Wanita Berlian

1183 Kata
“Oma.. aku mohon beri kesempatan kepada Jovanka untuk membuktikan jika dia layak menjadi kebanggaan Oma,” Abizar menggenggam tangan tua milik sang nenek. Oma Laura menatap sang cucu kesayangan dengan tatapan sedih. “Sayang, cucuku yang malang, kau begitu lembut dan berhati malaikat. Oma harap suatu hari kau akan menyadari semuanya. Jangan terlalu membela istrimu sepenuh hatimu, karena dia bisa saja melukaimu. Kau juga tidak bisa mempercayainya 100 persen seperti yang kau lakukan sekarang. Kau tahu, Oma tidak pernah menyukai wanita ini karena memang Oma tidak pernah menyukainya sejak awal,” jelas Oma Laura. “Apa maksud Oma, tidak pernah menyukainya sejak awal? Bukannya dulu Oma sangat menyukai Jovanka? Entah kesalahan apa yang telah Jovanka lakukan kepada Oma sehingga Oma benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi? Oma bahkan tidak menanyakan kondisi kehamilan Jovanka, lihat cucu yang Oma inginkan selama ini insya Allah akan lahir,” sanggah Abizar masih mencoba terus membela Jovanka. “Iya, itu memang benar. Oma menyukai Jovanka, tapi Oma tidak pernah menyukai wanita ini. Dia telah berbo…” “Aduh, Mas..! kepalaku tiba-tiba sakit, aduh…” Jovanka tiba-tiba meringis dan memegangi kepalanya. Abizar terkejut, ia segera menghampiri Jovanka dan mengecek keadaannya. “Kau kenapa, sayang?” Abizar memapah istrinya duduk di sofa. Sedangkan Oma Laura menatapnya dengan curiga. “Ini, Mas. Kepalaku tiba-tiba sakit,” ucap Jova mengadu. “Oh. Ya sudah. Aku antar kamu pulang, ya? atau mau sekalian periksa ke dokter saja?” ucap Abizar khawatir. “Tidak, aku mau pulang saja,” tolak Jovanka, ia tidak ingin memeriksakan dirinya ke dokter. “Baiklah kalau itu maumu,” jawab Riftan. Ia pun melangkah menghampiri neneknya. “Oma, Jelita tiba-tiba tidak enak badan. Aku antar dia pulang dulu ya, Assalamu'alaikum,” pamit Abizar. “Kau nanti akan menyesal, nak,” guman Oma Laura saat melepas kepergian Abizar. Sementara itu, Jelita tampak membersihkan kamar. Ia sengaja tidak mengizinkan bi Sumi membersihkan apa pun di kamarnya karena dia ingin melakukannya sendiri. pakaian yang ada dalam lemari di keluarkan satu persatu lalu dilipat kembali. Perabot ditata ulang agar lebih segar. Kalau dulu Jelita tidak suka wangi bunga, kini setiap sudut dalam kamar, terlihat segar dan hijau karena keberadaan bunga yang memperindah ruangan. Jelita tampak terlihat lebih tenang dan rileks. Meskipun terkadang ia masih sering memikirkan Abizar tapi Bima selalu saja membuatnya tertawa sehingga ingatannya tentang Abizar perlahan kabur. Ia terlihat menikmati hari-harinya yang tenang. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat nomor yang ada di layar tidak terdaftar dalam kontak. Jelita sempat mengabaikan panggilan itu, akan tetapi, nomor itu terus muncul dan mengusiknya. Akhirnya ia pun mengangkat panggilan itu. “Halo..!” sapanya jutek. “Oh, Halo Nona Jelita, maafkan jika saya mengganggu. Perkenalkan saya Retno, pengasuh Oma Laura, neneknya tuan Abizar. Saya ingin menyampaikan kabar yang kurang menyenangkan dari Oma,” ucap wanita dari seberang telepon. “Iya, katakan saja. Oma kenapa?” sahut Jelita mulai khawatir. “Sekarang ini, Oma sedang di rawat di rumah sakit Merdeka, di rumah sakit milik Oma, jadi kalau Nona punya waktu dan berkenan menjenguk, maka beliau akan sangat senang,” ucap wanita itu. “Oh, iya. Tentu saja, saya akan datang. Tolong kasi tahu alamat rumah sakitnya, saya akan ke sana sekarang juga,” ucap Jelita dengan penuh rasa cemas. “Tidak perlu Nona, nanti akan ada mobil yang menjemput. Nona bersiap saja, mobil akan segera datang,” ucap Wanita itu. “Oh, iya baiklah. Terima kasih,” Jelita meletakkan ponselnya di kasur dan terdiam. “Oma sakit? kenapa bisa Oma jatuh sakit? apakah beliau tidak memperhatikan kesehatan lagi? bukankah di rumahnya ada orag-orang profesional yang bertanggung jawab atas kesehatan Oma?” gumannya penuh kekhawatiran. Ia jadi Membayangkan, perempuan tua itu hidup sendiri tanpa keluarga dekat yang merawatnya dengan penuh kasih sayang. Dia memiliki harta yang melimpah dan cucu satu-satunya yang juga sangat menyayanginya. Tapi kenapa Oma tidak tinggal bersama mereka? Kenapa Kak Abizar tidak bersikeras membujuk Oma untuk tingal di rumah besar mereka itu? Setidaknya mereka bisa bertemu sehari sekali walaupun itu hanya pada saat waktu sarapan atau makan malam. Mereka pun bisa memantau kesehatan Oma. Jelita jadi sedih memikirkan itu, ia juga teringat ayahnya yang tinggal sendiri. Tapi ayahnya masih cukup beruntung, karena setelah kontraknya selesai, dirinya akan kembaIi tinggal bersama sang ayah dan akan menemaninya seumur hidup. Berbeda dengan Oma, yang akan menghabiskan sisa hidupnya dengan kesendirian. Ini tidak bisa di biarkan. “Aku harus mengubah situasi ini,” gumannya sambil beranjak dan bersiap-siap. Setelah bersiap, Jelita menunggu Jemputannya di ruang tamu. Bi Sumi yang kebetulan melihat sang majikan tampak rapi, menghentikan langkahnya . “Nyonya sudah rapi lagi, mau ketemuan sama den Bima lagi?” tanya bi Sumi. “Oh, tidak Bi, aku mau menjenguk Oma Laura di rumah sakit. Ini sedang menunggu jemputan,” sahut Jelita. “Nyonya besar sakit? aduh bagiamana ini Nyonya? Saya juga mau ikut menjenguk tapi pekerjaan Bibi masih banyak,” ucap bi Sumi cemas. “Ya sudah, Bibi ikut saja. Soal pekerjaan kan nanti lagi di kerjakannya. Yuk, Bibi bersiap-siap gih,” ucap Jelita menawarkan. “Apa boleh Bibi ikut Nyonya?” tanya bi Sumi ragu. “Ya, boleh dong, Bi. Siapa yang melarang. Yuk cepatan, nanti mobilnya keburu datang,” ucap Jelita. “Iya..iya, baik, Nyonya. Kalau begitu saya masuk dulu.” “Iya, cepet, Bi..” Bi Sumi sungguh senang bukan main, tidak menyangka Jelita mengizinkannya ikut. Inilah perbedaan antara Jovanka dengan Jelita. Jovanka dengan sikap sombongnya dan Jelita dengan sikap rendah hatinya. Kedua sifat yang sangat bertolak belakang. Sayangnya, tuannya masih dibutakan oleh cinta istri pertama yang seorang pembohong besar sehingga tuannya itu menyia-nyiakan berlian yang sangat berharga. “Bi…jemputannya sudah datang..!” terdengar seruan Jelita dari luar. Buru-buru bi Sumi menutup pintu kamarnya dan bergegas keluar. “Ayo, kita pergi,” ajak Jelita sambil berjalan kea arah pintu. “Loh, kenapa Bibi duduknya paling belakang, sih. Duduk di sebelahku saja,” ucap Jelita saat melihat bi Sumi ingin duduk di jok paling belakang. “Tidak apa-apa, Nyonya. Tempat saya memang biasanya di sini. Kalau bersama Nyonya Jovanka juga saya di suruh duduk di sini,” ucap sang pelayan. “Ah, aturan dari mana itu? ayo duduk di sini saja. Aku tidak bisa duduk sendirian. Lagian Bibi akan merasa pengap di situ. Ayo pindah, Bi,” jelita bersikeras. Bi Sumi pun akhirnya mengalah, ia benar-benar terharu dengan sikap Jelita yang tidak pernah membeda-bedakan statusnya sebagai seorang pelayan. Dengan ragu bi Sumi pun duduk di sebelah Jelita. “Tidak usah sungkan begitu, Bi. Apa aku sebegitu menakutkannya smpai-sampai Bibi menolak untuk duduk di dekatku?” ucap Jelita berpura-pura sedih. Hal itu membuat Bi Sumi menjadi merasa bersalah. “Bukan begitu maksud saya , Nyonya, Bibi hanya merasa tidak pantas berada di sebelah Nyonya.” Jawabnya berusaha menjelaskan. “Bi, Bibi itu adalah orang yang di hormati Pak Abizar. Tentu saja, aku juga haru menghormati Bibi. Aku sama sekali tidak pernah menganggap Bibi sebagai seorang pelayan. Justru aku sangat bahagia karena Bibi telah mengganti sosok ibu yang telah aku impikan selama ini. Aku sayang loh dengan Bi Sumi…” tutur Jelita dengan penuh ketulusan. Mendengar itu mata bi Sumi berkaca-kaca.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN