Terperangkap

1249 Kata
Jelita membeku menatap Abizar yang berdiri di ambang pintu. “Kau datang?” ucap Abizar sambil melangkah menghampiri neneknya yang tertidur. Abizar menatap neneknya lalu menoleh ke arah Jelita yang sudah mulai gelisah di tempatnya. “Sa..saya di minta Oma untuk tinggal beberapa waktu menemani beliau sampai sembuh. Jadi Bapak tidak perlu khawatir, saya akan menjaga Oma,” ucap Jelita berusaha menjelaskan kehadirannya. “Terima kasih, tapi kalau kau merasa keberatan, tidak perlu memaksakan diri. Ada pelayan yang menjaga Oma,” ucap Abizar sambil membetulkan selimut neneknya. “Saya sama sekali tidak keberatan, Pak. Saya senang menemani Oma, di sini,” sahut Jelita. Abizar terdiam, ia hanya menatap kosong dan tampak memikirkan sesuatu. “Bagaimana kabarmu? Apa kandunganmu baik-baik saja,” tanya Abizar, menatap Jelita yang tertunduk dalam. “Kandungan saya baik-baik saja, Pak. tidak perlu khawatir. Anak bapak sehat-sehat saja. Saya akan melahirkannya dengan selamat agar Bapak dan Bu Jovanka bisa lebih merasakan kebahagiaan,” ucap Jelita. Abizar tampak menahan emosi, tatapannya berubah tajam. Dan itu membuat Jelita menelan ludahnya. “Apakah kau sama sekali tidak pernah memikirkan aku, Jelita? Yang aku tanyakan itu adalah kabarmu, bukan hanya kondisi anak yang ada dalam kandunganmu! Aku tidak menyangka janji yang pernah kau ucapkan itu hanya bualan semata,” Abizar akhirnya meluapkan emosinya. Jelita tidak berkata apa-apa, Ia hanya terdiam dan terus menunduk. “Apa kau pikir aku bisa hidup normal dan bahagia bersama Jovanka seperti katamu? Setelah apa yang kau lakukan dengan hatiku. Setelah kau mengambil tempat yang cukup luas di hatiku, kau pikir aku akan baik-baik saja? perlu kau tahu, aku bahkan sampai sekarang tidak pernah berhenti memikirkanmu. Aku tidak bisa hidup seperti dulu lagi bersama Jovanka. Hatiku sudah terlanjur terluka oleh sikapnya yang ingin seenaknya sendiri tanpa sedikitpun memikirkan perasaanku. Hatiku sudah terlanjur sakit saat ia memintaku untuk menikah lagi hanya karena menginginkan anak kandungku. Jelita sudah menodai cinta suciku,” ungkap Abizar penuh kesedihan. Entah kenapa di hadapan Jelita ia seakan begitu mudahnya menumpahkan semua kesulitan yang ia rasakan. Bahkan setelah mereka memutuskan untuk hidup masing-masing, Abizar masih merasa nyaman dengannya. Berbeda dengan Jovanka yang diantara mereka sudah tidak ada lagi saling percaya, ia merasa hubungannya dengan Jovanka sekarang semuanya penuh dengan rahasia. Jelita mengangkat wajahnya dan menatap Abizar degan tatapan sama tajamnya. “Kenapa Bapak jadi menyalahkan bu Jovanka, bukankah Bapak sendiri yang memulai berpaling hati darinya? Bapak sekarang mencari-cari kesalahan bu Jovanka, padahal sebelumnya hanya ada kesempurnaan di mata Bapak untuknya? Bapak seakan menyesali hubungan kalian yang sudah terjalin cukup lama hanya karena menemukan cinta baru,” cecar Jelita emosi. Ia tidak suka dengan sikap Abizar yang terkesan menjadikan istrinya kambing hitam atas kesalahannya sendiri. “Ini bukan masalah aku menyesali hubunganku atau apa pun itu, tapi memang karena aku merasa jika Jovanka telah menyembunyikan sesuatu dan berbohong padaku sejak lama.” “Kalau begitu komunikasikan degan istri Bapak! Kenapa selalu mencari alasan? Ah sudahlah, saya tidak ingin membahas ini lagi, Pak. Semuanya sudah kita sepakati dan saya sekarang sedang berusaha untuk melupakan semuanya. Anggap apa yang sudah kita alami hanya sebuah kesalahan yang tidak disengaja. Jika pun saya mengakui kalau saya juga masih sering memikirkan Bapak, apakah akan berpengaruh pada hubungan kita? Jawabannya adalah tidak! Karena saya tidak ingin merebut apa pun dari orang lain. Saya juga tidak ingin berbagi hal yang mustahil bisa di bagi dengan orang lain. Bapak tidak bisa melakukan apa pun untuk hubungan ini, jika pun saya mengakuinya. Jadi jalan yang terbaik adalah kita masing-masing menjalani hidup seperti sedia kala, seperti yang sudah kita sepakati. Dan untuk janji itu, saya meminta maaf karena saya hanya seorang manusia yang cuma bisa berencana dan ternyata Tuhan memberikan jalan yang berbeda untuk itu. Aku mohon, Pak, jangan ungkit hal ini lagi, apalagi di hadapan Oma,” ucap Jelita menjelaskan panjang lebar dengan kegetiran yang membalut hatinya. “Aku hanya ingin terus bersamamu Jelita, aku tidak mengerti apa yang sudah terjadi padaku, tapi aku merasa kehidupanku menjadi sangat kacau semenjak kau tidak ingin menemuiku lagi.” Abizar melangkah menghampiri Jelita, Jelita langsung waspada. Ia melangkah mundur setiap kali Abizar melangkah menghampirinya, sampai punggung Jelita membentur tembok. Abizar terus menghampirinya dan mengurung Jelita dengan kedua lengannya. Mata Jelita berkedip-kedip menatap Abizar yang kini sudah ada tepat di hadapannya. Gemuruh dadanya terasa, jantungnya bagai berontak, kenapa ia tidak bisa mengendalikan reaksi perasaanya saat berada di dekat Abizar betapapun ia berusaha melupakannya. “Ap…apa yang Bapak lakukan?” ucapnya terbata. “Aku bisa merasakan jika perasaanmu sama besarnya dengan apa yang aku rasakan. Jadi, aku ingin melakukan apa yang menurutku benar untuk di lakukan, Bukankah kau istriku? aku masih berhak atas semua yang ada pada dirimu, terlepas kita akan berpisah setelah anak ini lahir atau tidak. Lagipula, aku masih belum memutuskan untuk bercerai denganmu, bagaimana kalau aku tidak ingin bercerai dan akan terus menjadikanmu sebagai istriku?” Suara Abizar terdengar lirih, tapi cukup membuat Jantung Jelita mau copot. “A..apa..?!” Jelita syok. “Kau tidak perlu terkejut begitu, kau bilang waktumu menjadi istriku sampai pada aku menceraikanmu, kan? Jadi bagiamana jika aku tidak ingin menceraikanmu?” “Bapak tidak bisa bersikap egois seperti itu, Bapak sudah memiliki istri cantik dan sempurna, kenapa masih menginginkan diriku yang tidak memiliki apa-apa ini? Aku bahkan rela menjual harga diriku dengan menikah untuk menjadi wanita yang melahirkan anakmu hanya karena membutuhkan uang. Lantas apa yang kau harapkan dengan wanita seperti saya ini?!” tutur Jelita. Ia tidak mengerti jalan pikiran Abizar, apa yang membuatnya sulit sekali melepaskan dirinya. Padahal Bu Jovanka tidak kurang satu apa pun. “Kau jangan merendahkan dirimu sendiri seperti itu atau kau akan benar-benar merasakan bagaimana rasanya di rendahkan!” Abizar mendekatkan wajahnya ke arah bibir Jelita tapi dengan cepat Jelita menahan gerakan Abizar dengan menahan wajah suaminya itu. “Saya mohon jangan lakukan apa pun di sini, Pak, bagiamana kalau oma terbangun dan melihat kita?” ucap Jelita berusaha keluar dari kungkungan Abizar. “Apa yang kau cemaskan, oma bahkan menyukaimu. Jadi biarkan saja oma melihat kita. Aku sama sekali tidak keberatan,” ucap Abizar seenaknya. “Apa? bapak sudah gila. Ya? bisa-bisanya Bapak berkata seperti itu!” Jelita mendorong tubuh Abizar sekuat tenga sehingga ia bisa lepas dan menjauhi Abizar. “Ya Jelita, aku memang sudah gila. Aku tergila-gila padamu, aku sangat menyukaimu. Aku tidak ingin ada pria manapun yang mendekatimu, bahkan dengan si b******k itu, siapa lagi namanya? ah, Bima. Aku tidak suka pria itu,” gerutu Abizar, ia memang selalu kesal jika menyangkut Bima, karena pemuda itu terlihat sangat menyukai Jelita, meskipun ia tahu kalau Jelita sedang hamil. Abizar sudah bsia membayangakn betapa besarnya cinta pemuda itu kepada Jelita dan hal itu membuatnya terusik. “Bapak sangat menakutkan..” ucap Jelita sambil terus menjauhi Abizar yang sedang berusaha menghampirinya. “Kau yang membuatku seperti ini,” jawab Abizar sambil mulai mengikuti Jelita. “Bapak tolong jangan seperti ini. Ada oma di sini, oma harus beristirahat yang cukup supaya lekas sembuh.” Jelita berusaha mencari alasan. “Kita tidak akan mengganggu oma jika kau bisa diam dan tidak melawan seperti tadi,” Abizar bahkan tidak gentar setelah mendengar ancaman Jelita. “Bapak benar-benar sudah gila, aku tidak mau berada di sini, aku mau pulang saja!” Jelita bergegas berjalan menuju pintu , tapi dengan cepat Abizar menghalanginya. Jika melangkah sekali lagi dari ruangan ini, maka aku akan melakukan hal yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya,” ancam Abizar. “Melakukan apa, hah…?!” Tiba-tiba suara oma Laura terdengar lantang, tapi cukup terdengar oleh mereka berdua. “Deg..!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN