Bersenang-senang

1108 Kata
Jelita hanya mengaduk-ngaduk makanannya, ia sama sekali terlihat tidak berselera. Bima yang makanannya sudah hampir habis menatap bingung. “Loh Kak, kenapa di aduk begitu makanannya. Nanti benyek gak enak lagi, atau mau aku pesankan makanan yang lain?” tegur Bima. “Ah, tidak perlu. Ini aku makan kok,” sanggah Jelita sambil memasukkan sedikit makanan ke mulutnya. “Kenapa makannya kayak orang jijik sih, yang banyak makannya. Gak kasihan apa sama yang ada diperut Kakak,” ucap Bima lagi. “Iya bawel, aku makan sekarang,” ucap Jelita. Bima tersenyum saat Jelita mulai mengunyah makanannya. Mulut kecil Jelita bergerak lucu saat makanan itu masuk kedalam mulutnya. Bima jadi membayangkan bagaimana jadinya jika bibir itu ia cium? “Kenapa menatapku begitu? kayak gak pernah liat orang makan saja,” tegur Jelita saat melihat Bima menghentikan makannya dan hanya menatapnya terpana. Bima tersadar dari lamunan liarnya, bisa-bisanya dia memiliki pemikiran seperti itu kepada wanita yang sudah menjadi milik orang lain ini? tapi perasaannya terhadap Jelita tidak bisa ia sepelekan begitu saja. Semakin ia tahu kenyataan bahwa Jelita tidak bisa ia miliki, semakin besar keinginan untuk merebutnya dari pria yang sudah beristri itu. Ia sama sekali tidak rela Jelita hanya dijadikan pelampiasan hasrat dari pria b******k itu. Ia tidak ingin wanita yang ia cintai sejak lama, menjadi wanita yang akan di cemooh oleh orang-orang. “Kak…” panggilnya lirih, “Ya?” Jelita mengangkat kepalanya dan menatap Bima sambil terus mengunyah makanannya. “Kenapa kau mengajakku bertemu?” tanya Bima. Jelita menghela nafas dalam dan meletakkan sendoknya. Ia menatap Bima dengan dalam. “Aku hanya bosan sendirian di rumah. Kenapa? Kau keberatan jika aku mengajakmu bertemu seperti ini? oh, atau kau sudah punya kekasih yang akan terganggu jika aku mengambil waktumu sebentar?” tebak Jelita. Bima jadi tertegun mendengar Jelita berceloteh tidak seperti itu. “Kenapa bicaranya malah ngelantur kemana-mana sih? Aku tidak punya kekasih. Sekarang kita fokus saja ke permasalahan Kakak. Karena kau sudah mengajakku kemari, aku berhak tahu apa yang sedang terjadi,” tuntut Bima. “Bima, temani aku shopping yuk. Kalau tidak salah, aku pernah janji untuk membelikan pakaian untukmu, nah sekaranglah saatnya.” Jelita mengalihkan pembicaraan, membuat Bima hanya terdiam. “Kak, aku sekarang ingin bicara serius. Jadi jangan berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku tahu kau tidak bahagia dengan pria itu kan? kalau tidak, mana mungkin kau menemuiku seperti ini,”ucap Bima. “Bima tolong, aku hanya ingin mengajakmu jalan saja, kau tidak bisa memaksaku untuk menceritakan sesuatu yang aku tidak ingin bagikan pada siapapun. Jika kau memang tidak mau menemaniku, tidak apa-apa. Kau bisa pergi dari sini, aku bisa jalan sendiri. Aku mengajakmu karena selain kau, aku tidak pernah punya sahabat akrab yang bisa membuatku nyaman seperti jika aku bersamamu. Jadi aku minta maaf jika telah mengganggumu, kau bisa pergi sekarang,” ucap Jelita dengan wajah murung. “Apa yang kau bicarakan itu, Kak? itu semua tidak benar. Oke baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk bercerita. Kau ingin mengajakku shoping kan? Ayo kita jalan sekarang,” ucap Bima sambil memesan taksi online dari aplikasi di ponselnya. “Kalau saja Kakak mau naik motorku..” komentar Bima. “Aku kan sudah bilang, aku gak bisa naik motor. Aku bisa mual kena angina banyak-banyak,” ucap Jelita. “Iya..iya.. ini aku pesan taksi untuk yang mulia ratu,” kelakar Bima. “Kau jangan meledekku ya,” tegur Jelita dengan wajah cemberut. Bima hanya nyengir kuda melihat reaksi Jelita. Tapi tidak lama Jelita ikut tersenyum senang, melihat Bima begitu perhatian terhadapnya ia jadi berpikir wanita yang menjadi kekasih Bima pasti akan bahagia bisa di cintai oleh pemuda sepertinya. “Terima kasih, ya, Bima. Kau memang pemuda yang baik. Aku doakan suatu saat nanti, kau akan mendapatkan perempuan yang baik juga,” ucapnya. Bima hanya memutar bola matanya mendengar doa tulus Jelita untuknya. Tak lama kemudian, taksi datang. Mereka pun meninggalkan tempat itu. Sesampainya di sebuah pusat perbelanjaan terkenal, mereka turun dari taksi dan memasuki kawasan itu. Jelita tersenyum senang saat masuk ke dalamnya. Sudah sangat lama semenjak ayahnya sakit, ia baru kali ini menginjakkan kaki di mall ini lagi. Mereka kemudian berjalan beriringan, Bima juga melihat barang-barang yang terpajang cantik di kanan dan kirinya. Berderet toko yang menyajikan semua kebutuhan terpajang dengan sangat menawan menarik mata. “Yuk kita masuk ke toko itu dulu,” Jelita menarik tangan Bima masuk ke salah satu toko pakaian. Bima menatap tangan yang Jelita pegang, ia tersenyum dan mengikuti langkah Jelita masuk ke toko. Keduanya pun sibuk memilih pakaian, Jelita dengan gesit berjalan ke sana kemari memilih pakaian untuk Bima, sedangkan Bima hanya menurut saja. Ia juga pasrah saat dijadikan sebagai model oleh Jelita. Senyum di bibir Jelita terus tersungging, Bima hanya bisa menikmati keindahan senyum itu dengan perasaan miris. Ternyata sesederhana itu hal yang bisa membuat Jelita bahagia, jalan dan shopping bisa membuta senyum yang sebelumnya tidak pernah ia saksikan kini terus tersungging indah di wajahnya. “Wah, ini saja Bim, kau terlihat sangat cocok pakai ini, duh gemesnya liat kamu pakai ini. Mbak, yang ini dan ini, ya?” ucap Jelita penuh semangat. “Pelan-pelan Kak, ingat perutmu ada isinya,” komentar Bima. “Iya.. ya aku tahu, ayo kita ke toko yang lain. Aku mau kau beli sepatu juga,” ucap Jelita sambil menggandeng tangan Bima dan membawanya meninggalkan tempat itu. Sementara itu, terlihat Abizar dan Jovanka berjalan dengan tangan yang saling bertautan mesra. Mereka juga sedang berada di mall. Berjalan-jalan berdua dan menikmati waktu bersama. “Mas, aku tidak menyangka akhirnya aku bisa mengajakmu ke sini. Sudah lama loh, kita tidak jalan berdua seperti ini,” ucap Jovanka sambil terus menggandeng tangan suaminya. “Iya sayang, tapi kau bermain curang itu namanya,” sahut Abizar. “Loh, tidak dong! Aku kan hanya bilang, tolong pulang cepat, ada sesuatu yang sangat penting,” belanya. “Iya, justru karena ucapanmu itu aku jadi terburu-buru pulang,” sungut Abizar. “Tapi dengan begitu akhirnya kita bisa berada di sini, kan? Aku yakin kau tidak akan datang jika aku tidak mengelabuimu seperti tadi,” Jovanka tertawa girang, karena berhasil membuat Abizar yang notabenenya benci dengan hal seperti ini akhirnya mau di ajak jalan. Mereka pun terus berjalan. Makan di restoran dan berbelanja barang-barang mewah kesukaan Jovanka. Setelah puas, atau lebih tepatnya setelah Jovanka puas, mereka memutuskan untuk menonton bioskop. Jovanka tampak sangat menikmati kebersamaan bersama Abizar, sedangkan Abizar tampak biasa saja, bahkan ia cenderung banyak terdiam. TIba-tiba langkah Abizar terhenti, pandangannya terlihat fokus ke salah satu toko. Jovanka bingung tiba-tiba suaminya menatap tajam ke arah toko itu. “Mas, kenapa berhenti? katanya mau nonton. Nanti kita terlambat,” ucap Jovanka. Namun, Abizar tidak merespon. Ia terus menatap ke arah toko itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN