Pagi ini, sekolah masih cukup sepi. Tapi Arsha sudah berada di dalam kelas, hari Selasa adalah jadwal piket gadis cantik yang sudah berulang kali menolak ajakannya untuk berpacaran siapa lagi kalau bukan Rania. Arsha tidak sendiri, cowok itu memangku seekor kucing kecil kesayangannya. Arsha memang sengaja membawa kucing kesayangannya demi tercapainya sebuah tujuan, akan ada yang berhasil di taklukan. Jika tidak bisa menggunakan cara halus, lebih baik Arsha berbuat nekat saja seperti sekarang.
Arsha tersenyum saat mendengar derap langkah kaki yang semakin mendekat, itu pasti langkah kaki Rania. Dengan cepat cowok itu meletakkan kucing kesayangannya di depan pintu masuk, dan Arsha akan melihat pertunjukan yang cukup menegangkan sebentar lagi.
Hari Selasa adalah jadwal piket Rania, gadis itu sengaja berangkat pagi demi menjalankan tugasnya setiap satu minggu sekali. Namun, langkahnya terhenti saat melihat kucing yang kemarin dilihat saat belajar kelompok di rumah Arsha. Tubuh Rania terasa begitu lemas, nafasnya memburu. Gadis itu bisa saja lari menjauh dari hewan lucu itu, tapi apa daya tubuhnya sudah terlalu lemas.
"Kucing Arsha? Tapi kenapa ada disini?"
Hewan lucu itu semakin mendekati Rania, gadis itu perlahan memundurkan langkahnya. Namun, Rania tidak sengaja melihat Arsha duduk manis di kursi miliknya seakan tidak terjadi apa-apa.
"Arsha, lo bawa kucing ke sekolah?" tanya Rania pelan, berharap cowok itu berhasil mendengar suaranya. Dan tepat waktu, Arsha menoleh pada gadis yang sudah mulai memucat. Ada rasa iba, tapi tidak boleh ada rasa kasihan sedikitpun untuk Rania. Gadis itu harus membayar mahal semua penolakan yang pernah Arsha terima.
Cowok itu berdiri mendekati Rania, Arsha yakin pasti semua akan berjalan sesuai rencana semalam.
"Iya, kenapa?" tanya Arsha dengan wajah polos tanpa dosa, seakan dirinya belum mengetahui jika gadis itu sangat phobia terhadap kucing. Mungkin, bagi sebagian orang kucing merupakan salah satu hewan paling banyak di gemari dan di pelihara. Namun, hal ini sangat tidak berlaku bagi Rania. Selucu apapun hewan itu, tidak akan menghilangkan phobianya.
"Bawa pulang sekarang." Titah Rania, bukannya menurut Arsha malah mengangkat kucing itu lalu di dekatkan kepada Rania.
Tanpa menunggu lama, Arsha menarik tangan gadis itu lalu menutup pintu kelas.
"Lo siapa berani nyuruh gue seenaknya?" tanya Arsha, setelah berhasil menutup pintu dan menyudutkan tubuh Rania di tembok.
"Gue, emang bukan siapa-siapa lo tapi gue minta lo bawa pulang kucing itu."
Arsha terkekeh kecil, " lo bukan siapa siapa gue, jadi enggak ada hak ngatur gue. Lagipula, kalau gue bawa kucing enggak ada larangan kok. Kenapa, lo takut sama kucing?"
Jika keadaannya tidak sekacau ini, pasti Rania sudah membungkam mulut Arsha dengan sepatu yang sedang ia kenakan. Tapi sayang, bahkan Rania rasanya sudah tidak sanggup berdiri lagi. Terlalu lemas untuk berdebat dengan Arsha.
"Arsha please, gue enggak mau debat sama lo pagi pagi."
"Terus? Lo pikir gue bakalan suka rela ngelakuin apa aja buat lo? Heh, sadar kek jadi cewek jangan terlalu mandiri. Sadar kan lo sekarang, kalau lo enggak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Ini masih contoh kecil, lo bisa jalan menjauh dari kucing gue. Tapi lo enggak mampu, kasian banget hidup lo. Sama kucing kok takut, ck lemah." Ejek Arsha, padahal hati kecilnya sangat tidak tega melihat Rania terlihat begitu lemah seperti sekarang. Namun, Arsha harus menghilangkan sifat sombong Rania dengan cara seperti ini.
Rania memejamkan matanya, apa yang harus dilakukan disaat seperti ini? Mencoba untuk tetap tenang, tapi gagal karena Arsha malah mengangkat kucing itu di dekatkan di wajah cantik Rania.
"Buka mata lo, gue ada surprise buat lo."
Tidak butuh waktu lama, Rania membuka matanya. Gadis itu terkejut mendapati kucing kesayangan Arsha begitu dekat dengan wajahnya, sementara Arsha malah menunjukkan sebuah senyum kemenangan.
"Arsha, jauhin kucing itu dari gue sekarang."
"Kenapa? Kucing gue bersih kok, sehat lagi. Enggak bakal bawa virus, jadi lo tenang aja."
Rania menggeleng, tidak mungkin jika Rania pingsan saat ini. Tidak bisa memikirkan jalan keluar, akhirnya Rania pasrah dengan keadaan.
"Arsha please, gue mohon." Lirih Rania, jujur saja Arsha sudah tidak sanggup melihat wajah cantik itu terlihat begitu pucat. Namun, tujuannya harus tercapai saat ini juga.
"Ini lucu Rania, gadis sok kuat kayak lo sama kucing aja takut? Hahaha, kayaknya gue harus bawa kucing setiap ulangan biar gue dapet jawaban gratis dari lo."
"Arsha, tolong. Gue bakal lakuin apapun asal lo buang jauh jauh kucing lo dari gue sekarang," pasrah Rania. Lebih baik mengalah saja daripada semua orang tahu Rania memiliki phobia terhadap kucing.
Arsha tersenyum miring, inilah yang sejak tadi di tunggu tunggu.
"Lo yakin? Apapun?"
Rania mengangguk, lalu Arsha menjauhkan kucing itu dari Rania.
"Jadi pacar gue mulai dari sekarang."
"Enggak." Tolak Rania untuk kesekian kalinya, bahkan akal gadis itu masih berfungsi walaupun keadaannya sudah sangat kacau seperti sekarang.
"Gue enggak menerima penolakan Rania, gue cuma mau lo jadi pacar gue mulai detik ini dan lo enggak boleh sekalipun minta putus dari gue. Gimana?" demi melancarkan misinya, Arsha kembali mendekatkan kucing kesayangannya pada Rania.
Ini hal yang sangat tidak mungkin bagi Rania, memilih menjadi pacar Arsha adalah pilihan paling buruk. Tapi mau bagaimana lagi, gadis itu belum bisa melawan ketakutannya pada hewan kecil itu. Tidak ada pilihan, lagipula mungkin jika Rania setuju Arsha akan merasa puas dan tidak lama akan memutuskan hubungan dengan Rania.
Rania menghela nafas berat.
"Oke, kali ini gue kalah dari lo. Gue mau jadi pacar lo karena gue masih sayang nyawa, mungkin bagi lo phobia yang gue alami sepele. Tapi gue harus apa? Gue enggak punya kekuatan buat ngelawan lo sekarang. Gue emang lemah Arsha, cara gue menutupi kelemahan gue adalah dengan cara pura pura kuat."
---
Fabian merasa bosan sekarang, pelajaran matematika terasa begitu berat dan waktu berjalan begitu lambat. Entah karena Fabian yang meras ad yang aneh, atau hanya perasaannya saja. Pertama, biasanya cowok itu jika bosan selalu menggangu Rania yang duduk di depannya tapi kali ini tidak bisa karena Rania tidak ada. Yang kedua, kenapa Arsha tidak mengikuti jam pelajaran pertama padahal tas Arsha ada di dalam kelas. Jika Rania tidak ada, saat ini gadis itu sedang berada di UKS karena tidak enak badan alasan yang masih logis. Namun, apa alasan Arsha ketika tidak mengikuti pelajaran matematika hari ini? Jangan sampai pemikiran otak cerdas Fabian memang benar, diam diam Arsha mengikuti Rania kemanapun gadis itu pergi.
"Fabian, tolong perhatikan pelajaran saya. Kalau kamu sudah pintar, tidak perlu sekolah dan tidak perlu memperhatikan pelajaran saya. Paham?" Suara pak Malik menggelar di dalam kelas, cowok yang memiliki nama Fabian itu terperanjat mendengar suara pak Malik. Fabian menghela nafas, padahal dirinya sudah diam masih saja mendapat masalah.
"Siap pak, saya diam." Malas berdebat, tidak seru jika tidak ada Rania didalam kelas.
Pak Malik mengernyit heran, kenapa anak muridnya yang satu ini tiba tiba berubah menjadi kalem tidak seperti biasanya? Pasti ada yang tidak beres.
"Fabian, ada masalah?"
Fabian yang mulai menulis kembali mendongakkan kepalanya ke arah pak Malik, kenapa tiba tiba sang guru memperhatikannya.
"Banyak pak, kenapa? Bapak mau nambahin masalah hidup saya? Aduh pak, makasih deh enggak perlu repot-repot."
"Kalau ada masalah itu karena kamu sendiri yang menjadi sumber masalah, jadi kamu harus sadar diri Fabian bukan malah ikut menambah masalah apalagi beban keluarga." Ucap pak Malik, lalu kembali menulis rumus di papan tulis. Sementara Fabian menahan diri untuk tidak berbicara kasar pada guru itu.
"Untung stok kesabaran gue melimpah, jadi gue enggak bakalan keceplosan menghujat." Gumam Fabian, sungguh jam pelajaran pertama tanpa Rania sangat membosankan. Ingin sekali Fabian menyusul gadis itu ke UKS, tapi Fabian sadar diri jika dirinya tidak sepintar Rania dalam pelajaran matematika.
Sementara itu, di UKS ada Rania dan Arsha yang sedang bertengkar karena gadis itu tidak mau makan. Lebih tepatnya, Rania masih syok mengingat kenyataan bahwa sekarang dirinya sudah resmi menjadi kekasih Arsha. Hubungan mereka terjadi karena sebuah paksaan, untuk itu Rania berharap Arsha secepatnya mengakhiri hubungan gila tersebut.
"Ran, makan dulu. Biar lo ada tenaga." Bujuk Arsha, gadis itu sempat hampir pingsan karena ulahnya tadi pagi di tambah Rania yang sejak pagi belum sarapan.
"Gue belum laper," tolak Rania lagi, cowok itu menghela nafas panjang bingung harus melakukan apa supaya Rania mau makan.
"Gini deh, nanti habis makan gue kerjain semua tugas dari pak Malik. Gimana? Oke kan, penawaran gue. Mana ada coba, cuma disuruh makan sampai tugas sekolah di kerjain. Enggak ada kan? Cuma buat lo aja nih, makan ya." Bujuk Arsha, cowok itu sangat merasa bersalah karena sudah membuat gadisnya lemah tidak berdaya seperti ini. Gadisnya? Seulas senyum terbit dari bibir Arsha, cowok itu merasa senang karena Rania sudah resmi menjadi kekasihnya.
Rania menggeleng, gadis itu tidak percaya dengan Arsha. Biarkan saja tugasnya terbengkalai, daripada harus menunggu Arsha mengerjakan tugas matematika yang belum tentu 100% terbukti kebenarannya.
"Gue enggak laper Arsha, bisa diem?"
"Enggak, gue enggak mungkin biarin lo kelaparan karena belum makan dari pagi."
"Iya itu semua gara gara lo, coba aja kalau lo enggak ngelakuin itu semua. Pasti gue enggak kayak orang penyakitan sekarang, gue benci sama lo." Ucapan Rania tidak di dengar oleh Arsha, cowok itu sibuk membuka tasnya mencari bekal yang tadi pagi sudah disiapkan oleh sang bunda. Awalnya Arsha sempat menolak, tapi ternyata niat baik sang bunda ada manfaatnya juga. Arsha membukakan bekal makanan untuk Rania, gadis itu harus makan.
"Buka mulut lo, atau gue terpaksa harus ambil kucing tadi buat maksa lo supaya aku makan." Tidak ada jalan keluar lagi, satu satunya hanya menggunakan kucing itu agar gadisnya mau makan.
"Lo punya hati gunanya buat apa sih Ar? Kok lo jadi manusia jahat banget," omel Rania tapi gadis itu menuruti perintah Arsha untuk sarapan, ini pasti masakan ibu Arsha karena rasanya enak dan tekstur kematangan dagingnya begitu pas.
Arsha tergelak, gadis itu memang sangat menggemaskan.
"Hati gue udah di pakai buat mencintai lo Rania, tapi lo enggak sadar jadi gue terpaksa buat lo sadar dengan cara yang salah." Jawaban Arsha sangat tidak masuk akal bagi Rania, kenapa malah bicara soal cinta? Ck, sangat membosankan.
"Apaan sih, enggak nyambung."
"Makan yang banyak, ini masakan bunda gue. Gimana enak enggak?" tanya Arsha yang langsung di angguki oleh Rania, memang enak rasanya seperti masakan ibunya di rumah.
Arsha tersenyum senang karena gadis itu menyukai masakan sang bunda, mungkin Arsha akan lebih sering membawa bekal jika Rania menyukai masakan sang bunda.
"Nah, habis juga kan. Dari tadi harusnya gue suapin lo. Manja banget ternyata pacar gue ini," ejek Arsha sambil memberikan botol minum pada Rania, gadis itu sangat cantik jika di perhatikan dari dekat.
"Ar."
"Kenapa hm?"
Rania menghela nafas, "kapan kita putus?"
Arsha terdiam, baru saja merasa bahagia tapi Rania sudah merusak moodnya. Mereka berdua baru saja jadian tadi pagi, tapi Rania sudah bertanya kapan Arsha akan memutuskannya.
"Enggak tau, terserah gue. Kalau misalnya gue beneran enggak mau putus, berarti kita enggak akan pernah putus. Pahamkan?"
"Kenapa? Bukannya waktu itu lo cuma mau kita pacaran sehari aja, terus kenapa sekarang berubah. Plin plan banget jadi orang," sindir Rania.
"Karena gue mau mulai semuanya dari awal, gue enggak mau kita musuhan terus. Dan gue mau buktiin ke lo, kalau gue enggak seperti yang lo pikirkan. Gue bukan playboy Rania, gue cowok baik baik. Gue cuma akrab ke semua orang, tapi belum tentu gue playboy." Jawab Arsha, cowok itu memang ingin membuktikan bahwa dirinya bukanlah seorang Players tapi Arsha cukup paham memberikan bukti pada Rania tidak akan berjalan dengan mudah apalagi gadis itu sudah menganggapnya sebagai playboy.
"Gue enggak mau punya banyak musuh."
"Enggak akan ada yang musuhin lo Ran, percaya sama gue. Mungkin ada beberapa cewek di sekolah ini yang syirik sama posisi lo, tapi sejak kapan Rania mikirin orang lain? Lo selalu mampu melakukan apapun sendiri, tapi mulai sekarang lo harus membiasakan diri untuk bilang ke gue kalau butuh sesuatu. Karena apa? Karena sekarang kita udah pacaran, gue enggak mau lo terlalu mandiri sekarang. Karena lo punya gue mulai saat ini, gue lebih suka lo jadi manja kalau ada gue Ran. Walaupun lo benci sama gue, tapi lo bisa buka hati lo pelan pelan buat gue. Bisa kan Ran kita mulai semuanya dari awal?" tanya Arsha, jika di perhatikan secara seksama tidak ada kebohongan dalam diri cowok itu. Namun, Rania tidak bisa terpengaruh omong kosong Arsha. Mungkin memang bukan playboy, tapi Rania tidak bisa percaya bahwa Arsha tidak pernah dekat dengan gadis lain.
"Gue enggak tahu."
Arsha mengangguk paham, gadis itu masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri.
"Jangan deket deket sama Reno, sama Fabian juga."
"Kok gitu?" Rania tidak terima jika circle pertemanannya mulai di batasi oleh Arsha, tapi maksud Arsha bukan membatasi pergaulan Rania dengan teman laki lakinya. Namun, Arsha hanya menjaga apa yang sudah resmi menjadi miliknya dan di miliki dengan susah payah.
Tangan Arsha terulur mengusap wajah cantik gadis itu, "lo udah jadi pacar gue, gue cemburuan orangnya."