Pertanyaan

1046 Kata
Setelah semua pekerjaan hari ini selesai, Abizar bergegas merapikan mejanya dan keluar dari ruangan. Di lihatnya jam tangan yang melingkar di tangannya, sudah menunjukkan pukul 9 malam. Semua karyawannya sudah pulang. Kantor terlihat lengang, hanya pegawai cleaning service yang sedang melakukan tugasnya membersihkan ruangan. Abizar masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin sebelum mobil melaju. Abizar tidak pulang ke rumah, ia berbelok ke arah jalan menuju butik Jovanka. “Sebenarnya apa yang kulakukan ini? aku seperti sedang mencurigai istriku sendiri. Seumur-umur aku baru kali ini melakukannya. Dasar si Yuda itu, karena ucapannya yang mengganggu, aku jadi melakukan ini,” gerutunya sambil terus melajukan mobilnya. Sesampainya di sekitar butik sang istri, Abizar menepikan mobilnya di bawah sebuah pohon yang berjarak beberapa meter dari butik. Terlihat butiknya masih buka dan ada beberapa pengunjung di sana. Para pegawainya terlihat masih sibuk melayani para pelanggan. Kemudian Jovanka terlihat sedang menata beberapa gaun pajangan di butiknya. istrinya ini terlihat sangat bekerja keras, Abizar pun tersenyum, dalam hati ia merasa salut memiliki istri yang sangat berdedikasi degan pekerjaannya. Meskipun mereka sudah memiliki segalanya, Jovanka tidak ingin bermalas-malasah dan hanya menghambur-hamburan uang serta berfoya-foya. Ya, meski terkadang Jovanka melakukan itu. akan tetapi hal itu di anggapnya sangat wajar, mengingat betapa istrinya itu adalah pekerja keras. Abizar merasa sangat bersalah, telah mulai mencurigai istrinya. Seharusnya ia tidak mudah terpengaruh dengan berbagai macam omongan orang yang belum tentu terbukti kebenarannya. Bahkan ucapan sekretarisnya itu sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan yang ia lakukan sekarang. Lama Abizar menatap butik istrinya, sampai akhirnya butuh itu tutup. Abizar tersenyum, akhirnya istrinya pulang ke rumah juga. Tapi ia ingin Jovanka yang lebih dulu tiba di rumah dan menunggunya dengan senyum indahnya itu. Jika terus seperti ini, ia bisa lebih mudah melupakan cintanya dengan Jelita dan memulai menata kembali hidupnya yang bahagia dengan Jovanka. Abizar terus menunggu hingga Jovanka keluar. Dilihatnya mobil sang istri sudah keluar dari area butik dan melaju ke jalan. Abizar pun mengikutinya, dalam hati dia ia terus menyesali perbuatannya. Bisa-bisanya ia mencurigai istrinya sendiri sampai mengeceknya sendiri. Kalau Jovanka tahu, bagiamana perasaanya? “Abizar kamu harus meminta maaf kepada Jovanka,’ ucapnya dalam hari. Ia terus mengukuti Jovanka tanpa membuat Jovanka menyadarinya. Mobil jovanka terus melaju, tapi Abizar jadi bingung, karena mobil Jovanka tidak berbelok ke arah jalan menuju rumah mereka. “Loh, mau kemana Jova? Ah, mungkin dia mau beli cemilan,” ucapnya berpikiran positif. Tapi Jovanka tidak berhenti di mana pun. Mobilnya terus melaju sampai akhirnya berbelok di sebuah apartemen. “Hah? mau apa Jovanka di tempat ini, siapa yang dikunjunginya malam-malam begini?” gumannya. Jovanka turun dari mobil dan masuk ke dalam. Karena di dera rasa penasaran, Abizar juga turun dari mobil mobil dan mengikutinya. Saat masuk ke dalam ia melihat Jovanka sudah menaiki lift yang menuju ke lantai 7. Setelah pintu lift tertutup, Abizar pun menghampiri lift yang lain dan memencet tombol angka yang sama. Setelah beberapa saat, Abizar sampai pada lorong yang di sisi kana –kirinya terlihat beberapa pintu. Ia menyelinap dan bersembunyi di balik lemari yang ada di lorong. Tiba-tiba ia melihat Jovanka berdiri di salah satu pintu itu. Mengeluarkan kartu dan menggesekkannya ke pintu. “Jovanka memiliki kunci dari apartemen itu?” gumannya mulai curiga. Saat pintu terbuka, Abizar melihat Jovanka berjongkok dan terlihat memeluk seseorang dari dalam. Jika diperhatikan, yang sedang dipeluknya itu adalah seorang anak kecil. Setelah beberapa saat, pintu pun tertutup rapat. Jantung Abizar bergemuruh, rasa curiga yang sudah ia hilangkan muncul kembali ke permukaan. Ia hanya berdiri di tempatnya sambil menatap ke pintu masuk Jovanka masuk tadi. Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benaknya, ia ingin mengetahui kenapa selama ini Jovanka menyembunyikan hal ini darinya. Jovanka sama sekali tidak pernah bercerita apa pun tentang apartemen atau hal lain selain pekerjaannya. Apakah karena alasan ini, selama ini Jovanka selalu pulang larut? Ia ke tempat ini dulu lalu pulang? Sebenarnya, siapa yang tinggal dan nada hubungan apa Jovanka dengan orang itu? Abizar menghela nafas panjang, setelah itu ia meninggalkan tempat itu. Sepanjangan perjalanan Abizar terus memikirkan apa yang baru saja ia lihat. Setiap malam Jovanka pulang larut dan hari ini ia mendapatkan istrinya itu mengunjungi sebuah apartemen. Bukan hanya mengunjungi, ia merasa apartment itu adalah milik Jovanka, tapi siapa orang yang dipelukanya tadi? Apakah saudaranya? Atau keponakannya? atau siapa? Semua pertanyaan itu berputar dalam otaknya tanpa henti membuatnya tidak tenang. Abizar memasuki rumahnya dengan lesu, ia sama sekali tidak bersemangat. Ia selalu menginginkan istrinya Jovanka ada untuknya setelah pulang dari kantor seharian penuh. Menyambutnya dengan hangat dan menyajikan makan malam untuknya. Akan tetapi sekarang, ia mendapati kamar kosong dan dingin. Jauh dari kesan hangat yang menyenangkan. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata. Kelelahan hati ini terasa berkali-kali lipat. Di tambah dengan apa yang baru saja ia ketahui. Abizar sungguh sangat lelah. Ia pun tertidur di sofa. *** Jovanka membuka kamar dan mendapati Abizar tertidur di sofa, Ia tidak membuka kaos kakinya, bahkan dasinya masih ada di kerah bajunya. Jasnya pun dibiarkan di lantai. Jovanka melangkah memunguti barang-barang suaminya satu persatu dan menyimpannya. Ia lalu membuka kaos kaki Abizar, melepas dasinya dan membaringkan tubuh suaminya dengan benar lalu menyelimutinya. Setelah itu ia pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Jovanka naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya. Ia memejamkan mata dan membayangkan senyum Katrina yang manis. Senyum putrinya itu selalu membuatnya bersemangat dalam bekerja. Ia bekerja keras mengurusi semua butik untuk Katrina. Ia bahkan sudah menyiapkan dana yang sangat banyak untukku biaya dia sekolah. Dia sangat mempersiapkan itu semua takut kalau, suatu saat Abizar menolaknya putrinya itu. Jovanka sudah mengumpulkan keberanian untuk mengumpulkan keberanian untuk meneritakan tentang Katrina kepada Abizar dan dengan keyakinan jika Abizar akan menurutinya apa pun permintaannya, dia sangat berharap jika ia akan diterima oleh Abizar. Jovanka kemudian memejamkan mata, akan tetapi ia terkejut karena tiba-tiba ranjangnya bergerak. Ia menoleh dan melihat Abizar suaminya naik ke atas kasur dan tidur di sebelahnya. Abizar kemudian memeluknya. “Loh, Mas terbangun?” tanya Jovanka. “Iya, aku langsung terbangun saat kau mandi tadi, kamu tadi pulang jam berapa? Ini sudah jam 2,” sahut Abizar “Hmm, tadi jam 12 lewat, ya bu..butik sibuk, Mas,” ucapnya. “Oh begitu?” Sayang,” panggil Abizar. “Jovanka menatap wajah suaminya. “Ada apa mas?” “Kamu punya apartemen lain? “Deg.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN