Bramasta baru saja kembali dari makan siang bersama Dirga ketika ponselnya bergetar di atas meja kerja. Nomor tak dikenal. Berawalan kantor polisi. “Ada apa?” gumamnya, lalu mengangkat panggilan itu. Pembicaraan singkat. Sangat singkat. Namun cukup membuat wajah Bramasta berubah. Ia menutup telepon, menatap Dirga tanpa berkedip. “Aku dipanggil ke kantor polisi,” ucapnya pelan. “Sebagai saksi. Sekaligus korban.” Dirga mengernyit. “Kasus yang semalam?” Bramasta mengangguk. Lalu kalimat berikutnya meluncur, nyaris berbisik tapi sarat kebingungan. “Siapa yang melapor? Bahkan aku belum ambil tindakan apa-apa.” Dirga menarik napas sebentar sebelum menjawab, suaranya terukur. “Sepertinya Bu Kirana, Pak. Karena beliau ada di kantor polisi saat ini.” Nama itu jatuh seperti hentakan. Br

