bc

TUTOR DINGIN & MURID BANDEL

book_age18+
17
IKUTI
1K
BACA
billionaire
family
HE
age gap
friends to lovers
arranged marriage
badgirl
powerful
heir/heiress
sweet
bxg
genius
campus
like
intro-logo
Uraian

Pacarnya menyakitinya.

Tutornya melindunginya.

Sienna Aurelia tak pernah berniat jatuh cinta pada Damian Alexander, pria dingin dan disiplin yang seharusnya hanya mengajarinya pelajaran, bukan mengacaukan hatinya.

Tapi saat dunia mudanya runtuh, justru pelukan pria yang ia juluki 'orang kolot' sendiri yang terasa seperti 'rumah' baginya.

Hanya Damian yang akhirnya bisa membantu nya keluar dari dunia clubbing, merubahnya dari 'cewek malam' menjadi 'cewek manis dengan vibes positif'.

"Ternyata bener kata Mama, punya pasangan yang lebih dewasa itu nggak seburuk itu, kenapa nggak dari dulu aja ya gue pacaran sama Damian?"

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Tutor Baru
Tok Tok Tok! "Sienna! Bangun cepat Guru privat kamu bentar lagi sampai!" Suara Clarissa Elena menggelegar di balik pintu. Sudah terhitung ia berdiri hampir lima menit hanya untuk membangunkan putri semata wayangnya. Dari dalam kamar terdengar geraman malas gadis itu. "Ugh… aku lagi sakit, Ma!" "Eh? Tadi malam kamu clubbing sampai jam tiga pagi lho, sakit apa sakit tuh?" Di dalam kamar gadis bernama Sienna Aurelia itu hanya bisa mendengus frustasi, ia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, seolah kain tebal itu bisa menyembunyikan dirinya dari kenyataan. Sinar matahari pagi menyusup lewat tirai, menyinari wajahnya yang–meski kusut–tetap cantik. "Ayo cepat bangun. Jangan buat Mama dan Papa malu di depan Damian." tegas Clarissa lalu mengetuk lagi. "Damian? Siapa lagi dia?" Dengan berat hati, Sienna perlahan duduk. Matanya masih setengah tertutup, dan rambut kusut di mana-mana. "Iya iya, nih…" Dua menit setelahnya, akhirnya pintu terbuka. Sienna muncul dengan penampilan yang tidak layak dilihat siapa pun–apalagi calon Guru privatnya. Tank top hitam ketat. Hotpants. Rambut berantakan. Sisa smokey eyes semalam masih menempel di kelopak, bibirnya agak kering efek terlalu banyak mengonsumsi cocktail semalam. "Jam berapa, Ma? Masih ngantuk…" Clarissa menepuk jidatnya. Ia menunjuk ke arah jam kakek besar di sudut ruangan. "Lihat tuh jam, jam delapan. Sekarang mandi terus sarapan. Guru baru mu sebentar lagi datang. Papa kamu sudah bayar mahal untuk ini." Sienna mengerucutkan bibirnya–ekspresi andalannya sejak kecil–lalu ia berbalik masuk untuk mandi. Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik pelan. Sehari sebelumnya... Di ruang kerja Victor Halbert, lampu meja masih menyala meski jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Pria paruh baya itu memegang ponsel, raut wajahnya tegang. "Halo, Victor? Sudah lama tidak ada kabar." Victor menghela napas lega mendengar suara lama yang akrab. "Robert... maaf mengganggu malammu. Aku butuh bantuan." Di seberang telepon, Robert Harrison mengernyit. Tak biasa ia mendengar nada bicara Victor seperti ini. Teman lamanya itu selalu terlihat tegar, bahkan saat bisnisnya hampir bangkrut dulu. "Oke langsung saja. Ada apa?" Victor menatap bingkai foto di meja kerja—Sienna kecil tersenyum lebar dalam gaun princess di gendong hangat oleh Clarissa. Dadanya terasa sesak melihat itu. "Aku butuh seseorang untuk menjadi guru privat putriku. Ini sebenarnya hanya masalah pergaulan, Rob. Sienna mulai ke luar jalur. Aku dan Clarissa terlalu sibuk bekerja sampai jarang meluangkan waktu untuk Sienna. Karena itu aku rela bayar berapapun." Robert terdiam beberapa saat. "Kau tidak bisa mendidiknya sendiri?" "Andai bisa." Victor memijat pelipis. "Tapi aku selalu pulang larut. Clarissa sibuk dengan butiknya. Sienna... dia butuh figur yang bisa mengendalikannya. Bukan tutor biasa." Hening. "Kebetulan sekali," suara Robert terdengar lebih ringan, "aku punya seseorang yang tepat untuk ini. Anakku, Damian." Victor mengangkat alisnya. "Damian? Bukankah dia dosen? Dia pasti sibuk." "Yah… dia baru saja resign. Fokus ke dunia bisnis sekarang. Jadwalnya sekarang fleksibel. Dan yang terpenting... Damian tidak pernah mudah menyerah pada murid yang sulit." Victor terdiam. Ia merasakan ada harapan baru yang mulai tumbuh. "Aku akan bicara padanya malam ini juga. Besok pagi dia bisa datang ke rumahmu." Napas Victor terlepas pelan, lega. "Terima kasih, Robert. Kau tidak tahu seberapa besar artinya." Telepon berakhir. Victor kembali menatap foto di bingkai itu. Jemarinya menyentuh kaca pelan. "Papa akan perbaiki semuanya, Nak." Kembali ke pagi itu… Setelah mandi kilat dan sarapan setengah hati, hanya roti panggang dan s**u almond, Sienna turun ke ruang keluarga. Ia memilih kaus oversized putih dan rok pendek. Rambut dibiarkan terurai. Nol make-up, tapi tetap cantik alami. Hanya lingkaran hitam tipis di bawah mata yang mengkhianati malamnya yang panjang. Clarissa sudah duduk di sofa dengan posisi tegang. Matanya berkali-kali melirik jam dinding. "Papa bilang jam sembilan tepat. Ini udah 8:55. Kamu duduk manis, jangan macam-macam, oke?" Sienna mendengus, merebahkan diri di sofa, satu kaki naik ke meja kopi. "Iya, Ma. Aku janji nggak kabur kali ini." Clarissa memutar bola matanya. "Kamu selalu bilang gitu. Tutor yang kemarin kabur setelah dua minggu karena kamu godain terus." Sienna nyengir, "itu tutornya aja yang lemah mental, haha." Clarissa membuka mulut hendak membalas, tapi— Ding Dong. Bel rumah berbunyi tepat pukul 09:01 Medi, kepala pelayan yang sudah bekerja lima belas tahun di keluarga itu, membukakan pintu. Beberapa saat kemudian, langkah kaki tegas terdengar mendekat kearah ruang keluarga. Tap. Tap. Tap. Sienna tidak tahu mengapa, tapi tiba-tiba ia menegakkan duduknya. Dan ketika pria itu masuk ke ruang keluarga, untuk beberapa detik, Sienna merasa lupa cara bernapas. Damian Alexander berhenti tepat di ambang pintu. Sorot matanya langsung menangkap Sienna–gadis yang duduk dengan kaki di atas meja, menatapnya dengan mata sedikit membelalak. Pria itu mengenakan kemeja putih lengan digulung rapi hingga siku, memperlihatkan lengan yang kuat tapi tidak berlebihan. Celana chino hitam. Sepatu loafer cokelat tua mengilap. Rambut hitam pendek disisir ke belakang, rahang tegas, bibir tipis yang sepertinya jarang sekali membentuk senyuman. Mata cokelat gelapnya dalam, tajam, seperti bisa membaca semua rahasia ketika saling bertatapan, Ia menatap Sienna tanpa ekspresi. Tas kulit hitam di tangan kanan. Jam tangan stainless steel mewah di pergelangan kiri. Wangi parfum maskulin yang samar tapi cukup tercium. "Gils… dia tutor apa model majalah?" pikir Sienna sebelum cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Clarissa langsung berdiri menyambut dengan senyum paling ramah yang bahkan membuat Sienna ingin tergelak. "Selamat pagi, Damian, terima kasih sudah datang tepat waktu." Damian mengangguk sopan, menjabat tangan Clarissa singkat. "Selamat pagi, Nyonya Clarissa. Tuan Victor sudah berbicara dengan ku kemarin." Lalu matanya beralih ke Sienna. Mata itu – Tuhan, mata itu. Dingin, tapi tidak menghakimi. Tajam, tapi tidak kejam. Seperti sedang menilai, bukan menghakimi. Sienna tiba-tiba sadar posisi kakinya di atas meja. Tapi sudah terlanjur. Ia malas mengubahnya. Biar saja. "Kamu Sienna Aurelia?" Suaranya dalam, datar. Tanpa senyum. Sienna menyunggingkan senyum malas, mencoba menguasai situasi. "Iya. Lo Damian? Guru privat baru yang katanya bisa 'mengubah hidup gue'?" Damian tidak tersenyum. Juga tidak tersinggung. "Aku bukan penyihir. Hanya guru pembimbing. Kalau kamu mau berubah, terserah kamu. Meskipun tidak, aku tetap dibayar." Sienna terkejut. Lalu tiba-tiba tergelak. "Wah, to the point banget. Gue suka." Clarissa buru-buru menyela, tidak ingin situasi semakin aneh. "Ehm, Damian, ruang belajar khusus sudah disiapkan di lantai dua. Sienna, antar Damian ke atas, ya." Sienna menghela napas, bangkit dengan malas. "Ayo, Om. Ikut gue." Om. Damian hanya mengangguk, tanpa komentar. Mereka berjalan menaiki tangga melewati lorong panjang rumah mewah itu. Sienna sengaja berjalan lambat, sesekali melirik ke belakang. "Om Damian... atau Damian aja sih? Umur berapa? Keliatan lebih tua dari dosen biasa." "27. Panggil Damian saja." "Om aja, deh. Lebih sopan." Ucap Sienna sambil menyengir nakal. Damian terdiam. Sienna berhenti di depan pintu ruang belajar, membukanya lebar-lebar dengan gaya dramatis. "Welcome to my torture chamber!" Ruangan itu terlihat mewah. Meja kayu besar, papan tulis digital, sofa panjang empuk, rak berisi snack favorit Sienna, dan jendela besar menghadap taman belakang yang asri. Damian masuk tanpa ekspresi, meletakkan tas, lalu membuka laptop. Matanya bahkan tidak tertarik pada kemewahan ruangan. "Baik. Silahkan duduk. Kita mulai dari Matematika Ekonomi dasar. Ayahmu bilang nilai semester lalu C minus. Target kita B minimal dalam tiga bulan." Sienna duduk di kursi seberang dengan kaki menyilang dan tangan melipat di d**a. "Target tinggi? Hah… gue nggak janji apa-apa." Damian menatap sesaat gadis di hadapannya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama ada sesuatu di matanya–bukan marah, bukan kesal. Tapi semacam tantangan baru yang sudah lama ia cari. "Aku tidak meminta janji. Hanya minta kamu duduk dan mendengarkan selama dua jam. Kalau bisa, bagus. Kalau tidak... aku tetap di sini sampai kamu lelah." Sienna mencebikkan bibirnya. "Lo beda dari tutor sebelumnya." "Bagus. Berarti aku tidak akan kabur dalam dua minggu." Damian membuka buku teks, mendorongnya ke hadapan Sienna. "Halaman 12. Persamaan linear. Baca soal pertama." Sienna mengambil buku itu. Tapi matanya tidak membaca soal, melainkan matanya menatap Damian. Rahang pria itu tegas, bibir tipis nan kaku yang sepertinya tidak pernah tersenyum. Netra elang yang fokus ke layar laptop—dingin tapi terkendali. "Ini orang… kenapa sih sedingin es? Apa nggak punya perasaan sama sekali? Gue kira cuma yang sok-sokan cool." Tapi jauh di lubuk hatinya, sesuatu terasa berdetak lebih cepat. Jantungnya sendiri, yang sepertinya hendak mengkhianatinya. "Oh no, jangan-jangan..." Sienna menggeleng pelan, menepis pikiran konyolnya. "Gue bukan cewek alay yang jatuh hati sama tutor. Apalagi setua dia." Tapi jantungnya tetap saja membantah. Damian yang sadar sedang diamati, mendongak. Mata mereka bertemu. Satu detik. Dua detik. "Ada apa, Sienna Aurelia?" tanyanya datar. Sienna langsung membuang muka, berpura-pura sibuk dengan bukunya. "Nggak ada. Gue lagi baca." Tapi nyatanya kini wajahnya terasa memanas.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
6.0K
bc

Serpihan Hati Yang Utuh

read
2.4K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
168.1K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
212.3K
bc

Perfect Man and Stupid Women

read
157.6K
bc

Istri Kecil Om Arogan

read
14.7K
bc

Terjerat Hasrat Suami Pengganti

read
170.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook