Hampir sepuluh menit, Rania mengurung diri di dalam kamar mandi rumah Arsha. Gadis itu merasa ketakutan jika keluar dari kamar mandi, tapi Rania ingin keluar dari sini bagaimanapun caranya.
Gadis itu memiliki alasan kenapa ketakutan itu muncul secara tiba-tiba.
"Gue harus gimana?" tanya Rania pada dirinya sendiri, disaat seperti ini tidak ada yang bisa menolongnya selain Arsha tapi cowok itu pasti malah akan menggunakan ketakutannya itu sebagai alat untuk melancarkan semua rencananya. Rania yakin akan hal itu.
"Lagian si Arsha kenapa sih harus punya kucing segala? Ih, nyebelin banget."
Rania terus berbicara pada dirinya sendiri, sampai sampai gadis itu lupa bahwa dirinya sudah hampir kedinginan di kamar mandi. Sementara itu, ada Arsha yang berdiri di balik pintu. Cowok itu mendengar semua keluhan Rania, apa tadi katanya? Kucing? Detik berikutnya, Arsha paham ternyata gadis itu takut dengan hewan lucu kesayangan Arsha. Cowok itu menghela nafas lega, ternyata hanya karena kucing Arsha pikir Rania sedang sakit.
"Dasar lebay, sama kucing aja takut. Hobi banget ngerepotin perasaan orang. Gue kira lo sakit Ran, eh enggak taunya takut sama kucing." Arsha memundurkan langkahnya, lebih baik segera membawa kucing kesayangannya itu kedalam kamar. Tidak baik jika gadis itu pingsan saat akan pulang karena kucing Arsha masih berada di ruang tamu.
--
Disinilah Arsha dan Rania sekarang, duduk berdua didalam mobil menikmati kemacetan jalan raya. Cuaca begitu mendukung, tapi sayang Rania tanpa sadar sejak tadi terus terdiam. Sesekali, Arsha melirik gadis yang ada di sampingnya. Meksipun terlihat galak, tapi tidak bisa di pungkiri bahwa Rania cantik di setiap keadaan. Namun, kecantikan Rania itu bisa membuat semua teman temannya jatuh cinta pada gadis itu dan Arsha tidak suka jika Rania menjadi pusat perhatian. Entah perasaan apa yang ada dalam diri Arsha, tapi Rania tidak akan pernah menyadarinya.
"Ngapain lo ngeliatin gue segitunya? Enggak kedip lagi, suka lo sama gue?" Mata Rania memicing, merasa curiga jika Arsha bisa saja memiliki niat jahat padanya dan bisa melakukan apapun sekarang karena mereka hanya berdua didalam mobil.
Arsha tersenyum miring, tiba tiba terlintas sebuah ide bagaimana caranya untuk mendapatkan gadis itu.
"Lo cantik, gue suka."
"Dih, mandang fisik. Udah 2022 nih, masih aja mandang fisik. Lagipula, gue enggak suka sama lo." Balas Rania, gadis itu memang tidak menyukai Arsha karena sifat cowok itu yang selalu baik kepada teman teman perempuan disekolah. Rania menganggap jika Arsha seorang player, dan laki laki seperti itu tidak akan pernah bisa dekat dengannya.
"Gue enggak pernah yang namanya mandang fisik, tapi lo emang cantik Ran. Kecantikan lo natural, gue suka."
Sudah dua kali Arsha mengulang kata suka pada Rania, jika gadis lain ada di posisi Rania pasti akan tersipu malu karena ucapan Arsha. Namun, hal ini tentunya tidak berlaku untuk Rania. Bahkan Rania malah merasa risih jika di puji cantik oleh Arsha, semua orang tahu jika Rania cantik lalu untuk apa butuh pengakuan dari Arsha?
"Terus? Gue harus bilang makasih karena pujian lo? Sorry Arsha, gue enggak mudah baper karena pujian. Jangan terlalu berlebih-lebihan muji gue, sesuatu yang berlebihan itu enggak baik."
"Tapi gue ngomong apa adanya kok, kenapa kok lo enggak terima kalau gue bilang cantik? Lo pasti baper kan? Tapi lo pura pura enggak baper. Rania Rania, jadi pacar gue mau ya?"
Rania mendengus kesal, kenapa harus pertanyaan itu yang Arsha berikan? Mereka tidak akan pernah memiliki status lebih dari seorang teman, jangankan menjadi pacar menjadi seorang sahabat saja tidak akan pernah, kemungkinan besar mereka akan selalu bertengkar setiap kali bertemu.
"Enggak."
Arsha mengernyit heran, kenapa gadis itu memberikan jawaban hanya setengah.
"Enggak apa? Enggak nolak?" tanya Arsha sambil menjalankan mobilnya, kemacetan mulai berkurang akhirnya Arsha bisa kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah Rania.
"Terlalu percaya diri, maksud gue Ar, gue enggak mau jadi pacar lo. Lebih baik, lo cari pacar lain aja jangan gue." Tolak Rania, seharusnya Arsha mengerti bahwa gadis itu tidak mau berpacaran karena masih sekolah. Rania tidak ingin pikirannya terbagi saat belajar, lagipula Rania sama sekali tidak memiliki perasaan spesial untuk Arsha.
"Kenapa sih Ran lo selalu tolak gue? Apa karena gue sering deket bahkan jalan sama cewek lain? Asal lo tau, itu bukan kemauan gue Ran. Mereka yang ngajakin gue, bahkan saking mereka pengen jalan sama gue ya gue enggak pernah pergi bawa mobil. Selama ini, gue selalu di jemput sama mereka. Terus, kesalahan gue dimana?" Walaupun tidak mengerti dengan perasaannya sendiri, tapi Arsha tetap ingin menjadikan Rania sebagai kekasihnya. Ada alasan tertentu, dan tidak ada yang tahu apa alasan tersebut.
Rania memang tidak suka dengan Arsha karena cowok itu selalu berganti pasangan setiap kali jalan, tapi alasan mengapa gadis itu belum pernah berpacaran karena Rania masih ingin tetap fokus menjalani mas SMA tanpa pacar. Terlalu beresiko jika Rania berpacaran dengan Arsha, playboy yang satu ini memang memiliki pesona tersendiri tapi beruntung Rania tidak tergoda dengan Arsha.
"Gue enggak mau pacaran Arsha, gue enggak suka sama lo. Dan itu salah satu alasan kenapa gue enggak mau pacaran sama lo, karena lo punya banyak teman cewek. Gue enggak mau punya banyak musuh, masa SMA gue tinggal satu semester lagi dan gue mau menjalani semua itu dengan tenang. Gue enggak mau punya musuh disekolah, lebih baik lo jangan deket sama gue." Bantah Rania, tembok pertahanan yang Rania bangun untuk melindungi diri dari perasaan kepada lawan jenis begitu kuat. Rania gadis normal, sama seperti gadis lainnya pernah menyukai lawan jenis. Namun, Rania tidak mau berpacaran saat masih sekolah. Lebih baik mereka sekedar berteman, tidak akan ada yang mempermasalahkan hal itu. Berteman dengan lawan jenis mungkin terlalu beresiko, tapi Rania tetap berpedoman pada prinsipnya tidak akan berpacaran selama dirinya masih SMA.
"Kalau alasan lo enggak mau jadi pacar gue karena lo enggak suka gue, kita bisa jalanin semuanya secara perlahan. Perasaan suka dan sayang, bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Dan kalau alasan kedua karena lo enggak mau punya musuh di sekolah karena gue terlalu dekat sama cewek di sekolah kita, oke kita bisa backstreet Ran. Gue bakal menjauh dari mereka pelan pelan, dan kita bisa pacaran tanpa ada satu orang yang tahu hubungan kita. Gimana lo mau kan jadi pacar gue? Gue suka sama lo Rania."