Gairah

1179 Kata
Begitu sampai di dalam mobil, Abizar kembali tidak bisa menahan diri. Ia mencium bibir istrinya dengan rakus. Mengulumnya dengan kasar, mencium seluruh permukaan wajah Jelita tanpa sisa. Abizar benar-benar seperti singa kelaparan yang melahap nikmat mangsanya. Sedangkan Jelita sudah tidak memikirkan apa pun lagi. Ia juga menginginkan Abizar sebesar Abizar menginginkannya. “Pak, kendalikan dirimu, apakah kita akan melakukannya di sini?” ucap Jelita sambil mengigit bibirnya menahan semua gejolak yang terasa. Abizar menghentikan gerakannya, menghela nafas dalam lalu menghembuskannya. Ia menatap Jelita dan tersenyum. “Baiklah, kita berangkat sekarang. Oh ya, jangan panggil aku Bapak lagi.” titah Abizar. “Oh ya? jadi aku harus memanggil apa?” tanya Jelita. “Panggil aku baby,” ucap Abizar dengan kerlingan mata nakalnya. “Ih, terdengar genit, Pak. eh, Ba..by..” ucap Jelita dengan canggung. Abizar kembali mencium bibir Jelita tapi kali ini berakhir dengan menggigitnya. “Ah, sakit.” Jelita meringis. “Itu hukuman, jika kau salah menyebut nama panggilanku,” ucap Abizar dengan seenaknya. “Itu tidak adil, pak,. ah..aduh maaf, maksudku baby.” Jelita gelagapan, apalagi melihat seringai di wajah Abizar. Jelita menggeleng sambil menutup mulutnya. “Jangan, nanti bibirku doer, baby.” Tolak Jelita. Mendengar itu, Abizar tersenyum. Ia lalu mencium kening Jelita dan mulai menyalakan mesin mobil. Tidak lama mobil pun melaju. *** Jovanka merasa gelisah, berulang kali ia menghubungi ponsel Abizar tapi tidak ada respon. Terakhir ia menghubunginya nomor kontaknya sudah tidak aktif. Ia bahkan menelpon kantor Abizar tapi tidak ada jawaban. Tentu saja tidak ada respon, karena kantor libur di hari minggu. Dasar bodoh. Cacinya pada dirinya sendiri. Entah kenapa perasaannya gelisah dan tidak tenang. Ia benar-benar ingin mendengar suara suaminya. “Pergi kemana kau, Mas?” gumannya cemas. Ponselnya tiba-tiba berdering, ia mengira Abizar yang menghubunginya. Namun, setelah melihat nama yang tertera di layar, wajahnya menjadi masam. Dengan sangat berat hati ia terpaksa menjawab panggilan itu. “Kau mau apa lagi??” *** Mobil berhenti di parkiran khusus pemilik apartemen, Abizar lalu membuka pintu untuk Jelita dan keluar menuntunnya masuk. Di dalam lift, Abizar tidak henti-hentinya menatap Jelita yang sudah tersipu malu. Ia benar-benar kembali merasakan jatuh cinta yang menggebu-gebu dengan istrinya ini. Saat pintu apartment terbuka, Abizar dengan tidak sabar menarik tangan Jelita masuk ke dalam kamar. mengunci pintu rapat-rapat dan mendorong tubuh Jelita di atas kasur. “Ah…!” Jelita terkejut, saat Abizar tiba-tiba menghimpit tubuhnya. Membuka satu persatu pakaian yang ia kenakan hingga hanya pakaian dalamnya saja yang tersisa. Mata Abizar membara, selama ini ia tidak pernah membayangkan akan menikmati keindahan tubuh polos Jelita . Tubuhnya kecil dengan bentuk d**a yang proporsional, ia benar-benar melupakan Jovanka saat ini. keindahan tubuh kecil imut ini, menghapus bayangan Jovanka sama sekali. Abizar membuka kemejanya dan melemparnya begitu saja, jantung Jelita berdebar tidak karuan. Baru kali ini ia benar-benar melihat indahnya bentuk tubuh suaminya ini. Tangannya terulur menyentuh d**a bidang berotot Abizar. Perut sixpacknya membuat Jelita menelan liur. Apakah ini mimpi? Ia benar-benar menyentuh tubuh Abizar secara langsung, yang selama ini hanya ada pada angannya saja. Abizar menyentuh tangan Jelita, menuntunnya meraba tubuh bagian bawahnya yang sekarang hanya di tutupi pakaian dalam. Jelita tersentak saat merasakan sesuatu yang ia sentuh. Abizar mengeram lirih saat tangan kecil Jelita menyentuh permukaannya. “A..apa tidak apa-apa jika aku menyentuhnya, baby?” tanya Jelita polos. Hal itu yang semakin membuatnya gairah Abizar menggebu, kepolosan Jelita membuatnya semakin ingin melahap dengan rakus istrinya itu. “Tidak apa-apa, sayangku. Ia baru akan merasa tenang jika sudah menyentuhmu. Apakah kau mengizinkan ia menyentuh tubuhmu?” ucap Abizar sambil mengelus wajah jelita dengan lembut. Jelita hanya mengangguk, Abizar tersenyum. Abizar lalu membuka semua penghalang yang tersisa di tubuh Jelita, membuat matanya semakin sendu penuh bara gairah. Terakhir ia menanggalkan kain yang membungkus tubuhnya. Giliran Jelita yang terbelalak gugup. Ia pernah merasakan benda itu menyentuhnya, dan itu sangat sakit luar biasa. Apakah hari ini pun ia akan merasakan rasa yang mengerikan itu? “Baby, ini akan terasa sakit sekali. Dulu kau sudah memaksaku dengan menggunakan bendamu itu. Apakah sekarang kau juga akan menyiksaku lagi seperti itu?” Jelita mulai kembali ketakutan. Ia tidak ingin merasakan kengerian itu lagi. Abizar tertegun, benar-benar lupa kalau istrinya ini pernah trauma dengannya. Ia menghela nafas salam dan terlihat berpikir, ia tidak ingin lagi memaksakan kehendaknya. Jika Jelita tidak ingin melanjutkan keintiman mereka, maka tidak akan memaksa. “Sayang, maafkan aku telah memaksamu saat itu. Aku benar-benar tidak sadar perbuatanku karena pengaruh obat. Tapi sekarang aku tidak akan melakukannya lagi. Jika kau masih ingin melanjutkan ini, aku berjanji akan memperlakukanmu dengan sangat lembut, tapi jika kau masih tidak berani melakukannya, aku tidak akan memaksamu.” Ucapan Abizar justru membuat Jelita merasa tidak enak hati. Ini adalah kesempatannya bersama dengan suaminya, merasakan cinta dan kasih sayangnya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan saat berharga ini. Biarlah sekarang ia menjadi wanita jahat yang telah merebut hati suami orang, ia tidak peduli lagi. Ia menginginkan Abizar. “Tidak, aku akan melakukannya dengamu sekarang. Lakukanlah baby, aku akan menahannya sesakit apa pun itu,” ucap Jelita lirih. “Apa kau yakin sayang,” tanya Abizar. Jelita mengangguk dengan takut-takut, mata bulatnya mengerjap indah. “Aku akan memperlakukanmu dengan lembut,” Abizar kemudian mencium bibir istrinya dengan penuh kelembutan. Jelita melingkarkan kedua lengannya ke leher Abizar dan membalas kuluman bibir suaminya. Ciuman mereka semakin lama semakin dalam seiring dengan gerakan tangan Abizar yang telah menggerayangi seluruh permukaan tubuh istrinya. Desahan mereka bagai simfoni yang mengalun memenuhi ruangan yang menjadi bukti dua tubuh dan jiwa menjadi satu dalam cinta dan hasrat. Saat Abizar menekan tubuhnya dan mulai menggerakkan diatas tubuh Jelita, pekikan lirih jelita terdengar. Akan tetapi, seiring dengan gerakan Abizar yang intens namun penuh kelembutan, pekikan itu berubah menjadi lenguhan dan desahan lirih penuh gairah. Mereka pun menjadi satu dalam sebuah kenikmatan cinta, tidak ada lagi kata rasa ragu dan takut. Rasa cemas dan khawatir melebur menjadi satu membentuk sebuah muara kenikmatan. Mereka menyatu dalam cinta dan gairah. Keindahan dan kenikmatan menjadi satu, eraman dan desahan terdengar seiring dengan gerakan mereka yang tidak terkendali. Hingga akhirnya tubuh Abizar ambruk di atas tubuh Jelita penuh kepuasan. Nafas mereka masih memburu, detak jantung mereka masih berpacu. Abizar mengguling tubuhnya ke samping, berusaha menenangkan nafasnya yang masih tidak terkendali. Tubuh Jelita benar-benar memuaskan gairah membaranya. Tubuh yang masih sangat polos itu telah memberikan berjuta rasa. Ia bahkan terkejut sendiri saat menyadari tubuhnya kembali bereaksi hanya dengan membayangkan pengalaman yang baru saja ia rasakan. Ia ingin kembali merasakan kehangatan tubuh Jelita. Namun, melihat istrinya itu lemas, Abizar berusaha menekan hasratnya. “Baby…” panggil Jelita. “Iya sayang,” “Barangnya bangun lagi, apa dia masih mau?” Abizar menatap istrinya sambil tersenyum. “Apakah kau masih sanggup mengahadapinya kalau memang dia masih mau?” pancing Abizar. “Iya.” * * * Huhu... saat menulis ini perasaanku tidak rela. Saya jadi membayangkan bagaimana bisa seorang suami berselingkuh dan mengkhianati istrinya di rumah dan bercinta dengan wanita lain dengan penuh gairah membara. Semoga kita dijauhi dari hal-hal demikian. Tapi apa dayaku, inilah imajinasiku yang penuh batasan sebagai seorang pengarang cerita. Semoga Readers suka ya. He..he...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN