Mempertahankan

1279 Kata
Abizar menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke sofa, di longgarkan dasi di lehernya sambil menghembuskan nafas panjang. Ia terlihat gelisah dan tidak tenang. Jovanka yang sejak tadi melihat perubahan sikap suaminya hanya terdiam sambil memperhatikan. Ia merasa ada yang aneh dari sikap Abizar sejak mereka bertemu Jelita di mall tadi. Abizar banyak terdiam dan tidak fokus. “Mas, kau sedang ada masalah?” Jovanka mulai bertanya. Ia menghampiri Abizar dan mengelus bahu lebar suaminya. Abizar membuka mata dan menoleh ke arah istrinya. “Ah, tidak sayang. Aku hanya sedikit letih saja setelah berjalan-jalan tadi,” ucapnya sambil tersenyum. Jovanka terdiam, ia tahu suaminya ini sedang menyembunyikan sesuatu. Abizar tidak pernah bisa berbohong padanya, sejak dulu suaminya ini selalu tulus dan tidak pernah sekalipun menyembunyikan sesuatu, jadi Jovanka sangat tahu sekali kalau Abizar mulai belajar menyembunyikan sesuatu darinya. “Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat saja. Besok pasti segar lagi,” ucap Jovanka lalu bangkit dan masuk ke kamar mandi. Abizar sama sekali tidak bisa tenang, ingatan tadi siang cukup mengganggunya. Bagaimana bisa Jelita bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka? Dan lagi, ia tidak pernah suka jika pemuda yang bersamanya itu terus berapa di sekitar Jelita. Jelita juga sangat pandai menyembunyikan perasaannya, meskipun ia tahu kalau istri sirinya itu terluka. “Hah.. aku harus segera menemuinya malam ini,” guman Abizar lalu beranjak dari tempatnya dan keluar dari kamar. Kamar mandi terbuka dan Jovanka keluar dengan handuk pendeknya yang menggoda. Ia yakin suaminya itu belum tidur, tadi di dalam kamar mandi, ia berencana menggoda Abizar, mereka sudah cukup lama tidak bercinta dan malam ini ia ingin melakukannya. Akan tetapi, saat keluar kamar mandi, ia tidak melihat Abizar di manapun dalam kamar. Jovanka menghela nafas panjang. Abizar tiba apartment dan langsung membuka pintu. Ia masuk dan berjalan menuju kamar Jelita. Bi Sumi yang berpapasan dengannya terkejut bingung karena melihat Abizar datang sendiri. “Loh, Tuan tidak bersama Nyonya?” tanya bi Sumi. “Apa maksud Bibi? Jelita tidak ada di kamar?” tanya Abizar mulai gusar. “Nyonya sejak tadi pagi keluar dan sampai sekarang belum pulang. Saya pikir nyonya bersama Tuan,” ucap bi Sumi yang juga mulai terlihat cemas. “Apa? Jelita belum pulang juga? Kemana dia ?” Abizar meneruskan langkahnya dan masuk ke dalam kamar. Ia membuka ponsel dan menelpon Jelita tapi tidak ada jawaban. “Hah.. kemana dia? sudah malam begini tapi dia belum pulang juga.” gerutunya gelisah. Ia melangkah ke jendela dan melihat keluar, berharap Jelita akan datang. Tapi apa yang ia harapkan tidak terjadi. Ia lantas berjalan mondar mandir dengan frustrasi, ia benar-benar tidak tenang dan khawatir. Abizar duduk lalu berdiri lagi dan kembali berjalan kesana-kemari kemari seperti orang linglung. Jelita membuka pintu kamar dan terkejut melihat suaminya duduk di sofa sambil menatapnya tajam. Abizar dengan cepat bangkit dan menghampiri Jelita. “Loh, Kakak datang?” Jelita menyapa Abizar seperti biasa, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. “Kau dari mana saja? Kenapa malam begini baru pulang? Kau tahu kan kau itu sedang hamil, tidak seharusnya kau berada di luar sampai malam begini. Kau tahu aku sangat mengkhawatirkanmu” Abizar menggerutu tanpa henti. Ia bersikap seperti orang tua yang sedang mengomeli anak gadisnya yang ketahuan pulang larut. “Kau tenang dulu, Kak. Kenapa jadi uring-uringan begini sih? Sini duduk dulu. Lagipula aku capek, aku tidak ada tenaga lagi untuk berdebat denganmu, jadi silakan kalau kau ingin marah, aku akan mendengarkan saja,” ucap Jelita sambil berjalan masuk dan melepas mantelnya. “Jelita, kenapa kau sampai melakukan ini?” Jelita mengerutkan keningnya, ia menatap Abizar bingung. “Melakukan apa, Kak?” “Kau sengaja tidak pulang karena menghindariku, kan? Terus terang sikapmu di mall tadi membuatku terkejut dan sedih. Kau bisa berakting sesempurna itu dan menyembunyikan kepedihanmu sendiri?” ucap Abizar. “Terus, Kakak mau aku bersikap bagaimana di hadapan istri sahmu? Apa aku harus mengatakan jika aku juga mencitaimu dan tidak rela melihat kebersamaan kalian?” sanggah Jelita, hatinya yang tenang kembali kacau. Abizar terdiam mendengar ucapan Jelita, yang dikatakannya itu tidak salah. Memang seperti itulah sikap yang harus diperlihatkan Jelita di hadapan Jovanka jika tidak ingin membuat hubungan mereka ketahuan. Tapi justru karena hal itulah, hati Abizar menjadi tidak rela, ia juga merasakan sakit seperti yang Jelita rasakan. “Jelita, maafkan aku karena telah menyeretmu dalam kehidupan yang menyusahkan seperti ini,” ucap Abizar. Ia menggenggam tangan Jelita dan menciumnya dengan lembut. Hati jelita menghangat, ia kemudian tersenyum dan membelai wajah Abizar. “Jika hubungan kita hanya akan membuat kita bertiga merasa sakit, lebih baik kita akhiri saja. Masih belum terlambat memperbaiki semuanya dari awal. Sebelum istrimu mengetahui semuanya, hubungan kita harus berhenti sampai di sini,” ucap Jelita sambil menahan kegetiran di dadanya. “Apa? kau jangan bicara omong kosong begitu, Jelita. Aku tidak akan mungkin membiarkanmu pergi dari hidupku. Aku ingin hidup bersamamu selamanya, berjanjilah kau tidak akan mengatakan hal konyol itu lagi,” ucap Abizar tidak rela. “Kak, aku tadinya juga berpikiran sama. Aku tidak bisa hidup tanpamu karena cinta yang aku rasakan padamu sangat besar dan dalam. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, hidup seperti ini tidak ada gunanya. Kau punya ibu Jovanka yang sangat mencintaimu, dan kau juga sangat mencintainya. Sebelum kedatanganku, kalian hidup bahagia. Kau tahu, Kak, setelah aku mendengar ucapan istrimu tadi, wajahku seperti tertampar puluhan kali hingga aku tersungkur dan tidak mampu bangkit lagi. Aku jadi tersadar, jika selama ini aku sangat kejam. Ucapan ibu Jova sama sekali tidak salah, akulah yang bersalah di sini. Jika aku lebih kuat dan menahan diri sedikit saja, semua ini pasti tidak akan terjadi. Jadi aku berharap, kau bisa menjalani kehidupan normal dengan ibu Jovanka dan aku juga akan begitu. Jangan khawatir, anak ini akan aku jaga sampai ia lahir nanti. Setelah itu kehidupan kalian akan jauh lebih berbahagia.” Ucapan Jelita membuat hati Abizar menjadi panas. Bisa –bisanya Jelita mengatakan hal mustahil itu. Kenapa ia harus menjalani kehiduapn yang sejak awal sudah membuatnya kesulitan? Ia memang mencintai Jovanka, tapi semenjak Jelita hadir dalam hidupnya, ia jadi bisa merasakan bagiaman rasanya di hargai dan di hormati sebagai suami. Bagaimana rasanya di layani dengan sepenuh hati oleh istri di rumah. Ia tidak mungkin akan melepas Jelita dan memberikan kesempatan pria lain untuk memiliki istrinya itu. “Berhentilah berkata omong kosong, Jelita. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepasmu, kau mengerti?” ucap Abizar dengan tegas. “Kau bisa memaksakan pendapatmu sendiri, Kak, tapi aku juga sudah membuat keputusan, dan keputusan yang aku ambil ini adalah keputusan yang terbaik.” Jelita juga menegaskan ucapannya. “Apa kau bilang? Kau ingin menyudahi hubungan kita secara sepihak? Apa kau sudah kehilangan akal? Atau apakah pria itu yang telah mempengaruhimu sampai kau bisa berkata seperti ini, hah?” Abizar mulai emosi. “Tidak ada satupun yang pernah mempengaruhiku atau semacamnya. Ini murni dari kesadaranku sendiri. Aku tidak ingin membuat ibu Jovanka menderita karena suaminya direbut wanita seperti aku. Aku tidak ingin itu terjadi, Kak. Jadi aku mohon akhiri saja hubungan ini dan kau kembalilah kepada istrimu. “Kau bear-benar membuatku marah, Jelita. Kau tahu, sampai kapan pun aku tidak akan melepasmu,” ucap Abizar lalu dengan garang ia melumat bibir Jelita. Tidak seperti biasa, Jelita hanya pasrah di cium oleh suaminya, ia tidak membalas ciuman Abizar, dan hal itu semakin membuat Abizar kesal. Ia menghentikan ciumannya dan menatap jelita dengan tajam. “Jika kau mengkhawatirkan perasaan Jovanka, aku malah akan memberitahu dia tentang hubungan kita agar kalian bisa hidup rukun dan saling mengerti,” ucap Abizar. Mendengar itu Jelita syok. Bisa-bisanya Abizar memiliki pemikiran seperti itu. Kalau hal ini benar-benar terjadi, itu akan menjadikan masalah semakin rumit. “Tidak, Kak. Kau tidak boleh melakukan itu terhadap istrimu sendiri…”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN