Menjenguk Oma

1144 Kata
Bi Sumi memegang tangan Jelita. “Nyonya, Bibi sangat berharap Nyonya akan selalu menjadi istri dari tuan Abizar, tuan sangat membutuhkan wanita seperti Nyonya. Tuan sudah memiliki segalanya, ia tidak butuh istri yang sibuk di luar dan hanya menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tuan sendiri tidak tahu. Tuan membutuhkan tempat pulang yang hangat, bukan kamar yang dingin dan sepi. Tuan juga sangat membutuhkan wanita yang rendah hati dan lembut seperti Nyonya. Bibi mohon pikirkan sekali lagi sebelum benar-benar berpisah dengan tuan, Nyonya.” Air mata bi Sumi mengalir. Melihat itu Jelita hanya tersenyum. “Bi, wanita seperti yang Bibi utarakan itu sudah ada pada diri Bu Jovanka. Dia memiliki semua kualifikasi itu. Daripada aku yang hanya seorang pekerja kantoran biasa, bu Jovanka memiliki segalanya. Aku sama sekali tidak ada apa-apanya. Aku hanya seorang istri yang dari awal berstatus kontrak, dan akan berakhir setelah anak ini lahir. Bibi tahu dengan pasti kan, bagaimana besarnya cinta pak Abizar kepada istrinya sebelum kehadiranku, dan terbukti, cinta mereka tatap kuat bahkan setelah aku datang. Jadi sebaik apa pun tanggapan Bibi padaku, tidak bisa melebihi kemampuan bu Jovanka yang sudah terbukti nyata selama bertahun-tahun lamanya. Lagipula, aku tidak ingin berbahagia di atas penderitaan wanita lain,” tutur Jelita penuh kesungguhan. Bi Sumi tidak bisa membantah ucapan Jelita, ia hanya bisa menghela nafas panjang lalu terdiam. Mobil melaju membelah jalan menuju rumah sakit, Jelita hanya terdiam dan menatap lurus ke depan. Ia tampak memikirkan sesuatu. Bagiamana ia harus bersikap kepada nenek mertuanya itu? mengingat Oma Laura tidak mengenalnya sebagai menantu, melainkan hanya istri dari teman cucunya. Mobil berhenti di parkiran rumah sakit. Bangunan rumah sakit ini sangat besar. Sebuah rumah sakit swasta yang mewah. Jelita sempat mengabadikan bagian depan rumah sakit itu sebelum masuk ke dalam. Ini rumah sakit milik tuan Abizar? wah, sungguh suaminya itu kaya raya. Bahkan rumah sakitnya semegah ini. Oma yang mempunyai segalanya dan hanya memiliki cucu kesayangan satu-satunya. Itu berarti Abizar adalah pewaris tunggal. Sungguh luar biasa. Tanpa sengaja ia mengelus perutnya, ia tersenyum karena bayinya kelak akan mendapatkan kemewahan itu. Ia sangat berharap anaknya benar-benat bisa bahagia tinggal bersama mereka. “Mari, Nyonya. Lewat sini,” ucap seorang pria yang mengantar Jelita dan bi Sumi berjalan menuju ruangan Oma Laura. Jelita berjalan dan memasuki lift menuju lantai 10. Jelita terus mengikuti langkah pria itu hingga sampai pada sebuah pintu besar. Pria itu mengetuk pintu sebelum membukanya. Begitu pintu terbuka, Mata Jelita terbelalak melihat ruangan super mewah yang ada di hadapannya. Ruangan perawatan ini sama sekali tidak seperti rumah sakit, cetnya saja berwarna cream, dengan gorden berwarna senada. Jika di ruangan lain cetnya berwarna putih, di ruangan khusus Oma, semua tampak berbeda. Semua perabot penunjang di dalamnya mirip seperti hotel berbintang. Brankar yang di tempati Oma saja sangat mewah, yang membuat kita tahu kalau ini ruangan perawatan rumah sakit hanya karena terdapat tabung oksigen di sekitar pasien. Nayya melihat Oma Laura terbaring lemah di brankar, kondisinya sangat berbeda saat pertama kali melihat wanita tua bersahaja itu. Wanita kuat itu sudah terbaring lemah tanpa tenaga. Hati Jelita seketika sedih, ia melangkah menghampiri Oma dan langsung menggenggam tangannya. Oma membuka mata begitu merasa ada sesuatu yang menyentuh tangannya. “Apa saya membangunkan Oma?” tanya Jelita. “Hei, kau sudah datang?” sapa Oma dengan suara lemahnya. Jelita mengangguk dan tersenyum. Bi Sumi juga mendekat, oma menganggu ke arahnya. “Oma, bagaimana keadaannya? Yang sakit dimana, Oma?” tanya Jelita dengan suara lembutnya. “Oma sudah lebih baik, sayang. Oma sempat sesak di bagian d**a dan agak pusing, tapi karena minum obat, semua sudah baik-baik saja.” jawab Oma Laura. “Oh, syukurlah kalau begitu. Oma istirahat saja supaya besok Oma pulih seperti sedia kala,” ucap Jelita sambil membenarkan selimut Oma. “Tidak, sayang. Mana mungkin Oma tidur jika kau ada di sini. Oma harus menghabiskan waktu bersamamu pastinya. Lagi pula Oma sudah merasa baikan,” tolak sang nenek. “Nah, kan? Oma tidak mau dibilangin. Kalau Oma tidak banyak istirahat, mana bisa sehat,”ucap Jelita berusaha membujuk wanita itu kembali istirahat. “Tidak sayang, biarkan Oma melihatmu lebih lama lagi. Oh ya, usia kandunganmu sudah berapa bulan? Suamimu pasti sudah sangat merindukanmu dan calon buah hatinya,” ucap Oma sambil mengelus perut Jelita yang sudah mulai membesar. “Sudah masuk 5 bulan, Oma.” Jawab Jelita sambil melirik bi Sumi yang juga sedang meliriknya. “Wah, sebentar lagi ya, anakmu akan lahir. Pesanku, rawat ia dengan baik,” ucap Oma. “Iya, Oma. Anak ini pasti akan mendapatkan kebahagiaan,” sahut Jelita. “Ngomong-ngomong, Pak Abizar tidak kelihatan?” ucap Jelita basa-basi, yang sebenarnya ia tidak ingin bertemu dengan Abizar, apalagi situasi seperti ini. “Hah..anak itu membuatku kesal saja. Ia tadi datang membawa istrinya yang bermuka dua itu. Tapi tiba-tiba istrinya mengeluh sakit kepala, sehingga Abizar harus mengantarnya pulang. Tapi sampai sekarang, ia di tahan oleh istrinya itu. makanya cucuku tidak datang,” ujar Nenek mengeluh. “Mungkin pak Abizar sedang sibuk di kantor. Pak Abizar juga pasti ingin terus menemani Oma di sini, tapi pak Abizar belum sempat. Oma tenang saja, saya akan menemani Oma sampai tertidur,” ucap Jelita penuh semangat. “Apa? Oma tidak mau tidur dulu.” “Iya, Oma main denganku dan bi Sumi sampai Oma tertidur, benarkan Bi Sumi. Kalau tidak mau berarti mainnya tidak jadi dan kita berdua akan pulang,” pancing Jelita. “Iya, iya Oma setuju. Sampai Oma tertidur ya,” ucap Oma penuh antusias. Mereka bertiga pun mulai bermain dan bercanda penuh tawa. Bahkan bi Sumi yang awalnya hanya tersenyum kecil, bisa tertawa keras sampai keluar air mata. Oma terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka. Entah kenapa Oma Laura langsung menyukai Jelita bahkan sejak awal pertemuan mereka. Mereka pun terus bercanda sampai akhirnya Oma mulai memejamkan mata. “Jelita, bisa tidak kau jangan pergi dulu. Temani Oma sampai Oma sembuh dan keluar rumah sakit. Pakaianmu biar sopir yang bawa ke mari. Bi Sumi yang akan mempersiapkan semuanya. Oma tidak ingin saat Oma membuka mata, tidak ada seseorang yang menyapa Oma dengan hangat. Jadi Oma minta Jelita tinggal saja, ya?” ucap Oma. Jelita mulai sedih lagi, ia benar-benar tidak tega melihat betapa kesepiannya Oma Laura. Jelita pun mengangguk setuju. “Terima kasih, sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak.” Oma pun tertidur dengan lelap. “Baiklah Nyonya, kalau begitu saya pulang dulu. Nanti pakaian dan keperluan Nyonya yang lain, saya siapkan dan mengirimnya,” ucap bi Sumi. “Iya, Bi. Terima kasih, ya.” “Sama-sama Nyonya, sampai jumpa,” ucap Bi Sumi lalu keluar meninggalkan ruangan. Tiba-tiba pintu kembali terbuka dan bi Sumi muncul. “ Maaf Nyonya, dompet saya ketinggalan, he..he..” ucap bi Sumi. Jelita hanya menggeleng, lalu pintu kembali tertutup. Akan tetapi tidak lama, pintu kembali terbuka. “Bibi, kali ini apa lagi yang ketinggalan?” ucap Jelita, tapi ia terkejut saat melihat bukan bi Sumi yang berdiri di ambang pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN