Pijit Plus

1147 Kata
Melihat tubuh suaminya yang berotot sempurna itu, wajah Jelita memerah. Abizar merebahkan tubuhnya dengan posisi memunggunginya. “Mulailah, sayang. Aku sudah tidak sabar,” ucap Abizar sambil memejamkan matanya menunggu sentuhan lembut tangan Istrinya. Jelita menatap punggung lebar dan kokoh itu sebentar. Ia tersenyum, hatinya berbunga-bunga. Ia tidak menyangka akan menyentuh punggung itu dengan tangannya. Selama ini ia bisa bermimpi untuk menyentuh punggung itu. Tapi sekarang, ia bisa dengan bebas menyentuh apa pun yang ia mau. Jelita mulai memijat punggung Abizar dengan teknik yang ia sudah pelajari dari ibunya. Ia terlihat sangat mahir melakukan pijatan. Abizar sampai memujinya berulang kali. Awalnya Jelita memijat punggung, pinggang dan area kaki dan betis. Pakaian Abizar pun hanya tinggal celana dalam saja. Saat Abizar membalikkan tubuhnya dan memintanya untuk memijat bagian perut dan dadanya, wajah Jelita kembali bersemu merah. Ia tidak yakin pijatannya akan berjalan lancar, karena sudah pasti ia tidak akan fokus dan malah berpikiran yang aneh-aneh. “Ayo kenapa berhenti, lanjutkan di bagian perut dan d**a juga. Hari ini aku benar-benar sangat puas. Tidak ku sangka aku mendapatkan seorang istri yang begitu berharga seperti dirimu. Aku benar-benar sangat bersyukur,” ucap Abizar dan itu membuat hati Jelita terbang ke atas awan. “Iya, baiklah,” sahutnya. Jelita pun mulai memijat area perut Abizar. Ia melakukannya dengan sangat baik, teknik pijatan di daerah perut berbeda dengan di daerah bagian tubuh lainnya dan Jelita terlihat sangat memahami itu. perlahan tangan lembutnya menyentuh perut, kemudian ke daerah d**a bidang suaminya. Jika Jelita fokus dengan pijatannya, maka Abizar sudah merasakan hal lainnya. Berbeda saat Jelita memijatnya di daerah punggung. Kali ini sentuhan Jelita membuat adik kecilnya menegang. Entah Jelita sadar atau tidak tapi benda di balik celana dalamnya itu sudah lama meronta ingin terlepaskan. Semakin Jelita menyentuh tubuhnya, semakin panas gairah membakar tubuh dan pikirannya. Ia jadi ingin meniduri istrinya itu sekarang juga. Tapi ia merasa kasihan, karena Jelita sudah berusaha dan mengeluarkan tenaga lebih untuk memijatnya. Apalagi istrinya itu sedang hamil. Tapi gairahnya semakin lama semakin tidak terkontrol, apalagi saat Jelita mulai menyentuh area pahanya. Ia ingin tangan Jelita menyentuh sesuatu yang menegang di antara pahanya itu. Nafas Abizar mulai tersengal menahan hasrat. “Jelita…” ucapnya. Jelita menghentikan gerakannya, ia menatap suaminya dengan tatapan heran. Kenapa suaminya tampak sangat gelisah, apa teknik pijatannya salah, tapi seingatnya dia melakukannya dengan benar. “Iya..” “Aku menginginkanmu sekarang juga, apa kau tidak keberatan, sayang?” Abizar menatap jelita dengan tatapan sayu menahan gairah. Jelita baru menyadari jika suaminya ini terangsang dengan pijatannya. Wajahnya pun memerah. Untuk sesaat ia hanya terdiam, tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia juga sebenarnya sudah lama menahan hasratnya itu, bahkan saat awal pijatan. Tapi sekuat tenaga ia menahan diri. Namun sekarang, suaminyalah yang terlihat sangat menginginkan hal itu, jadi mana mungkin ia menolak. “I..iya baby. Aku tidak keberatan,” ucapnya sedikit malu. Abizar tersenyum, ia lalu meraih kepala Jelita dan membuat istrinya menciumnya. Mereka pun saling berciuman dengan penuh hasrat membara. Jelita yang masih duduk, perlahan menempelkan tubuhnya di atas tubuh Abizar yang masih dalam posisi berbaring. Mereka masih berciuman dengan hangat. Abizar melepas ciumannya, menatap Jelita dengan tatapan penuh hasrat. Ia benar-benar ingin melahap istrinya ini sampai puas. Pijatan yang Jelita berikan menambah tenaganya berkali-kali lipat. “Lepaskan pakaianmu,” perintahnya. Nafasnya tersengal. Jelita yang duduk di atas tubuhnya itu melakukan apa yang Abizar ucapkan. Jelita mulai membuka pakaian satu persatu. Saat melakukan itu, Jelita terlihat semakin menggairahkan. Abizar semakin di mabuk kepayang. Jelita benar-benar terlihat sangat menggoda. Barangnya semakin menegang di bawah sana. Tapi ia tidak ingin terburu-buru. Ia ingin memuaskan matanya melihat keindahan wanita yang ada di hadapannya ini. Puncaknya saat Jelita melepas bra yang menutupi d**a indahnya, melihat kedua gunung indah itu, Abizar tidak mampu menahan diri lagi. Sehingga tangannya tanpa sadar meraih keduanya dan meremasnya dengan lembut. Desahan lirih Jelita pun terdengar. “Sayang, bergeraklah diatasku.” Dengan suara bergetar, Abizar meminta Jelita melakukan gerakan yang ia inginkan. “Ba..bagaimana caranya?” tanya Jelita dengan polos. Selama ini ia hanya tahu posisi bercinta biasa, dimana wanita di bawah dan pria yang bekerja di atas. Tapi mendengar Abizar memintanya untuk bergerak di atas tubuhnya, ia sama sekali tidak ada ide. Abizar yang dengan menikmati mainan di kedua tangannya, membuka mata. Ia meminta Jelita untuk melepas selana dalamnya hingga bendanya itu menjulang dengan kokoh. Jelita menelan ludahnya, meskipun benda itu sudah memasuki tubuhnya, tapi ia masih takut. Abizar kemudian memposisikan tubuh Jelita di atas tubuhnya. Awalnya Jelita kesulitan dan tentunya masih merasakan sakit, tapi karena stimulasi dari Abizar, akhirnya Jelita berhasil. “Sekarang gerakkan tubuhmu sayang,” ucap Abizar. Jelita pun dengan ragu mulai menggerakkan tubuhnya dengan perlahan. Abizar mengerang lembut. Semakin lama, Jelita bisa menyesuaikan tubuhnya dengan baik dan mulai menggerakkan tubuhnya dengan leluasa. Dengan insting dan gairah yang menguasainya, Jelita pun mampu membuat Abizar mengerang keras. Keduanya menikmati keindahan dan kenikmatan bercinta yang penuh gairah, semakin lama gerakan Jelita semakin tidak terkendali, ia sungguh tidak pernah membayangkan, gerakan seperti itu bisa membuatnya menjadi sosok berbeda. Ia merasa dirinya bebas mengekspresikan dirinya, indah dan nikmat. Ia bahkan merasa semakin ingin memiliki Abizar seutuhnya. Pria ini harus ia miliki, ia tidak ingin melepasnya lagi. Ia akan berusaha untuk memilikinya. Abizar bangkit dan merasakan tubuhnya sudah ada di bawah tindihan tubuh suaminya. Jelita melingkarkan lengannya dengan erat ke leher suaminya. Kali ini ia tidak ingin melepas sedetikpun tubuh Abizar. Ia mencium bibir Abizar dengan penuh gairah , menghisap dan mengulumnya. Gerakan Abizar pun semakin intens, membuatnya mendesah dan mengerang. Mereka seakan tidak memperdulikan hari esok. Liar dan panas, itulah yang mereka lakukan. Jelita benar-benar sudah kehilangan kendali, jika dulu ia masih malu dan ragu melakukannya, kini tidak lagi. Ia perlahan bisa mengimbangi gerakan Abizar bahkan membalasnya dengan membuat suaminya berkali-kali mengerang. Sampai akhirnya tubuh mereka ambruk dengan peluh yang membasahi sekujur tubuh. Nafas yang tersengal dengan gemuruh jantung yang menggebu, merela tersenyum puas. Abizar mencium kening Jelita dengan lembut. “Terima kasih atas pijatannya hari ini, sayang. Kau benar-benar sangat memuaskan,” ucap Abizar sambil membelai wajah Jelita yang memerah. Jelita hanya tersenyum dan mengangguk. Jika dulu, ia menyesal telah bercinta Dengan Abizar, kini ia sangat bahagia dan tidak menyesali apa pun, ia bahkan sudah bertekad akan memiliki Abizar sesuai apa yang bi Sumi katakan. Ia akan berjuang atas cinta tulus yang ia miliki itu. “Sayang, aku lapar,” ucap Abizar tiba-tiba. “Aku juga, baby. Anakmu ini juga sudah kelaparan sejak tadi,” ucap Jelita sambil mengelus perutnya yang sudah terlihat sedikit membesar. Abizar mencium perut Jelita dan berkata. “Ini anak kita berdua sayang…” Perkataan itu pun sontak membuat hati Jelita tersentuh, sungguh besar pengaruh ucapan itu untuknya. “Iya, ini anak kita…” ucapnya, air matanya matanya meleleh. “Kita makan, yuk,” imbuhnya lagi. * * * Ayo, mana suaranya...! keluarkan semua. author mah, ikut saja. Wkwkwk... Ayo dong tekan Love-nya. Masih dikit sangat...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN