Arsha

1009 Kata
Liburan ke Bali tiga hari baru saja Arsha tolak, padahal biasanya cowok itu selalu menanti kapan kedua orang tuanya akan mengajaknya pergi ke Bali. Jika biasanya Arsha pasti ikut ke Bali bersama orang tuanya, kali ini orang tuanya pergi ke Bali tanpa Arsha. Raga, ayah Arsha cukup terkejut mendengar jawaban dari Arsha. Kenapa Arsha lebih memilih untuk sekolah daripada pergi liburan? Pasti ada sesuatu di sekolah, sehingga membuat sang anak lebih rajin berangkat ke sekolah. "Tumben banget, Arsha milih sekolah daripada ikut kita ke Bali?" tanya Raga pada sang istri, saat ini mereka sedang makan siang di rumah. Jiwa mendongak, menatap suaminya D dengan penuh senyuman. Tidak terasa, pernikahan mereka sudah berlangsung sejak lama dan mereka sudah di karuniai seorang anak laki-laki. Sifat dan wajahnya sangat mirip dengan Raga, tidak mau di bantah. Jika menginginkan sesuatu, Arsha harus bisa mendapatkannya. "Arsha udah sering ke Bali." Raga menghentikan aktivitasnya makan siangnya, apa itu adalah sebuah alasan? "Arsha juga udah sering ke sekolah sayang, kalau itu alasannya sangat tidak masuk akal." Jiwa tersenyum kembali, "anak kita udah besar mas, dia udah bisa milih apa yang seharusnya dia pilih." Pungkas Jiwa, apalagi sekarang sang anak sudah mengenal apa itu pacaran. Si manja sudah mulai tumbuh dewasa. "Kamu benar, enggak terasa selama ini Arsha tumbuh dewasa begitu cepat. Padahal, mas ingat baru kemarin anak itu mas gendong." Semenjak lahirnya Arsha, laki laki itu selalu berusaha menjadi seorang ayah yang baik dan selalu ada untuk keluarganya. Jadi, jika Arsha sudah besar anak itu tidak hanya dekat dengan Jiwa tapi juga dengan dirinya. "Anak kita udah punya pacar mas," ucap Jiwa, raut wajah Raga langsung berubah. Apa itu benar? Astaga, hal itu sangat wajar karena sang anak memiliki wajah yang tampan sama seperti dirinya saat masih muda. Raga merasa, sang anak akan menjadi idola di sekolahnya sama seperti Raga dahulu. "Serius?" Jiwa mengangguk, mereka tidak akan melarang Arsha berpacaran dengan siapapun asal tidak memberikan pengaruh buruk pada anaknya. Arsha memang belum pernah bercerita dengan siapa anak itu berpacaran, tetapi kemarin malam Jiwa sempat mendengar suara Arsha sedang menelvon seseorang dengan panggilan sayang. Karena tidak ingin menganggu sang anak, Jiwa mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam kamar Arsha. Meskipun dimasa muda perempuan itu tidak pernah berpacaran, mengingat bagaimana bisa menikah dengan Raga yang tidak pernah diduga sebelumnya Jiwa mencoba memahami keadaan sang anak yang sedang kasmaran. Apapun yang menjadi kebahagiaan sang anak, pasti akan Jiwa dukung sepenuhnya. "Mungkin karena itu, Arsha enggak mau ikut ke Bali. Lagipula, kita udah sering ajak dia ke Bali." Jika sang istri tidak melarang Arsha berpacaran, untuk apa Raga melarang? Wajar saja jika Arsha sudah memiliki pacar, anak itu terlahir tampan, pintar dan berkecukupan penuh secara ekonomi siapa yang tidak mau dengan Arsha? Bibit unggul Raga memang tidak perlu lagi di ragukan. "Sejak kapan Arsha punya pacar?" tanya Raga, selama ini sang anak tidak pernah bercerita tentang seorang perempuan yang sedang dekat dengannya. Jika ditanya siapa yang dekat dengannya, anak itu selalu mengatakan bahwa banyak gadis yang ingin menjadi pacar Arsha tapi sayang tidak ada yang masuk ke dalam kriteria gadis idaman Arsha. Untuk itu, nanti malam sebaiknya Raga bertanya pada sang anak. Jiwa juga tidak tahu, sejak kapan Arsha memiliki pacar. Namun, beberapa minggu terakhir anak itu semakin semangat pergi ke sekolah. Jiwa sebagai seorang ibu juga semakin semangat untuk membuat sarapan untuk anaknya pergi ke sekolah, tapi ternyata ada alasan kenapa Arsha bisa bertambah semangat untuk belajar. Ada gadis yang mungkin sekarang menjadi penyemangat Arsha disekolah, siapapun gadis itu Jiwa akan berusaha untuk bersikap baik kepada kekasih sang anak. "Aku juga enggak tahu mas, lebih baik nanti kamu tanya ke Arsha. Kalau anak kita enggak mau ikut, lebih baik kita batalkan saja liburan ke Bali. Rasanya kurang lengkap kalau Arsha enggak ikut." "Enggak bisa gitu dong sayang, kalau Arsha enggak mau ikut yaudah enggak masalah. Tapi kita berdua harus tetap berangkat, lagipula setelah kita punya anak kita juga enggak pernah liburan berdua. Anggap saja, ini honeymoon kedua kita. Gimana?" Mata Jiwa menyipit, tahu benar apa yang di inginkan suaminya. Memang benar, setelah mereka memiliki anak belum pernah pergi berlibur berdua. Tetapi, mereka juga selalu menikmati kebersamaan bersama Arsha. Apakah itu termasuk keinginan yang wajar, Arsha memang sudah besar dan sudah tidak wajib selalu di bawa kemana-mana. Anak itu juga sudah menemukan gadis yang berhasil mengisi isi hatinya, sebisa mungkin Jiwa harus bersikap adil. Arsha sangat berperan penting dalam perjalanan pernikahannya selama hampir 18 tahun ini, anak itu membuat Jiwa dan Raga semakin yakin jika menikah berbeda usia bukanlah hal yang mustahil untuk dijalani. Keduanya berhasil melewati banyaknya rintangan, mereka berhasil mengalahkan ego masing-masing. "Sayang, kok melamun hm?" Jiwa menghela nafas, tidak ada salahnya sesekali menuruti keinginan sang suami. "Aku bakalan ikut ke Bali, kalau Arsha kasih kita izin. Bukan apa apa mas, aku enggak mau Arsha beranggapan kalau kita udah enggak peduli lagi sama dia. Aku enggak mau anak kita merasa kurang kasih sayang," ujar Jiwa, lebih baik memilih jalan tengah daripada harus bimbang memilih anak dan suaminya. Apakah Raga marah? Tentu saja tidak. Laki laki itu justru sangat bangga kepada istrinya, bisa memikirkan nasib suami dan anaknya. Raga yakin, jika Arsha akan mengizinkan mereka pergi berlibur berdua. Apalagi sekarang Arsha sudah memiliki pacar, bukankah lebih baik Arsha juga ikut menikmati kebersamaan bersama kekasihnya? Pemikiran Raga memang tidak logis, tetapi laki laki itu juga pernah muda. Pasti tahu apa yang di inginkan sang anak, selama mereka berpacaran sehat tidak akan ada larangan bagi Arsha untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Raga tidak peduli berasal dari keluarga mana gadis pilihan sang anak, yang penting Arsha tetap menjadi anak baik pasti Raga akan memberikan restu. "Oke, nanti malam mas mau bicara sama Arsha. Mas masih berharap kita bisa berangkat bertiga, tapi kalau Arsha enggak mau yaudah. Mas enggak mau maksa," Jiwa tersenyum mendengar keputusan suaminya, semakin hari mereka selalu berusaha untuk mengerti keadaan satu sama lain. Sifat egois Raga perlahan mulai menghilang, tanpa di sadari mereka sudah menjadi satu tidak bisa di pisahkan. Hadirnya Arsha, membuat hubungan Jiwa dan Raga semakin erat, anak itu memiliki peran penting dalam rumah tangga kedua orang tuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN