Orang tua

1007 Kata
Arsha sampai di rumahnya pada sore hari, mobil sang ayah sudah terparkir rapi di garasi itu artinya sang Ayah sudah pulang dari kantor. Anak laki-laki yang terkenal playboy itu sangat dekat dengan kedua orang tuanya, sehingga Arsha begitu senang jika mendapati ayahnya pulang lebih awal. "Bi, ayah udah pulang?" tanya Arsha pada Bi Minah, asisten rumah tangga yang sudah hampir pensiun karena sudah lama bekerja pada keluarganya. Bi Minah menoleh, dan tersenyum mendapati anak majikannya sudah pulang sekolah. "Ada di kamar, Arsha mandi dulu langsung makan ya. Nanti di tunggu sama ayah kamu di meja makan, udah beberapa hari enggak makan malam bareng kan?" Arsha mengangguk, tidak lagi membantah. Dirinya sudah sangat lelah, jika ingin di sayang oleh ayah dan bunda maka Arsha harus menjadi anak yang penurut. Dulu ketika masih kecil, Arsha pernah memanggil orang tuanya dengan sebutan Mommy dan Daddy. Tapi sekarang, anak itu lebih nyaman memanggil kedua orang tuanya dengan sebutan ayah dan bunda. Arsha masuk ke dalam kamarnya, kamar yang begitu rapi dan nyaman. Meksipun memiliki asisten rumah tangga, tapi Arsha selalu meminta sang ibu yang merapikan kamarnya. Anak laki-laki itu tersenyum, saat melihat baju yang sudah di siapkan oleh sang bunda. Dengan cepat Arsha masuk ke dalam kamar mandi, seharian ini tidak bertemu dengan orang tuanya rasanya sangat membosankan. Di tambah penolakan Rania si gadis sombong, lihat saja Arsha akan membuatnya menjadi pacar walaupun hanya sehari. Jika lebih dari sehari, itu artinya Arsha sedang beruntung. "Bun, kok enggak nunggu Arsha sih makannya." Arsha baru saja selesai mandi, bahkan rambut remaja itu masih ada air yang menetes tapi sepertinya rasa lapar membuat Arsha tidak memperhatikan penampilannya. Jiwa Prameswari, ibu satu anak. Menjadi seorang ibu yang memiliki anak super aktif seperti Arsha, cukup menguji kesabaran Jiwa. Apalagi jika suaminya sedang mode manja, lengkap sudah. "Anak ayah udah mandi, ayo makan nak. Tadi ayah udah lapar, jadi lupa kalau kamu udah pulang." Jawab sang ayah, Raga dirgantara. Akhir akhir ini, Raga semakin sibuk dengan bisnisnya yang sudah berkembang pesat. Pernah suatu hari, dengan sangat terpaksa Raga menitipkan sang anak pada ibunya karena Jiwa harus ikut keluar kota selama empat hari. Empat hari bagi orang lain sangatlah singkat, tapi tidak bagi Raga. Berada jauh dari sang istri bisa membuatnya uring uringan dan tidak bisa fokus bekerja. Tanpa mengatakan apapun, Arsha mengambil nasi dan lauknya sendiri. Hari ini benar benar menyebalkan, kenapa sang Ayah juga ikut menyebalkan seperti Rania? Jiwa yang menyadari Arsha marah hanya mampu menghela nafas pelan, ini sudah sering terjadi. Ayah dan anak itu memang saling berebut perhatiannya, tapi Jiwa selalu berusaha untuk bersikap adil. Perempuan itu mendekati sang anak yang masih tenang menyantap makanannya, tangannya terulur mengusap rambut Arsha yang masih basah. "Sayang, mau bunda suapin?" tanya Jiwa, biasanya Arsha akan luluh jika sang bunda menyuapinya makan. Namun, kali ini Arsha menolak. Hatinya sedang kesal, moodnya benar benar buruk. Jangankan moodnya, laki laki itu sampai kehilangan nafsu makannya. "Aku bisa sendiri Bun," Raga yang sejak tadi tidak menyadari perubahan sikap anaknya, kini ikut memperhatikan Arsha. Dari gaya bicaranya, sudah terlihat jika Arsha marah. Tapi Raga tidak mau ikut campur sekarang, biarkan saja dulu. Jiwa duduk di samping anaknya, memperhatikan wajah tampan Arsha yang sangat mirip dengan Raga. "Nanti bunda tidur sama kamu ya, kita udah lama loh enggak cerita cerita keseharian Arsha. Gimana, mau?" "Arsha mau belajar Bun, kapan kapan aja." Jawab Arsha, jika tidak sedang badmood pasti Arsha tidak menolak permintaan bundanya. Jiwa yang mendapatkan penolakan sang anak hanya terdiam, "Arsha." Panggil Raga, jika sudah sampai sang ayah turun tangan berarti permasalahannya sudah cukup serius. Kenapa Arsha terus menerus menolak untuk berbicara dengan Jiwa? Bahkan, anak itu menghindari kontak mata dengan sang bunda. Arsha memang seperti itu, jarang sekali marah tapi sekalinya marah akan sulit di kendalikan. "Iya Yah." Jawab Arsha, jika sang ayah sudah seperti ini mau tidak mau Arsha harus mendengarkan ucapan ayahnya. "Ada masalah?" "Aku baik baik ajan Yah." jawab Arsha, mana mungkin anak itu mengatakan bahwa sedang kesal dengan orang tuanya sendiri? Tidak mungkin, akan terlalu kekanak-kanakan jika Arsha marah hanya karena merasa kurang perhatian dari kedua orang tuanya walaupun memang sebenarnya seperti itu faktanya. Di balik sikap yang selalu terlihat ceria, dan banyak yang menganggapnya playboy Arsha akan terlihat manja jika bersama ibunya. Raga mengangguk, "lanjut makan nanti biar ayah yang tidur sama kamu, ayah mau liat cara kamu belajar. Ayah bangga semester ini kamu ada kemajuan, hadiah yang pernah ayah janjikan kalau kamu masuk kelas unggulan sudah siap. Besok, bisa kamu ambil." Arsha tidak ingin hadiah apapun, karena tabungannya sendiri sudah lebih dari cukup untuk membeli barang yang di inginkan. "Iya Yah." --- Raga masuk kedalam kamar sang anak, di lihatnya Arsha yang baru saja menutup buku paketnya. Sebagai seorang ayah, Raga memang merasa bangga di karuniai anak yang penurut dan rajin belajar seperti Arsha. Meskipun tidak jarang, banyak laporan dari Fabian jika sang anak sering membuat teman perempuannya terpesona. Ya, itu sangat wajar menurut Raga. Anak keturunan Raga memang tidak pernah salah, selalu menjadi incaran para gadis. Itu sudah menjadi tradisi sejak dulu, wajah tampan Arsha 100% turun dari sang ayah. "Udah selesai belajar?" Arsha menoleh, lalu menghela nafas. Niatnya bermain game setelah belajar gagal karena ada ayahnya, sebenarnya Raga tidak pernah melarang sang anak bermain game yang penting Arsha sudah melakukan kewajibannya. Yaitu, belajar. Selebihnya, Arsha boleh bermain game asal ingat waktu. "Udah yah." Jawab Arsha, lalu duduk di tepi ranjang. Jika sang ayah sudah sampai masuk kedalam kamarnya di saat Arsha ingin tidur, berarti ada hal penting yang akan di sampaikan. Raga ikut duduk di tepi ranjang, mengusap rambut tebal Arsha. Tidak terasa Raga sudah memiliki anak yang tumbuh dewasa dan tidak pernah kekurangan apapun, tapi Raga sadar secara material Arsha selalu lebih dari cukup. Namun, karena kesibukannya di kantor pasti Arsha pernah merasa kurang perhatian. Ya, Raga menyadari belum bisa menjadi ayah yang baik untuk sang anak. "Ayah minta maaf karena terlalu sibuk akhir akhir ini, banyak pekerjaan yang perlu di selesaikan nak." Ucap Raga, tidak ada salahnya mengakui kesalahan yang mungkin memang menjadi penyebab diamnya Arsha. "It's oke. Aku udah terbiasa."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN