Bimbang

1176 Kata
Abizar memarkirkan mobilnya dan keluar. Ia langsung masuk ke rumah dan melangkah menuju kamar. Membuka pintu dan melihat Jovanka duduk di tempat tidur dengan ponsel di tangannya. Saat menyadari kedatangan suaminya, Jovanka langsung berdiri dan menghambur ke pelukan Abizar. “Mas, kau ke mana saja? Waktu bangun tidur tadi kau sudah tidak ada di dekatku?” ucap Jovanka sambil terus memeluk Abizar. Abizar tersenyum dan mencium kening istrinya dengan lembut. “Maaf, sayang. Aku tadi tiba-tiba ada urusan mendadak, jadi baru sempat pulang. Oh ya seharian ini kau di rumah saja atau kerja lagi?” tanya Abizar sambil merebahkan tubuhnya yang terasa sangat segar. Jovanka juga ikut berbaring di samping Abizar dan kembali memeluk suaminya. “Aku tadi keluar sebentar ketemu teman, lalu pulang lagi. Tadinya aku pikir kau sudah ada di rumah, tapi saat tiba di rumah, kau masih tidak ada,” ucap Jovanka sedikit merengek. Ia kembali teringat saat David menghubunginya dan meminta bertemu, mereka pun bertemu sebentar lalu Jovanka kembali ke rumah. Ia merasa bersalah telah membohongi suaminya, setidaknya hidupnya sudah sedikit tenang karena David sudah membereskan masalah sekretaris suaminya itu yang tidak sengaja mendapati mereka berdua. Lain kali ia akan berhati-hati jika bertemu David atau putrinya, Katrina. “Maaf ya, sayang,” ucap Abizar sambil membelai rambut Jovanka. Jovanka memeluk tubuh suaminya dengan erat, menghirup aroma tubuh Abizar yang selalu menenangkannya. Tapi, hari ini entah kenapa aroma itu terasa berbeda dari biasanya. “Mas...” “Hmm...” “Kandungan Jelita sudah 4 bulan, sekitar 5 bulan lagi anak kita lahir. Aku benar-benar tidak sabar menunggu kehadirannya di antara kita. Semua yang aku miliki bersamamu selama ini akan terasa sempurna saat anak itu lahir. Kebahagiaan kita akan lengkap,” ucap Jovanka membayangkan mimpinya itu akan terwujud. “Iya sayang, itu pasti. Kita akan sangat bahagia.” Abizar tersenyum, ia membayangkan kehidupan memiliki 2 istri yang ia cintai. Membagi kasih sayang dengan adil dan membesarkan anak-anak mereka bersama-sama. “Mas...” “Iya?” “Aku sudah menyiapkan surat ceraimu dengan Jelita, jadi pas dia nanti melahirkan, kalian akan resmi bercerai. Ya, meskipun kau hanya tinggal bilang talak saja kepadanya, tapi aku akan semakin merasa yakin kalau kalian memiliki surat cerai yang sah. Bagaimana?” ucap Jovanka penuh keyakinan. Abizar membeku mendengar ucapan Jovanka, hatinya memanas saat mendengar kata perceraian. Tapi ia teringat dengan perjanjian di awal pernikahannya dengan Jelita, yaitu setelah Jelita melahirkan anak, maka berakhir sudah pernikahan kontrak mereka. Ia tidak ingin menceraikan Jelita, hatinya sudah terpaut kepada wanita yang akan melahirkan darah dagingnya itu. Apa yang harus ia lakukan? “Eh Sayang, kita tidak perlu membahas masalah itu dulu. Biarkan anak kita lahir dengan selamat, baru setelah itu kita pikirkan lagi bagaimana baiknya. Mungkin saja nanti bayi itu tidak mau lepas dari ibunya, misalnya karena butuh ASI? Jadi kita harus memikirkan ulang kemungkinan yang akan terjadi, kau mengerti maksudku, kan?” ucap Abizar berusaha memberikan penjelasan sementara untuk Jovanka. Mendengar itu, Jovanka terdiam beberapa saat. Ia lalu menatap Abizar. “Meskipun begitu, tidak ada sesuatu yang akan menghalangi kalian untuk bercerai, Jelita tetap bisa memberikan ASI-nya untuk bayi itu, bahkan ia juga bisa merawat anak kita, kan?” Jovanka seakan tidak yakin dengan apa yang diucapkan suaminya, ia merasa sesuatu sudah terjadi, apalagi melihat respon suaminya yang seakan tidak seantusias dulu jika membahas tentang perceraiannya dengan Jelita. “Iya, kau memang benar. Tapi masalah ini tidak perlu di bahas dulu. Terlalu cepat, sudah ya. Biarkan aku tidur sebentar.” Jovanka menghela nafas, setidaknya Abizar sudah mengiyakan jika dirinya pasti akan bercerai dengan wanita itu, jangan sampai Jelita merebut hati suaminya, meskipun ia sangat yakin kalau Abizar sangat mencintainya melebihi apa pun di dunia ini. *** Keesokan harinya, pasangan suami istri itu sedang bersiap untuk bekerja. Jovanka sudah terlihat rapi dan cantik seperti biasa, begitu juga dengan Abizar. Jika dilihat, mereka memang pasangan karir yang sangat serasi. “Mas, sepertinya aku akan pulang sore Jadi bagaimana kalau kita makan malam bersama? Aku akan memasak makanan kesukaanmu,” ucap Jovanka sambil merapikan dasi suaminya. “Begitu ya? baiklah. Akan aku usahakan pulang secepatnya. Sebenarnya dokumen proyek dengan investor asing belum rampung dan aku harus menyelesaikan akhir bulan ini, tapi karena istriku akan memasak untukku, tentunya semua urusan kantor menjadi hal belakangan,” sahut Abizar sembari memakai jasnya. Jovanka tersenyum senang. “Baiklah, kalau begitu aku berangkat dulu ya, Mas. Sampai jumpa nanti malam,” pamit Jovanka sambil mencium tangan suaminya dengan penuh kelembutan. Begitu mobil Jovanka berangkat, Abizar langsung menghubungi Jelita. Semalaman ini ia tidak bisa mendengar kabar istrinya itu karena Jovanka tidak pernah memberinya kesempatan. Abizar sudah sangat merindukan Jelita. “Halo, sayang. Kamu lagi ngapain? Aku sudah merindukanmu lagi, jika pekerjaanku tidak mendesak begini, aku pastinya sudah ada di sana,” sapa Abizar. “Halo, aku lagi mau mandi. Kamu belum berangkat ke kantor, ya? Sudah sarapan, kan?” tanya Jelita dengan penuh perhatian. “Sayangnya belum, Nanti saja aku makannya di kantin,” ucap Abizar, hatinya merasa sangat senang Jelita menghawatirkannya. “Apa? Kenapa belum makan, sih? Selama ini kan, kamu selalu sarapan? Apa karena bi Sumi ada di sini, ya? Kalau begitu, Bi Sumi kembali saja ke sana. Supaya baby-ku bisa sarapan setiap hari,” ucap Jelita dengan manja. “Tidak perlu sayang, meskipun Bu Sumi di sini, bukan tugasnya menyiapkan sarapan lagi. Jovanka hari ini berangkat pagi-pagi sekali jadi tidak sempat menyiapkan sarapan. Baiklah, sudah dulu ya. Aku merindukanmu, I love you, Jelita,” ucap Abizar. “I Love you too, baby,” jawab Jelita dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya merasa sesak dan nyeri, ia tidak ingin berada di antara dua insan yang saling mencintai. Ia tidak ingin pria yang ia kagumi membagi cinta kepadanya karena mempunyai istri yang juga sangat ia cintai. Tapi di sudut hatinya yang lain, Jelita juga ingin merasakan kehangatan cinta dari orang yang ia cintai. Tiba-tiba ponselnya berdering, melihat nama yang tertulis dilayar. “Bima...” gumannya lalu menjawab panggilan. “Ya, Bima...” ucapnya. “Kakak, apa kita bisa ketemu?” tanya Bima dari seberang telepon. “Ya, baiklah,” ucapnya lalu menutup sambungan telepon. Ia termenung, bagaimana ia harus menjawab Bima nanti? Apa yang harus ia katakan? Selama ini Bima begitu menyanjung dan menghormatinya sebagai kakak, entah apa yang ia pikirkan tentangnya sekarang. Hari sudah sore, Abizar terlihat sudah merapikan meja dan bergegas untuk pulang. Ia berencana mengunjungi Jelita dulu, baru setelah itu ia akan pulang ke rumah dan makan malam bersama. Sekretarisnya masuk dengan wajah yang tegang. Melangkah dengan ragu menghampiri Abizar. “Ada apa ini sebenarnya Yuda, beberapa hari ini kau terlihat tidak fokus dengan kerajaanmu. Tadi saja kau bahkan lupa membawa dokumen yang harus saya presentasikan di depan para investor. Kau ada masalah?” Sang sekretaris hanya menggeleng. “Saya tidak apa-apa, Pak. Tolong ini di tandatangani dulu sebelum keluar.” Yuda menyerahkan map coklat ke harapan Abizar. “Pak...” ucap Yuda. Abizar mengangkat kepalanya dan menatap karyawannya itu dengan selidik. Entah kenapa ia merasa Yuda sedang tertekan atau semacamnya. “Iya, ada apa katakan saja,” ucap Abizar. “Sa..saya mau resign. Ini suratnya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN