Jelita tersenyum melihat Bima. Pemuda itu terlihat mempesona bersandar di motornya. Ia melangkah menghampirinya.
“Kakak terlihat sudah baik-baik saja, apakah sekarang kita bisa berangkat?” sapa Bima.
“Hmm, aku tidak bisa menolak ajakanmu kali ini karena kau mengancam,” canda Jelita.
“Apa? mangancam apa maksud Kakak, aku hanya bilang kalau ingin mencari alamat Kakak, kan. Masa itu di bilang mengancam, sih?” elak Bima tidak terima.
“Iya, itu namanya mengancam. Karena aku terpaksa datang kemari,” ucap Jelita.
Bima terdiam, ia hanya menatap Jelita yang sibuk memandangi sekitarnya.
“Apakah Kakak merasa terancam sehingga terpaksa datang menemuiku? Jika demikian, aku tidak akan memaksa Kakak lagi, maafkan aku,” ucap Bima tiba-tiba murung.
“Hah? kau kenapa sih ,Bim? Aku bercanda tau…! Kalau tidak siap, mana mungkin aku datang kemari. Yuk ah, kita berangkat sekarang saja,” ucap Jelita. Ia lalu mengambil helem di tangan Bima kemudian memakainya.
“Ah, biar saya saja yang pakaikan, Kak,” ucap Bima sambil kembali mengambil helem itu dari Jelita dan memakaikannya ke kepala Jelita.
“terima kasih,” ucap Jelita sambil tersenyum.
Motor melaju dengan pelan, mereka benar-benar hanya ingin menikmati keindahan jalan dengan santai.
“Kak..!” panggil Bima sambil mendekatkan punggungnya ke tubuh Jelita supaya suaranya terdengar.
“Iya…” ucap Jelita.
“Pegangan yang kuat, aku mau sedikit cepat di sekitar sini,” ucap Bima.
“Loh, kenapa harus laju? Kita santai saja. Aku gak mau buru-buru,” tolak Nayya.
“Cuma di daerah sini, Kak. Ayolah, sebentar aja, kok,” pinta Bima.
“Baiklah.” Nayya akhirnya mengalah, perlahan ia menggerakkan tangan dan melingkarkan lengannya ke pinggang Bima. Keduanya terdiam, hanya suara motor yang terdengar.
Bima mulai sedikit meningkatkan laju motornya, tiba-tiba sebuah mobil berwarna merah pun melaju mengikuti mereka. Bima sadar keberadaan mobil itu sejak tadi, makanya ia meminta Nayya memeluknya dan berpegangan kuat.
Bima terus menambah kecepatan laju motornya, mobil itupun mengikuti. Nayya yang mulai sedikit khawatir menjadi semakin mempererat pelukannya.
“Bima, sepertinya mobil itu mengikuti kita,” ucap Nayya mulai takut.
“Kakak tenang saja, serahkan semuanya padaku. Kakak pegangang saja yang kuat, mengerti?” ucap Bima.
“Iya..” sahut Nayya.
Bima terus melaju dan tidak membiarkan mobil itu mendekati mereka, dalam hati dia bertanya-tanya , siapa yang mau mencelakai mereka. Mobil itu rupanya terus mengikuti mereka sampai akhirnya melaju dengan kecepatan tinggi melewati motor Bima dan melesat pergi.
Nayya sampai menahan Nafas, ia benar-benar takut dan terkejut. Siapa orang yang tampaknya ingin mencelakai mereka itu? dan kenapa ia melakukannya?
“Kak, kau tidak apa-apa?” tanya Bima khawatir.
“I..iya, aku baik-baik saja,” jawab Nayya , lengannya masih melingkar erat di pinggang Bima. Bima menepikan motornya dan berhenti.
Nayya turun dari motor, Bima melihat wajah Nayya sedikit pucat. Ia pun merangkul dan menenangkannya.
“Jangan khawatir, Kak. orang itu hanya ingin memastikan sesuatu. Ia tidak berniat mencelakai kita, kok. Tidak usah dipikirkan, ya. Lagi pula kan ada aku,” ucap Bima sambil mengelus lembut lengan Nayya.
“Tapi Bim, tetap saja aku takut sekali. Bagaimana kalau ia benar-benar ingin mencelakai kita? Tapi karena waktunya tidak pas, dia membatalkannya dan akan melakukannya lagi lain waktu? Ayo kita pulang saja. Aku tidak mau datang ke tempat ini lagi,” ucap Nayya.
“Tenang dulu,Kak. Kau terlalu jauh memikirkan semua itu. Begini saja, kita akan lanjut perjalanan dan memilih tempat yang ramai, supaya orang itu tidak bisa berbuat apa –apa, bagiamana? Sayang sekali loh, waktu kita hanya habis di perjalanan saja.” Bima berusaha membujuk.
“Baiklah, tapi cepat tinggalkan tempat ini,” tuntut Nayya.
“Oke,” ucap Bima.
Sementara itu, mobil merah yang tadi membuntuti motor Bima terlihat terparkir di depan sebuah bangunan. Seorang wanita berambut panjang dengan kacamata hitam yang membingkai matanya, menatap lurus ke depan. Tangannya menggenggam erat setir, rahangnya terlihat mengeras seolah menahan emosi.
“Siapa wanita yang bersamanya itu?” gumannya kesal.
Sementara itu, Abizar terlihat sibuk di hadapan laptopnya seperti biasa. Sudah seminggu ini semenjak Jelita memutuskan hubungan dengannya, waktunya ia habiskan untuk bekerja. ia sedang berusaha melupakan Jelita dan fokus kepada Jovanka dan pekerjaannya. Akan tetapi, memang tidak mudah.
Jovanka yang kembali sibuk dengan pekerjaannya seperti biasa, membuat Abizar kembali kesepian dan merindukan kehangatan Jovanka. Sehingga untuk mengusir perasaan itu, ia menyibukkan diri dengan pekerjaannya di kantor.
“Tok..tok…”
Suara ketukan pintu terdengar sebelum sang sekretaris masuk ke dalam.
“Pak, ini dokumen yang membutuhkan tandatangan,” ucapnya sambil menyerahkan map cokelat ke arah Abizar.
Abizar menatap sekretarisnya dan tersenyum.
“Terima kasih, ya,” ucap Abizar.
Abizar pun mulai menandatangani dokumen itu tanpa bersuara. Sang sekretaris terlihat gelisah, namun Abizar tidak memperhatikan.
“Pak…” ucapnya kemudian.
“Iya?”
“Maaf kalau saya terdengar melewati batasan, tapi saya merasa harus mengatakan ini kepada Bapak,” ucap sekretaris itu lagi.
Abizar menghentikan gerakannya, ia menatap sekretarisnya itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Apa itu? sepertinya ini masalah serius,” ucap Abizar.
“Eh, bisa di bilang begitu, Pak.Tapi saya tidak bermaksud ikut campur. Sebelumnya, boleh saya bertanya Pak?”
“Iya, katakan saja,”
“Apakah ibu Jovanka sering pulang larut?” tanya sekretaris itu.
“Hmm, iya. Dia bekerja di butiknya sampai larut. Kenapa kau bertanya seperti itu?” Abizar mulai merasakan ada yang tidak beres.
“Ah, saya hanya memastikannya saja, Pak. Kalau begitu saya permisi, saya akan kembali lagi untuk mengambil documen itu nanti,” ucap sekretaris itu lalu melangkah meninggalkan ruangan Abizar.
Abizar terdiam sejenak, lalu melanjutkan menandatangani kertas-kertas yang ada di hadapannya. Setelah selesai ia kemudian menyusun semua berkas itu ke dalam map cokelat dan menyimpannya.
Ia pun kembali mengetik sesuatu di laptopnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama istrinya Jovanka yang ternyata menghubunginya.
“Halo, sayang,” sapanya.
“Halo Mas, em.. malam ini aku pulang larut lagi, ya. Tidak usah menungguku karena pasti kau pasti capek,” sahut Jovanka dari seberang telepon.
“Oh begitu, ya. Baiklah. Sampai jumpa,” ucap Abizar.
“Ya, sampai jumpa sayang, I love you,”
“I love you too…”
Abizar menghela nafas dalam lalu menyimpan ponselnya. Ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Tapi tiba-tiba ia seperti teringat sesuatu. Ia terdiam seolah memikirkan sesuatu.
“Apakah Bu Jovanka selalu pulang larut malam, Pak?’ tiba-tiba Abizar teringat dengan ucapan sekretarisnya.
Ia menjadi kepikiran. “Apa maksud Yuda mengatakan itu, ya? apa ada sesuatu yang ia ketahui tanpa sepengetahuanku? Kalau aku menanyakannya langsung pasti dia tidak akan buka mulut, apa lebih baik aku cek sendiri saja. Lagipula aku hanya ingin melihat-lihat bagiamana konsidi tempat butik istriku. Yah, sebaiknya aku pergi memeriksanya saja dari pada ku penasaran begini,” guman Abizar.