Jovanka membeku sejenak, kemudian membalikkan tubuhnya menghadap ke aran sang suami.
“Apartemen apa? buat apa aku punya apartemen? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” reaksi Jovanka terlihat biasa saja, ia bahkan terlihat kebingungan mendengar pertanyaan tentang apartemen.
“Ah, tidak. Aku hanya bertanya saja, siapa tahu kau mau sebuah apartemen untuk aset atau semacamnya. Aku ada rekan bisnis properti, yang menawari apartemen, jadi aku pikir aku menawarkanmu dulu, mungkinkah mau memesan satu unit,” ucapan Abizar terdengar sangat natural karena ia berusaha mengarang cerita agar Jovanka tidak curiga.
Ia ingin mendengar kejujuran tentang apartemen itu dari Jovanka sendiri tapi ternyata Jova menyembunyikan itu darinya.
“Oh, begitu. Aku masih belum membutuhkan apartemen atau semacamnya, Mas. Aku hanya ingin fokus mencari uang dan menyimpannya untuk masa depan. Apalagi jika anak kita lahir, kita pasti akan membutuhkan biaya lebih banyak. Lagi pula, propertimu sangat banyak, kalau aku mau aku bisa menjualnya jika memerlukan dana, kan?” ucap Jovanka.
“Iya, sayang, ya sudah kalau tidak mau. Besok akan aku sampaikan kepada rekanku itu kalau kau belum tertarik. Kalau begitu, kita tidur lagi, masih ada beberapa jam untuk istirahat, selamat malam,” ucap Abizar sambil membalik tubuhnya memunggungi Jovanka.
Jovanka tidak bisa memejamkan mata. Ia terus memikirkan ucapan Abizar yang tiba-tiba menanyakan tentang apartemen. Apakah Abizar murni menanyakan tentang pembelian apartemen atau ia sengaja memancingnya? Kalau benar demikian, berarti suaminya ini sudah mengetahui sesuatu.
***
Abizar dan Jovanka terlihat sarapan bersama, mereka sudah siap bekerja dengan pakaian yang rapi. Tiba-tiba ponsel Abizar berdering. Mana Oma tertulis di layar ponselnya.
“Halo, Oma?” sapa Abizar. Jovanka langsung melirik Abizar begitu mendengar percakapannya.
“Datanglah kemari menjenguk Oma, sayang. Mungkin Oma akan mati,” terdengar suara Oma Laura yang lemah.
“Apa? jadi bagaimana keadaan Oma sekarang?” ucap Abizar terkejut.
“Sudah kubilang Oma akan mati..! jadi segeralah datang menunggu saat-saat terakhir hidup Omamu ini,” ucap Oma membentak.
“Oma jangan bicara omong kosong, lagipula, mana ada orang mau mati suaranya lantang begitu,” ucap Abizar.
“Dasar anak ini, benar-benar tidak punya perasan. Cepat datang kemari kalau kau tidak ingin melihat Oma benar-benar mati,” ancam sang nenek.
“Iya..iya, kami akan datang,” ucap Abizar lagi.
“Iya datanglah, kalian harus datang, aku menunggu,”
“Pasti Oma, aku dan Jovanka akan datang, tunggu sebentar lagi, ya.” ucap Abizar.
“Heh, apa maksudmu wanita itu juga datang? Aku mau kau juga harus mengajak Jelita. Apa kau tidak kasihan membiarkannya sendiri di rumah?”
“Oma, dengarkan. Aku dan Jovanka yang akan datang, jadi tunggu saja dan jangan meminta orang lain untuk datang,”
Abizar menutup teleponnya dan melirik ke arah arah Jovanka.
“Sayang, Oma tadi menelepon. Katanya beliau sakit dan ingin kita berdua datang,” ucapnya
“Aku dengar kalian berdebat soal kedatanganku, jadi mungkin ada baiknya jika aku tidak datang supaya tidak mengusik ketenangan Oma,” tolak Jovanka.
“Tidak sayang, justru di saat seperti ini kau harus selalu berusaha merebut perhatian Oma lagi. Kau masih ingat betapa Oma sangat menyayangimu saat itu? jadi aku minta mulai sekarang kau harus kembali membuat Oma menyayangimu seperti dulu lagi. Aku juga tidak mengerti, kenapa Oma bisa berubah drastis kepadamu sejak kecelakaan itu,” ucap Abizar sambil memegang tangan Jovanka.
Jovanka tidak menjawab, dia hanya tertunduk dan meremas ujung pakaiannya. Hal yang paling tidak ia sukai adalah bertemu dengan nenek lampir itu. Ia sangat tahu, orang tua itu membencinya dan ia juga tahu alasannya. Tapi ia sama sekali tidak peduli, karena sekarang Abizar berada di pihaknya. Ah, andai orang tua itu cepat mati saja. Pikirnya.
“Bagiamana. Sayang?” Abizar mengejutkannya.
“Ah, i..iya. baiklah,” sahut Jovanka akhirnya.
***
Abizar dan Jovanka berjalan menuju ruang perawatan nenek, Jovanka tampak sangat tegang. Ia membawa sekeranjang buah dan berjalan menggandeng tangan Abizar. Ada yang tampak berbeda pada penampilan Jovanka kali ini.
“Sudah, jangan menyentuh perutmu terus, nanti ketahuan. Ingat jangan membantah atau melawan Oma, ya. Dengarkan saja apa yang beliau ucapkan dan abaikan,” ucap Abizar memberi peringatan.
Abizar mengetuk pintu ruangan perawatan Oma, sebelum mereka masuk. Sesampainya di dalam, mereka melihat nenek Laura terbaring lemah dengan selang infus yang terpasang di tangannya.
Abizar menghampiri sang nenek.
“Oma, bagaimana keadaan Oma? Apanya yang sakit?” tanya Abizar dengan penuh kelembutan. Ia menggenggam tangan nenek dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.
“Ah, kau sudah datang?” sambut sang nenek tersenyum,
“Gula darah nenek naik, tadi malam beliau tiba-tiba mengeluh pusing dan hampir tak sadarkan diri, makanya kami segera bawa kemari,” sahut seorang wanita yang sejak tadi menemani sang nenek.
Abizar mengangguk, ia menatap wanita itu.
“Kenapa gula darah Oma bisa naik, bukannya kalian di tugaskan untuk menjaga makanannya?” ucap Abizar.
“Ah, itu…anu… ah, ta…tadi malam Oma tidak sengaja…”
“Abi, jangan terlalu keras pada Nola sayang, dia sudah bekerja keras selama ini. Tadi malam itu nenek sengaja makan keu tart yang ada di kulkas. Kue itu sebenarnya adalah hadian ulang tahun kerabat Nola yang akan di kirim ke sana, tapi kerena Oma tidak tahan, jadi Oma makan sedikit…” Oma berusaha membela Nola yang sudah tegang melihat tatapan Abizar yang tajam.
“Oma makan hampir separuhnya, Pak. Maafkan saya karena tidak sempat mencegahnya. Saya ada di taman belakang saat itu.” tiba-tiba Nola menyela ucapan Nenek.
“Apa?! makan kue semanis itu sampai separuhnya? Ya ampun Oma, sampai kapan sih Oma harus di kasi tahu seperti anak kecil? Oma itu sama sekali tidak boleh memakan makanan manis. Kan sudah aku bilang jangan. Sekarang inilah akibatnya. Nola, mulai sekarang jangan pernah menyimpan apa pun yang manis-manis di rumah. Siapkan saja makanan nenek yang biasanya, kau mengerti?!” Abizar menggerutu kesal. Ia sangat sedih melihat neneknya terbaring lemah seperti itu.
“Baik, Pak,”
“Kau kejam sekali kepada Omamu ini Abi…” rengek sang nenek sambil melihat ke arah pintu.
Nenek terlihat mencari keberadaan seseorang tapi yang dilihatnya adalah Jovanka yang tersenyum ke arahnya.
“Cih, aku pikir kau datang bersama Jelita. Ternyata dengan wanita ini,” ucap nenek laura tidak suka. Wajahnya berubah dingin.
Jovanka menghampiri nenek dan hendak meraih tangannya untuk mencium, tapi dengan cepat nenek menghindar. Jovanka hanya bisa terdiam kikuk. Tapi setelah itu ia kembali bersikap seperti biasa.
“Oma , apa kabar..?” sapanya sambil terus tersenyum. Tapi tidak ada jawaban dari nenek.
“Oma, cucu menantu Oma bertanya dengan tulus kabar Oma seperti apa, kenapa Oma bersikap seperti itu, sih? Ini dia juga membawakan buah kesukaan Oma,” Abizar berusaha membela Jovanka di hadapan neneknya, tapi wanita tua itu sama sekali tidak menggubrisnya.
“Kalian sudah datang, kan? Sudah tahu kondisi Oma seperti apa, sekarang pulanglah, aku akan baik-baik saja. Aku tidak mau kesehatanku semakin memburuk gara-gara aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya aku lihat,” tiba-tiba suara Oma sangat dingin, ia sama sekali tidak menatap Jova sedikitpun.
“Oma jangan bicara seperti itu, Jovanka kan istriku, mau sampai kapan Oma membencinya?” ucap Abizar.
“Oma bilang pergi dari sini…!”