"Ran, gue pinjem pulpen dong." Ucap Fabian, anak laki laki yang selalu berbicara pada Rania hanyalah Fabian. Yang lain begitu canggung jika mengajak gadis itu berbicara, jika mereka bisa berbicara dengan Rania walaupun hanya sebentar mereka sangat bersyukur. Ya, memang Rania jarang sekali berinteraksi dengan teman teman sekelasnya.
Rania mendengus kesal, hampir setiap hari Fabian meminjam pulpen tapi tidak pernah di kembalikan dengan alasan besok masih di gunakan jadi untuk apa di kembalikan? Itu adalah salah satu alasan Fabian, tidak masalah bagi Rania tapi jika terus menerus di biarkan akan menjadi kebiasaan buruk.
"Enggak ada." Jawab Rania singkat, hari ini gadis itu sengaja membawa satu pulpen karena malas di ganggu oleh Fabian. Jika Rania membawa lebih dari satu, gadis itu pasti akan tetap meminjamkan pada Fabian walaupun sudah hafal tidak akan pernah di kembalikan.
Mendengar jawaban singkat dari Rania, Fabian berdecak lirih. Gadis itu pasti sengaja tidak mau meminjamkannya pulpen, Fabian seolah lupa jika setiap hari Rania sudah menyumbangkan pulpen untuknya.
"Ck, pelit amat lo amat aja enggak pelit."
"Gue cuma bawa satu, lagian tiap hari gue selalu kasih lu pulpen ya." Ujar Rania, tidak mungkin kan jika Fabian menghilangkan semua pulpen yang Rania pinjamkan?
"Oh itu, gue emang tiap hari minjem pulpen sama lo Ran. Tapi ketinggalan di rumah," jawab Fabian, walaupun sedikit nyeleneh tapi anak itu sangat rajin belajar dan mengerjakan tugas akhir akhir ini. Entah apa yang membuatnya semakin rajin belajar.
"Iya udah kalau gitu, gue hari ini cuma bawa satu dan enggak mungkin gue kasih ke lo kan?"
"Iya mungkin aja sih Ran, kalau lo baik sama gue pasti lo kasih ke gue."
Rania menghela nafas jengah, jawaban Fabian memang selalu seperti itu. Tidak ada jawaban lain, yang ada Rania harus merelakan pulpen semata wayangnya untuk Fabian dan itu sangat tidak mungkin.
"Gue enggak mau, mendingan lo pinjem yang lain sana." Final, keputusan Rania sudah tepat. Jika selalu di biarkan, Fabian tidak akan mau membeli pulpen sendiri.
"Jahat banget sama calon pacar."
"Bodo amat."
Akhirnya Fabian memilih diam dan berfikir siapa yang mau meminjamkannya pulpen, saat melihat Arsha yang baru saja memasuki kelas kedua mata Fabian berbinar. Sepertinya, Arsha akan menjadi malaikat penolong hari ini. Ya, semoga saja.
Setelah Arsha duduk, Fabian segera menghampiri sahabatnya itu. Dengan wajah memelas, Fabian duduk di sebelah Arsha.
"Ngapain lo kesini? Muka di melas melasin gitu. Lo kira gue bakal kasihan, by the way muka udah jelek enggak perlu di jelek jeleki." Cibir Arsha, sementara Fabian menahan diri untuk tidak mengumpat saat ini juga. Hanya demi sebuah pulpen, Fabian rela di ejek oleh Arsha. Padahal, wajah Fabian tidak jelek malah terlihat tampan menurut Fabian. Pemikiran Fabian memang begitu absurd, sulit untuk mengerti apa yang di pikirkan laki laki itu.
"Ar, pinjemin gue pulpen dong. Gue lupa enggak bawa nih."
Jika Rania tidak mau menolongnya, harapan terakhir adalah Arsha. Mendengar perkataan Fabian, Arsha membuka tasnya dan mengeluarkan semua isi tas. Tidak ada buku ataupun pulpen sama sekali
"Gue juga enggak bawa." Ucap Arsha, lalu kembali memasukkan isi tasnya.
"Yah, terus gue gimana dong. Eh lu gimana? Bentar lagi masuk,"
Arsha melirik jam yang ada di pergelangan tangannya, lalu tersenyum singkat.
"Fania."
Gadis yang di panggil Arsha itu menoleh, lalu tersenyum saat mengetahui siapa yang sudah memanggilnya. Ternyata adalah Arsha.
"Kenapa?
"Pinjem pulpen dong, gue lupa enggak bawa nih.
Tanpa menunggu lama, Fania datang membawa pulpen.
"Makasih Fan, gue pakai ya nanti."
"Pakai aja Ar, gue balik lagi ke bangku gue ya. Bye Arsha."
Arsha mengangguk, "sekali lagi makasih."
"Siap." Sahut Fania.
Ada Fabian yang diam diam memperhatikan Arsha sedang memegang sebuah pulpen, kenapa Fania hanya meminjamkannya satu pulpen?
"Ar, kok cuma satu. Buat gue mana?" tanya Fabian dengan polos, tidak mungkin jika sahabatnya begitu tega membiarkannya di hukum pak Malik gara gara tidak mencatat pelajaran hari ini.
Salah satu alis Arsha terangkat, sedikit heran dengan pertanyaan Fabian. Memang siapa yang mencari pinjaman pulpen untuk manusia satu itu?
"Ini buat gue lah, lo mah terserah mau dapet pulpen apa enggak. Bodo amat," ujar Arsha, lalu membuka buku tulis seolah siap untuk memulai pelajaran hari ini.
"Anjir, lo tega banget."
"Uang lo banyak, sana ke koperasi beli yang banyak. Sekalian buat stok satu tahun." Kenapa Arsha menyuruh Fabian membeli pulpen sebanyak itu? Karena pasti setiap hari Fabian selalu kehilangan pulpen. Bukan karena ada teman yang mengambilnya, tetapi karena Fabian selalu lupa dimana terakhir kali meletakkan pulpen tersebut.
Mendengar ucapan Arsha, Fabian hanya mampu menghela nafas. Melihat jam di tangannya yang hampir di mulai jam pelajaran pertama, Fabian semakin panik. Bagaimana tidak? Guru yang satu ini tidak mau menerima jika ada salah satu murid yang terlambat. Harus datang tepat waktu, lalu bagaimana nasib Fabian sekarang? Jika terlambat pasti akan di hukum, tapi jika tidak punya pulpen hukumannya jauh lebih berat.
Tanpa basa basi, Fabian keluar dari kelas berjalan menuju koperasi sekolah. Tempat dimana pulpen dan teman temannya di sediakan untuk semua warga sekolah, jaraknya tidak terlalu jauh dari kelas unggulan tapi sialnya jam masuk kelas semakin mepet. Ah, baru kali ini Fabian tidak suka jika pak Malik terlalu disiplin.
"Eh Siti, jangan di tutup dulu woy!" Teriak Fabian begitu melihat penjaga koperasi berniat menutup koperasi, karena jam pelajaran akan segera di mulai.
Gadis cantik yang di panggil Siti itu kebingungan, pasalnya namanya bukanlah Siti.
"Kakak ngomong sama aku?" tanya gadis itu polos, sementara Fabian langsung mengangguk.
"Iyalah Siti, disini cuma ada lo. Masa iya gue ngomong sama tembok," cerca Fabian.
"Tapi nama aku bukan Siti kak,"
Fabian terbelalak, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena terlanjur malu salah menyebutkan nama.
"Oh bukan Siti? Udah ganti nama lo?"
"Dari dulu emang bukan Siti kak."
"Emang, nama lo siapa?" tanya Fabian, tidak mungkin jika besok saat datang ke koperasi salah menyebutkan nama lagi.
Gadis itu mengulurkan tangannya pada Fabian, dan Fabian menyambutnya dengan baik.
"Aku Friska, kakak siapa?"
Fabian tersenyum, menurutnya gadis itu sangat sopan karena tidak mengikuti gaya bicara anak anak di sekolah ini pada umumnya.
"Gue Fabian, panggil aja kak Bian."
Friska mengangguk, lalu teringat jika pasti Fabian memiliki tujuan tertentu kenapa datang ke koperasi.
"Oh iya, kakak mau cari apa?"
"Astaghfirullah Siti, gue lupa gue butuh pulpen sekarang!"