Abizar berhenti di depan bangunan tinggi tempat di mana Jovanka berada saat itu, sebenarnya ia tidak yakin istrinya ada di apartemen itu lagi, tapi hatinya mendorongnya untuk datang ke tempat itu setidaknya jikapun Jovanka tidak ada di sana, ia sudah melihat kebenarannya sendiri.
Abizar menghela nafas dalam, memantapkan hatinya dan melangkah masuk ke dalam. Ia sangat berharap istrinya tidak datang di tempat itu lagi melainkan bekerja di butik.
Sementara itu, Jovanka sedang tiduran di sofa dan Katrina ada dalam pelukannya. Sedangkan Sindy menyiapkan makan malam di dapur.
“Ma…” panggil Katrina.
“Iya sayang..” ucap Jovanka.
“Kenapa Mama gak tinggal di sini aja bersama Katrina dan tante Sindy. Kenapa harus bolak-balik seperti ini, Mama kan capek,” ucap Katrina dengan wajah cemberut lucu.
Jovanka menatap wajah menggemaskan putrinya itu dan membelai rambutnya.
“Saat ini, Mama sedang pikirkan bagiamana caranya kita tinggal bersama dengan suami Mama. Jika Mama berhasil membujuk suami Mama, Katrina bakal punya papa dan kita akan hidup bahagia bersama. Jadi katrin yang sabar, ya sayang,” ucap Jovanka.
“Tapi Katrina tidak ingin papa selain om David!” Jovanka tersentak saat mendengar ucapan sang putri.
“Sayang, om David itu bukan siapa-siapa kita. Dia hanya orang asing yang mencoba berteman denganmu. Dan Mama tidak suka kalau kau terlalu dekat dengannya, kau mengerti?” ucap Jovanka.
Mendengarkan ucapan ibunya, raut wajah cerianya berubah suram.
“Kenapa,Ma? kenapa Mama melarangku dekat dengan om david. Om David sangat baik pada Katrina. Om David selalu ada buat Katrina. Pokoknya Katrina tidak mau papa lain selain om David!” Katrina beranjak dari tempatnya dan berlari masuk ke kamarnya.
“Katrina, segarkan Mama…!” Jovanka beranjak dan mengejar sang putri yang sudah mengurung diri dalam kamar.
“Katrina sayang, bukan pintunya dong, Mama kan belum selesai ngomong, Nak.” ucap Jovanka membujuk sang putri.
“Katrina…” panggil Jovanka lagi. Tapi tidak ada jawaban.
“Katrina, kok kamu bersikap begini sih ke Mama? atau kamu mau Mama pulang saja sekarang? Kamu tidak suka Mama ada di sini?” pancing Jovanka.
Pintu terbuka, Jovanka masuk dan melihat putrinya sedang duduk di ambang jendela memunggunginya.
“Sayang, dengarkan Mama. Kamu tidak bisa menginginkan kan om David menjadi papamu karena Om David bukan siapa-siapanya kita. Papamu itu adalah papa Abizar karena dialah yang menjadi suami Mama sekarang. Katrina mengerti, kan sayang?” ucap Jovanka mencoba menjelaskan.
“Tapi Katrina ingin papa Katrina itu om David, Ma. Soalnya om Davi sangat menyayangi Katrina dan Katrina juga sayang sama om David. Kalau suami Mama kan belum tentu mau menyayangi Katrina seperti sayangnya om David ke Katrina.”
Jovanka terdiam mendengar ucapan putrinya ini. Ia tidak menyangka putrinya yang berumur tahun ini bisa mengatakan hal dewasa seperti itu. Apa yang putrinya ucapkan itu memang benar. Bahkan ia sendiri tidak yakin Abizar akan menyayangi putrinya seperti David menyayangi Katrina.
“Mama akan bicara dengan papa Abizar, sayang. Tapi Katrina harus janji dulu. Jika Mama berhasil membujuk papa Abizar untuk tinggal bersamamu, Katrina akan mencoba melupakan om David dan berteman dengan papa Abizar, bagaimana?” ucap Jovanka mencoba membuat kesepakatan dengan putrinya.
Katrina terdiam, sepertinya anak itu berpikir sebelum menatap Jovanka.
“Papa Abizar boleh menjadi papa Katrina, tapi dengan syarat, Mama tidak boleh melarangku berteman dengan om David.” Tidak disangka, Katrina malam mengajukan balik syarat untuknya.
Jovanka hanya bisa menghela nafas. Ia baru saja akan menjawab, tiba-tiba terdengar bel berbunyi.
“Ah, sebentar sayang. Mungkin paket untuk tate Sindy yang datang,”ucap Jovanka. Ia bergegas menuju pintu.
Jovanka mengintip sebelum membukanya tapi matanya tiba-tiba terbelalak saat melihat pria yang sedang tersenyum lebar ke arahnya.
“Kenapa pria itu malah datang kemari, sih?” gerutunya emosi.
Sindy muncul dari dalam.
“Sindy…sini dulu..! panggil Jovanka dengan wajah tegang.
“Ada apa? kenapa kau berdiri di depan pintu begitu? ada yang datang?”
“Udah ke sini dulu jangan banyak nanya!”
Sindy berjalan menghampiri Jovanka.
“Lihat, siapa yang datang,” ucap Jovanka.
“Loh, kenapa David ada di sini?” tanya Sindy kaget.
“Ya mana aku tahu! Tugasmu adalah, buat dia segera pergi dari sini secepat mungkin. Jangan sampai Katrina melihatnya. Aku akan menahan Katrina di dalam,” ucap Jovanka lalu melangkahkan kaki menuju kamar tapi dengan cepat Sindy mencegahnya.
“Eh..eh.. tunggu dulu, bukannya kamu yang lebih bisa mengusir pria itu di banding aku? kalau aku yang menahannya, bisa –bisa dia langsung masuk saja, dia kan biasa begitu kalau kau tidak ada. Jadi lebih baik, kau yang menghadapinya, oke nyonya? Jadi izinkan aku untuk ke dalam dan mengurus putrimu. Permisi…” ucap Sindy sambil meledek.
“Uh dasar kau ya…” umpat Jovanka kesal. Ia tidak suka David berada di sini. Masalah dengan putrinya saja belum selesai, ia malah datang menambah masalah baru. Awas saja kalau pria itu berani menggunakan ancamannya lagi untuk memaksaku mengikuti kemauannya.
Jovanka menarik nafas lalu membuka pintu dengan wajah masam. Melihat Jovanka ada di hadapannya. Tentu saja David senang bukan main.
“Kau datang juga? wah, ternyata kita berjodoh ya.” David merentangkan tangannya ingin memeluk Jovanka tapi Jovanka hanya menatapnya dengan tatapan sangat tajam.
“David, tolong jaga batasanmu! Ini adalah rumahku dan kau harus memiliki etika bagaimana bertamu dengan baik di rumah orang lain. Katakan padaku, untuk apa kau datang kemari?” ucap Jelita ketus.
“Jovanka, kau yang mengatakan aku harus memiliki etika bertamu, tapi kau sendiri, tidak memiliki kesopanan menyambut seorang tamu,” ucap David menyindir.
“Aku akan menyambut tamuku dengan baik, tapi kan kau bukan tamu. Kau adalah pengganggu, aku minta kau tinggalkan tempat ini dan jangan pernah mengganggu keluargaku,” usir Jovanka sambil merapatkan pintu. Tapi tangan David mencegahnya.
“Rupanya kau sudah lupa dengan perjanjian kita, apa kau mau aku ingatkan kembali?” David mulai menggunakan ancaman.
Wajah Jovanka berubah menahan amarah. Ia sangat geram melihat tingkah pengecut David yang hanya mengandalkan ancaman.
“Aku tidak pernah lupa dengan semua kesempatan, oh bukan kesepakatan tapi murni ancaman yang selalu kau gunakan untuk memaksaku melakukan semua keinginanmu. Dasar pria pengecut!” umpat Jovanka penuh emosi.
David hanya tersenyum, ia mendekatkan mulutnya ke telinga Jovanka lalu berbisik, “Bagaimana kalau kita mengulangi malam panas kita saat itu dan kali ini kita lakukan dengan benar?”
Jovanka semakin geram mendengar ucapan David yang terdengar sedang melecehkannya itu. dasar pria b******n.
“Cukup David! Jika akan melaporkanmu atas tindakan pelecehan dan ancaman jika kau terus menggangguku dan keluargaku!” Jovanka sudah tidak tahan lagi, ia harus segera menyingkirkan pria ini sebelum kebohongannya terbongkar.
“Sayangnya aku tidak takut, aku bahkan semakin ingin menggodanya. Kau tidak pernah berubah dan aku akan terus mengikutimu ke mana pun kau berada,”
Jovanka benar-benar tidak bisa menahan emosi lagi, dia mengangkat tangannya hendak menampar wajah suaminya, tetapi, David langsung menangkap tangan itu dan menciumnya dengan lembut.
“Tanganmu ini sangat lembut, kelembutan ini sama sekali tidak pantas melakukan kekerasan,” ucap David.
Jovanka ingin melepas tangannya dari cekalan tangan David, tapi pria itu malah menangkap kedua tangan itu dan memakukannya di atas kepala Jovanka. Tubuh Jovanka sampai bersandar di dinding. dan semua itu di saksikan oleh Abizar yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari pintu apartemen Jovanka.