“Tidak, kau tidak bisa melakukan itu pada istrimu sendiri. Kau akan menjadi pria kejam jika melakukannya, dan aku tidak akan memaafkanmu. Kakak tahu kan, bu Jovanka sangat mencintaimu dan dia juga adalah wanita yang paling kau cintai di dunia ini. Kau terpaksa menikah denganku karena permintaannya, Kau bahkan menuruti semua yang ia mau saking besarnya cintamu padanya. Lalu apakah kau tega menyakitinya dengan mengatakan jika kau sudah jatuh cinta dengan wanita lain? Di mana nuranimu, Kak? jika aku berada di posisi bu Jovanka, aku juga pasti akan sakit dan kecewa. Jadi, aku minta kembalilah kepada istri sahmu dan hiduplah seperti sebelum aku ada di antara kalian. Aku mohon,” ucap Jelita dengan air mata yang sudah membasahi pipi.
Tidak ada satupun yang di ucapkannya itu sesuai dengan keinginan hatinya, tapi harga diri dan perasaan simpati antar sesame wanita lah yang membuatnya rela melepas pria yang ia cintai demi kebaikan mereka. Jelita hanya ingin hati madunya tidak patah dan sakit karena dirinya. Ia tahu posisinya di keluarga itu, ia juga tidak yakin jika cinta Abizar untuknya itu adalah murni cinta suci atau hanya dorongan hasrat sesaat. Yang ia tahu, ia tidak ingin wanita yang paling berhak atas Abizar menderita hanya karena ulahnya yang egois.
Abizar tidak berkata apa-apa, hanya terduduk lemas di sofa sambil menatap kosong. Pikirannya kacau, ia tidak bisa menerima keputusan Jelita tapi ia juga tidak bisa menyanggah kebenaran yang ia ucapkan. Ia bingung dengan situasi yang sedang ia hadapi. Ia tidak ingin melepas Jelita tapi juga tidak mau hati Jovanka hancur. Apa yang harus ia lakukan? Abizar mengusap wajahnya dengan kasar.
“Maaf, Kak. Aku mau masuk ke kamar mandi dulu,” Jelita melangkah meninggalkan Abizar.
Jelita mengguyur tubuhnya dengan air yang mengalir deras, air matanya menyatu dengan air yang mengalir di wajahnya. Hatinya hancur berkeping-keping, tapi ia sudah memutuskan yang terbaik. Memantapkan hatinya demi cintanya yang murni.
Setelah beberapa lama Jelita menenangkan perasaannya, ia keluar dengan baju mandi yang tertutup. Ia sengaja tidak memakai handuk kesukaannya karena tidak ingin tubuhnya terlihat lagi oleh Abizar.
Saat keluar, Abizar masih berada di tempatnya. Ia masih terdiam. Jelita melangkah menuju lemari, meraih baju piyama dan berjalan kembali ke kamar mandi.
Abizar menatap Jelita yang terlihat menghindarinya, bahkan mengganti baju pun ia sudah tidak ingin dilihat olehnya. Sepertinya istrinya ini benar-benar serius dengan keputusannya. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak ada yang bisa ia lakukan. Mekipun sangat berat, tapi ia terpaksa harus menerima semuanya.
“Tunggu,” ucapnya saat Jelita ingin melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
“Kau tidak perlu seperti seperti itu dan merasa tidak nyaman di kamarmu sendiri. Aku yang akan pergi,” ucap Abizar dengan suara lemah. Ia beranjak dari tempatnya dan berjalan keluar kamar.
“Jaga dirimu, Kak.” Abizar menghentikan langkahnya sebentar lalu melanjutkan langkahnya.
Air mata Jelita kembali mengalir, ini semua benar, yang ia lakukan itu sangat benar. Jelita terus menguatkan hatinya agar perasaanya tidak semakin sakit. Meskipun sebenarnya ia juga merasa kasihan melihat betapa terpuruknya Abizar menerima semua ini, Jelita tahu suaminya kesal dan marah, tapi ia yakin, kekesalan itu akan hilang seiring perpisahan mereka nanti. Ucapan Bima telah membuka pikirannya dan itulah yang ia akan lakukan. Toh hidupnya bukan cuma mementingkan perasaan tapi juga tanggung jawab. Ia tidak ingin ayahnya terluka dan malu hanya karena dirinya yang egois.
Jelita menghela nafas dalam lalu masuk ke dalam kamar mandi mengganti pakaiannya. Ia takut kalau-kalau Abizar ternyata melupakan sesuatu dan kembali masuk saat ia sedang telanjang.
Abizar melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, beruntung jalanan sepi kerena malam yang semakin larut. Ia tidak langsung pulang ke rumah. Pikirannya masih kacau, ia masih perlu waktu untuk menerima ini semua. Ia sungguh mencintai Jelita dan tidak ingin kehilangan wanita selembut dirinya.
Membayangkan Jelita bersama pria lain saja hatinya kembali panas, apakah bisa ia menjalani kehidupan normal seperti biasa lagi dengan Jovanka kalau sudah begini? rasanya tidak.
Akan tetapi ia juga masih sangat menyayangi Jovanka, ia tentu saja tidak tega menyakiti hatinya. Kenapa Jelita harus memilih berpisah dengannya? kalau mereka menjalani hubungan sembunyi-sembunyi, Jovanka pasti tidak akan tahu dan tidak akan terluka. Lagipula, banyak pria di luar sana yang melakukan poligami dengan istri-istri mereka yang rukun. Andai dirinya juga bisa melakukan itu. Betapa bahagia hidupnya.
Mobilnya terus melaju membelah malam, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat nama Jovanka di layar. Ia menepikan mobilnya dan menjawab panggilan Jovanka.
“Mas, kau ada di mana? Pulanglah, ini sudah larut,” ucap Jovanka dari seberang telepon.
“Baiklah,” ucap Abizar dengan pasrah.
Yah, memang mungkin jalan inilah yang terbaik. Ia harus menata kembali hatinya yang sudah terlanjur bercabang dua. Ia harus berusaha menyatukan cabang hatinya kembali agar bisa menyatu untuk cinta yang satu.
Abizar memutar balik mobilnya dan pulang.
Sudah seminggu berlalu, Jelita belum bisa keluar rumah. Perasaannya masih berat untuk meninggalkan kamarnya. Bi Sumi yang sudah mengetahui semuanya hanya bisa terus mendukungnya agar tidak semakin terpuruk karena bayi yang Jelita kandung butuh ketenangan.
Jelita masih meringkuk nyaman di atas kasur saat bi Sumi masuk membawa nampan berisi sarapan seperti biasa. Ia meletakkan makanan di atas meja dan menghampiri Jelita. Di lihatnya jam dinding, waktu sudah menunjukkan jam 8 pagi tapi Jelita masih memejamkan mata.
“Nyonya, sarapan sudah siap. Ayo makan dulu, Nyonya tidak boleh terlambat sarapannya.” Bi Sumi mengelus lembut lengan Jelita. Merasa ada sesuatu, Jelita akhirnya bergerak, lalu membuka mata.
“Loh, Bi? Ada apa, kenapa datang ke sini subuh-subuh begini?” tanya Jelita yang masih berusaha menyesuaikan penglihatannya.
Bi Sumi tersenyum kecil lalu menggeleng. “Nyonya, ini bukan subuh tapi pagi hari yang sangat cerah. Ini sudah jam 8 pagi, waktunya sarapan. Bibi datang membawakan makanan untuk dede bayi. Hmm? Nyonya bangun dulu, lalu cuci muka, terus makan,” ucap bi Sumi dengan penuh semangat.
Melihat itu, Jelita tersenyum. “Iya Bi, siap laksanakan, he..he…” sahut Jelita sambil bergegas melangkah masuk ke kamar mandi.
Bi Sumi hanya menghela nafas dalam menatap jelita yang berjalan masuk ke kamar mandi. Ia merasa sedih mengetahui jika kedua majikannya itu memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Ia sangat menyayangkan hal itu terjadi. Apalagi jika Abizar mengetahui kebenaran tentang Jovanka, tuannya itu pasti akan menyesal telah merelakan cintanya hanya untuk wanita yang sama sekali tidak pantas ia cintai.
Jelita makan dengan lahap, ia seperti tidak memiliki beban sama sekali. Mungkin karena pengaruh kehamilannya dan kebutuhan nutrisi bayi yang ada dalam kandungannya. Setelah menghabiskan segelas air putih, Jelita memainkan ponselnya.
“Ting…” suara pesan masuk. Ia melita sebuah pesan dari Bima. ia tersenyum lalu membuka pesan itu.
“Harus berapa lama lagi aku menunggu Kakak untuk bisa keluar rumah dan bertemu denganku? Atau Kakak mau aku nekat mencari tempatmu? Aku bisa menemukannya dengan mudah, loh.” Isi chat Bima.
“Hi..hi..” Jelita tertawa kecil membaca chat dari Bima.
Ia memang sudah beberapa kali menolak bertemu dengan Bima karena kondisinya masih terpuruk, hingga hari ini pun sebenarnya ia masih ingin di rumah saja. Tapi melihat ancaman Bima yang sepertinya tidak main-main, Jelita tidak ada pilihan lain.
“Ok, kita ketemu nanti sore,” balasnya.
“Ting…” satu pesan kembali masuk. Dan kali ini emoji boneka beruang dengan tanda hati di tangannya. Jelita kembali tersenyum.