Kejujuran Hati

1073 Kata
“Aku mohon Jelita,” Abizar terus memeluk Jelita seakan tidak akan melepasnya lagi. “Apa maksud Bapak menahanku begini? katakan padaku, apa yang Bapak inginkan sebenarnya. Kau sengaja ingin terus membuatku tersiksa dengan kebingungan perasaanku sendiri? kita sama-sama sudah memutuskan hal terbaik sampai perjanjian selesai. Lantas yang kau lakukan ini, apa?” suara Jelita bergetar menahan tangis, hatinya bercampur aduk. Ia kembali merasa bingung dengan sikap Abizar yang sama sekali tidak ia mengerti. Abizar merenggangkan pelukannya, membuat Jelita berbalik ke arahnya. Abizar menatap mata sembab Jelita yang juga menatapnya dengan dalam. “Jelita aku… aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Aku bingung, melihatmu dekat dengan pria lain membuat hati hatiku sesak dan tidak terima. Aku tidak suka melihatmu menangis, aku tidak rela kau terluka. Aku tahu aku sudah sangat egois sekarang tapi sungguh aku benar-benar sangat menghawatirkan dirimu,” tutur Abizar. Jelita terdiam, ia menghela nafas dalam dan mengalihkan pandangannya. Ia melepas tubuhnya dari Abizar. “Bapak hanya tidak ingin harga diri sebagai seorang suami tercoreng, aku adalah istrimu, sudah pasti kau akan merasa terganggu dengan siapa pun yang mendekatiku. Baiklah, aku tidak akan dekat dengan siapa pun lagi sebelum perceraian kita terjadi. Setidaknya bukan di hadapanmu. Iya, kan? Kalau aku bersama pria lain tanpa sepengetahuanmu kau tidak akan merasakan apa-apa. Aku akan menjaga perasaanmu, sekarang kembalilah, aku masih ingin sendiri, jangan khawatir, sebentar lagi aku pulang,” ucap Jelita sambil kembali duduk di kursi. Abizar terdiam, apa benar ini tentang harga dirinya saja sebagai suami Jelita? Jika memang begitu ia tidak perlu merasa terganggu jika tidak melihat Jelita bersama pria lain kan? Tapi kenapa hati dan pikirannya akhir-akhir ini banyak tertuju pada Jelita? Memikirkan Jelita bersama pria lain membuatnya kesal. Setiap kali perceraian terucap, hatinya terusik, ia tidak suka. “Jelita, bagaimana jika aku mengatakan tidak setuju bercerai denganmu, apa itu juga termasuk harga diri yang tercoreng?” Jelita terkejut, ia lalu menatap Abizar dengan tatapan bingung. “Apa maksudmu dengan itu, Pak. Kenapa kau sampai berpikiran tidak setuju dengan perceraian kita? Apa kau berencana menduakan istri yang kau cintai itu? apa kau berencana ingin menyakiti hati kami berdua?” Jelita mulai kesal dengan sikap tidak menentu Abizar. Apa yang pria ini bicarakan sekarang? “Tidak, justru aku ingin kalian menjadi milikku. Aku akan membahagiakan kalian berdua dengan memberikan kalian cinta dan kasih sayang yang sama.” “Plak…!” tamparan keras tiba-tiba mendarat di wajah Abizar. Jelita menatap Abizar dengan tajam penuh emosi. “Bisa-bisanya kau mengatakan hal seperti itu. Selama ini aku berpikir kau adalah pria sejati yang hanya mencintai ibu Jovanka dengan setia, keterpaksaan yang kita jalani tidak akan membuat cinta itu terpengaruh walau secuil pun. Hal itu juga yang membuat aku kagum bahkan mencintaimu. Aku bahkan selalu berdoa Tuhan akan mendatangkan pria seperti dirimu suatu hari nanti. Tapi sekarang, ucapanmu itu membuktikan jika kau sama saja dengan pria b******k yang tidak bisa menghargai ucapan dan perasaanmu sendiri,” cecar Jelita. Meskipun hatinya sedikit menghangat saat Abizar mengatakan jika Ia akan membuatnya bahagia, tapi yang dikatakan Abizar itu hanya omong kosong belaka. Menurutnya, jika cinta sudah terbagi, kebahagiaan juga akan hilang. “Aku tidak bisa kehilanganmu, Jelita,” ucap Abizar. Mendengar itu Jelita menggeleng, air matanya jatuh, ia tidak ingin Abizar berkata seperti itu, ia tidak mau melemahkan hati yang sudah susah payah ia kuatkan. Jika Abizar berkata begitu, pondasi yang dianggapnya sudah kuat itu akan runtuh kembali, membuat hati yang sudah tertata dengan baik kembali hancur berantakan. “Cukup, Pak. jangan katakan itu lagi. aku tidak ingin mendengarnya. Tolong biarkan saja aku pergi dan hidup tenang sampai anak ini lahir, aku mohon,” pinta Jelita dengan tatapan penuh harap. Ia benar-benar tidak ingin berurusan dengan perasaannya lagi. Sudah cukup. Abizar menatap Jelita, kembali menggenggam tangannya. “Aku bersungguh-sungguh, aku tidak bisa membiarkanmu bersama dengan pria lain, aku tidak bisa berhenti memikirakanmu, aku…” “Cukup, Pak Abizar! Kau tidak bisa melakukan ini padaku. Aku sudah tidak bisa membiarkanmu menyakiti perasaanku lagi. Tidak, tidak bisa…” Jelita berusaha melepas tangannya dari genggaman tangan Abizar tapi hal itu justru membuat Abizar terpancing dan justru semakin menguatkan genggamannya. Tangan Jelita bahkan terasa sakit saking kuatnya pegangan tangan itu. “Pak tolong lepaskan tanganku. Biarkan aku pergi, kau jangan menggangguku lagi, aku mohon,” pinta Jelita dengan mata berkaca-kaca. Tapi permohonan itu justru membuat Abizar meradang dan tidak terima. Ia memeluk tubuh Jelita dengan erat lalu mendekatkan wajahnya dan langsung melumat bibir Jelita dengan kuat. Jelita awalnya meronta berusaha lepas dari kungkungan Abizar, tapi tenaga Abizar terlalu kuat untuk ia imbangi. Ia akhirnya pasrah dan menerima semua perlakuan Abizar terhadapnya. Perlahan ciuman kasar itu berubah lembut penuh kehangatan. Abizar membingkai wajah Jelita menahannya agar ciuman mereka tidak terlepas. Mereka melepas ciuman panas itu sesaat, mengambil nafas sebelum melanjutkan. Jelita yang sudah kembali terhanyut dengan kehangatan sentuhan Abizar seakan tidak ingin mengakhirinya. Kelembutan Abizar kembali melelehkan kebekuan hatinya, menghancurkan tembok tinggi yang sudah susah payah ia bangun untuk membatasi hati dan perasaannya agar berhenti mencintai Abizar. Tapi Abizar telah dengan gampangnya memporak-porandakan itu semua sehingga bendungan perasaan itu meluap dan menghanyutkannya. Ia benar-benar telah hanyut dan tenggelam. Nafas mereka memburu seiring degup jantung yang berdetak kencang. Abizar membelai bibir yang sudah memerah itu dan kembali mengulumya dengan lembut. Ia menatap wajah Jelita yang yang memerah, sangat cantik dan menggairahkan. Gairahnya menggebu, Ia menginginkan Jelita saat ini. “Jelita, aku menginginkanmu.” Abizar kembali membenamkan wajahnya ke leher putih Jelita dan memberikan tanda cintanya di sana, Jelita hanya bisa mengigit bibir agar desahannya tidak keluar. “Bapak sangat jahat, aku membencimu..” Jelita memeluk Abizar dengan erat, membiarkan bibir Abizar tetap berada di lehernya. Tubuh Jelita tersentak saat merasakan tangan Abizar mulai meraba dadanya dan meremasnya dengan kuat sehingga desahan yang tertahan tanpa sadar keluar. “Aku mencintaimu Jelita, aku tidak ingin berpisah denganmu,” ungkapan lirih Abizar membuat hati Jelita benar-benar meleleh bagai lilin yang terbakar api. “Kau benar-benar sangat Jahat, Pak Abizar.” Mereka kembali berciuman, Abizar mengulum dan menghisap bibir Jelita, di kepalanya hanya di penuhi Jelita dan hanya Jelita. Ia sangat ingin menyentuh istrinya itu lebih dalam lagi. “Sayang, ayo kita ke apartemenmu,” bisik Abizar sambil menggigit daun telinga Jelita, membuat desahan Jelita lagi-lagi keluar. Jelita merasa tubuhnya panas, hasratnya bergejolak. Ia juga begitu menginginkan Abizar memeluknya dan melakukan apa pun terhadapnya. Sehingga Jelita mengangguk. Abizar tersenyum, ia merapikan pakaian Jelita yang kusut karena ulahnya lalu membawanya masuk ke dalam mobil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN