Tempat Yang Disebut Rumah

1383 Kata

Malam itu apartemen terasa lebih tenang dari biasanya. Lampu temaram, meja makan masih menyisakan piring-piring kosong dan aroma masakan rumahan yang sederhana. Kirana baru saja membereskan dapur ketika bel berbunyi—sekali, lalu disusul ketukan yang tidak sabar. Bramasta menoleh sekilas ke arah pintu. Ada firasat yang tidak menyenangkan. Saat pintu dibuka, firasat itu terbukti. Aldi dan Nurma berdiri di sana. Tidak ada senyum basa-basi. Tidak ada sapaan hangat. Hanya dua pasang mata yang sejak awal datang membawa tuntutan. Mereka duduk di ruang tamu apartemen yang tidak luas. Namun apartemen itu lebih dari nyaman dan tidak bisa disebut sederhana karena furnishing yang ada semua designer collection. Kirana menyuguhkan teh hangat—uapnya masih mengepul—lalu duduk di sisi Bramasta. Sik

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN