Maaf jika hatiku berpaling

1241 Kata
“Saya mau resign, Pak. Ini suratnya.” Yuda memberikan amplop putih ke hadapan Abizar dengan kepala tertunduk. Abizar terkejut, selama ini Yuda adalah karyawannya yang paling telaten, ia cekatan dengan daya ingat tinggi. Dedikasinya pada perusahaan selama 5 tahun ia bekerja sangat membuat Abizar terkesan. Itulah sebabnya ia mengangkat Yuda dari karyawan biasa menjadi sekretaris pribadi. Yuda sudah kurang lebih 4 tahun menjadi sekretaris kepercayaan Yuda. Cepat tanggap dalam pekerjaan membuat Yuda di senangi oleh Abizar. Masa kontrak kerjanya juga masih setahun lagi dan Abizar tahu kalau Yuda tidak ingin berhenti bekerja di perusahaannya, gaji yang lumayan tinggi, dan terpenting Yuda sangat nyaman bekerja dengan Abizar. Akan tetapi sekarang, karyawan terbaiknya ini ingin berhenti , kenapa? “Apa maksudmu, Yuda? Kau ingin berhenti bekerja di perusahaanku?” Abizar menatap Yuda dengan serius, ia sama sekali tidak percaya kalau Yuda ingin benar-benar berhenti? Yuda hanya mengangguk, kepalanya terus tertunduk, ia tidak berani menatap Abizar . “Tapi kenapa?” tanya Abizar. “Eh, se..semua alasan saya ada di surat pengunduran diri, Pak. Maaf kalau saya terkesan mendadak seperti ini. Saya harap Bapak bisa memahami keadaan saya,” ucapnya mencoba meyakinkan. Abizar membuka amplop surat itu dan membaca isinya. Keningnya berkerut. “Kau ingin pindah ke perusahaan Erlangga David karena mereka menjanjikan gaji yang melebihi pendapatanmu di sini? Alasan macam apa ini, Yuda? Apakah selama ini kau tidak puas dengan apa yang kau miliki dan menginginkan hal yang lebih?” Abizar mulai kesal, ia merasa kecewa dengan sikap Yuda yang ternyata sangat mudah percaya dengan iming-iming lebih banyak. Ia tidak menyangka yuda akan mengkhianatinya dengan cara seperti ini. Apalagi perusahaan Erlangga David sudah menjadi saingan bisnisnya hingga saat ini. Jika saingannya itu berani mempengaruhi orang kepercayaannya berarti ia tidak bisa menganggap enteng mereka lagi. Yuda ibarat tangan kanan perusahaan yang mengetahui semua hal-hal penting dalam perusahaan, misalnya pengambilan kebijakan dan berbagai macam strategi manajemen. Jika Yuda pindah ke sana, otomatis perusahaan saingannya itu akan mengetahui semua rahasia perusahaannya. Dasar licik, apa yang sudah mereka janjikan kepada Yuda hingga orang kepercayaannya ini dengan mudah terpengaruh dan bahkan tampaknya Yuda sama sekali tidak berpikir dua kali atau merasa bersalah untuk pindah. “Maafkan saya, Pak.” Hanya itu yang bisa Yuda ucapkan. Hatinya sangat sedih melihat kekecewaan Abizar kepadanya. Sebenarnya ia sama sekali tidak ingin melakukan itu, tapi seseorang telah mengancamnya. “Apa maksudmu, maaf? Saya tidak terima surat pengunduran darimu ini. Alasan yang kau tulis tidak sesuai peraturan perusahaan. Dan juga, masa kontrak kerjamu masih ada setahu lagi. Jika kau bersikeras, aku akan menuntutmu telah menyalahi kontrak dengan denda 150 juta atau hukuman 5 tahun penjara. Apa kau sanggup?” ucap Abizar dengan nada mengancam. Sementara itu, Jovanka sudah sampai di rumah. Ia mengganti pakaiannya dan langsung menuju dapur. Dia terlihat bersemangat, ia harus berusaha memperbaiki hubungannya dengan Abizar. Selama ini mereka sudah jarang menikmati waktu berdua karena kesibukannya, dan ia menyadari akan hal itu. “Mas Abizar pasti akan senang makan ini. Oh hampir lupa, jangan pakai bawang. Dasar wanita jalang itu, saat hamil pun dia terus saja mengganggu ketenangan suamiku. Liat saja, aku pasti akan menyingkirkannya,” gumannya sambil menyeringai. Semua masakan sudah siap, ia di temani pelayan menyajikan semua makanan di atas meja. Makan malam kali ini di buat seromantis mungkin, ada lilin dan bunga mawar, sangat cantik. Dua gelas anggur merah juga sudah melengkapi meja makan. Semuanya sudah sempurna, Jovanka melihat ke arah jam dinding, waktu menunjukkan jam 6 sore. Sebentar lagi suaminya pulang dan ia pasti akan terkesan dengan kejutan darinya. Begitulah pemikiran Jovanka. *** Jelita juga ternyata tengah menyiapkan makan malam untuk suaminya. Masakan kesukaan Abizar, meskipun ia tidak begitu yakin suaminya akan datang, ia tetap saja menyiapkan semuanya. “Bibi yakin, tuan Abizar akan datang ke sini. Jadi Nyonya harus menyambutnya dengan makanan kesukaan tuan. Buat tuan selalu nyaman dengan Nyonya, usahakan jangan ada perdebatan dan ikuti saja keinginannya,” ucap bi Sumi sambil membantu Jelita menyajikan makana di atas meja. Jelita hanya terdiam, terus terang ia tidak begitu setuju dengan pemikiran pelayannya ini. Bi Sumi seakan benar-benar ingin memisahkan Abizar dengan Jovanka, padahal ia tahu kalau keduanya saling mencintai, terlepas apapun alasan bi Sumi ingin memisahkan mereka berdua, hal yang ia lakukan itu tidak benar. Akan tetapi, lagi-lagi pemikirannya itu di tentang oleh perasaan dan cintanya yang kuat untuk Abizar, sehingga meskipun ia tidak setuju, Jelita tetap mengikuti saran dari pelayannya itu. Pintu terbuka dan Abizar masuk ke dalam, “Aku pulang…” seru Abizar sambil berjalan masuk ke dalam. Jovanka yang sudah lama menunggu suaminya menyambutnya dengan senyuman dan ciuman hangat di bibir. “Selamat datang, sayang. Kau pasti sudah berusaha untuk pulang cepat, ya. Terima kasih, sayang,” ucap Jovanka sambil membuka jas suaminya. “Iya, aku langung pulang setelah pekerjaan beres,” sahut Abizar, tapi ia terlihat tidak bersemangat. “Ya sudah kau mau langsung makan, atau mandi dulu?” tanya Jovanka. “Aku makan dulu saja,” ucap Abizar. “Ya, sudah. Yuk.” Jelita menggandeng tangan suaminya menuju meja makan, Begitu sampai ke dalam, Abizar tertegun, ia menatap lama apa yang dilihatnya lalu menolah ke arah istrinya. “Apa kau yang menyiapkan semua ini?” tanyanya Jovanka mengangguk dan tersenyum. “Bagiamana, kau suka?” tanya Jovanka. “Cantik, dan sangat indah. Terima kasih, ya sayang.” ucap Abizar sambil mengecup bibir Jovanka lalu melangkah menuju meja itu. Seakan kepenatan yang di alami Abizar menghilang, istrinya ini betul-betul berusaha menyenangkannya dan ia berhasil. Mood Abizar yang tadinya kacau seketika menghilang. Melihat Jovanka yang tampil cantik di tambah dengan kejutan yang ia berikan. Seandainya Jovanka bisa melakukan ini setiap hari. Meyambutnya dengan penuh cinta saat pulang kantor dan makan masakannya. Mereka pun mulai menyantap makanan yang tersaji. “Bagaimana pekerjaannya, sayang?” tanya Jovanka. Abizar menghela nafas dalam. “Sekretarisku tiba-tiba mengundurkan diri,” sahut Abizar dengan wajah murung. Mendengar itu Jovanka tertegun, ini pasti ulah David. Bagus, berarti ia tidak perlu merasa was-was lagi. “Oh, tapi kenapa mas, bukannya dia itu karyawan kepercayaanmu?” responnya pura-pura peduli. “Dia ingin pindah ke perusahan saingan kita, Erlangga David. Aku tidak mengerti apa yang mereka janjikan atau bagaimana mereka bisa mempengaruhi orang kepercayaanku itu, tapi mereka benar-benar sangat licik,” ucap Abizar. “Ya, mungkin dia memang sudah bosan dan ingin uang yang lebih banyak, mas. Ya sudah, karyawan tidak setia seperti itu buat apa di pertahankan. Kalau dia bisa dengan mudah terpengaruh hanya dengan iming-iming gaji banyak, berarti dia bukan sebaik yang kau pikirkan. Biarkan saja, memilih perusahaan itu, aku yakin dia akan sengsara di sana.” Ucap Jovanka sambil memasukkan potongan daging ke mulutnya. Abizar kembali menghela nafas. “Tapi aku tidak be…” Tiba-tiba telepon Jovanka berdering, saat melihat nama siapa yang ada di layar, wajahnya berubah tegang. Abizar menatap istrinya dengan penuh tanda tanya. “Eh, maaf mas. Aku harus menjawab telepon ini dulu,’ ucap Jovanka lalu beranjak dari tempatnya dan pergi menjauh. Abizar kembali menyantap makannya, ia tampak kembali tidak bersemangat. Ucapan Jovanka membuatnya semakin risau. Bagaimana bisa ia melepas karyawannya begitu saja. Jovanka kembali dengan wajah gelisah. “Mas, maaf tapi aku haru pergi. Ada hal penting yang harus aku selesaikan,” ucap Jovanka sambil buru-buru mengambil tasnya lalu meninggalkan Abizar begitu saja. Selalu seperti itu, Jovanka selalu bersikap semaunya. Di saat ia mulai percaya dan kembali meyakini istrinya akan berubah, Jovanka kembali menunjukkan kalau dirinya masih selalu membuatnya kecewa. “Maafkan aku Jovanka, jika suatu saat hatiku benar-benar akan berpaling…”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN