Klarifikasi

3414 Kata
Hampir satu minggu Arsha dan Rania menjalani backstreet, keduanya bersikap seperti biasa. Sering bertengkar dan tidak terlihat ada hubungan sama sekali, tapi di luar sekolah Arsha selalu berusaha mencari cara untuk bertemu dengan Rania. Satu minggu berlalu, dan selama itu pula Arsha harus menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan terhadap teman temannya yang mendekati Rania. Sejak awal, Arsha sudah mengatakan bahwa tidak ingin backstreet. Namun, gadisnya juga tidak mau hubungan mereka di ketahui oleh teman teman di sekolah. Cukup mereka berdua yang tahu, orang lain tidak boleh terlalu banyak ikut campur urusan keduanya. "Ngapain lo deket deket Rania? Lo tau kan, dia ilfil banget sama lo?" Arsha mendengus, ingin sekali membungkam mulut Fabian sekarang. Namun, Rania malah asik menikmati bakso yang hampir habis. "Suka suka gue lah." "Ini juga Rania, tumben amat hari ini enggak marah marah kalau Arsha nempel terus sama lo?" jika tadi Fabian yang cerewet, sekarang Fania juga ikut angkat bicara. "Masalah buat lo berdua? Udah sana pergi, gue ada perlu sama Rania." "Enak aja, lo aja yang pergi." Usir Fabian, tidak akan memberikan kesempatan untuk Arsha mendekati Rania. "Ayang, kok kamu diem aja aku di usir." Byurrr Air yang sempat ingin Fania telan tanpa sengaja di semburkan ke wajah Fabian, apa tadi Fania tidak salah dengar? Arsha memanggil Rania dengan panggilan menggelikan seperti itu? "Anjir! Muka gue lo sembur. Udah kayak dukun lo!" Pekik Fabian, pasalnya air yang di semburkan oleh Fania cukup banyak. "Tadi apa lo bilang? Ayang? Ayang ayang pala lo peyang. Sejak kapan Rania jadi ayang ayangan lo?" Arsha tidak menjawab, cowok itu justru memperhatikan Rania yang masih terlihat santai menikmati es teh yang hampir habis. Sepertinya gadis itu sengaja membiarkan Arsha menghadapi teman temannya seorang diri, baiklah demi kelangsungan hubungan mereka sebagai lelaki sejati Arsha akan melakukan apapun. "Ya emang kenapa? Masalah buat lo? Gue sama Rania emang udah jadian, kasihan ketinggalan berita ya? Ngakak." Ejek Arsha, hari ini mereka memang sudah tidak ingin menjalin hubungan backstreet. Biarkan saja, harapan Rania agar mereka punya alasan untuk secepatnya putus. Keduanya saling terdiam, hingga Rania tersadar jika keadaan sekitar mulai hening. "Kalian kenapa? Kok diem?" tanya Rania, gadis itu tidak menyimak percakapan teman temannya terlalu lapar hingga tidak peduli dengan keadaan sekitar. "Jelasin." Ucap Fabian dan Fania bersamaan, membuat Rania bergidik ngeri. Jangan jangan mereka berdua berjodoh. Apa yang harus di jelaskan? Mereka pasti tidak akan percaya jika semua fakta tentang bagaimana cara Arsha memaksanya menerima status mereka sekarang ini sangatlah mengerikan bagi Rania. Demi selamat dari hewan kecil itu, Rania sampai rela menghapus prinsip yang paling penting dalam hidupnya. Apa mereka akan percaya? Tidak. Mereka pasti akan menganggap Rania seperti gadis lainnya, rela menjadi pacar Arsha karena dua hal. Pertama, karena Arsha terlahir dari keluarga kaya raya. Dan yang kedua, Rania mau menjadi kekasih Arsha karena semua orang tahu bahwa cowok itu tampan. Jika seperti ini, mereka akan menganggap Rania memandang fisik dan materi. Padahal, mereka tidak tahu ketakutan gadis itu ada pada hewan kecil yang sayangnya adalah hewan kesayangan Arsha. "Enggak perlu di jelasin." Ucap Rania, lebih baik diam daripada mereka tahu jika dirinya memiliki phobia yang selama ini di tutup rapat. Memang terlihat sepele, tapi bagi Rania itu sangat meresahkan. Arsha mengusap rambut Rania lembut, membuat kedua temannya itu semakin penasaran ada hubungan apa mereka sebenarnya. "Sial, enggak perlu dijelasin tapi perlakuan Arsha tanpa penolakan emang udah jadi bukti." Fabian cukup tercengang melihat apa yang ada di hadapannya sekarang, kenapa bisa Rania luluh pada Arsha? Mendengar ocehan Fabian, rasanya Arsha ingin tertawa keras. Apa bagi mereka ini terlalu berlebihan? "Lo berdua udah liat sendiri kan? Emang enggak perlu dijelasin lagi, semuanya terlalu jelas. Gue sama Rania udah pacaran," ujar Arsha sombong. Mati matian Rania menahan diri untuk tidak berbicara kasar pada Arsha, gadis itu masih berusaha bertahan walaupun sejujurnya hati dan pikirannya sangat tertekan. "Serius Ran? Gue enggak bisa percaya gitu aja kalau bukan lo sendiri yang bilang. Kita semua tahu, Arsha tingkat kehaluannya udah melampaui batas." Ucap Fania dramatis, berharap jika ini memang kenyataan bukan hanya khayalan Arsha seorang. Rania kemudian mengangguk, mereka akan tahu pada saatnya dan saat ini sudah menjadi waktu yang tepat untuk mereka mengatakan yang sebenarnya. "Gue emang udah jadian sama Arsha, maaf gue baru bilang sekarang." BRAKK Fabian menggebrak meja di kantin, membuat semua orang melihat keempat orang yang sudah membuat keributan di kantin. "Santai aja Fab, lo syok banget kayaknya." Kekeh Arsha, cowok itu tahu jika Fabian hanya menganggap Rania sebagai teman tidak lebih. Maka dari itu, Arsha berani berpacaran dengan Rania walaupun dengan cara yang sangat salah. Menggunakan kelemahan gadis itu untuk bisa mendapatkan hatinya bukan solusi yang tepat, tapi mau bagaimana lagi semua cara sudah pernah Arsha lakukan dan tidak ada yang berhasil satu pun. "Gue heran, sisi baik mana yang buat Rania luluh sama playboy semacam lo. Ck, padahal gue udah mulai ngeship Rania sama Reno. Eh malah lo gerak cepat," keluh Fabian, beberapa hari yang lalu cowok itu memang sempat melihat Rania dan Reno di kantin. Fabian malah ingin mendekatkan keduanya, tapi semuanya gagal. Arsha sudah lebihdulu menyatakan perasaannya pada Rania, dan ternyata gadis itu juga memiliki perasaan yang sama. Tidak ada alasan bagi Fabian untuk tidak setuju, yang menjalani hubungan itu adalah mereka berdua. Sebagai seorang teman, tugas Fabian adalah menyetujui keputusan keduanya. Jika mereka sama sama bahagia, Fabian juga akan ikut bahagia. Namun, ada keresahan dalam diri Fabian. Bagaimana jika Arsha tidak benar benar serius dengan Rania? Pasti gadis itu akan menyesal karena sudah menerima Arsha dan menjadikan cowok itu sebagai pacar pertamanya. "Lo enggak boleh ngomong jelek tentang gue di depan Rania dong Fab, lo enggak ada niatan jadi orang ketiga kan? Gue sama Rania udah bahagia, jangan sampai lo suruh Reno buat maju deketin pacar gue. Awas aja lo, sampai ngelakuin itu." Ancaman Arsha, cowok itu tidak pernah main main dengan ucapannya. Apalagi jika sudah menyangkut gadisnya, susah payah melakukan banyak hal demi mendapatkan Rania tugas Arsha sekarang adalah mempertahankan hubungannya. Jika di tanya, apakah Arsha benar benar mencintai Rania tentu saja tidak. Arsha belum bisa memahami perasaannya sendiri, untuk itu jangan sampai ada penyesalan jika tidak menjaga hubungannya secara baik baik. Fabian menggeleng, jika Rania sudah resmi berpacaran dengan Arsha lalu untuk apa berusaha mendekatkan Reno dengan Rania? "Gue masih waras, kalau gue mau gue aja yang maju saingan sama lo daripada nyuruh Reno." Rahang Arsha mengeras, tidak suka jika ada yang memiliki niat untuk merebut gadis itu darinya. "Lo berani?" "Kenapa enggak? Gue enggak takut." Suasana mendadak menegangkan, Rania harus mengajak Arsha pergi dari kantin secepatnya. "Arsha, jangan kebawa emosi. Fabian cuma bercanda," ucap Rania. Untung saja Rania segera melerai pertengkaran antara mereka, jika tidak mungkin Fabian akan babak belur karena di hajar oleh Arsha. "Tapi dia punya niatan mau rebut lo dari gue." "Cih, katanya udah pacaran masih aja manggil lo gue. Ck, gue jadi curiga kalau Rania terpaksa milih lo jadi pacarnya." Tebak Fabian, dalam hati cowok itu ingin menertawakan Arsha karena sudah kepanasan karena ada Fabian ingin merebut Rania. Padahal, tidak ada niatan buruk sama sekali. Namun, itu cara Fabian mengetahui apa sebenarnya niat Arsha berpacaran dengan Rania. "Lo kayaknya orang pertama yang enggak suka sama hubungan gue." Sinis Arsha, entah mengapa hatinya begitu panas mendengar ocehan Fabian yang tidak berfaedah sama sekali. Fania merasa tidak enak ada di antara mereka, jika tau begini gadis itu lebih baik tidak mengatakan apapun. "Fabian, lo enggak boleh gitu." Fania memberikan temannya pengertian, jangan sampai ada baku hantam disekolah gara gara Arsha dan Fabian. Rania menggenggam tangan Arsha, lebih baik mengajak cowok itu pergi dari kantin dan mencari tempat yang tidak ada Fabian disana. Rania paham, pasti Fabian hanya bercanda tapi sayangnya Arsha mengerti akan hal itu. "Anterin gue ke perpus ya." Ajak Rania, lebih baik mengajak Arsha menjauh dari Fabian. Arsha mengangguk. "Ayo." Mereka berdua pergi meninggalkan Fania dan Fabian, dengan tangan yang masih bergandengan. Banyak teman temannya dan juga adik kelas yang mengabadikan momen tersebut, sebentar lagi mereka akan menjadi tranding Topic di i********: sekolah. Jika tadi Rania mengajak Arsha pergi ke perpustakaan, kini gadis itu malah mengajak Arsha ke taman belakang sekolah. Disana cukup sepi, tidak memiliki niat buruk tapi Rania hanya ingin menasehati Arsha. Tidak ada tujuan lain. "Tadi lo bilang mau ke perpustakaan?" tanya Arsha, kenapa Rania berubah pikiran? Gadis itu duduk di sebuah bangku panjang, mungkin cukup untuk duduk berdua. Kebetulan jam terakhir kosong, jadi Rania tidak perlu khawatir ketinggalan pelajaran hari ini. "Lo bisa enggak, kendaliin emosi? Gue males liat lo debat sama Fabian." "Lo males liat gue debat sama Fabian, atau lo lebih belain Fabian. Oke, gue tahu kalian udah lama berteman tapi sekarang ini gue pacar lo Ran. Seharusnya lo belain gue, bukan Fabian." Mengendalikan emosi Arsha cukup sulit, apa yang harus Rania lakukan? Berita mereka berpacaran pasti akan secepatnya menyebar dan Rania tidak mau namanya ikut menjadi buruk karena memiliki hubungan dengan Arsha. Sebisa mungkin, gadis itu harus menjaga nama baiknya. "Gue enggak belain Fabian, tapi gue tahu dia cuma bercanda." Arsha tersenyum miring, semuanya selalu dianggap bahan candaan oleh Rania. Apa gadis itu pura pura polos, atau memang polos? "Darimana lo tau dia bercanda? Lo baru kenal dia berapa tahun, gue yang kenal dia dari kecil. Gue bisa bedain, mana yang bercanda dan mana yang serius." Bantah Arsha, mengenal Fabian sejak kecil Arsha menjadi sangat paham mana yang seharusnya dijadikan bahan candaan mana yang bukan. Dan ucapan Fabian tadi bukan sebuah candaan. "Tapi lo enggak kenal sama diri lo sendiri Arsha. Sekarang gue tanya, apa alasan lo marah sama Fabian?" tanya Rania. "Gue enggak mau Fabian rebut lo dari gue." Jawab Arsha, mereka baru satu minggu berpacaran jangan sampai hubungan mereka kandas karena ulah Fabian. "Emang dengan cara berantem bisa mempertahankan gue? Enggak Arsha. Seerat apapun lo berusaha genggam tangan gue, kalau itu cuma nyakitin kita berdua ya bakalan percuma. Kita bersama karena ulah lo sendiri, dan nantinya gue bakalan lepas dari genggaman tangan lo itu juga karena kemauan lo sendiri. Apa disini gue punya hak untuk bersuara? Enggak. Semuanya atas kendali lo sepenuhnya, tapi gue mohon satu hal sama lo. Jangan buat ulah selama kita masih ada hubungan, gue enggak mau nama baik gue disekolah ini hancur gara gara ulah lo." Papar Rania, gadis itu dengan sengaja mengutarakan isi hatinya pada Arsha. Biarkan saja Arsha berpikir bahwa tidak akan ada gunanya bertengkar jika tujuannya bukan karena Rania tapi karena ingin membuktikan pada semua orang bahwa dirinya bisa menaklukkan Rania. Arsha terkekeh kecil, jadi Rania sangat khawatir jika nama baiknya menjadi buruk karena menjadi pacar Arsha? "Gue enggak nyangka, ternyata gue di mata lo terlalu buruk ya Ran. Ya, wajar sih gue bukan Fabian yang udah lo kenal dari lama. Gue cuma orang baru di kehidupan lo, cukup sadar diri gue sekarang." Baguslah kalau Arsha sadar diri, bukankah itu lebih baik daripada tidak mau menyadari kesalahannya sama sekali? "Bagus deh kalau lo sadar, jadi gue enggak perlu jelasin panjang lebar sama lo. Cukup sekali ini gue bilang sama lo, enggak akan ada kata ulang di kamus gue." Ucap Rania, entahlah gadis itu malas jika harus banyak bicara dengan Arsha. Ada perasaan menyesal kenapa mereka sampai bisa berpacaran? Jika saja tidak ada kucing pagi itu, pasti Rania masih bisa hidup bebas seperti dulu. Pupus sudah harapan Arsha, ia pikir setelah menjadi pacar Rania semuanya akan berjalan dengan mudah. "Ran." Panggil Arsha, bukan hanya Rania saja tapi ini kali pertama Arsha memiliki pacar. Bisakah mereka bersikap layaknya sepasang kekasih pada umumnya? "Kenapa?" Arsha menghela nafas. "Apa gue salah, kalau berharap kita bisa kayak yang lain?" "Maksud lo?" Bagaimana cara menjelaskan maksud Arsha pada Rania secara jelas? "Apa bisa kita bersikap biasa aja, seperti pasangan lainnya. Saling bertukar pikiran, jalan bareng, cari makan. Pergi nonton, dan main ke rumah ketemu orang tua lo. Mungkin kedengarannya aneh, tapi gue cuma mau kenal sama orang tua lo. Biar mereka kenal gue juga, dan mereka bisa tenang kalau lo pergi sama gue. Bisa?" Selama ini, Rania menutup rapat pintu hatinya untuk orang orang yang ingin mengenal Rania terlalu dalam. Namun, sekarang status mereka sudah merubah segalanya. Cepat atau lambat, pasti mereka akan tahu jika sang anak sudah memiliki pacar. Walaupun hubungan mereka tidak berlandaskan cinta, tapi demi menjaga diri dan tetap bisa mendapat kepercayaan dari orang tuanya akhirnya gadis itu mengangguk. Siapa tahu, mereka tidak setuju lalu meminta Arsha untuk menjauhi Rania. Ide bagus bukan? "Bisa, tapi ada syaratnya." Apapun persyaratan yang Rania ajukan, pasti akan langsung di setujui oleh Arsha. "Apapun, gue setuju." Rania tersenyum tipis, " lo yakin?" tanya Rania, jika sudah mendengar persyaratan yang harus dilakukan pasti Arsha akan berfikir dua kali. "Yakin, apa syaratnya?" "Cuma satu, kalau nantinya orang tua gue enggak setuju sama hubungan kita. Lo harus lepasin gue saat itu juga, gimana?" Deg Apa apaan ini, kenapa syarat yang diinginkan Rania sangat merugikan Arsha? "Oke, gue yakin kalau gue bakalan di restuin sama orang tua lo. Tapi lo harus janji sama gue, lo harus belajar cinta dan sayang sama gue gimana?" "Oke, gue bakalan coba buka hati buat lo kalau emang lo bisa dapetin restu dari orang tua gue." Rania yakin Arsha akan gagal dan dirinya akan mendapatkan kebebasan. "Gue pengen peluk lo boleh? Seenggaknya kalau nanti kita enggak langgeng, kita pernah menjadi sepasang kekasih pada umumnya. Walaupun gue sadar, lo enggak ikhlas gue peluk tapi gue enggak mau di tolak lagi." Ungkap Arsha, tidak membutuhkan jawaban cowok itu langsung merengkuh tubuh Rania kedalam pelukannya. Rania hanya diam, andai saja mereka bertemu setelah lulus kuliah pasti Rania akan menerima Arsha dengan baik. "Lo orang pertama yang berani peluk gue kayak gini, biasanya cuma ayah gue." "Sama, lo juga orang pertama yang gue peluk selain bunda. Gue sayang banget sama bunda, bagi gue apapun gue lakuin demi kebahagiaan bunda pasti gue lakuin." "Lo anak bunda banget ya kayaknya." Ejek Rania, Arsha hanya tersenyum. Gadis itu masih ada dalam pelukannya, jadi seperti ini rasanya bertukar cerita secara langsung dengan orang yang berstatus sebagai kekasih? "Gue manja banget di rumah, cuma di sekolah aja gue mandiri. Tapi kayaknya, kalau sama lo gue bakalan manja juga." Bagi Arsha, tidak ada yang salah menceritakan tentang kehidupannya pada Rania. "Enggak apa-apa kan Ran, kalau gue manja sama lo?" Dalam pelukan Arsha gadis itu mengangguk, bukan karena sudah luluh tapi Rania sangat yakin bahwa sang ayah tidak akan mengizinkan mereka berpacaran. Setelah itu, Arsha akan menjauh dan membebaskan Rania. "Asal tahu tempat." "Gue tau tempat yang cocok dan bersih," "Jangan aneh aneh." Peringat Rania, tidak ada salahnya menyenangkan hati Arsha sebelum mereka putus. "Enggak kok, gue anak baik baik enggak mungkin ngajakin lo aneh aneh." Rania melepaskan pelukannya, mungkin aroma parfum Arsha menempel di bajunya tapi gadis itu tidak peduli. Tidak apa apa, besok pasti semua ini akan berakhir. Mereka akan kembali asing, dan mereka akan kembali menjadi dua orang yang selalu bertengkar saat bertemu. Mungkinkah Rania akan merindukan pelukan hangat dari Arsha? Mungkin saja, mengingat rasa nyaman yang baru saja gadis itu rasakan saat berada di pelukan Arsha. "Lo beneran manja banget sama nyokap lo?" Arsha mengangguk, ini sebuah kebenaran dan Arsha tidak mau menutupi kebenaran tersebut. "Iya, gue anak tunggal Ran. Sama Oma gue juga manja banget, atau mungkin gue terlalu di manja. Tapi akhir akhir ini gue suka dimarahin tau," ujar Arsha, masih teringat jelas hukuman masih berlaku bagi Arsha sampai sekarang. Rania cukup tertarik dengan keluhan Arsha, memang apa yang membuat cowok itu kesal? "Kenapa? Anak manja ini pasti nakal ya?" "Masa gue disuruh bersihin kamar gue yang segede itu, kan gue enggak ada waktu. Kita pulang sekolah udah sore banget, eh ada aja hukumannya." "Lo dihukum karena?" tanya Rania, menurut gadis itu hukuman Arsha terlalu ringan tapi cowok itu sudah mengeluh seperti ini? Dasar, pantas saja menjadi anak manja ternyata sejak kecil selalu di manjakan oleh kedua orang tuanya. "Karena gue selalu taruh handuk di atas kasur kalau habis mandi, ya gimana kan gue lupa Ran. Masa orang lupa di hukum," ucap Arsha, bisa bisanya seorang playboy disekolah menjadi manja saat di rumah dan yang lebih parah lagi cowok itu malah menceritakan hukumannya pada Rania. Pasti Rania akan mengerti dirinya, itulah yang sejak awal Arsha pikirkan. "Kalau gitu, emang pantes sih lo di hukum. Kebangetan banget lo soalnya, lo itu udah gede Arsha. Masih aja kelakuan kayak bocah," tentu saja Rania membenarkan bahwa Arsha harus di berikan hukuman, kalau hukumannya hanya sebatas membersihkan kamarnya sendiri itu terlalu ringan, astaga pada dasarnya Arsha memang sangat payah. "Kok lo malah setuju sih sama bunda gue, awas aja lo besok kalau udah jadi istri gue ikutan bunda ngehukum gue. Enggak ada jatah belanja dari gue," "Dih, emang siapa yang mau nikah sama lo? Halu lo ketinggian, kita masih SMA pikiran lo terlalu jauh kalau bahas pernikahan." Cowok itu mengangguk, tidak baik membahas pernikahan terlalu dini. Mereka juga masih terlalu muda, tidak mungkin Arsha melamar Rania sekarang. Tugas Arsha sekarang adalah mendapatkan restu dari orang tua Rania, pasti mereka akan setuju jika sudah melihat Arsha besok. "Hehe, sorry. Gue enggak sabar di restuin sama ayah lo. Enaknya kalau main ke rumah lo gue harus bawa apa ya Ran? Masa mobil bagus, ngajak jalan anak orang enggak bawa apa apa." Pertanyaan itu tiba tiba muncul di kepala Arsha, barangkali gadis itu mau memberi tahu apa makanan kesukaan sang Ayah padanya jadi Arsha bisa semakin mudah mengambil hati orang tua Rania. Gadis itu mengangkat bahu acuh, mana mungkin Rania membantu Arsha mendapat restu. Tugasnya sekarang adalah, menggagalkan rencana Arsha dan mereka bisa putus dalam waktu dekat. Kalau bisa, besok mereka berdua harus sudah putus juga tidak masalah. Lebih cepat, lebih baik. Jangan sampai hubungan mereka berjalan begitu lama, sepertinya Rania tidak akan sanggup jika harus menjadi pacar Arsha selama empat bulan terakhir sebelum hari kelulusan. Dan memang sudah seharusnya mereka harus mengakhiri hubungan secepatnya, setelah lulus Rania akan melanjutkan pendidikan di luar negeri. Itu adalah tujuan kenapa selama ini, Rania selalu menjadi murid paling ambis saat dikelas. Ada cita cita yang harus di gapai, dan untuk urusan cinta Rania tidak mau terlalu larut dalam ketidakpastian. Hubungan mereka tidak akan langgeng, karena mereka tidak saling mencintai satu sama lain. Mereka hanya akan saling menyakiti jika masih bersama, hubungan keduanya sangat mudah berakhir jika besok sang ayah melarang anak gadisnya berpacaran dengan Arsha. Itu memang harapan Rania bisa secepatnya lepas dari Arsha. "Bawa mental yang kuat aja sih kalau menurut gue, soalnya gue enggak tahu apa yang akan terjadi kalau kalian ketemu." Arsha mengangguk, memang benar apa yang di katakan Rania. "Gue enggak masalah kalau di tolak sama ayah lo, tapi tenang aja gue pasti di terima kok. Kalau di tolak tinggal ajak bunda gue ke rumah lo aja, gimana? Bagus akan ide gue," "Mau ngapain lo bawa bunda lo segala? Dasar anak manja." Ujar Rania, tidak mengerti dengan jalan pikiran Arsha kenapa bisa ada laki laki seperti itu. "Langsung ngelamar lo aja lah, nikahnya gampang nunggu gue kuliah selesai. Biar gue ada kerjaan buat nafkahin lo, sebenernya gue sangat mampu kasih lo nafkah walaupun gue enggak kerja. Tapi kan enggak baik kalau gue masih minta sama orang tua buat kasih makan istri gue sendiri." "Gila emang lo, emang siapa yang mau nikah sama lo?" "Rania enggak boleh ngomong gitu, siapa tau kita jodoh. Amin enggak?" "Enggak!" -- Sejak pulang sekolah, Arsha terus berada di kamar. Tidak seperti biasanya, sehingga membuat sang bunda merasa khawatir. Apa anak itu sedang sakit pikir Jiwa, perempuan itu berjalan menuju kamar Arsha. Tanpa mau mengetuk pintu kamar sang anak, Jiwa lalu membuka pintu. Tidak ada Arsha, tapi terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Berarti Arsha sedang mandi, pandangan Jiwa tertuju pada kamar sang anak yang terlihat begitu rapi dan wangi. Meja belajar Arsha terlihat rapi, tidak ada kertas yang berserakan di lantai. Apa Arsha yang membersihkan ini semua? Sendirian? Jika benar, Jiwa cukup puas melihat perubahan sifat sang anak. Secara perlahan, Arsha mulai bisa menjaga kebersihan kamarnya dan itu sudah menjadi kemajuan yang pesat menurut Jiwa. "Bunda, kok disini? Arsha kira nunggu di bawah aja, maaf ya Bun jadi nunggu buat makan malam." Ucap Arsha tidak enak, lalu meraih sisir rambut yang ada di atas meja. Jiwa semakin heran, kenapa Arsha tidak memintanya untuk merapikan rambut anak laki-laki itu? "Kamu yang beresin ini semua?" tanya Jiwa, sedikit heran dan hampir tidak percaya tapi Jiwa sangat menghargai usaha Arsha yang mulai menunjukkan adanya perubahan secara perlahan. Mungkin, bagi anak anak lain ini sudah pasti sering Arsha lakukan tapi bagi Jiwa ini sebuah perubahan yang bagus. Arsha sudah besar, dan bisa merawat dirinya sendiri. "Hehe iya Bun, makanya aku telat makan malam. Maaf ya Bun, pasti kalian udah nunggu aku kan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN