Mencurigai

1393 Kata
“Deg..!” Mereka langsung menoleh ke arah sumber suara dan melihat nenek sedang menatap mereka dengan tajam. Keduanya bergegas menghampiri oma, bahkan mereka hampir saja bertubrukan saking tegangnya. “Oma su..sudah bangun?” tanya Jelita dengan wajah pucat pasi. Tatapan oma langsung berubah lembut. “Iya, sayang. Tapi Oma tiba-tiba terbangun dan melihat Abizar seperti ingin menyerangmu. Kau tidak apa-apa, kan?” tanya Oma khawatir. Jelita hanya menggeleng. Oma Laura kemudian melirik ke arah Abizar, tatapannya kembali tajam. “Kau mau apakan istri orang? Untung saja Oma terbangun tepat waktu, apa yang mau kau lakukan dengan Jelita, hah? dasar cucu tidak tahu di untung, kerjanya cuma bikin malu Oma saja,” hardik oma Laura kepada Abizar. Jelita melirik ke arah Abizar yang juga sedang meliriknya, Abizar bahkan dengan nakal mengedipkan mata ke arah Jelita sambil tersenyum. Tentu saja Jelita syok, melihat kelakuan Abizar itu. “Jawab…!” Kembali oma membentak Abizar. “Ah, Oma, jangan memaksakan diri seperti ini. Oma nanti bisa semakin sakit, tadi itu kami hanya bercanda. Oma tahu tidak, aku dan Jelita itu sangat akrab, karena dia adalah juniorku di kampus dulu. Iyakan Jelita?” ucap Abizar mengarang bebas kepada neneknya. Oma Laura menatap Jelita yang masih terdiam. “Benar begitu, Jelita?” tanya Oma tidak percaya. Jelita pun terpaksa mengangguk karena ia sama sekali tidak punya pilihan lain selain mengikuti sandiwara Abizar. “Jadi, kenapa kau akhirnya datang? Aku pikir kau tidak akan menjenguk Omamu yang tidak berdaya ini. Oma sampai tidak tahu malu memohon kepada Jelita untuk menemani Oma karena cucu Oma tidak pernah memperhatikan Oma sama sekali. Dia lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan dan istrinya yang bermuka dua itu,” omel sang nenek. “Oma jangan berbicara begitu tentang Jovanka, tadi itu dia benar-benar sakit, dia langsung tertidur begitu sampai di rumah.” Abizar masih berusaha membela Jovanka. “Kau tidak perlu mencari-cari alasan untuk membela istrimu itu. Lagi pula Oma juga sudah tidak membutuhkanmu di sini. Kau pulang saja urus istrimu itu dan jangan hiraukan Oma yang sebentar lagi akan mati ini, ada Jelita yang siap mendampingi Oma kalau Oma sekarat nanti,” ucap Oma sambil memunggungi Abizar. “Oma jangan bicara seperti itu, atau Oma ingin menantu lain selain Jovanka? Apa Oma mau Abizar menikah lagi? aku lihat Oma sangat menyukai Jelita, bagaimana kalau Abizar menikahi Jelita saja?” pancing Abizar, ia melirik Jelita yang matanya sudah terbelalak saking syoknya. Oma Laura membalik tubuhnya menghadap ke arah Abizar. “Oma menyukai Jelita karena saat pertama kali melihatnya, Oma tahu jika dia ini wanita yang sangat tulus. Dan terbukti, ia dengan alaminya mampu membuat Oma tertawa riang. Tapi, bukan berarti Oma ingin kau menikah dengannya! apa kau sudah gila…?! Bagaimana mungkin kau menikah dengannya sementara dia sudah bersuami bahkan mengandung, dasar anak durhaka…!!” Oma kembali menghardik Abizar karena ucapan bodohnya. Tidak sampai di situ, Oma bangkit dari rebahnya dan meminta Abizar supaya mendekat kepadanya. “Sini kamu, kemari cepat..!” paksa Oma. Abizar menggeleng, ia tahu Omanya sedang marah dan akan menghukumnya sebentar lagi. “Maaf Oma, aku hanya bercanda…” Abizar seperti anak kucing yang meminta belas kasihan di hadapan Omanya yang sudah naik darah. “Sini Oma bilang…!” Abizar melangkah dengan takut-takut menghampiri Neneknya. Begitu mendekat, Oma Laura langsung menghajar sang cucu dengan tangannya yang lemah. “Dasar anak nakal, selau saja berkata tidak masuk akal, membuat Oma darah tinggi, apa kau ingin Oma benar-benar cepat mati, hah..!” “Ampun Oma..! aku tadi benar-benar cuma bercanda…! Masa iya aku menikah dengan Jelita lagi…” Abizar hanya pasrah menerima hukuman dari sang nenek. Ia seakan tidak berdaya sambil terus memohon ampun Sementara Jelita sudah sejak tadi menahan tawa melihat betapa lucu sekaligus hangatnya hubungan antara Abizar dengan neneknya. Ia sekarang sadar jika, suaminya ini sangat menyayangi sang nenek. “Sudah dong Oma, nanti Oma capek,” ucap Abizar sambil berusaha menghentikan gerakan neneknya. Ia pun memeluk sang nenek saat Oma Laura memperlambat gerakan tangannya karena kehabisan tenaga. “Kan, aku bilang apa? Oma sampai ngos-ngosan begini” “Hah..ha..a… tangan Oma keram! Pijitin cepat Abi! Oma capek, aduh…!” Oma mengeluh dengan manja kepada sang cucu. “Iya.. iya, sini aku pijitin, makanya kalau gak kuat jangan sok mau memberi hukuman, ujungnya, Oma sendiri, kan yang kena batunya.” Oma hanya terdiam mendengar omelan cucunya. Dengan penuh kasih sayang, Abizar memijat tangan neneknya sambil tersenyum lembut. “Nah, bagaimana, pijatanku ampuh kan, Oma? Bilang saja kalau Oma ingin di pijat lagi.” “Hmm, tapi Oma tetap belum mau memaafkanmu. Kau jangan coba-coba menyogok Oma! ” Jelita menatap mereka berdua, ada rasa hangat yang menyelimuti hatinya. Abizar sangat menyayangi neneknya, akan tetapi kenapa Oma tidak tinggal serumah saja dengan cucunya? dan kenapa Oma terlihat sangat membenci cucu menantunya? Jelita terus berpikir sambil memandangi bagiamana cucu dan nenek itu saling berbagi kasih sayang mereka terhadap satu sama lain. Sampai akhirnya Oma terlihat sudah mengantuk, Jelita menghampiri Oma dan menyentuh tangannya. Abizar masih memijit kepala neneknya dengan sabar. Melihat suaminya seperti itu, ia tidak percaya jika Abizar bisa bersikap liar seperti yang ia lakukan terhadapnya. Bisa-bisanya pria yang penuh dengan keseriusan dan kasih sayang ini, berubah seperti pria menakutkan seperti tadi? “Oma tidur ya, supaya besok bangunnya segar,” ucapnya dengan lembut, ia melirik ke arah Abizar yang ternyata sedang memandanginya dengan tatapan tajam. Jelita menjadi merinding sendiri. Mungkin ia pulang saja, dari pada terus di teror oleh Abizar. “Tapi kau harus berjanji tidak akan meninggalkan Oma sendiri. Anak bodoh ini pasti sebentar lagi akan menghilang lagi,” ucap Oma. Jelita menghela nafas lalu mengangguk. Oma pun memejamkan mata dan tertidur. Abizar menghentikan pijatannya dan menyelimuti neneknya. Jelita menyaksikan betapa perhatiannya Abizar kepada neneknya itu. “Bapak sangat menyayangi Oma ternyata,” ucap Jelita. “Iya, kaya benar. Aku sangat menyayangi Oma. Hanya Oma yang aku punya di dunia ini. Kedua orang tuaku meninggal kerena kecelakaan saat umurku masih 5 tahun. Oma yang membesarkanku dan memberikan semua kasih sayangnya. Aku akan hancur jika terjadi apa –apa terhadap Oma. Aku bahkan berharap Oma bisa memiliki umur yang sangat panjang agar aku bisa terus melihatnya di dunia ini,” jelas Abizar sambil membelai rambut putih sang nenek. “Tapi kenapa Bapak tidak tinggal serumah dengan Oma? Kenapa bapak justru membiarkannya kesepian sendiri di rumah? Oma terlihat sangat kesepian,” ujar Jelita. “Awalnya kami tinggal serumah, tapi semenjak Jovanka hadir dalam hidupku, Oma tidak menerimanya, terpaksa kami meninggalkan rumah. aku juga tidak mengerti kenapa Oma tiba-tiba begitu membenci Jovanka. Padahal dulu sebelum kami menikah, Oma sangat menyayanginya.” Abizar mejelaskan. Jelita terdiam. “Baiklah, aku harus mengecek kondisi Jovanka dulu di rumah. Ia aku tinggal sendiri setelah tertidur tadi dan langsung datang kemari,” ucap Abizar sambil bergegas. Wajah Jelita berubah murung. ‘Dasar pria tidak berpendirian. Baru saja ia memohon-mohon untuk kembali padanya karena berbagai macam alasan yang menyudutkan Jovanka, sekarang ia malah pergi untuk menemuinya dan memeberikan seluruh perhatian dan kasih sayangnya lagi, Jelita…Jelita, hampir saja kau terperangkap,’ gerutunya di dalam hati. Jelita hanya menatap Abizar tanpa berkata apa-apa, sampai kapan pun pria ini tidak akan bisa melepas istri pertamanya, meskipun ia berkoar-koar mengatakan jika dirinya sudah tidak mencintainya lagi. Buktinya, alam bawa sadarnya masih menuntunnya untuk memeberikan semua pehatian itu pada Jovanka. Dan hal itu sudah cukup membantu Jelita untuk tetap pada keputusan awalnya. Yaitu, berpisah dengan Abizar. “Aku pergi dulu, ya,” pamit Abizar sambil melangkah. Jelita hanya mengangguk. Akan tetapi ia terkejut saat Abizar tiba-tiba sudah berada di dekatnya. “Tapi urusan kita belum selesai, aku akan kembali untuk menyelesaikannya, tunggu aku,” ucap Abizar sambil mengedipkan mata. Jelita lagi-lagi hanya bisa merasakan syok menerima sikap Abizar yang sama sekali tidak ia pahami itu. *** Abizar membuka pintu rumah dengan membawa air jahe manis kesukaan Jovanka. Jika istrinya itu sakit kepala atau pusing, ia meminum air itu untuk meredakan gejala masuk angin atau semacamnya. Perlahan ia membuka pintu kamar, tapi ia tidak melihat Jovanka di atas ranjang. Abizar mencarinya ke kamar mandi juga tidak ada. Ia pun keluar kamar dan mencari istrinya di seluruh rumah. “Nyonya pergi sejak tadi, Tuan. Setelah Tuan pergi tadi, Nyonya pun segera meninggalkan rumah,” sang pelayan melaporkan. Ucapan pelayannya itu seketika menggiring pikiran Abizar ke apartemen yang Jovanka kunjungi saat itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN