Baby Versus Kakak

1155 Kata
Setelah makan malam bersama, Abizar membawa Jelita masuk ke dalam kamar. Ia masih ingin bermanja-manja dengan istrinya yang imut menggemaskan itu. ia takut jika mereka kembali kebablasan di ruang tengah, bi Sumi akan mengetahuinya. Abizar duduk di sofa dan Jelita duduk di pangkuannya. Jelita tampak merangkul leher suaminya, membiarkan Abizar kembali merasakan kelembutan dadanya. Ia benar-benar tampak tidak ingn lepas dari Abizar sekarang. Bahkan mungkin jika Abizar meminta untuk pulang sekarang, ia tidak akan membiarkannya. Mereka hanya terdiam di posisi mereak, seakan merasakn setiapdetik yang berharha bersama. Jelita memeluk erat suaminya begitupun juga Abizar. “Kakak…” ucap Jelita membuka suara. Abizar mengangkat kepalanya dan menatap wajah Jelita yang juga sedang menatapnya dengan penuh cinta. “Kakak..? apa kau sekarang sedang memanggilku kakak?” tanya Abizar. Ia melingkarkan lengan kekarnya ke perut sang istri. “Iya,” jawab Jelita. “Kenapa? Kau tidak suka panggilan manja baby lagi?” tanya Abizar. Jelita merenggangkan pelukannya agar bisa menatap suaminya dengan puas. “Bukan begitu, aku hanya berpikir jika panggilan itu terlalu genit. Apalagi dengan posisku sekarang yang hanya istri kedua. Walau bagaiamanapun aku menjelaskan kepada orang-orang tentang bagaiamana hingga aku bisa sampai berada di titik ini, mereka pasti akan menyalahkanku karena telah merebut suami orang. Jika aku memanggimu dengan panggilan baby, mereka akan semakin berpikira jika aku memang w************n dan tidak tahu diri.” Jelita menjelaskan maksudnya. “Oh begitu rupanya, jadi bagaimana dengan sebuat kakak? Bagaimana bisa kau memanggil suamimu dengan sebutan kakak?” tanya Abizar. Sebenarnya ia sendiri tidak masalah Jelita akan memanggilnya apa, tapi ia tetap ingin mendengarkan alasan istrinya, dari sekian banyak panggilan sayang, kenapa ia memilih Kakak. “Kakak menuritnku adalah symbol dari perlindungan. Panggilan itu sangat cocvok untukmu. Aku bukan hanya mencintaimu tapi juga menghormatimu dalan segala hal. Kau adalah pelindungku, seseorang yang akan menjagaku seumur hidup, setidaknya itu yang aku harapakan. Kau adalah perdoman dan imamku yang akan aku ikuti selamanya, dan panggilan kakak, sangat cocok mennggambarkan perasaanku padamu,” jelas Jelita lalu kembali. Abixar menatap istrinya dengan tatapan dalam, ada perasaan damai dan tenang yang menyelimuti hatinya setelah mendengar ucapan Jelita. Persaan di hormati sebagai seorang suami yang ia tidak dapatkan dari Jovanka membuatnya terharu. Persaan dicintai setulus hati yang ia tidak dapatkan Jovanka, kini ia peroleh dari istri yang awalnya ia tolak ini. Hatinya mulai membanding-bandingkan perlakuan Jovanka dan Jelita terhadapnya. Hatinya mulai menimbang cinta diantara kedua istrinya itu, cinta siapa yang benar-benar tulus. Dan ia melihat semua kesempurnaan persaan tertuju pada Jelita, istri yang kini ia peluk ini. Abizar semakin memeluk Jelita dengan erat. Ia tidak mengeluarkan kata sepatahpun, tapi Jelita bisa merasakan cinta yang sangat besar dari perlakuan suaminya itu kepadanya, dan ia benar-benar merasa bahagia. “Kak, aku berjanji, akan selalu mendukungmu. Aku akan selalu menjadi pendampingmu bagaiamanapun keadaanmu. Karean aku sangat-sangat mencintaimu,” ucap Jelita. Mendengar itu Abizar kembali nmelabuihkan bibirnya dan mencium Jelita dengan penuh perasaan. Seakan semua kata yang terbendung di muara hatyinya, meluap dan menenggelamkan dierinya. Abizar benar-benar merasakan kebahagiaan dan ketenangan hati dalam dekapan Jelita. “Aku juga sangat- sangat mencintaimu sayang,” ucapnya lalu mencium kening Jelita dengan lembut. Suara burung berkicau di pagi hari membuat Abizar membuka mata. Dilihatnya Jelita tidur diatas pangkuannya. Nafas hangat istrinya yang teratur menyapu dadanya yang sedikit terbuka. Ruapnya mereka tertidur di sofa. Abizar bangkit dan mengangkat jelita ke ranjang. Menyelimutinya sebelum melangkah ke kamar mandi. Setelah memakai kembali pakaiannya, ia mencium keninh istrinya lalu melangkah keluar. Bi Sumi yang sedang membersihkan ruangan tersenyum senang melihta majikannya menghabiskan malam dengan Jelita. “Selamat Pagi, Bi.” Sapa Abizar sambil memasang sepatunya. “Selamat pagu Tuan, saya senang tuan nginap di sini. Saya harap kedepannya tuan akan sering-sering menhabiskan waktu bersama nyonya jelita. Karean kan nyonya saat ini sangta butuih perhatian dan kasih sayang dari tuan, janin yang ada di kandungan nyonya sangta membutuhkan rasa tenang dari ibunya.” ucap bi Sumi panjang lebar. “Iy Bi. Yah semoga saja saya bisa memenuhi itu. baiklah, saya pergi dulu. Jelita masih tidur, kalau kerjaan tidak banyak, aku akan kembali lagi,” ucap Abizar lalu keluar dan meninggalakn tempat itu. Jelita membuka mata, ia menoleh ke samping dan tidak mendapati Abizar lagi. Pintu di ketuk sebelum terbuka dan bi Sumi masuk membawa makanan di nampan. “Nyonya baru bangun rupanya, ini sarapannya,” ucap bi Sumi sambil meletakkan makanan di atas meja. “Pak Abizar sudah pergi, Bi?” tanya Jelita beranjak dari kasur. “Iya, kata tuan jika pekerjaannya tidak banyak, tuan akan kembali lagi,” ucap bi Sumi sambil melirik Jelita. “Ya sudah Bi, aku ke kamar mandi dulu, makanannya taruh saja di situ. Nanti aku makan, terima kasih, ya,” ucap Jelita sambil melangkah menuju kamar mandi. Jelita mengguyur seluruh tubuhnya di bawah shower, tanda cinta Abizar yang masih tersisa di kulitnya membuatnya kembali membayangkan betapa pana dan liarnya mereka berdua malam tadi. Setelah merasa cukup, Jelita keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menempel di tubuhnya. ia duduk di depan cermin dan menatap wajahnya. Ia menyentuh tanda cinta itu. Ia tersenyum sambil menggigit bibirnya. Wajah memerah Abizar dengan tatapan sayu penuh hasrat, seketika membayangi pikirannya. Apa yang sudah terjadi padanya? apakah dirinya sudah benar-benar di butakan oleh cinta? Sampai pikirannya pun sudah tidak fokus lagi? Jelita segera menggeleng mengusir pikiran anehnya itu. Ia merasa harus melakukan sesuatu agar ia bia berpikir normal. Ponselnya tiba-tiba berdering, ia tersenyum melihat siapa yang meneleponnya. “Halo ayah, bagaimana kabar ayah?” *** Jovanka kembali memasak makan malam untuk suaminya, ia akan memperbaiki makan mereka yang gagal gara-gara Katrina sakit. Tapi sekarang, ia harus benar-benar membuat makan malam mereka sesempurna mungkin. dan jika memungkinkan, ia juga akan mulai berbicara tentang Katrina kepada Abizar. Seperti perkiraanya, Abizar akhirnya datang. Dengan cepat ia menyambut suamiya dengan senyuman dan ciuman hangat di bibir. Abizar tersenyum seperti biasa. “Sudah 2 hari ini kau pulang cepat terus, ya?” tanya Abizar sambil membuka kaos kakinya. “Iya, Mas. Pekerjaan di butik tidak sesibuk dulu lagi. dan juga aku mempercayakan semua urusan butik kepada manejer. Aku hanya tiggal memriksa laporannya saja,” ucap Jovanka sambil membantu Abizar membuka jasnya. “Hmm, baguslah kalau begitu,” respon Abizar lalu berjalan masuk ke kamar mandi. Setalh segar, Abizar keluar dan memakai pakaian santainya, lalu berjalan menuju meja makan. Abizar duduk dan mebatap Jovanka menyajika makanan untuknya. “Aku senang sekarang kau sudah lebih memilih lebih santai dalam kerjaanmu. Sudah aku bilag kan, jangan terlalu dipaksa. Kau sidah memiliki segalanya, buat apa kau habiskan waktu dan hanya untuk bekerja,” ucap Abizar mulai mengeluarkan isi hatinya. “Iya, Mas. Aku mulai berpikir untuk lebih santai dan menghabiskan waktu di rumah dan melayanimu dengan baik. Masak makanan kesukaanmu dan menyambutmu stelah pulang kantor. itu ;pasti akan sangat menyenangkan, iya kan, Mas?” ucap Jovanka penuih antusias. “Iya,” jawab abizar dengan singkat. Mereka pun makan bersama, hening seketika menyelimuti. “Mas, Aku ingin mengatakan sesuatu,” ucap Jovanka sambil menatap suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN