Keduanya menoleh ke arah sumber suara. Jelita terkejut melihat Abizar sudah berdiri di hadapannya sedangkan Bima semakin geram melihat kehadiran Abizar.
“Kau sudah keterlaluan dan melewati batasanmu,” hardik Abizar kepada Bima.
“Kau yang sudah keterlaluan, kau mengambil keuntungan dari kelemahan gadis polos untuk kesenanganmu sendiri. Aku tidak tahu apa yang sudah kau tawarkan kepada Jelita tapi caramu ini salah. Kalian egois dan jahat!” balas Bima sambil berdiri seakan menantang Abizar. Tinggi badan mereka hampir sama, hanya saja tubuh Abizar sedikit lebih berotot di bandingkan Bima. wajah mereka sama-sama tampan, jika orang lain yang melihat, maka mereka akan berpikir jika wanita yang diperebutkan dua pria tampan ini sangat beruntung.
“Jaga ucapanmu, jika kau tidak tahu apa-apa lebih baik kau diam.” Ucap Abizar mulai emosi.
“Kau tidak tahu aku sangat peduli dengan Jelita. Aku sudah menganggapnya sebagai orang yang paling berharga dalam hidupku, aku selalu bermimpi untuk menjaganya dan membahagiakannya suatu hari nanti tapi ternyata kau rebut semua mimpi itu dan menghancurkannya dengan mudah. Kau tanpa rasa belas kasih sedikitpun membuatnya menderita. Dasar pria brengsek..!” Bima mengangkat tangannya yang mengepal siap untuk menghajar Abizar tapi suara teriakan Jelita membuat gerakannya terhenti.
“Hentikan…!aku mohon cukup. Jangan di lanjutkan lagi.” Jelita lalu beranjak dari tempatnya dan langsung meninggalkan mereka berdua.
“Jelita, tunggu…!” Abizar dengan cepat berlari Jelita yang sudah berlari dan menyetop taksi.
“Jelita, aku mohon, tunggu dulu. Dengarkan aku…!” Abizar memukul-mukul kaca jendela taksi yang sudah mulai bergerak, tapi Jelita sama sekali tidak menghiraukan dan meminta sopir untuk segera meninggalkan tempat itu. Abizar terpaksa hanya bisa menatap kepergian Jelita dengan menghembuskan nafas gusar.
Air mata Jelita terus bercucuran, hatinya hancur berkeping-keping. Ia tidak menyangka akan menghadapi kejadian seperti ini dalam hidupnya. Setidaknya jangan secepat ini. ucapan Bima begitu menyakiti hatinya, membuatnya sadar jika selama ini apa yang ia lakukan memang sangat salah. Ia merasa sama derajatnya dengan perempuan bayaran yang rela melakukan apa pun dengan uang. Dan itulah kenyataan yang dilakukannya sekarang.
Jelita terus mencoba menghapus air mata yang tidak pernah berhenti mengalir. Ia benar-benar merasa bersalah dan menyesali dirinya. Ia merasa dirinya tidak berharga lagi.
“Mau kemana Nona?”
Suara sopir taksi menyadarkan pikirannya, karena larut dalam kesedihan, ia lupa memberikan alamat untuk sang sopir. Tapi ia tidak ingin pulang ke rumah, ia tahun Abizar akan menyusulnya ke sana. Saat ini ia ingin sendiri dan menenangkan diri.
“Tolong bawa saya ke taman kota, Pak.” ucap lemah.
“Baik, Nona.” Jawab sang sopir .
Mobil pun melaju menuju tempat yang Jelita maksud.
Sementara itu, Bima masih duduk terdiam di tempatnya. Ia seketika sadar jika ucapannya itu sudah menyakiti hati Jelita. Kenapa ia bisa terbawa emosi dan mengucapakan kata-kata itu. ucapan yang seharusnya tidak ia keluarkan. Ia masih melihat air mata jelita yang mengalir saat ia mendesaknya mengatakan semua yang ingin ia ketahuia tanpa sedikitpun memikirkan perasaan Jelita saat itu.
“Dasar bodoh…! Kau sama saja dengan pria b******n itu.” rutuknya pada dirinya sendiri.
Ia lalu beranjak dari tempatnya dan mencari keberadaan Jelita.
Sedangkan Abizar sudah uring-uringan mencari keberadaan Jelita. Ia langsung menuju apartment tapi lagi-lagi Jelita tidaka ada di sana. Ia berencana untuk mencari keberadaan istrinya itu lewat GPS tapi sayangnya koneksinya tidak tersambung , kemungkinan besar Jelita mematikan ponselnya.
“Akh…!” Abizar mengeram frustrasi. Ia benar-benar mengkhawatirkan Jelita saat ini. ia tahu kalau istrinya itu sangat sedih saat ini. ia ingin berada di sisi Jelita dan menenangkannya. Entah kenapa hatinya merasa sesak membayangkan air mata Jelita yang mengalir tiada henti.
‘Jelita, di mana kau?” gumannya sambil melajukan mobilnya dan terus mencari keberadaan Jelita.
***
Jovanka membuka mata, ia melihat sekeliling. ternyata ia tertidur saat berbincang dengan Abizar. Tapi kemana suaminya pergi? Bukankan seharusnya ia ada di rumah saat ini? Jovanka beranjak dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
Ia keluar kamar dan masuk ke dapur. Ia mencari keberadaan Abizar tapi sepertinya suaminya itu sedang keluar.
‘Deg!” firasat yang baru saja ia rasakan seketika membuatnya tidak tenang. Apakah Abizar pergi menemui Jelita? Ah tapi tidak mungkin. Jovanka menggeleng mengusir pikiran mengganggunya itu. ia lalu membuka kulkas dan menuang segelas jus lalu meminumnya.
***
Abizar sudah hampir putus asa mencari keberadaan Jelita. Hari sudah semakin sore dan sebentar lagi malam tiba. Jelita ternyata belum pulang ke rumah dan sampai sekarang ia belum menemukannya. Semua tempat yang kira-kira Jelita biasa kunjungi sudah ia periksa. Tapi Jelita tidak ada di mana-mana.
Abizar terus melajukan mobilnya
dengan kecepatan sedang sambil terus memperhatikan setiap sudut tempat yang ia lalui. Mobilnya pun melewati taman kota yang cukup ramai, ia hanya melihat sekilas tempat itu karena ia pikir, tidak mungkin Jelita akan berada di tempat ramai seperti itu.
Ia pun hendak memutar balik mobilnya, tapi matanya terbelalak saat melihat Istrinya sedang duduk sendiri sambil menatap padang rumput luas yang ada di hadapannya. Abizar langsung mengerem mendadak mobilnya sampai terdengar bunyi decikan ban mobil yang menggesek aspal.
Abizar dengan cepat mencari tempat parkir dan langsung berlari menuju Jelita.
“Jelita…” ucapnya pelan saat ia sudah berada di belakang Jelita.
Sesaat Jelita hanya terpaku mendengar suaranya sebelum menoleh ke arahnya.
“Kenapa Bapak datang kemari? bukankah sudah aku katakan kalau kita tidak perlu lagi saling berinteraksi. Jangan khawatirkan anakmu, dia aman. Aku rutin minum vitamin dan s**u. Aku juga sering cek ke dokter, semuanya baik-baik saja, bapak tidak perlu secemas itu.” ucap Jelita sambil memandang ke arah depan.
Abizar menghampirinya dan duduk di samping Jelita.
“Jelita, maafkan aku atas kejadian tadi. Dan aku datang bukan semata-mata untuk anak yang ada di dalam kandunganmu, tapi aku memang mengkhawatirkan dirimu,” ucap Abizar.
“Terima kasih telah mengkhawatirkanku kalau begitu, Bapak memnag seharusnya bersikap seperti itu mengingat aku masih berstatus istri Bapak. Tapi semua itu tidak perlu, karena aku tidak membutuhkan semua itu.
Apa yang terjadi adalah takdir yang harus aku jalani sampai semuanya berakhir, semua yang diucapkan oleh Bima seketika menyadarkanku jika semuanya benar. Aku hanya mengambil jalan pintas untuk mendapatkan uang dan menyembuhkan ayahku. Aku tidak lebih dari perempuan rendahan.” Ucap Jelita sambil tersenyum getir.
"Hentikan omong kosongmu itu Jelita! Kau bukan perempuan seperti itu. keberadaanmu dalam keluargaku adalah legal dan sah karena kita telah menikah. kenapa kau merendahkan dirimu sendiri degan mengatakan hal seperti itu?” Abizar mulai emosional mendengar ungkapan Jelita, ia sagat tidak suka ucapan jelita itu.
“Bapak jangan berusaha menenangkan perasaanku, itu tidak mengubah fakta bahwa aku memang melakukan perjanjian kontrak demi uang. Setelah mendengar ucapan Bima, baru aku bisa menyadari posisiku sekarang dan aku sangat malu. tapi jangan khawatir, aku tidak akan menyalahkan kalian. Di sini aku yang bersalah. Aku sama sekali telah membuat kesalahan besar dalam hidupku. Aku telah membohongi ayahku, itulah penyesalan terbesarku sekarang.” Ucap Jelita.
Mendengar hal itu,hati Abizar semakin sesak, seperti ada sesuatu yang tiba-tiba menghantam perasaannya, rasanya sakit. tangannya perlahan bergerak menyentuh tangan Jelita.
“Jelita, sudah aku katakan kalau kau bukan wanita seperti itu. kau melakukan ini dengan terpaksa dan sama sekali sudah tidak ada jalan keluar atas desakan Jovanka. Kau tidak melakukan kesalahan sama sekali, jangan menyalahkan dirimu seperti ini, aku mohon," ucap Abizar, ia menatap jelita dengan tatapan dalam.
Jelita membalas tatapan suaminya, lama ia menatap mata hitam tajam itu. tatapan tajam nan indah yang selalu membuatnya hanyut setiap kali menatapnya. Tapi sungguh ironis perasaan yang dia milikinya itu, kenyataan bahwa ia masih sangat mencintai suami orang lain ini semakin memperparah rasa bersalahnya sehingga ia hanya bisa kembali tersenyum getir.
Ia melepas genggaman tangan Abizar dan mengalihkan tatapannya.
“Untuk apa Bapak bersikap seperti ini sekarang? Bukankan sudah aku katakan jika anakmu akan baik-abik saja di dalam ;perutku. Tidak ;perlu mengkhawatirkanku seperti itu. aku akan bertanggung jawab dan melahirkannya dengan baik.
Jika bapak melakukan ini, ibu Jovanka pasti akan salah paham dan aku juga akan semakin bingung. bukankah kau sangat mencintai istrimu? Jadi tolong jangan buat ia sampai sakit hati hanya karena kau sudah repot-repot mengurusi perempuan sepertiku. Kembalilah ke rumahmu, tidak perlu pedulikan aku. jangan buat situasi semakin rumit, kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing? Jadi pulanglah kepada istrimu.” Ucap Jelita sambil berdiri dari duduknya. Ia lalu melangkah tapi tertahan.
“Jelita, aku mohon jangan pergi. Aku… benar-benar sangat mencemaskan keadaanmu.” Abizar memeluk Jelita dari belakang. Hati Jelita menghangat, air matanya terjatuh, jika sudah begini apa yang harus ia lakukan?