pacaran?

1067 Kata
Banyak pasang mata yang memperhatikan Arsha dan Rania saat motor yang mereka kendarai memasuki area parkir di sekolah, mereka tentu saja mengenal siapa dua orang yang sedang bersama itu. Tapi yang tidak mereka mengerti, kenapa bisa merasakan berangkat bersama? Mereka tahu betul, bahwa Rania tidak begitu akrab dengan Arsha. Namun, bukan tidak mungkin jika Arsha yang mendekati Rania terlebih dahulu karena kecantikan gadis itu dan memang sudah menjadi sifat Arsha bahwa meluluhkan hati setiap gadis sudah menjadi kebiasaannya. Rania turun dari motor Arsha, lalu memberikan jaket milik laki laki itu yang tadi sempat ia pinjam. Ralat, bukan Rania yang meminjam tapi Arsha sendiri yang meminjamkannya dengan suka rela. "Nih, jaket lo. Thanks, udah kasih gue tebengan tapi lain kali enggak perlu." Ucap Rania sambil meletakkan jaket di depan Arsha, lalu membalikkan badannya berniat pergi secepatnya dari hadapan Arsha karena sudah tidak nyaman menjadi pusat perhatian teman teman di sekolahnya. "Gue enggak mau terima jaket yang udah kotor, balikin ke gue kalau udah di cuci." Arsha turun dari motornya, lalu meraih tangan Rania dan memberikan kembali jaketnya. Laki laki itu tersenyum melihat wajah terkejut Rania, memang apa yang salah? Tangan Arsha terulur mengusap rambut Rania gemas, mungkin karena ekspresi gadis itu juga sangat lucu. "Gue tunggu di kelas, atau lo mau bareng gue sekarang?" Dengan cepat, Rania menyingkirkan tangan Arsha yang bergerak bebas di kepalanya. Jika gadis lain yang ada di posisinya, mungkin akan baper. Tapi tidak dengan Rania, bukannya suka dengan perlakuan Arsha yang ada malah semakin geram. "Lancang banget tangan lo, gue sebenernya enggak niat minjem jaket lo. Kalau lo lupa, tadi lo yang kasih nih jaket ke gue ya bukan gue yang minjem." "Kasar banget jadi cewek, lo itu seharusnya bersyukur karena cuma lo cewek yang pertama kali gue bonceng naik motor kesayangan gue dan gue kasih jaket gue yang paling mahal." Rania berdecak, apa yang harus di syukuri? Tidak ada! "Apa yang harus gue syukuri hah? Ketemu lo pagi pagi udah jadi kesialan pertama gue," "Gue tau Ran, lo itu suka sama gue. Tapi lo gengsi kan mau bilang?" "Apaan sih, enggak nyambung. Minggir lo, gue mau lewat. Alergi gue deket deket fakboy kayak lo." Sinis Rania, lalu pergi meninggalkan Arsha yang menggeleng pelan melihat kelakuan Rania. Tembok pertahanan gadis itu begitu kuat, hingga tidak ada celah untuk Arsha agar bisa masuk ke dalam hati gadis itu begitu cepat. Baru saja Rania pergi, pundak sebelah kanan Arsha di tepuk oleh seseorang. Remaja laki laki itu menoleh, mendapati Fabian yang menatapnya heran. "Modal rayuan maut, bisa berhasil ya boncengin Rania. Bukan maen," ujar Fabian takjub. Pasalnya selama ini, baru Arsha yang berhasil mengajak gadis itu berangkat bersama entah dengan cara apa Fabian juga belum tahu. Apakah yang di katakan Fabian merupakan sebuah pujian? Jika benar, apakah Arsha harus bangga? "Udah pernah gue bilang, enggak akan ada yang bisa nolak pesona gue sekalipun Rania." Sombong Arsha, temannya itu tidak akan tahu jika ada alasan kenapa gadis itu mau berangkat bersamanya. Kesombongan Arsha, sudah tidak asing lagi bagi Fabian. Sudah menjadi makanan sehari-hari, tapi kali ini memang aneh. Bagaimana bisa, Rania berangkat bersama Arsha ke sekolah? Baru saja Fabian ingin bertanya, bel sekolah sudah berbunyi. Mungkin akan lebih baik jika bertanya langsung pada Rania, gadis itu pasti tidak akan berbohong. Mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas, banyak adik kelas yang menatap kagum keduanya. Jika Arsha selalu menjadi idaman para gadis, Fabian juga tidak kalah tampan. Namun sifat tengil Fabian yang membuat teman temannya kadang merasa kesal. Ya, Fabian begitu jahil tapi masih mengetahui batasan. -- "Ran, kok lo tadi bisa bareng Arsha?" tanya Fania, di antara banyaknya fans Arsha gadis itu memang yang paling mendukung Rania dekat dengan Arsha. Jam pertama sudah usai, mereka berdua sedang makan siang di kantin. Lebih tepatnya, Fania yang memaksa Rania untuk menemaninya di kantin. Lagipula, bekal makanan Rania ketinggalan di mobil. Ah, memang hari ini hidupnya terasa aneh. Pasti karena Arsha, semuanya menjadi tidak menyenangkan. "Kepo." Jawab Rania singkat, lalu kembali melanjutkan makannya. Kuis bahasa Indonesia kedua tadi pagi hasilnya cukup memuaskan, Rania berhasil mendapatkan nilai terbaik di kelas. "Jangan jangan, lo udah mulai suka ya sama Arsha?" "Jangan ngasal, kalau ada yang denger bisa jadi berita hoax." Bantah Rania, memang berita tadi pagi cukup menggemparkan warga sekolah karena Rania dan Arsha berangkat sekolah bersama. Fania mengangguk, tadi pagi di kelas juga saling membicarakan Arsha dan Fania. Tentunya banyak yang mendukung hubungan keduanya, cantik dan tampan. Keduanya juga sama sama kaya, apalagi Arsha yang sudah terlahir sebagai anak tunggal kaya raya. "Tapi Ran, berita lo udah masuk i********: sekolah kita loh." "Ya terus? Gue enggak peduli kok, gue juga cuma sekali ini aja bareng dia. Itu karena terpaksa," namanya masuk ke daftar murid berprestasi sudah menjadikan Rania sering menjadi sorotan pihak sekolah dan teman temannya. Sudah menjadi hal biasa, tapi sepertinya kali ini tidak biasa karena Rania harus menghadapi Arsha. Ingatan Rania kembali pada jaket yang Arsha pinjamkan, padahal jaket itu masih bersih. Berurusan dengan Arsha menjadi hal yang paling menyebalkan, lebih sulit dari orang orang yang pernah mendekati Rania. Jika dulu Rania pernah menolak saat di dekati teman atau bahkan kakak kelasnya, setelah di tolak mereka akan sadar diri dan perlahan menjauh dari kehidupan Rania. Tapi Arsha? Sepertinya mental laki laki itu begitu kuat hingga berulang kali masih berusaha mendapatkan hatinya. Jika untuk berteman, Fania tidak pernah memilih siapa yang akan di jadikan teman. Namun, dari awal niat Arsha sudah terlihat jelas mendekati Rania bukan sekedar berteman tapi lebih dari teman. "Kalau gue jadi lo, bisa mati muda gue di bonceng Arsha. By the way, tadi pagi motor yang di bawa Arsha itu motor baru deh kayanya." "Dih, sok tau banget jadi orang. Mau jadi detektif lo sekarang?" tanya Rania heran. Apa baiknya Arsha, sampai Fania begitu mengagumi laki laki yang sudah membantunya tadi pagi. Karena tampan? Banyak laki laki tampan dari rekan bisnis orang tuanya yang jauh lebih tampan dari Arsha. Namun, prinsip Rania harus menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu baru berpacaran meskipun kedua orang tuanya tidak pernah mengekang ataupun membatasi pergaulan anaknya. Karena mereka tahu, sang anak bisa menjaga diri dalam pergaulan. "Gue emang tau, soalnya motor yang tadi pagi itu belum pernah di post di i********: Arsha. Mungkin baru hari ini dia pake tuh motor, dan lo orang pertama yang di bonceng Arsha. Huhu, sweet banget sih." Rania cukup takjub dengan bakat detektif Fania. "Deketin sana, biar lo bisa di bonceng tiap hari tanpa harus stalking tiap hari."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN