Dukungan Penuh

1174 Kata
“Ya Allah, Nyonya… jangan bicara begitu. tidak baik. Ayo buka mulutnya, makan sedikit saja. Ingat Nyonya hidup tidak sendiri. ada mahluk di dalam tubuh Nyonya yang sangat membutuhkan makanan ini. Nyonya tidak bisa bersikap seperti ini. saya mohon, makanlah,” pinta bi Sumi sambil terus mengarahkan sendok ke mulut Jelita. Air mata Jelita kembali mengalir, ia lalu membuka mulutnya. Jelita mengunyah makannya sambil terdiam, ia tidak berbicara satu kata pun, bi Sumi pun tidak berkata apa-apa. Ia hanya fokus menyuapi Jelita yang hanya terus membuka mulut setiap kali sendok mengarak ke mulutnya. Hingga suapan terakhir, bi Sumi pun tersenyum puas. Terlepas dari apapun permasalahan yang membuat majikannya ini menangis, ia sudah puas karena Jelita akhirnya mau makan bahkan menghabiskan makanannya. Ia memberikan segelas air putih dan Jelita meminumnya sampai habis. “Sekarang Nyonya istirahat, bibi akan kembali,” ucap bi Sumi lalu beranjak meninggalkan ruangan. Jelita terdiam, ia menatap langit-langit kamar. Warnanya putih bersih, dulu hatinya seputih langit-langit itu, bersih tanpa noda. Namun sekarang, warna putih itu telah berubah sehitam arang, bukan arang tapi lumpur hitam yang kotor. Iya, hatinya sudah seperti itu. Benar-benar menjijikkan. Lalu apa sekarang, bagiamana ia harus membersihkan lumpur itu? Pintu terbuka dan bi Sumi masuk dengan sesuatu yang berwarna hijau di dalam gelas. Bi Sumi meletakkan gelas itu di atas meja lalu menghampiri Jelita. “Bi Sumi…” panggil Jelita dengan suara lemah. “Iya, Nyonya..” “Menurut Bibi, apakah jatuh cinta dengan pria yang sudah beristri itu salah?” Bi Sumi tertegun, mendapat pertanyaan seperti itu membuatnya tidak bisa menjawab untuk beberapa saat. Ia tahu jika majikannya ini sudah mencintai Abizar, pria yang sangat mencintai Jovanka. Dan menurutnya, perasaannya itu tidak salah, karena siapa pun bisa mencintai tuannya itu. Pria baik hati dan yang penuh dengan kesempurnaan dalam hidupnya, tidak ada satu wanita pun yang bisa melawan pesona itu. “Nyonya, menurut Bibi, mencintai seseorang itu tidak salah. Terlepas apakah orang itu sudah memiliki pasangan atau tidak karena cinta tidak pandang bulu dan buta. Adalah kita sendiri yang harus mengendalikan hati dan pikiran untuk mencintai orang yang tepat, karena jika hati sudah terpaut cukup dalam kepada seseorang, bukan kuasa kita lagi untuk mengendalikannya.” Bi Sumi memulai penjelasannya. Jelita menatap ke arah bi Sumi. “Jadi bagaimana nasibku yang sudah terlanjur mencintai pak Abizar, Bi? Apakah aku akan terus menerus di cap sebagai perebut suami orang dan hidup terhina karena merasa bersalah?” tanya Jelita. “Nyonya, jangan berpikiran terlalu jauh seperti itu. Ingat bayi di dalam kandungan Nyonya akan ikut merasakan kesedihan ibunya dan itu tidak baik buat perkembangannya. Nyonya tidak salah salah karena mencintai pak Abizar. Tuan Abizar memang pria yang pantas di kagumi dan di cintai oleh semua wanita." Bi Sumi tersenyum lalu melanjutkan ucapannya. "Bibi masih ingat saat tuan Abizar menangis di pelukan Bibi. Waktu itu tuan masih berusia 5 tahun, tuan berlari ke arah Bibi dan mengadu karena ada gadis kecil seusianya yang mengejar-ngejar untuk memegang tangannya tapi tuan tidak mau, makanya tuan berlari dan bersembunyi di pelukan Bibi. Nyonya, terus terang saat tahu kalau tuan mau menikah lagi karena paksaan ibu Jovanka, hati Bibi sangat sedih. Terlebih ketika melihat wajah tuan begitu tertekan, bibi menjadi hilang respek dan semakin tidak menyukai bu Jovanka. Bibi tidak pernah membayangkan, bagaimana bisa wanita itu memaksa suaminya sendiri untuk menikah lagi hanya demi seorang anak kandung. Apa kurangnya tuan, bibi yang menyaksikan sendiri bagiamana tuan rela melakukan apa saja demi Bu Jovanka, bagaimana besar cinta dan kasih sayang Tuan untuknya. Hati saya benar-benar tidak terima. Tuan bahkan sampai hampir frustrasi dan tidak mau makan. Bibi sangat menyayangi tuan, Bibi tidak bisa melihat tuanku itu menderita. Tapi, setelah mengenal Nyonya. Bibi sangat bersyukur karena tuan mendapatkan istri lain seperti Nyonya. Apalagi saat mengetahui kalau Nyonya hamil anak tuan Abizar, Bibi sangat yakin suatu saat tuan akan mendapatkan keluarga sempurna. Nyonya, Bibi minta tetap cintai tuan sepenuh hati, tuan membutuhkan wanita seperti Nyonya, yang bisa memperlakukan tuan dengan tulus. Bibi tahu dengan hanya melihat sorot mata dan sikap Nyonya yang penuh ketulusan, Bibi mohon tetap pertahankan perasaan Nyonya, rebut hati tuan dan buat tuan hanya mencintai Nyonya, karena hanya Nyonya yang pantas untuk Tuan Abizar. Wanita itu sama sekali tidak pantas lagi untuk tuan Abizar,” tutur Bi Sumi emosional. Jelita tertegun, ia sama sekali tidak menyangka wanita paruh baya di hadapannya ini mengatakan hal itu. di saat ia berniat akan melepaskan saja semuanya karena rasa bersalah, wanita ini malah memberinya dukungan penuh. Di saat ia sedang putus asa memutuskan jalan yang terbaik apa yang harus ia tempuh, wanita ini dengan penuh kepastian menunjukkan jalan untuknya. membuatnya kembali merasakan kekuatan dan kepercayaan diri, membuatnya kembali yakin jika cintanya tidak salah. Ia berhak mencintai dan memiliki Abizar. Ia berhak atas semua kasih sayang yang pria itu miliki. “Bi, apakah Bibi Yakin dengan yang Bibi katakan itu? apakah aku tidak berdosa mencintai pak Abizar?” tanyanya menyakinkan diri. Bi Sumi menatap Jelita dengan tatapan serius. Ia bahkan memegang kedua lengan Jelita. "Nyonya sama sekali tidak bersalah apalagi berdosa, Nyonya ada istri tuan Abizar, itu berarti Nyonya berhak mendapatkan cinta dan kasih sayang yang sama dengan ibu Jovanka. Nyonya berhak meminta apapun kepada tuan Abizar, Nyonya bahkan berhak memiliki tuan seutuhnya.” Ucapan bi Sumi penuh dengan keyakinan, ia bahkan melihat sosok lain dari bi Sumi yang selama ini dianggapnya penuh dengan kelembutan dan bijaksana. “Bi, kenapa bisa bibi mengatakan itu? kenapa Bibi seolah-olah ingin menyingkirkan bu Jovanka?” tanya Jelita. Ia tiba-tiba merasa takut dengan sosok wanita yang ada di hadapannya ini. Bi sumi tersenyum, ia tahu kalau Jelita mulai merasa tidak nyaman dengannya. “Bibi tidak akan bersikap seperti ini jika tidak punya alasan kuat, Nyonya. Percayalah pada Bibi, hanya Nyonya satu-satunya wanita yang tepat dan pantas untuk Tuan Abizar. Bibi tahu betul itu,” ucap bi Sumi sambil mengelus lengan Jelita. Jelita tidak menjawab, ia hanya terus menatap bi Sumi dengan tatapan penuh tanda tanya. Tapi satu hal yang ia rasakan sekarang adalah perasaan lega. “Ya sudah, Nyonya istirahat, ya. Jangan berpikiran aneh-aneh lagi. Oh ya sebelum itu, tolong minum obat ini dulu. Ini ramuan penurun panas dan penyegar tubuh. Sangat baik juga untuk janin.” Bi Sumi memberikan gelas berisi ramuan itu kepada Jelita. Dengan ragu Jelita menerimanya. “Apa ini pahit?” tanyanya sambil mencium aromanya. “Tidak, hanya sedikit pekat. Ayo diminum, Bibi mau memastikan obat ini masuk ke perut Nyonya dulu sebelum Bibi keluar,” seloroh bi Sumi sambil tersenyum. “Ah, Bibi…” “Ayo Nyonya cantik, minum obatnya,” Dengan sangat terpaksa Jelita meminum obat itu sampai habis. Bi Sumi lagi-lagi tersenyum puas. “Wah, Nyonya hebat sekali. Kalau begini kan, Bibi baru bisa tidur dengan tenang di kamar. ya sudah, kalau begitu nyonya istirahat, Bibi keluar dulu. Selamat malam,” ucap Bi Sumi sambil tersenyum senang. "Terima kasih , ya Bi. Selamat malam.” "Sama-sama Nyonya, Mimpikan tuan Abizar, ya,” ucap bi Sumi menggoda sambil mengedipkan matanya. Jelita tersipu, Bi Sumi tersenyum sebelum akhirnya keluar dari kamar. Jelita tersenyum dan memejamkan matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN