Pertolongan

1024 Kata
Rania berdiri di pinggir jalan, sial sekali pagi ini. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang Rania yang biasanya selalu di antarkan oleh supir pribadinya membawa mobil sendiri. Dan yang lebih parah, mobil yang di kemudikan oleh Rania mogok. Ah, ternyata nasib gadis itu memang kurang beruntung. "Iya Pa, aku masih nunggu orang bengkel dateng. Hm, aku enggak apa apa. Jalanan juga masih ramai," sejak mobilnya mogok, Rania terus menghubungi ayahnya. Takut terjadi sesuatu padanya, karena harus berdiri di pinggir jalan sendirian. Di seberang sana, sang ayah tentu merasa khawatir saat anak gadisnya menunggu bantuan yang tidak kunjung datang. Jika sedang ada di kota yang sama, mungkin ayah Rania yang akan menjemput gadis itu. "Masuk mobil, enggak baik kamu nunggu di luar. Pasti panas, banyak debu jalanan. Papa enggak mau, anak kesayangan Papa sakit gara gara kena debu jalanan." "Aku enggak apa-apa." "Rania masuk mobil, Papa enggak suka di bantah." Gadis itu mengangguk, walaupun sang ayah tidak melihatnya tapi Rania memilih untuk menuruti keinginan ayahnya. Menunggu orang suruhan ayahnya di dalam mobil bukan suatu hal yang buruk bukan? "Iya Pa, aku masuk ke mobil lagi. Udah dulu ya, nanti aku kabarin lagi." Ucap Rania tenang, walaupun sudah bisa di pastikan jika gadis cantik itu akan datang terlambat. Tapi Rania tidak perlu khawatir, karena ayahnya sudah menghubungi wali kelasnya dan mengatakan pagi ini sang anak mungkin akan terlambat karena mobilnya mogok. "Papa udah mulai meeting, hati hati ya. Kalau ada apa apa langsung telvon Papa. Bye cantiknya Papa, miss you girl. Tunggu di mobil jangan kemana mana." " Miss you too Pa, siap. Aku masuk mobil sekarang," Bip Sambungan terputus, Rania langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas. Gadis itu mulai berjalan hendak memasuki mobilnya, tapi langkah langkahnya terhenti. Sebuah motor sport berhenti tepat di sebelahnya, mengunakan almamater yang sama tapi Rania tidak mengenali temannya itu. "Ayo naik." Siapa yang tidak terkejut mendengar ajakan orang asing itu? Jangan jangan, laki laki yang menggunakan almamater yang sama adalah penculik yang sudah mengincar Rania sejak tadi. "Enggak." Jawab Rania singkat, tidak mungkin gadis cantik itu mengikuti perintah orang asing. Menyadari jika dirinya masih menggunakan helm full face, laki laki itu segera membuka helmnya. Arsha dharma dirgantara. Anak laki laki yang kemarin mengajaknya taruhan jika Rania mendapatkan nilai kecil, harus menjadi pacarnya selama satu hari. "Lo pasti mikir gue orang jahat yang mau nyulik lo kan?" tebak Arsha tepat sasaran, mana mungkin Arsha berani menculik gadis itu. Rania menghela nafas panjang, dari sekian banyaknya manusia di bumi kenapa harus Arsha,? Kenapa bukan Fabian? "Apaan sih," "Ayo naik, gue enggak mau ya telat bareng lo." Ingin sekali Rania berteriak pada Arsha, memang yang ingin berangkat sekolah bersama dengannya itu siapa? Jelas sekali bahwa Arsha yang menawarkan diri atau lebih tepatnya laki laki itu memaksa Rania untuk ikut bersamanya. "By the way, gue enggak mau berangkat bareng lo. Sana pergi." What? Seorang Arsha dirgantara kembali di tolak oleh Rania? "Gue sih enggak apa apa selalu di tolak sama lo, padahal niat gue baik. Tapi apa lo rela enggak ikut kuis hari ini?" Pancing Arsha, sangat tahu jika gadis itu begitu berambisi untuk mendapat nilai paling tinggi dan tidak mungkin Rania akan menolak ajakannya. Damn, apa yang di katakan Arsha memang benar. Apa yang harus Rania lakukan? Sepertinya dengan sangat terpaksa gadis itu berangkat bersama dengan playboy sekolah. Rania menghela nafas terlebih dahulu, " oke, gue kali ini nebeng sama lo. Tapi ini karena terpaksa ya, kalau enggak terpaksa gue ogah." Biasanya, Rania memang tidak pernah meminta temannya untuk menjemputnya atau bahkan di kondisi sulit sekalipun anak perempuan itu tidak pernah mau merepotkan temannya. Gadis itu selalu bergantung pada orang tuanya sendiri, tapi kali ini demi kuis kedua bahasa Indonesia Rania rela melakukan apapun. Mendengar ocehan Rania, Arsha hanya menggeleng. Dimana mana, ketika mendapatkan bantuan seseorang akan mengucapkan terimakasih. Tetapi jangan berharap ucapan terimakasih terucap dari mulut Rania, rasanya tidak akan mungkin gadis itu mengucapkan terimakasih padanya. "Berisik banget lo, nih pake helm. Gue enggak mau, kena omel bokap sama nyokap lo," Rania mencibir dalam hati, kenapa kesialan hari ini berpihak padanya? Namun, Rania yakin di balik itu semua pasti akan ada hikmah walaupun Rania tidak tahu apa. Gadis itu dengan setengah hati menerima helm pemberian Arsha, sedikit heran kenapa helm itu berwarna pink? Pasti itu adalah helm yang biasanya Arsha gunakan untuk menjemput gadis gadis yang selama ini sering Arsha dekati. Dasar buaya, tidak akan pernah cukup dengan satu wanita. "Nih helm bekas siapa sih?" tanya Rania, gadis itu benar benar heran seniat itu Arsha membawa helm berwarna pink? Ya Tuhan, rasanya sangat menarik untuk di buang saja. "Masih baru, enggak usah khawatir kalau ada penyakitnya. Gue enggak sejahat itu." "Bohong banget lo bilang ini masih baru, jelas jelas ini helm selalu lo bawa buat anter jemput pacar pacar lo." Pacar? Memang siapa pacar Arsha? Sampai saat ini, laki laki itu memang memiliki banyak teman dekat tapi tidak memiliki pacar. Rania naik ke atas motor Arsha, menyadari bahwa gadis itu tidak nyaman karena rok abu abu yang di gunakan pendek. Arsha melepaskan jaketnya, dan memberikan pada Rania. "Gue enggak ada pacar, nih pake jaket gue buat nutupin paha lo." "Heh, kok lo tau kalau gue enggak nyaman duduk di motor lo gara gara rok gue yang pendek? Ngintip ya lo?" Arsha menggeleng, sepertinya otak Rania hanya ada rasa curiga pada Arsha sehingga gadis itu tidak pernah berfikiran baik tentangnya. "Sekalipun gue ngintip, gue nggak bakalan nafsu liat lo. Tepos gitu." PLAK "Eh sakit anjir, lo kasar banget sih jadi cewek." Rania memukul punggung Arsha dengan sangat keras karena laki laki itu berani mengatakan jika dirinya tepos, padahal kenyataannya tidak seperti itu. "Makanya mulut lo di jaga, cowok lemes banget." Kesal Rania, sejak dulu gadis itu tidak suka jika ada lelaki yang membahas fisik perempuan. "Yaelah, baperan amat. Pegangan gue mau ngebut," "Males, bukan muhrim. Lagian gue alergi deket deket sama playboy, enggak level." Ucap Rania, gadis itu tidak mungkin menuruti keinginan Arsha bukan? Arsha mengangkat bahu acuh, jika itu keinginan Rania ya sudah. Tapi akan Arsha pastikan, jika sudah di jalanan gadis itu pasti akan memeluknya tanpa di minta. "Gengsi banget jadi manusia, kalau nanti lo sayang sama gue baru tau rasa."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN