Pijat

1124 Kata
Jovanka memasuki kawasan rumah sakit dan memarkirkan mobilnya. Dengan cepat ia turun dari mobil dan berjalan terburu-buru menuju ke nurse notion atau bagian informasi. “Permisi Suster, pasien anak atas nama Katrina Wilona ada di ruang perawatan mana, ya?” tanya Jovanka dengan penuh kecemasan. “Sebentar ya, Bu. Saya cek dulu,” sahut sang suster sambil memeriksa sesuatu di layar komputernya. Jovanka hanya mengangguk sambil menunggu dengan cemas. “Katrina Wilona, tiba di UGD pada pukul 5 sore tadi, pasien sekarang sudah dipindahkan di ruang mawar. Ada di lantai 3, Bu. Kalau dari sini Ibu belok kiri. “Terima kasih suster,” ucap Jovanka lalu berjalan sesuai arahan suster tadi. Sementara itu, Katrina terlihat sedang terbaring lemah, selang infus sedang terpasang di tangan kecilnya. Di kening dan sikunya ada perban, Sindy menemaninya dengan setia duduk di sampingnya. “Tante, kapan mama akan datang?” tanya Katrina dengan tidak sabar. “Sebentar lagi, sayang. Bukankah tadi Katrin melihat Tante menelepon mama? pasti saat ini mamamu sedang dalam perjalanan, bersabar sedikit lagi, ya?” ucap Sindy menenangkan. Ia membelai rambut Katrina dengan penuh kasih sayang. Katrina hanya terdiam. “Kalau mama tidak datang ke mari, bagaimana?” wajah Katrina menjadi murung. Sindy menghela nafas panjang. Ia menatap gadis kecil itu dengan tatapan serius. “Katrina dengar, mama pasti datang. Dia sudah berjanji akan datang, jadi percaya sama mama, oke sayang?” Sindy kembali meyakinkan Katrina. “Baiklah, tante,” ucap Katrina. Ia kembali memejamkan matanya. Setelah beberapa lama, pintu terbuka dan Jovanka masuk. “Bagaimana keadaannya?” tanyanya sambil menghampiri sang putri yang sedang tertidur. “Sejak tadi dia menunggu kedatanganmu, ia takut kau tidak akan datang,” ucap Sindy. Jovanka membelai rambut lalu mencium kening putrinya dengan penuh kasih sayang. “Sebenarnya kenapa dia bisa sampai terjatuh dari tangga?” tanya Jovanka. “Biasalah, anak-anak kalau bermain memang suka kebablasan. Aku ada di belakang saat itu. Aku pikir Katrina masih berada di kamarnya dan mengerjakan PR. Jadi aku kebelakang dulu buatkan dia s**u. Tak taunya anak itu naik tangga dan terpeleset. Untung dia tidak cidera parah,” ucap Sindy menjelaskan. Jovanka terdiam, lalu menatap Sindy. “Aku berpikir akan mengenalkan Katrina pada Abizar saja, supaya putriku bisa tinggal bersamaku. Yah tentunya kau juga ikut,” ucap Jovanka. “Apa kau sudah gila? bagiamana pendapat suamimu kalau dia tahu Katrina itu anakmu. Bukankan selama ini kebohonganmu yang kau sembunyikan sudah sempurna sejak 5 tahun ini. Kenapa kau harus mencari masalah lagi?” sanggah Sindy. Ia tidak setuju dengan ide Jovanka itu. “Aku tidak bisa lagi berpisah dengan Katrina. Aku ingin tinggal bersama anakku, Katrina juga harus merasakan kasih sayang seorang ayah. Aku yakin jika aku berkata jujur, Abizar akan mengerti dan memaafkan aku,” ucap Jovanka. *** Sementara itu, Abizar sudah berada di depan pintu apartment Jelita. Ia menekan pin kunci pintu dan membukanya. Ia berjalan menuju kamar, tapi Jelita ternyata tidak ada di kamar, ia pun langsung menuju ke ruangan makan. Benar saja, Jelita terlihat duduk di kursi sambil melamun. Abizar hanya menatap Jelita dengan senyum tertahan, ia tidak ingin mengejutkan istrinya. Ia melangkah mengendap perlahan, dengan pelan ia menutup mata Jelita dengan tangannya. Jelita tersentak dari lamunannya, tapi setelah sadar siapa yang mengerjainya, ia tersenyum senang. “Baby…” ucapnya. “Aku datang…” sapa Abizar sambil melepas tangannya dan mencium kening Jelita. “Ih..bikin kaget saja!” Jelita mencubit lengan suaminya dengan gemas. Kesal juga di kasi kejutan seperti itu, tapi tentunya ia sangat bahagia. “Siapa suruh melamun begitu, sampai tidak menyadari kedatanganku. Apa yang kau pikirkan itu, hmm?” Abizar menggeser kursi dan duduk di hadapan Jelita dan menatapnya lembut. “Tidak ada apa-apa, aku hanya sedang menunggumu saja. Oh ya, kamu sudah makan belum?” tanya Jelita. “Sudah sayang tadi di rumah, kebetulan Jovanka pulang cepat dan masak,” jawab Abizar dengan santai. Hati Jelita sangat kecewa mendengar ucapan Abizar, tapi sebisanya ia tersenyum, seakan hal yang ia dengar itu adalah sesuatu yang biasa. “Oh begitu ya, kita ke ruang tengah saja kalau begitu,” ucap Jelita menahan kegetiran hatinya. Sebenarnya ia menunggu kedatangan Abizar dan berencana untuk makan bersama. Ia sampai belum menyentuh makanan yang ia masak karena ingin makan bersama dengan suaminya. Akan tetapi ternyata, sesuai perkiraannya, Abizar sudah makan bersama dengan istri yang sangat berhak atas segalanya. Jika di bandingkan dengan Jovanka, ia hanya debu yang berusaha menempel dan bertahan dan tak lama lagi akan segera di singkirkan keberadaannya. “Sini duduk di dekatku,” ucap Abizar sambil menepuk sofa di sebelahnya. Jelita pun mengikuti yang Abizar ucapkan. Begitu Jelita duduk, Abizar langsung merangkulnya dengan erat. “Kalau capek, Baby bisa tidur di kamar,” ucap Jelita saat ia merasakan Abizar sandar di dadanya. “Hah… pekerjaan di kantor sangat membuatku capek dan stress. Biarkan aku begini sebentar saja. Sayang, kenapa tubuhmu sangat nyaman dan hangat? Aku suka sekali,” guman Abizar. “Kau benar-benar sangat lelah, Baby. Mari aku antar ke kamar saja. Nanti aku pijat, bagaimana?” ucap Jelita menawarkan. Mendengar itu, Abizar langsung mengangkat kepalanya. “Pijat?” ucapnya penuh antusias. “Iya? Kenapa terkejut begitu? gak mau?” tanya Jelita dengan polos. “Kau bicara apa? mana mungkin aku menolak tawaran berharga itu. Aku mau sekali, selama ini Jovanka tidak pernah memijatku. Kami selalu pulang larut, sama-sama capek, dan baru akan menghabiskan waktu berdua saat akhir pekan saja. Dan sekarang kau menawarkan pijatan? Ayo, kita ke kamar,” ucap Abizar penuh semangat. Jelita hanya tertawa geli, ia senang melihat suaminya terlihat sangat menyukai tawaran biasanya itu seakan pijatan merupakan hal yang sangat berharga dalam hidupnya. “Kenapa ketawa?” “Enggak, kau terlihat sangat lucu dan penuh semangat menanggapi tawaran pijatanku. Kalau mau aku bisa memijatmu kapanpun kau mau,” ucap Jelita dengan santai. Langkah Abizar tertahan. Sungguh, apa yang ia dengar baru saja merupakan hal terlangka dan sangat berharga dalam hidupnya. Ia bahkan tidak pernah membayangkan hal indah dan menyenangkan seperti itu sebelumnya. “Kau sungguh-sungguh, kan? Apa kau tidak bercanda, sayang?” tanya Abizar sambil menatap Jelita dengan tatapan tidak percaya. “I..ya, Baby. Aku bisa melakukan itu dengan mudah. Lho.. kenapa matanya sampai berkaca-kaca begitu? apa aku mengatakan hal yang membuatmu sedih atau tersinggung? Kalau begitu ma…akhh…!” Jelita terpekik saat Abizar tiba-tiba saja menggendong dan membawanya masuk ke dalam kamar dan menutupnya dengan rapat. Abizar merebahkan tubuh Jelita dengan lembut di atas kasur, lalu mencium kening istrinya itu dengan lembut. “Apa kau tahu, ucapanmu itu telah membuatku sangat bahagia, terima kasih sayang,” ucapnya lalu mengulum bibir Jovanka dengan hangat. Abizar melepas ciumannya dan tersenyum melihat bibir Jelita sudah memerah. “Kalau begitu, pijat aku sekarang,” ucap Abizar sembari membuka pakaiannya, membuat d**a Jelita berdegup kencang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN