Jovanka mengikuti arah pandang Abizar yang menatap fokus ke sebuah toko sepatu, awalnya ia bingung, apakah suaminya ingin membeli sepatu di toko itu, tapi setelah menatap lebih lama, ternyata ada alasan kuat kenapa suaminya bersikap seperti itu.
“Hoh, ternyata wanita itu bersenang-senang juga rupanya. Eh, tapi… dia bersama seseorang? Mas…” Jovanka baru mau memberitahu apa yang ia lihat tapi Abizar sudah melangkah menghampiri toko itu.
Sementara itu Jelita terlihat sangat menikmati waktunya dan bersenang-senang, ia sangat bersemangat memilih sepatu yang cocok untuk Bima dan Bima hanya mengikuti setiap kemauan Jelita. Sudah beberapa pasang sepatu dicobanya, dan sampai sekarang Jelita belum menemukan yang di anggapnya cocok untuk Bima.
Bima senang melihat senyum manis itu terus tersungging di bibir indah Jelita, ia berjanji akan selamanya membuat senyum itu berada di wajah cantiknya.
“Duh, kenapa sepatu-sepatu ini tidak ada yang cocok denganmu ya, Bim? Kita pindah ke toko lain saja deh. Di sini sepatu-sepatunya terlalu klasik. Gak cocok untuk anak kuliahan sepertimu,” ucap Jelita sambil kembali menarik tangan Bima keluar dari toko itu.
“Kak, pilihkah salah satu saja, ini juga bagus kok. Harus berapa lama lagi kita keliling toko, aku sudah tidak kuat lagi berjalan. Kakiku sakit,” rengek Bima malas-malasan. Wajahnya di buat memelas berharap Jelita mau mendengarkannya. Padahal dalam hati, mau berjalan sampai kemana pun jika itu yang akan membuat senyum Jelita terus ada, Bima akan menempuhnya.
“Itu gak cocok buat kamu, pokoknya hari ini aku akan mendandanimu sampai aku puas! Entah kenapa aku ingin kau menjadi modelku seharian. Mungkin bawaan bayi kali ya? he he… eh apa jangan-jangan bayiku nanti laki-laki? ayo, masa cowok lembek begitu. Aku aja yang hamil ini masih semangat.” Jelita kembali menarik tangan Bima yang sedang duduk.
“Ayo sebelum aku ber… akh..!” saat Jelita ingin melangkah, ia seperti membentur sesuatu yang keras tapi lembut. Saat ia mengangkat kepala, matanya membola karena sosok Abizar tiba-tiba ada di hadapannya menatapnya dengan tajam.
Pada saat yang sama, ia juga melihat Jovanka berjalan menghampiri Abizar dan dengan mesra bergelayut di lengan suaminya.
Jelita membeku untuk beberapa saat, tapi setelah itu ia tersenyum.
“Oh, Pak Abizar, Bu Jovanka. Kalian rupanya ke sini juga,” sapanya dengan wajah ceria seperti biasa.
“Iya, kami menghabiskan waktu bersama, sudah lama sekali kali tidak seperti ini. Jadi aku pikir, kami perlu lebih memperbanyak waktu bersama, agar tidak ada celah untuk siapapun yang mencoba untuk mencuri tempat di antara kami, bukan begitu, sayang?” ucap Jovanka dengan sindiran pedasnya.
Jelita terlihat menelan ludah keringnya, ia menatap keduanya bergantian lalu kembali tersenyum. Sedangkan Abizar hanya terus menatapnya tajam tanpa berkata apa-apa.
“Oh tentu saja, Bu. Kebetulan kami juga sedang jalan, ya sekedar menghilangkan kebosanan di rumah sendirian. Ya sudah kalau begitu, kami mau lanjut dulu. Sampai jumpa, ayo Bim, kita pergi,” ucap Jelita lalu kembali menarik tangan Bima melangkah meninggalkan tempat itu.
“Tunggu!” Abizar akhirnya membuka suara.
Jelita menghentikan langkahnya, tapi ia sama sekali tidak berbalik. Ia menunggu ucapan yang akan Abizar katakan setelah itu.
“Tolong jaga dirimu, jangan sampai terjadi sesuatu dengan anak yang kau kandung.”
“Deg.” Perih, itulah yang dirasakan Jelita. Ia memejamkan mata berusaha menjaga agar kesedihannya tidak tumpah di hadapan kedua orang itu. Menghela nafas dalam lalu berbalik ke arah keduanya sambil tersenyum.
“Tentu saja, Pak. Dia juga tanggung jawabku hingga dia lahir. Jangan khawatir.” Jelita menggenggam erat tangan Bima dan berkata, “Lagipula, ada Bima yang menemaniku, jadi tidak perlu terlalu risau,” ucapnya lalu melanjutkan langkahnya.
Bima merasakan tangannya sakit saking kuatnya Jelita mencengkeram tangannya. Ia hanya terdiam menatap Jelita yang tertunduk sambil terus melangkah. Ia bahkan bisa melihat air mata Jelita yang tidak bisa tertampung lagi, mengalir deras dari pelupuk matanya.
Setelah merasa sudah sangat jauh mereka melangkah, giliran Bima yang menahan langkah Jelita dan meraih tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
Akhirnya Jelita mengeluarkan semua kesedihannya dan menumpahkan di d**a Bima.
“Tidak perlu di tahan, Kak. Keluarkan saja semuanya biar kau lega.” Jelita semakin tersedu-sedu sambil terus memeluk erat Bima.
Perasaan Bima ikut hancur melihat betapa terpuruknya wanita yang ia cintai ini. Sungguh ia merasa menjadi seseorang yang tidak berguna sama sekali. Apa yang ia harus lakukan agar air mata Jelita berhenti menangis. Padahal baru saja ia berjanji dalam hati kalau ia akan membuat senyum cantik di wajah Jelita selaku tersungging indah. Akan tetapi, lihatlah sekarang, ia bahkan tidak bisa membuatnya berhenti menangis.
Tangan Bima bergerak mengelus punggung Jelita dengan lembut, ia bisa merasakan tubuh Jelita bergetar menampung kesedihan mendalam.
“Aku sangat mencintainya, Bima. Aku bahkan rela menyakiti hatiku sendiri dengan berpura-pura merasa baik-baik saja. Kenapa aku sangat bodoh dan lemah seperti ini? Kenapa aku bisa serendah ini? Aku sudah tahu mereka saling mencintai, tapi dengan tidak tahu malunya aku malah mencoba masuk di antara keduanya dan membiarkan hatiku menderita sendiri. Aku seharusnya tidak membiarkan perasaanku mengacaukan hidupku seperti ini, aku seharusnya masih berpegang pada perjanjian kontrak itu yang akan berakhir setelah anak ini lahir. Aku seharusnya tidak mem…”
“Cukup Kak, kau sudah cukup menyalahkan dirimu. Iya, aku akui kau memang bodoh karena telah mencintai suami orang. Tapi jangan terus-terusan merendahkan dirimu sendiri.” Bima merenggangkan pelukannya dan menatap dalam mata Jelita yang sembab.
“Dimataku, kau tetap menjadi orang yang selalu aku kagumi. Kau selalu menjadi inspirasi dan gambaran tokoh wanita yang kuat menjalani pahitnya kehidupan. Kau tahu, aku bahkan selalu bermimpi mendapatkan wanita sepertimu, tapi mungkin hanya kau satu-satunya wanita itu. Terlepas dari apa yang sudah terjadi, kau masih wanita terbaik yang pernah aku temui,” ucap Bima mencoba memberikan ketenangan kepada Jelita.
“Aku bukan lagi wanita seperti itu, aku tidak ada bedanya dengan wanita rendahan di luar sana yang mencoba merebut milik orang lain,” sahut Jelita putus asa.
“Kau salah, justru dengan kau mengakui semuanya, membuatmu memiliki martabat lebih dari wanita-yang kau maksudkan itu. Begini saja, kita pulang dan kau tenangkan pikiranmu. Renungkan dengan dalam, apakah kau sanggup menjalani kehidupan seperti ini atau tidak. Jika setelah itu kau masih ingin mempertahankan hidupmu yang sekarang, silakan saja. Toh tidak ada salahnya karena kau juga adalah istri dari pria itu, cinta yang kau rasakan itu tidak akan hilang begitu saja setelah apa yang kau alami barusan. Aku yakin pria itu akan berusaha membuat hatimu luluh lagi, kau lemah karena mencintainya. Itulah sebabnya ia bisa menguasai dan memperlakukanmu semaunya. Ia mencintai istrinya, dan juga ingin memilikimu. Hah… Aku benar-benar iri dengannya. Tapi, jika kau memutuskan untuk menghentikan semuanya, aku akan siap membantu menata kembali hatimu yang telah hancur. Aku berjanji akan menemanimu hingga akhir. Kau mengerti maksudku, kan?” Bima membingkai wajah Jelita dan menatapnya dengan dalam.
Air mata Jelita berhenti mengalir, ia membalas tatapan Bima.
“Kau terlihat seperti pria dewasa mengatakan hal seperti tadi, Bima. Aku bahkan sampai lupa kalau kau lebih muda 2 tahun dariku. Yah, kita pergi saja dari sini. Tapi aku tidak ingin pulang sekarang,” ucap Bima
“Kedewasaan itu tidak berdasar pada seberapa umur kita, melainkan seberapa mampu kita mengendalikan pikiran dan tindakan agar tetap pada tujuan yang baik. Bahkan jika kau mau, aku bisa lebih dewasa dari ini, Kak. Tapi sudahlah, belum saatnya membahas masalah itu denganmu. Jadi? Mau jalan ke tempat lain lagi atau aku antar ke rumah ayahmu?” tanya Bima.
“Tidak ke rumah ayah, aku takut akan bersedih lagi jika melihatnya. Ayahku tidak tahu apa yang sudah aku lakukan dengan berbohong kepadanya. Membayangkan itu saja aku jadi sedih lagi,” ucap Jelita kembali murung.
“Jadi, kita ke mana?” tanya Bima.
“Aku ingin ke suatu tempat yang damai, ayo kita ke sana saja.”