“Sudahlah Jovanka, kita tidak perlu membahas ini lebih lama. Sebaiknya kau pulang dan beristirahat, bukankah kepalamu tadi sakit waktu menjenguk oma? Aku pikir kau masih di rumah saat aku kembali, tapi ternyata kau tidak ada di kamar dan melihatmu di apartemen itu,” ucap Abizar.
“Jawab dulu pertanyaanku, Mas. Apakah kau mencintai wanita lain? Dan juga, kau sudah mengikutiku , apa ada seseorang yang telah berbicara yang tidak -tidak padamu?” Jovanka semakin tidak sabar.
“Kau tidak usah mencurigai orang lain, seandainya aku tidak mengikutiku sampai ke mari aku tidak akan pernah tahu rahasiamu,” ucap Abizar.
“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya…! Pria itu saja yang mengejarku, aku tidak tahu apa-apa” Jovanka menegaskan.
Abizar tidak menjawab, ia menyalakan mesin mobil dan melaju. Jovanka kesal, ia merasa sudah tidak dihargai lagi, hatinya terluka. Tiba-tiba emosinya mencuat. Wajah Jelita yang tersenyum lembut terbayang. Ia menoleh ke arah suaminya yang sedang fokus menyetir.
“Mas, selama ini aku berpikir kau hanya mencintaiku. Aku bahkan sangat yakin akan cintamu, akan tetapi setelah melihat perubahanmu sekarang hanya karena melihat sesuatu hal yang belum tentu seperti yang kau pikirkan, kau sudah tega mengatakan jika hatimu tidak kan seperti dulu lagi. Apakah kau sudah mencintai perempuan rendahan itu?” ucap Jovanka dengan mata yang berkaca-kaca.
“Dia hanya perempuan hina yang membutuhkan uang untuk pengobatan ayahnya. Ia sudah menjual harga dirinya dan tubuhnya hanya demi uang, aku tidak menyangka kau bisa tergoda perempuan rendahan sepertinya. Dasar perempuan sialan, perempuan rendah…!”
“Cukup Jovanka…! Kau tidak pantas berbicara seperti itu pada Jelita. Apa kan sudah lupa siapa yang memaksanya untuk menikah? ia bahkan memohon padamu tapi dengan egoisnya kau malah menggunakan ketidakberdayaannya untuk tetap melakukan kemauanmu. Jadi kau jangan sekali-sekali menyalahkannya,” sanggah Abizar membela Jelita.
“Kau membelanya hanya karena aku mengatakan hal itu? kau bahkan kesal padaku? apakah kau benar sudah mencintai Jelita, Mas?! Jawab aku…?!” tuntut Jovanka penuh emosi. Ia bahkan memegang lengan suaminya membuat fokus Abizar pecah dan mobil berjalan oleng.
“Jovanka hentikan, apa kau ingin membunuh kita?!” Abizar terpaksa menepikan mobilnya dan berhenti. Mengatur nafasnya yang mm memburu dan meredakan emosinya. Sedangkan Jovanka sudah menangis tersedu-sedu.
“Jika kau menggangguku menyetir lagi, aku akan menurunkanmu di tengah jalan, kau mengerti?”ucap Abizar. Ia pun menyalakan kembali mobilnya dan mulai melaju.
Air mata Jovanka tidak berhenti mengalir, hatinya terluka dan terasa sakit sekali. Suaminya yang selama ini tidak pernah bersikap kasar padanya hari ini memperlakukannya dengan sangat dingin. Abizar bahkan sampai membentaknya. Dan ini semua gara-gara perempuan itu. Ini tidak boleh di biarkan, Jelita harus secepatnya ia singkirkan.
Mobil terus melaju, keduanya saling terdiam. Suasana hati mereka sangat buruk. Tidak ada yang ingin memulai pembicaraan. Abizar kesal karena tidak menyangka akan menghina Jelita padahal dulu ia sendiri yang memohon dan meminta Jelita untuk menikah dan melahirkan anak. Ia tidak menyangka, istri yang selama ini ia kenal sopan dan lembut bisa mengeluarkan kata-kata kasar seperti itu. Sedangkan Jovanka, hatinya benar-benar kecewa, karena suaminya mulai membela perempuan yang hanya menjadi istri sementara suaminya itu.
“Aku tidak ingin pulang ke rumah, turunkan aku di sini saja,” ucap Jovanka menahan kesedihan hatinya. Ia ingin memeluk Katrina, hanya putrinya itu yang bisa membuat hatinya lebih tenang.
Tanpa bertanya apa-apa, Abizar menepikan mobilnya dan berhenti. Jovanka keluar membuka pintu tapi tangan Abizar menahannya.
“Kau mau kemana?” tanya Abizar.
“Terserah aku mau kemana, kau juga sudah tidak peduli. Kau sekarang lebih membela perempuan itu dibandingkan aku,” ucap Jovanka dengan ketus.
Abizar menghela nafas dalam, ia tidak boleh larut dalam emosinya dan membiarkan istrinya seperti itu. Ia harus lebih mengalah lagi.
“Biar aku antar.”
“Tidak perlu! Aku bisa naik taksi, kau tidak perlu perhatian kepadaku, Mas. Kau sudah melukai perasaanku, kau belum mengetahui cerita sebenarnya dan sudah meyakini jika apa yang kau sebagai kebenaran. Kau sudah berubah!” ucap Jovanka dengan air mata yang mengalir.
Ia pun membuka pintu dan keluar dari mobil, Abizar memukuli setir mobil dengan frustrasi, ia pun keluar menyusul Jovanka yang sudah berjalan menjauh.
“Jovanka…!” panggilnya sambil berlari mengejar sang istri.
“Jovanka tunggu dulu!” Abizar meraih tangan Jovanka dan memeluknya.
“Maafkan aku, oke? Aku hanya terkejut kau bisa berkata-kata seperti itu kepada perempuan yang sudah membantu kita. Sekarang dia mengandung anak yang selama ini kau inginkan, apa kau lupa? Jika kau sekarang tidak menyukainya paling tidak jangan menghinanya.”
Jovanka menatap tajam suaminya, hatinya semakin sakit karena Abizar sampai sekarang pun masih membela wanita itu.
“Mas, jika kau hanya ingin membicarakan kebaikan perempuan itu terus maka tinggalkan aku sendiri, aku sungguh tidak menyukai dirinya karena dia telah melanggar janji dan mulai mencintaimu. Dia itu hanya perempuan yang akan melahirkan anak kita lalu pergi. Aku tidak akan bisa terima jika dia berhasil merebut hatimu. Aku benar-benar tidak akan bisa terima!”
Abizar terdiam untuk beberapa saat, ia lalu menatap istrinya dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
“Aku mencintaimu, dan akan selamanya seperti itu. Kau tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun. Kau paham?” Jovanka akhirnya tenang, ia membalas pelukan Abizar.
“Aku juga sangat mencintaimu,Mas. Aku akan melakukan apa pun agar kau tetap di sisiku. Setelah anak kita lahir, aku mohon kau harus menceraikan perempuan itu. Aku tidak akan bisa tenang jika, dia masih berada diantara keluarga kecil kita. Kau mau berjanji, kan?”
“Iya..!” jawab Abizar.
Mereka pun kembali ke dalam mobil dan melaju.
Mobil berhenti di pekarangan milik rumah besar mereka. Keduanya masuk sambil menautkan masing-masing tangan dengan sangat mesra. Entah kenapa, Abizar tidak tega melihat air mata Jovanka mengalir sekesal apa pun dirinya.
Namun di sisi lain dalam hatinya, ia merasa telah membohongi Jelita. Ia juga sangat menginginkan Jelita, akan tetapi ia harus menenangkan Jovanka terlebih dahulu. Ia harus menjauhkan keduanya gara tidak saling bersinggungan. Ia akan memiliki keduanya tanpa ada satupun tersakiti.
Sesampainya di kamar, Jovanka memeluk Abizar sembari menciumnya. Ia pun langsung mencopot seluruh pakaiannya dan menggoda suaminya untuk bercinta.
Akhirnya mereka pun melawati saat panas yang menggairahkan sampai tubuh mereka ambruk dengan peluh yang membasahi tubuh.
Jovanka masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sedangkan Abizar masih berbaring dengan tubuh telanjangnya.
Ponsel Jovanka berdering, awalnya ia mengabaikan panggilan itu, tapi ponselnya terus berdering. Abizar bangkit dan melihat my princess tertulis di layar ponselnya.
Abizar langsung mengangkat panggilan itu.
“Mama…Mama..? kok mama belum pulang juga. Tapi katanya mau keluar sebentar saja. Tapi kok sampai sekarang mama tidak pulang-pulang…”