“Iya.”
Abizar tertegun, ia menatap Jelita yang juga menatapnya dengan mata polos yang mengerjap indah. Di belainya rambut panjang Jelita yang sedikit basah karena keringat, ia tersenyum.
“Sudah dulu, ya. Jangan paksakan tubuhmu. Nanti kau kesakitan, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kandunganmu,” ucapnya dengan penuh kelembutan. Jelita mengangguk, ia menggeser tubuhnya mendekat ke arah Abizar dan memeluk suaminya itu.
“Baby, kau tahu aku sangat bahagia,” ucapnya.
Mendapat perlakuan itu tentu saja Abizar terkejut, tubuh yang susah payah ia tenangkan kembali bereaksi.
“Sayang, jangan seperti ini. Dia akan mengamuk nanti, aku tidak akan bertanggung jawab kalau kali ini dia akan menyerangmu dengan ganas,” ucap Abizar sambil berusaha menghindar.
Jelita terdiam mendengar ucapan Abizar, entah kenapa ia merasa seolah tersadar dari sesuatu. Terbangun dari mimpi indah dan kembali terhempas pada kenyataan pahit.
Jelita melepas pelukannya, ia menggeser tubuhnya sedikit menjauh. Di raihnya selimut dan membungkus tubuhnya.
“Iya, aku tahu. Maafkan aku, maaf… maaf…” ucap Jelita, air matanya tiba-tiba mengalir. Abizar menjadi bingung.
“Hei, kau kenapa? Ada apa dengan air matamu ini? apa kau sedih karena aku tidak ingin melakukannya lagi, hmm? Abizar menghapus air mata Jelita dengan lembut. Ia mencium kening Jelita.
Air mata Jelita semakin meleleh, perasaannya berkecamuk. Rasa sesal, bersalah dan marah bercampur menjadi satu. Ia kini menyalahkan dirinya yang begitu sangat tidak tahu malu, menyesali perbuatannya hinanya. Kenapa bisa ia dengan mudah melakukan hal ini dengan suami orang? Apa yang terjadi padanya? kenapa bisa dirinya berbuat serendah itu?
“Jelita? Sayang, kenapa kau menangis, katakan padaku, ada apa?” Abizar mulai cemas. Ia buru-buru memunguti pakaiannya dan mengenakannya. Ia duduk di pinggir ranjang dan memeluk Jelita.
“Ada apa?” Abizar mengangkat menangkup wajah Jelita dan menatap istrinya itu dengan sangat dalam.
Jelita hanya menggeleng, ia tidak mampu bicara sepatah katapun, ia menjadi malu kepada dirinya sendiri. Tentu saja Abizar semakin bingung di buatnya.
“Jelita, aku tidak akan tahu kecemasanmu jika kau tidak membicarakannya, jadi tolong, katakan padaku apa yang membuatmu menangis?” ucap Abizar , tapi Jelita tetap tidak bersuara, hanya air matanya saja yang terus mengalir membasahi bantal.
Abizar menghela nafas dalam, tiba-tiba ponselnya berdering. Lama ia menatap layar ponselnya melihat tulisan my whole life di layar ponsel. Ia tampak tertegun, lalu menoleh ke atas Jelita yang masih menangis memunggunginya.
Perlahan ia beranjak dari ranjang dan berjalan menjauh. Hati Jelita semakin hancur, ia tahu jika yang menghubungi Abizar itu adalah Jovanka. Tubuhnya kembali bergetar menahan tangis. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Tidak lama, Abizar sudah duduk kembali ke tepi ranjang. Jelita membalik tubuhnya menghadap ke arah Abizar. Matanya masih sembab, bangkit dari rebahnya dan tersenyum.
“Loh kau sudah tersenyum lagi? ada apa ini sebenarnya, Hmm?” Abizar mencubit pipi memerah Jelita.
“Aku hanya terharu saking bahagianya, Baby, sampai-sampai air mataku tidak berhenti mengalir,” ucap Jelita.
“Huffft, aku lega sekarang. Aku pikir kau merasa sakit atau apa, oh ya, tadi ada telepon dari Jovanka, aku harus segera pergi. Aku akan kembali lagi, kau tidak apa-apa kan?” ucap Abizar sambil membelai rambut Jelita.
“Deg…!”
Seakan ada bongkahan benda yang jatuh menimpa hatinya yang kecil itu, remuk dan tentunya sakit luar biasa. Ia menggigit bibirnya berusaha menahan air mata agar tidak mengalir. Ia tahu pasti akan begini jadinya, perasaannya pasti akan kembali hancur berantakan.
Jelita mengangguk. “Iya, tidak apa-apa, pergilah. Bu Jovanka pasti sudah menunggumu,” ucapnya dengan penuh kegetiran di dalam hati.
Abizar tersenyum. “Terima kasih, sayang.” Abizar mencium keningnya lalu melangkah keluar.
Tangisnya langsung pecah, ia berlari ke kamar mandi dan menguyur seluruh tubuhnya. Ia memukul-mukul dinding kamar mandi melampiaskan kemarahannya hingga tangannya memerah. Ia mengacak rambutnya dan berteriak. Ia benar-benar sangat membenci dirinya.
‘Bagiamana bisa Jelita…? Bagaimana bisa kau tega, kau sengaja menyakiti hati perempuan lain dengan berusaha merebut separuh cinta suaminya? Kau telah dibutakan oleh nafsu dan cinta egoismu, dan melupakan semuanya. Kau bersenang-senang di atas kesakitan hati wanita lain. Kau telah merebut cinta suami wanita yang sangat mencintai suaminya, kau telah mencuri perhatian pria yang sangat mencintai istrinya, kenapa kau bisa berubah menjadi perempuan hina seperti ini, kenapa..?!’ jerit hatinya, ia terus menjambak rambutnya dan berteriak.
Sudah hampir satu jam Jelita terdiam di bawa guyuran shower, wajahnya sembab dan memerah, ia tidak ada keinginan untuk beranjak dari tempat itu sedikitpun, ia ingin membersihkan dirinya yang kotor ini, ia ingin menghilangkan semua noda yang membuatnya hina dan rendah,ia ingin membersihkan dirinya hingga sebersih bersihnya.
Bi Sumi yang sudah menyiapkan makan malam, membuka pintu kamar.
“Nyonya, ini makan malamnya. Nyonya masih di kamar mandi? Kenapa mandi malam-malam begini nyonya, ayo segera keluar. Bibi taroh makanan di meja, ya,” seru Bi Sumi sambil meletakkan makanan di atas meja. Ia melirik ke arah kamar mandi beberapa saat lalu berjalan keluar.
Bi Sumi kembali membersihkan dapur dan merapikan semuanya. Setelah bersih, ia kembali berjalan ke arah kamar Jelita.
“Nyonya pasti sudah menghabiskan makanannya, Soalnya itu makanan kesukaannya.” Bi Sumi cekikikan sendiri membayangkan mata bulat Jelita yang mengerjap-ngerjap merasakan sensasi nikmat makanannya.
‘”Nyonya.. saya masuk, ya,” ucapnya meminta izin setelah mengetuk beberapa kali tapi tidak ada jawaban.
Tapi sesampainya di dalam, ia terkejut melihat makannya yang ia taruh di atas meja sama sekali belum tersentuh.
“Loh, masih belum di makan?” ia menghampiri meja memastikan penglihatannya. Suara air dari kamar mandi masih terdengar. Bi Sumi berlari ke arah kamar mandi dan langsung membukanya.
“Astagfirullah Nyonya….!!!” Pekiknya sambil menghambur ke arah Jelita yang masih duduk lemas menyandar di dinding kamar mandi.
Bi Sumi buru-buru mematikan keran dan meraih handuk menutupi tubuh Jelita.
“Nyonya, apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai seperti ini?” tanyanya cemas.
Dengan sekuat tenaga bi Sumi membantu Jelita berdiri dari tempatnya dan membawanya keluar dari kamar mandi. Merebahkan tubuh majikannya itu dan membungkusnya dengan selimut tebal.
“Ya ampun, Nyonya. Ada apa ini sebenarnya, tolong bicaralah.” Lagi-lagi bi Sumi bertanya sambil mengeringkan rambut Jelita. Sementara itu Jelita masih terdiam, ia sama sekali tidak bereaksi, hanya air matanya yang terus mengalir.
“Nyonya bicaralah tolong, kenapa Nyonya bisa seperti ini?” air mata bi Sumi menetes. Perasaannya sungguh sangat sedih melihat kondisi Jelita. Ia benar-benar bingung, apa yang sudah terjadi. Terakhir kali ia melihat Abizar mengantar Jelita masuk ke dalam kamar lalu ia tidak tahu lagi apa yang terjadi setelahnya dan tiba-tiba kondisi majikannya jadi seperti ini.
Bi Sumi kembali terkejut karena tubuh Jelita panas. Bi Sumi semakin cemas
“Duh, Nyonya demam. Bagiamana ini?” gumannya sambil menggosokkan minyak kayu putih di punggung dan perut Jelita. Bi Sumi melangkah ke arah meja dan mengambil makanan.
“Nyonya harus makan. Perut Nyonya harus terisi, ada janin yang butuh makanan Nyonya, Ayo makan dulu.” Ucap bi Sumi sambil mengarahkan sendok ke mulut Jelita.
“Aku tidak mau makan, Bi. Biarkan aku mati saja.”