Ketegasan

1378 Kata
Saat menyaksikan itu semua, Abizar hanya membeku di tempatnya. Ia berusaha menetralkan hatinya yang panas untuk tetap tenang. Ia melihat istrinya menatap tajam ke arah pria itu, membuktikan jika Jovanka tidak menyukai pria b******k itu. Bisa jadi hanya pria itu saja yang mengejar-ngejar istrinya. Akan tetapi, jika mengingat Jovanka tidak pernah mengatakan apapun tentang yang sudah ia saksikan sekarang, hatinya kembali memanas. Ia seakan berada di sebuah arena permainan menegangkan yang di setiap adegannya, ada hal yang mengejutkan terjadi. Pertama tentang apartemen, kedua tentang pria itu, dan untuk selanjutnya entah hal apa lagi yang siap mengejutkannya setelah ini. Pikiran Abizar berputar bagai pusaran besar yang siap menyedot dan tenggelam kedalamnya. Jovanka kali ini telah membuatnya sangat terkejut. Tapi, ia tetap harus tenang. Meskipun apa yang ia lihat sudah mulai mempengaruhi hati dan pikirannya, ia tetap meyakini jika Jovanka tidak mungkin mengecewakan dirinya. Pada saat melihat pria itu sudah melewati batasan, Abizar melangkah ke arah mereka. “Lepaskan tangan istriku…!” ucapnya dengan nada dingin. Jovanka bagai mendengar suara petir yang menggelegar dan menyambar tubuhnya hingga hangus, ia sangat mengenal suara itu. Ia menoleh ke arah sumber suara dan ia hampir saja terhuyung saking syoknya melihat sang suami berdiri di hadapannya. David langsung melepas cekalan tangannya dan mundur beberapa langkah. “Maaf, aku hanya ber…” “Kau diamlah, aku hanya ingin mendengar suara istriku saja dan sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku menghajarmu…!” ucap Abizar penuh ketegasan dan emosi yang tertahan. David mengangguk lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Abizar mengalihkan pandangannya ke arah Jovanka, wajah Jovanka pucat pasi. Mulutnya seakan terkunci, ia ingin mengatakan sesuatu tapi suaranya seakan tercekat di tenggorokan. “Aku hanya ingin mengetahui alasan kau menyembunyikan semua ini dariku,” ucap Abizar masih dengan suara lembutnya. “M..mas, akan aku jelaskan semuanya. Mari kita cari tempat lain untuk bicara,” ucap Jovanka sambil menarik tangan suaminya meninggalkan tempat itu. Tapi Abizar tidak bergeming. “Aku ingin mendengarkanmu di sini saja, tidak maukah kau mengajakku masuk?” ucap Abizar dengan tenang, hal itu membuat Jovanka semakin kalang kabut. “Ah.. i..itu mas, anu.. itu…masalahnya tempat ini adalah apartemen milik sahabatku, ia bersama anaknya sedang tidur siang, aku takut akau kita nanti akan mengganggunya,” ucap jovanka beralasan. “Oh, begitu. Baiklah, kita mencari tempat yang lain,” ucap Abizar lalu melangkah terlebih dahulu. Wajahnya terlihat sangat tegang menahan emosi. Di dalam mobil, mereka hanya terdiam. Baik Abizar maupun Jovanka sama-sama membisu. Mulut mereka bagai terkunci rapat. Tidak ada satupun yang ingin memulai percakapan, seakan takut jika satu kata saja yang keluar dari mulut mereka akan membuat susana hati mereka semakin kacau. Apalagi Jovanka, ia sedang berusaha mengumpulkan alibi yang memungkinkan suaminya itu percaya padanya. Ia tidak menyangka akan rahasianya akan terbongkar secepat ini. Ia memang akan mengatakan semuanya, tapi ia masih menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan semua itu. Sampai mobil berbelok ke dalam sebuah restoran dan memarkirkan di sana. Abizar keluar dari mobil, dan langsung masuk ke dalam memilih tempat yang menurutnya cukup nyaman. Jovanka sangat merasakan perubahan sikap suaminya itu dan ia memakluminya. Jika dulu Abizar selalu membuka pintu mobil untuknya, sekarang sikap cuek dan diam Abizar menandakan jika suaminya itu memendam emosinya. ia harus sangat hati-hati. “Mas mau makan apa? biar aku yang mesan, ya?” ucap Jovanka berusaha mencairkan suasana. “Tidak perlu, aku sudah memesankan makanan untuk kita berdua.” Abizar menatap serius ke arah Jovanka. “Oh, baiklah. Berarti kita tinggal menunggu,” ucap Jovanka kaku. Sumpah demi apa pun, ia barus pertama kali merasakan canggung di hadapan suaminya sendiri. Melihat Abizar sedingin es, Abizar yang ada di hadapannya sekarang bukan orang yang sama. “Jovanka, aku sedang menunggu penjelasanmu,” ucap Abizar saat Jovanka hanya tertunduk. Jovanka menarik nafas dalam, lalu memberanikan dirinya untuk menatap ke arah Abizar. “Mas, aku minta maaf jika selama ini aku menutup-nutipi apa yang terjadi padaku. Pria yang kau lihat tadi itu adalah David, salah satu saingan bisnis kita. Aku tidak mengerti kenapa dia sampai bersikap tidak beretika begini, kau tahu, dia.. dia juga menyukaiku. Tapi, aku tentu saja menolak dan mengatakan kalau aku sudah memiliki suami yang sangat aku cintai. Tapi kau lihat sendiri kan, bagaimana pria itu dengan kurang ajarnya memaksaku. Aku sungguh-sungguh meminta maaf, sayang.” Air mata Jovanka luruh. Tangan Abizar bergerak mengusap kepala istrinya untuk menenangkan. Meskipun setelah mendengar alasan Jovanka yang memang terdengar logis hatinya masih terasa panas membara. “Seharusnya kau menceritakan semuanya kepadaku, tentang lelaki itu,” ucap sang suami. “Aku… aku hanya tidak ingin kau kepikiran. Bukankah pekerjaanmu di kantor menumpuk? Jika aku menceritakan hal itu padamu, kau tidak akan bisa fokus dan pekerjaanmu bisa berantakan,” ucap Jovanka. “Jadi rencanamu, mau sampai kapan kau menyembunyikan ini dariku jika aku tidak mengetahuinya sendiri?” tanya Abizar. “Aku..aku berencana akan menyelesaikan sendiri tanpa kau ketahui.” “Kapan pria itu mulai mengganggumu?” kembali Abizar bertanya. Entah kenapa, setiap jawaban yang di ucapkan istrinya menimbulkan goresan di hatinya. Tapi Abizar berusaha untuk tetap tenang. Ia benar-benar tidak menyangka istri yang selama ini ia sayangi sepenuh hati, menyembunyikan hal besar darinya. Jovanka terdiam, ia terlihat memikirkan sesuatu. “Sejak pesta temanku di kapal pesiar,” kali ini Jovanka tidak berbohong. Ia menatap suaranya dengan perasaan was-was, memikirkan reaksi Abizar. Jovanka sangat yakin Abizar akan memaafkannya karena suaminya tidak akan bisa hidup tanpanya. Abizar menghela nafas panjang, ia menatap Jovanka dengan tatapan dalam. “Jovanka, kau tahu kan, selama ini kita hidup berdua, membagi kesedihan dan kebahagiaan bersama. Seperti aku yang tidak pernah menyembunyikan masalah apa pun darimu, kau seharusnya melakukan hal yang sama padaku. Kita adalah pasangan yang saling melengkapi satu sama lain, saling membantu, saling mempercayai dan saling membutuhkan. Sebelum melihat semua ini, hatiku sama sekali tidak meragukanmu, aku selalu memprioritaskanmu di atas segalanya, karena aku menganggap jika kaulah hidupku. Akan tetapi, sikapmu ini seakan membuktikan jika aku tidak pantas merasakan semua itu. Kau dengan kepercayaan dirimu sendiri menganggap bisa melakukan apa pun sesuai keinginanmu, tidak pernah mempercayaiku untuk bisa membatumu, kau hanya ingin aku tersu menuruti semua kemauanmu tanpa memikirkan bagiamana perasaanku. Kau pikir jika kau bisa menyelesaikan semuanya tanpa bantuanku, untuk itu kau sengaja menyembunyikan apa pun dariku. Aku jadi takut, akan ada kejutan apa lagi yang kau ingin perlihatkan padaku setelah ini. baiklah, kali ini juga kau akan membiarkanmu menangani permasalahanmu sendiri, tapi jika ada sesuatu yang terjadi padamu karena pria itu, aku akan mengambil sikap. Jadi pikirkanlah baik-baik. Oh ya, maaf, aku tidak ingin makan apa pun lagi. Jika kau ingin makan, aku akan tunggu di mobil,” ucap Abizar lalu melangkah pergi meninggalkan Jovanka. Makanan mereka datang, pelayan itu kebingungan karena salah satu pelanggannya pergi padahal makanan sudah di sajikan. “Silakan menikmati makanannya Nona,” ucap sang pelayan. Jovanka masih terdiam, air matanya mengalir. Ia membenci dirinya sendiri dan David. Pria itu benar-benar telah menghancurkan rumah tangganya. Ia harus melakukan sesuatu untuk menyingkirkan pria b******k itu. Ia mengeluarkan uang merah ratusan sebanyak 5 lembar dan menyimpannya di atas meja makan lalu memanggil pelayan tadi. “Ambil saja kembaliannya,” ucapnya lalu bergegas meninggalkan tempat itu. “Ta..tapi makanannya?” “Ambil saja..” Ia melangkah mengejar Abizar yang sudah masuk ke mobil. “Mas, aku mohon maafkan aku. aku yang bersalah, aku membuatmu kecewa, aku benar-benar minta maaf,” Jovanka memohon sambil memegang tangan Abizar. “Jovanka, kau sendirilah yang tidak membutuhkanku. Kau tidak salah, jangan meminta maaf seperti itu. Lakukan apa yang kau inginkan seperti biasa, selama kau bisa menanganinya, tidak perlu melibatkanku seperti biasa. Aku tahu sejak dulu kau memang sudah seperti itu, dan sekarang, bahkan sesuatu yang seharusnya menjadi masalahku juga, sama sekali kau tidak melibatkanku. Kau telah membuat lubang besar di dalam kepercayaanku selama ini, dan telah membuat hatiku semakin yakin terhadap sesuatu. Tapi, tidak apa-apa, semuanya tergantung padamu saja. Lupakan. Sekarang kau mau kembali ke apartemen itu atau ke butik?” ucap Abizar. “Mas, aku mohon, jangan bicara seperti itu, aku janji pria itu tidaka kan pernah menggangguku lagi, percayalah.” Jovanka masih meyakinkan suaminya. “Iya, sebelum apa yang aku saksikan tadi, aku masih mempercayaimu. Tapi sekarang, aku tidak bisa menjamin hatiku lagi untung terus bergantung padamu.” “Apa maksudmu mas? Apa kau berencana mencintai wanita lain?” Jovanka menatap nanar ke arah Abizar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN