” Jovanka keluar dari kamar mandi dengan senyum mengembang. Abizar membalas senyuman istrinya. Jovanka kemudian berjalan menuju lemari pakaian dan masuk ke ruang ganti.
Ponsel yang masih terhubung dengan cepat Abizar matikan, lalu menghapus riwayat panggilannya. Setelah itu ia meletakkan kembali ponsel Jovanka di atas meja. Lama Abizar terdiam memikirkan siapa yang baru saja memanggil Jovanka dengan sebutan mama? apakah istrinya ini memiliki anak angkat tanpa sepengetahuannya? Tapi kenapa lagi-lagi ia tidak tahu? Kenapa Jovanka menyembunyikan hal sebesar ini darinya?
Abizar melihat Jovanka sudah kembali rapi. Pikirannya langsung mengarah kepada anak itu, kemana lagi kalau bukan ke apartemen itu.
“Mau ke mana lagi, sayang?” ucapnya basa-basi.
“Aku harus kembali ke butik dulu, ada pesanan yang harus segera di selesaikan. Mungkin aku pulangnya malam lagi jadi kalau aku kelamaan langsung tidur saja, ya?” ucap Jovanka seperti biasa.
Abizar mengangguk dan tersenyum, Ia pun beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Abizar terus memikirkan anak itu. Kenapa sekarang ia seakan baru menyadari siapa istrinya yang sebenarnya? Selama ini, ia sama sekali tidak pernah berpikir jika Jovanka akan menyembunyikan apa pun darinya. Akan tetapi ia seakan sudah mulai mengetahui sedikit demi sedikit rahasia yang di sembunyikan oleh Jovanka.
Abizar keluar dari kamar mandi dan tidak mendapati Jovanka lagi. Ia pun berpakaian dan mengambil ponselnya.
“Halo, kau ada tugas penting. Aku sudah mengirim email. Segera hapus setelah kau mengetahui tugasmu,” perintah Abizar lewat panggilan telepon.
Abizar menghela nafas panjang dan meninggalkan kamarnya .
Abizar memasuki rumah sakit dengan keranjang buah dan seikat bunga mawar merah di tangannya. Setiap kali mengingat wajah Jelita, kegundahan hatinya seketika hilang. Apalagi dengan adanya kejanggalan yang dirasakan oleh sikap Jovanka Akhir-akhir ini. Beberapa rahasia yang Jovanka sembunyikan sedikit sedikit terkuak dan bodohnya ia baru menyadarinya sekarang.
Ucapan Omanya seketika terngiang, jika suatu saat ia akan menyesali sikapnya karena terlalu percaya kepada Jovanka dan mungkin sekarang ia mulai merasakannya. Ia harus menemui sang nenek dan menanyakan penyebab Omanya itu tidak menyukai Jovanka. Di samping itu, rasa senang yang ia rasakan akan bertemu dengan jelita membuatnya semakin bersemangat menuju raungan neneknya. Ia menggenggam erat bunga di tangannya itu sambil terus berjalan.
Sesampainya di depan pintu ruangan perawatan, Abizar menghela nafas dan mengetuk sebelum membukanya. Begitu pintu terbuka, ia melihat pemandangan yang sangat menyentuh hatinya.
Jelita yang duduk di depan brankar oma tertidur dengan kepala yang sudah berada di sisi tempat tidur. Tangan Jelita memegang erat tangan tua milik oma Laura yang juga sedang tertidur lelap. Abizar mendekati mereka, menatap keduanya bergantian sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Jelita dan menatapnya lama.
Abizar menatap wajah polos nan cantik istrinya itu, bibir yang kecil dengan hidung yang sedikit kecil dan mancung. Mata yang terpejam dengan bulu mata yang lentik. Ia seperti bidadari cantik saat tertidur. Dengan menatapnya saja hatinya sudah tenang. Ia pun tanpa sadar mengelus wajah Jelita membuat sang pemilik wajah itu terbangun.
Jelita tersentak saat melihat wajah Abizar terlalu dekat dengannya. Ia tanpa sadar menggeser tubuhnya menyebabkan kursi yang ia duduki hilang keseimbangan, sehingga tubuhnya oleng. Dengan cepat Abizar menggapai tubuh Jelita agar tidak terjatuh. Keduanya pun saling menatap dengan dalam. Abizar memandangi wajah istrinya dengan tatapan penuh damba dan cinta sedangkan Jelita seakan larut dalam pesona sang suami yang selalu membuat hatinya meleleh.
“Aku sangat tidak keberatan jika kita melakukan ini semalaman. Andai sekarang ini di dalam kamarku, aku pasti sudah membaringkanmu di atas ranjangku, jadi sebaiknya perhatikan gerakanmu,” ucap Abizar dengan nakal. Membuat wajah Jelita bersemu merah dan segera melepaskan tubuhnya dari dekapan Abizar.
“Se…sejak kapan Bapak ada di sini?” tanya Jelita sambil menggeser tubuhnya menjauh dari Abizar.
“Baru saja,” ucap Abizar sambil duduk di kursi dan membelai lembut rambut neneknya.
“Bagaimana keadaan Oma?” imbuhnya lagi.
“Kata dokter kondisi Oma meningkat drastis sejak tadi padi sampai sekarang. Beliau baru saja tertidur saat kami bermain,” ucap Jelita.
“Kau juga pasti sangat capek, istirahatlah di sofa sana. Biar aku yang menjaga Oma,” ucap Abizar sambil menatap omanya dengan tatapan sedih.
Jelita bisa langsung merasakan kesedihan yang tergambar di wajah tampan suaminya itu. Entah apa gerangan yang membuatnya seperti seseorang yang sangat butuh perhatian. Ia memang berencana ingin menjauhi Abizar , namun, melihatnya seperti ini, jiwa empatinya seketika tidak bisa terkontrol.
“Bapak sedang ada masalah di kantor?”
Abizar membalikkan tubuhnya dan menatap Jelita. Wajah yang cemas yang istrinya ia perlihatkan membuatnya semakin tersentuh. Begitu besar pengaruh dari satu kalimat itu. Seakan seluruh kepenatan pikirannya hilang seketika.
“Jelita, bisakah aku meminjam tubuhmu untuk aku peluk sebentar saja?” ucapnya menatap penuh harap.
Jelita terlihat berpikir sejenak, sebelum mengangguk pelan. Entah kenapa jantungnya mulai tidak tenang.
“Kalau begitu, mendekatlah,” ucap Abizar sambil merentangkan kedua tangannya.
Begitu Jelita mendekat Abizar dengan perlahan memeluk Jelita dengan lembut.
“Permisi,” ucapnya lirih.
Lama mereka terdiam, mereka hanya saling memeluk tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Seakan semuanya melebur menjadi satu dan hanya kehangatan yang terasa.
“Bapak…” tidak ada jawaban.
“Pak Abizar?” Jelita mengulang panggilannya tapi masih tidak ada jawaban.
Posisinya yang masih sedang memeluk Abizar menyulitkannya untuk bergerak. Apalagi sekarang ia berada di atara kedua kaki suaminya. Setelah lama berusaha, akhirnya ia berhasil melepas pelukannya dan melihat suaminya sedang tertidur.
Jelita kemudian membenarkan posisi Abizar, menyangga kepalanya dengan bantal sofa agar lebih nyaman. Abizar tertidur dengan pulas.
“Ia pasti sangat capek,” gumannya sambil merapikan ruangan.
Ia melihat seikat bunga mawar merah, ia mencium bunga mawar itu sambil tersenyum dan menatap Abizar.
“Seandainya kita bisa bersatu di kehidupan ini, pasti aku akan menjadi wanita yang paling bahagia. Tapi aku sudah merasa bersyukur karena telah membuatmu mencintaiku. Meskipun itu sangat berat karena pada akhirnya kita kan berpisah, tapi semua kenangan cinta kita akan aku simpan di dalam ingatanku untuk seumur hidup. Aku sangat berharap kau tetap mendapatkan kabahagiaanmu bersama bu Jovanka, Pak.” guman Jelita.
Beberapa hari setelahnya, oma dinyatakan sembuh dan bisa pulang. Selama dirawat, Jelita selalu ada menemani oma Laura dan Abizar datang untuk menjenguknya sekali-sekali. Sedangkan Jovanka, ia tidak pernah muncul lagi setelah waktu itu.
Jelita sudah kembali ke apartemen di antar oleh sopir pribadi oma, sedangkan oma sendiri pulang bersama Abizar. Sebenarnya Abizar ingin menanyakan perihal yang oma ketahui tentang Jovanka, tapi ia khawatir itu akan mempengaruhi kondisi kesehatannya. Sehingga ia menunggu waktu lagi untuk berbicara dengan sang nenek.
Setelah mengantar oma masuk ke kamarnya dan memastikan semua keperluan sang nenek lengkap, Abizar keluar dari kamar oma untuk memberi neneknya waktu istirahat.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
“Halo? Baiklah. Aku akan mengeceknya sekarang juga.”