Aisyah berlari menyusuri lorong rumah sakit. Air matanya tak berhenti mengalir, hatinya terasa sangat sesak dan begitu mencekiknya. Bayangan buruk tentang Raihan terus menghantui dirinya. ‘Ya Allah jika Raihan bukan di takdirkan untukku, maka jangan takdirkan seperti ini. Aku ingin tetap melihat Raihan walau dia tidak bisa bersamaku. Aku mohon jangan sampai sesuatu yang buruk menimpa dirinya.’ Batin Aisyah. “Raihan...” Aisyah sampai di sebuah ruangan yang tadi di sebutkan oleh seseorang melalui pesan. “Mbak Aisyah,” panggilan itu membuatnya menoleh ke sumber suara. Seorang pria berwajah tampan dan terlihat seusia Raihan. “Kamu siapa?” tanya Aisyah. “Aku Erlan, sepupunya Raihan,” serunya menyodorkan tangannya ke

