Raga benar benar menepati ucapannya, selepas isya ayah dari satu anak itu mengetuk pintu kamar Arsha. Tidak ada keraguan sedikitpun, Raga malah membawa dua gelas kopi untuk di nikmati bersama sang anak. Tidak berniat mengintrogasi Arsha, tapi Raga memang ingin tahu siapa gadis itu?
Tok tok tok
Raga mengetuk kamar sang anak, di dalam kamar Arsha baru saja ingin menghubungi Rania terpaksa harus di batalkan. Dengan cepat, anak laki laki itu berjalan menuju pintu. Sebenarnya, pintu kamar Arsha tidak pernah di kunci tapi sudah menjadi kebiasaan mereka untuk selalu mengetuk pintu jika akan masuk kedalam kamar masing-masing.
Arsha tersenyum saat melihat sang ayah lah yang ternyata mengetuk pintu kamarnya, anak itu mempersilahkan Raga untuk masuk ke dalam kamar. Untung saja kamar Arsha sudah rapi, tidak seperti biasanya.
"Kamar kamu rapi, pasti bunda yang bersihin setiap hari." Celetuk Raga setelah duduk di depan tv yang ada di kamar sang anak, mendengar pertanyaan sang ayah Arsha langsung menggeleng sudah hampir dua minggu sang bunda tidak pernah lagi masuk ke dalam kamarnya. Ralat, lebih tepatnya sudah tidak pernah lagi masuk untuk merapikan kamar Arsha.
"Bunda udah enggak pernah bersihin kamar aku, sekarang aku yang bersih bersih sendiri."
Ya, Raga memang sudah mengetahui perihal Jiwa yang menghukum sang anak beberapa minggu terakhir ini. Namun, Raga merasa ingin merupakan sebuah keharusan karena Arsha sudah besar harus terbiasa melakukan hal hal kecil sendiri. Jika terlalu di manja, Arsha pasti akan bergantung pada orang lain.
"Good boy, ini baru anak ayah. Kalau kamu rajin bersih-bersih nanti uang bulanan kamu ayah tambah setiap bulan,"
Mendengar kata uang, anak laki laki itu langsung mengangguk setuju. Ini hanyalah perihal membersihkan kamar tidur, Arsha pasti bisa melakukan itu setiap hari. Demi uang, Arsha akan bersih bersih setiap hari.
"Ayah serius?"
"Iyaa, tapi sekalian rumah ini kamu bersihkan juga. Rumput di taman bunga bunda kamu juga sudah banyak, jadi kamu bersihkan saja sekalian."
Raut wajah Arsha langsung berubah seketika, mana mungkin Arsha membersihkan semua sendiri? Lebih baik tidak mendapatkan uang tambahan sama sekali, bukan karena tidak mau bersih bersih tapi karena rumah ini begitu besar dan memiliki halaman rumah yang begitu luas. Bisa pingsan Arsha kalau harus melakukan itu semua, lagipula mereka memiliki asisten rumah tangga dan tukang kebun. Lalu untuk apa Arsha melakukan itu semua? Mereka sudah menggaji para pekerja setiap bulannya.
"Enggak jadi, lagian ayah punya banyak pekerja. Masa aku di suruh bersihin taman sebesar itu," gerutu Arsha, membuat sang ayah tersenyum geli. Mana mungkin Raga tega melakukan itu semua? Yang benar saja, pasti Raga akan berfikir dua kali untuk meminta Arsha membersihkan rumput di taman yang ada di halaman rumah mereka.
"Ayah bercanda Arsha, kamu anak kesayangan ayah sama bunda mana mungkin kami tega sama kamu."
"Kalau gitu, uang jajan aku di tambah dong yah." Cengir Arsha, anak itu selalu bisa memanfaatkan setiap keadaan yang ada. Mana mungkin, Arsha mau melewati kesempatan untuk menaikkan jatah uang bulanannya? Tidak, Arsha pasti selalu memanfaatkan keadaan dengan sebaik-baiknya. Namun, selama ini Arsha bukan termasuk anak yang boros. Berapa jumlah uang yang masuk ke dalam rekeningnya, pasti selalu Arsha sisihkan.
"Pasti, tapi kamu harus rajin ke sekolah."
Hanya dengan melakukan persyaratan dari sang Ayah, uang jajan Arsha akan di tambah. Baiklah, dengan senang hati Arsha akan melakukan perintah ayahnya.
"Oke siap, aku akan rajin ke sekolah kalau gitu."
Raga mengangguk, "kenapa kamu enggak mau ikut ke Bali?" inilah tujuan utama kenapa Raga berada di kamar Arsha, sekedar untuk bertanya kenapa anak itu tidak mau ikut. Walaupun sudah sering pergi ke Bali, tapi Arsha selalu antusias untuk berlibur kesana.
Arsha sudah menduga jika sang ayah akan bertanya seperti ini.
"Aku ada tugas kelompok yah, udah selesai sih tinggal presentasi aja. Aku ada tanding basket juga, jadi enggak bisa ikut."
"Oh iya? Bukan karena kamu sudah memiliki pacar?"
Deg
Matilah Arsha, dari mana sang ayah tahu bahwa dirinya sudah memiliki pacar? Padahal Arsha tidak pernah bercerita pada orang rumah, yang tahu hanya Fabian. Apa mungkin Fabian bercerita pada orang tuanya! Sial, sudah bisa di pastikan bahwa besok Fabian pasti harus menerima ceramah dari Arsha.
"Pacar?" beo Arsha, lebih baik pura pura tidak menyadari apa yang di maksud sang ayah. Bukan karena tidak mau mengakui Rania sebagai pacarnya, tetapi ini masih dua minggu Arsha ingin mendapatkan tempat khusus di hati sang gadis baru memperkenankan pada kedua orang tuanya. Namun, jika sudah begini gagal sudah rencana Arsha.
"Iya pacar. Anak ayah sudah berani pacaran ternyata, kenapa enggak pernah cerita?" tanya Raga, Arsha hanya mampu terdiam. Mereka pernah berjanji, atau lebih tepatnya Arsha yang berjanji pada sang ayah jika nanti memiliki pacar kedua orang tuanya harus tahu. Jika mereka setuju, terutama sang ibu pasti Arsha akan melanjutkan hubungannya. Karena seorang anak laki-laki, adalah milik ibunya. Jadi Arsha percaya, pilihan sang ibu tidak akan pernah salah.
"Arsha, siapa pacar kamu?"
Batin Arsha berteriak, apa pertanyaan seperti ini masih pantas di tanyakan?
"Teman satu kelas yah." Lebih baik jujur dari sekarang, daripada harus berbohong pada ayahnya. Jika sekali saja berbohong, pasti uang jajan Arsha akan berkurang. Tidak, lebih baik mengatakan yang sejujurnya karena berbohong juga tidak ada baiknya sama sekali.
Raga tidak heran jika sang anak memiliki kekasih dalam lingkungan sekolah, pasti gadis pilihan Arsha adalah gadis baik baik. Apalagi jika satu kelas dengan Arsha, kelas unggulan. Sudah pasti anak pintar, Raga tidak pernah mengajarkan anaknya untuk memilih teman. Yang penting tidak membawa pengaruh buruk dalam kehidupan anaknya, Raga sang mempercayai Arsha. Sejauh ini, teman yang paling dekat dengan Arsha hanya Fabian dan Reno, mereka berdua yang sering datang ke rumah hanya untuk sekedar meminta makan. Padahal mereka juga berasal dari keluarga mampu, tapi Raga juga tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
"Sudah lama pacaran?"
"Belum, baru dua minggu." Jawab Arsha, mendapatkan Rania sangat sulit Arsha harus berulang kali mencari cara untuk menaklukkan kesombongan Rania.
Raga tersenyum tipis, wajah Arsha terlihat kikuk bahkan terlihat begitu ketakutan. Mungkin Arsha takut jika Raga marah padanya, padahal Raga tidak akan marah karena hal sepele seperti ini.
"Ayah mau kenalan sama pacar kamu, minggu depan setelah kami pulang dari Bali kamu harus bawa pacar kamu ke rumah. Ayah cuma mau tahu siapa orang tua gadis yang sudah berhasil menjadi pacar anak kesayangan kami."