Kegalauan

1100 Kata
Abizar mengangkat kepalanya dan menatap Jovanka. “Apa, katakan saja,” ucap Abizar sambil mengunyah makanannya. Jovanka terdiam, ia menimbang-nimbang, apakah ini sudah waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya kepada suaminya? Bagiamana ia telah mendapatkan semuanya dari hasil kebohongan yang selama ini ia tutupi dari Abizar. “Kok malah diam, katanya ada sesuatu yang penting? Aku jadi penasaran loh?” ujar Abizar. Ia meneguk air di gelas dan mengakhiri makannya. “Ah, enggak apa-apa, Mas. Lain kali saja. Setelah dipikir-pikir, aku belum siap mengatakannya sekarang, aku harus mencari waktu yang tepat dulu,” Jovanka tersenyum kikuk. “Aku perhatikan kau sudah mulai pintar menyembunyikan sesuatu dariku.” Abizar mencubit pipi Jovanka dengan gemas lalu mengelus lembut wajah cantik itu. Abizar selalu cinta dan sayang dengan Jovanka, terlepas bagiamana perasaannya kepada Jelita. Jika diibaratkan, Jovanka adalah ratu yang sudah menguasai seluruh kerajaan hatinya, ratu yang tidak akan pernah bisa digulingkan oleh kekuatan pemberontak apapun. Ia akan menjadi satu-satunya penguasa di sana. Sedangkan Jelita adalah selir yang senangtiasa memberinya kenyamanan dan kenikmatan, selir yang ia cintai dan kasihi. Jelita memberikan apa yang tidak diberikan Jovanka, Jelita melengkapi kekurangan Jovanka untuknya dan keduanya akan ia pertahankan selama yang ia bisa. “Aku mau ke kamar duluan, ya?” ucap Abizar saat melihat istrinya mengetik sesuatu di ponselnya. Jovanka tidak merespon, ia hanya terus menatap ponselnya tanpa memperdulikan Abizar. Abizar menghela nafas dalam lalu melangkah meninggalkan meja makan. Setelah membalas pesan dari Sindy, Jovanka baru mengangkat kepalanya dan menyadari jika Abizar sudah tidak ada di tempatnya. Jovanka lalu menyusul Abizar ke kamar. Jovanka melihat suaminya duduk santai sambil menikmati cahaya rembulan di balkon kamarnya. Ia menghampiri Abizar dan duduk di sebelahnya. “Kamu lagi mikirin apa sayang?” Jovanka memeluk Abizar dari belakang. “Tidak, aku hanya memikirkan bagaimana berbuat adil,” sahut Abizar, ia mengelus lengan Jovanka yang melingkar di pinggangnya. “Berbuat adil? kamu kan CEO paling baik dan terkenal adil di kantor, bagaimana bisa memikirkan hal yang sudah menjadi sifat dan kebiasaanmu, hmm?” Jovanka membalik tubuh Abizar membuat suaminya menghadap ke arahnya. Abizar hanya terdiam menatap Jovanka yang tersenyum. ‘Kau tidak tahu Jovanka, keadilan apa yang aku maksudkan. Keadilan untuk kau dan Jelita. Keadilan yang sebisanya tidak membuat kalian saling menyakiti,' ujar Abizar dalam hati “Mas, kau tahu, kau adalah pria paling sempurna yang pernah aku miliki. Aku bahkan akan melakukan apa pun untuk mempertahankanmu agar tetap di sisiku selamanya. Sayang, kenapa aku memintamu untuk menikah lagi, itu karena aku percaya kau tidak akan mengkhianati cinta kita dan akan terus mencintaiku selamanya. Aku sangat yakin, meskipun terkadang aku menyesali apa yang sudah aku lakukan padamu, dan berpikir bagaimana jika seandainya kau jatuh cinta dengan Jelita dan meninggalkanku suatu hari nanti, bagaimana jika kau lebih memilih Jelita dari pada aku? tapi semua pengandaian itu hilang dengan sendirinya mengingat kau adalah pria paling konsisten dengan perasaanmu, ditambah kontrak pernikahan kalian akan berakhir saat anak itu lahir, aku kembali bisa merasa lega,” Jovanka memeluk erat Abizar. Abizar meremas lengan Jovanka, ada sesuatu yang sesak di dalam dadanya mendengar curahan hati istrinya. pria paling konsisten dengan perasaan? Rupanya itu hanya akan menjadi pengandaian, nyatanya ia bukan lagi pria baik itu. Jika mencintai Jelita adalah sebuah pengkhianatan, maka ia sudah menjadi seorang penghianat. “Kenapa kau diam saja, Mas,” tanya Jovanka. “Tidak apa-apa sayang, Aku mau tidur, besok pagi kan aku ke kantor lagi,” sahut Abizar. “Baiklah kalau begitu. Kau tidur duluan saja, aku masih belum mengantuk,” ucap Jovanka sambil melepas pelukannya. Abizar tersenyum dan membelai wajah lembut Jovanka. “Baiklah, aku tidur duluan kalau begitu, selamat malam,” ucapnya. “Selamat malam,” balas Jovanka. Abizar melangkah menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya, ia menatap Jovanka yang masih duduk di sofa sambil memainkan ponsel. Abizar jadi kepikiran dengan ucapan Jovanka. Ia menyadari jika ia kini sudah tidak lagi di anggap sebagai pria paling setia. Ia sudah membagi cinta dengan wanita lain. ‘Ah apakah aku sudah menjadi pria jahat karena telah tanpa sengaja mencintai Jelita? Ah, Jelita, dia pasti sedang menungguku sekarang,’ ucapnya dalam hati. *** Sudah 2 hari Jelita hanya termangu di dalam kamar, hatinya gundah menantikan kedatangan Abizar. Sejak malam itu, Abizar tidak pernah datang lagi. Meskipun ia sangat sadar jika porsinya sebagai istri kedua hanya sedikit dibandingkan dengan istri sah, tetap saja ia terus menantikan saat dimana pintu terbuka dan Abizar masuk membawa segudang cinta pelepas rindu untuknya. Akan tetapi, sampai saat ini, Abizar tidak datang. Bahkan ia sama sekali tidak menghubunginya. Yah, mungkin ia sangat menjaga perasaan Jovanka dan tidak ingin meninggalkan jejak hubungan tersembunyi mereka, Jelita sangat paham akan hal itu. Namun, tetap saja Jelita merasa sedih. Ia terus saja memegang ponselnya berharap Abizar akan menelepon, atau paling tidak menanyakan kabar. “Kalau aku yang nekat menghubunginya duluan, akan seperti apa reaksi kak Abi, ya? apakah dia akan marah? Ah, tidak..tidak… aku tidak boleh bertindak impulsif begini. Bagaimana kalau bu Jovanka yang mengangkat teleponku, pasti akan gawat. Sudahlah, aku telepon Bima saja. Siapa tahu dia tidak sibuk,” gumannya. Jelita lalu menghubungi Bima, dan benar saja, teleponnya tersambung. “Halo Kak, ada apa nih. Tumben menelpon? Kangen, ya?” goda Bima sambil tertawa kecil, Jelita bahkan bisa membayangkan dengan jelas wajah menyebalkan pemuda itu. Dasar! “Ya sudah, kalau kau terus menyebalkan begitu, aku tutup saja teleponnya,” ucap Jelita. “Loh jangan, maaf deh. Tadi kan itu cuma candaan, Kak. Jadi ada apa nih? Ada yang bisa aku bantu? Bilang saja kalau suamimu itu butuh di hajar. Aku akan dengan senang hati membantumu, he..he…” Bima tidak bisa berhenti menggoda Jelita. “Hentikan Bima, aku cuma sedikit bosan nih, kau tidak sibuk kan hari ini,” tanya Jelita. “Hmm, sebenarnya aku hari ini ada kuliah, tapi karena Kakakku yang cantik ini memintaku mengosongkan jadwal kuliah karena dia sedang bosan ingin di temani, aku ya terpaksa tidak masuk,” ucap Bima seenaknya. Ia masih tidak bisa berhenti membuat Jelita kesal. “Kau bicara apa, Bima? siapa bilang aku menyuruhmu mengosongkan kuliah! Dasar anak ini, ya sudah kalau memang kau ada kuliah, aku tutup teleponnya ya, kau kuliah saja dengan benar, nanti aku telepon lagi kalau sudah selesai,” ucap Jelita. “Jangan dong Kak, iya aku akan berhenti menggoda lagi. Tapi aku tidak akan berhenti mencintaimu, assiikkk!” komentar Bima disertai tawa. “Bima! lama-lama aku jadi kesal beneran sama kamu! Semakin hari kau semakin tidak ada serius-seriusnya,” gerutu Jelita. “Loh bagian terakhir itu aku sangat serius, oke deh lupakan saja. Aku janji tidak akan bercanda lagi. Jadi sekarang ada yang bisa aku bantu?” ucap Bima.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN