Khawatir

1840 Kata
Rania merasa bosan sekarang, semua tugas sudah selesai dan sudah menjadi tugas Fania dan Fabian untuk menyelesaikan tugas terakhir bagian mereka masing masing. "Ran, lo bantuin gue lah. Nomor tiga susah nih." Keluh Fabian, ada empat soal yang artinya satu anak mendapatkan satu soal tapi anggota kelompok yang satu ini memang selalu mengeluh padahal Fabian bisa dengan mudah menyelesaikan soal tersebut. Remaja laki laki itu hanya ingin mencari perhatian dari Rania sebenarnya. Arsha mendengus kesal, sudah hafal dengan tabiat Fabian yang satu ini. Selalu mencari cara agar di perhatikan oleh Rania, dasar modus pikir Arsha. "Yang mana? Sini gue bantuin. Rania udah capek," dengan cepat Arsha duduk di sebelah Fabian membuat cowok itu merasa kesal, kenapa Arsha malah membantunya? Menyebalkan! Rania mengangkat bahu acuh, tidak peduli sama sekali dengan keduanya. Biarkan saja Arsha membantu Fabian, karena sudah pasti Fabian lebih pintar dari Arsha itulah yang ada di pikiran Rania saat ini. "Thanks, gue bisa sendiri." Ucap Fabian lalu memilih untuk menyelesaikan tugasnya sendiri, tidak mau di bantu oleh Arsha bisa bisa Asha akan besar kepala jika berhasil membantunya dalam mengerjakan tugas. "Ck, bilang aja lo mau caper ke Rania." Itu suara Fania, gadis itu baru saja menutup bukunya. Sejak tadi diam bukan berarti tidak mendengarkan apa yang sedang mereka ributkan, Fania tidak masalah jika mereka merebutkan Rania yang penting tugas mereka selesai tepat waktu dan mendapatkan nilai terbaik saja sudah cukup. "Diem lo bocil, gue enggak ada urusan ya sama lo." "Bodo amat deh, yang penting tugas gue udah selesai. Emang lo, satu soal saja dua jam juga belum selesai." Seperti itulah jika Fabian dan Fania di pertemukan dalam satu kelompok belajar, mereka akan saling menghujat satu sama lain. Mereka berdua tidak ada yang mau mengalah, meskipun begitu jika sedang presentasi mereka juga yang paling kompak. Bagi Rania tidak masalah jika harus mendengarkan ocehan keduanya setiap hari, asal mereka bisa membedakan mana saatnya bercanda dan mana saat belajar. Diantara mereka berempat, Rania adalah gadis yang paling ambis dalam belajar bahkan Rania juga sudah menyiapkan empat pertanyaan yang akan di ajukan oleh kelompoknya dalam sesi tanya jawab besok. Rania meletakkan selembar kertas di atas meja, kertas yang sudah berisi soal untuk masing masing orang. Mereka tinggal memilih mana yang ingin di tanyakan, bagi mereka sangat sulit tapi bagi Rania hanya butuh penjelasan yang lebih detail. "Gue udah buat empat soal, kalian bisa pilih salah satu." Ucap Rania, gadis itu mulai memasukkan semua buku-buku kedalam tas. Arsha meraih kertas tersebut dan mulai membacanya, kesan pertama saat melihat tulisan Rania adalah sangat rapi jauh berbeda dengan tulisan Fabian yang acak acakan. "Bagus," puji Arsha dalam hati. "Gue pilih nomor satu." Ucap Fabian, padahal cowok itu belum melihat soalnya sama sekali. Fania menggeleng, apa mungkin tingkah Fabian juga berlaku saat di rumah? Apa kedua orang tuanya tidak pusing melihat kelakuan Fabian yang satu ini? "Lo asal pilih aja sih, seenggaknya lo liat dulu soalnya. Hargain Rania kek, yang udah capek capek buat soal." "Iya nih, kasian tau pacar gue udah susah payah mikir eh lo asal pilih aja." Semua pasang mata tertuju pada Arsha, apa tadi katanya? Pacar? Detik berikutnya, Fabian tertawa paling kencang di antara mereka. Sementara Rania hanya diam, karena tidak ingin bereaksi apapun disini. Biarkan saja Arsha hidup dalam kehaluan yang mendarah daging, padahal mereka tidak ada hubungan apa apa. "Hahaha, buset nih bocah baru aja sekali Rania datang ke rumah udah halu jadi pacarnya. Gimana nanti kalau Rania save nomornya, pasti udah halu kalau nikah pakai adat apa." Fabian mengejek Arsha, padahal kemarin gadis itu kekeh menolak untuk tidak datang dan memilih keluar dari kelompok Arsha karena tidak suka jika ada cowok itu. Tapi apa yang di lakukan Arsha benar benar tidak tahu diri, berani sekali Arsha berhalusinasi menjadi kekasih Rania. Arsha berdecak sebal, kenapa bisa semudah itu Fabian merusak moodnya. Tapi memang benar, Jiwa halu Arsha meronta ronta padahal baru sekali gadis itu berkunjung ke rumah. "Gue enggak halu kok, cuma gue belum go publik aja sih. Iya kan sayang?" Tubuh Rania merinding mendengar ucapan Arsha yang memanggilnya dengan sebutan sayang, orang yang paling sering memanggilnya sayang adalah kedua orang tuanya. Namun kali ini, Arsha dengan mudah dan dengan percaya diri memanggilnya sayang. "Mampus Rania diem," ejek Fania, gadis itu selalu mendukung setiap keputusan teman temannya. Apalagi jika Rania memang berpacaran dengan Arsha, pasti akan cocok. "Diam berarti iya." Ucap Arsha dengan bangga, padahal ingat jika mereka tidak ada hubungan apapun. "Jangan percaya, gue enggak ada hubungan apa apa." "HAHAHA, di tolak secara langsung. Mental lo aman kan ar? Hahahaha." Fabian tertawa paling keras di antara teman-temannya, menurutnya Arsha sudah sangat berhalusinasi ingin menjadi pacar Rania padahal jika di lihat langsung dari sikapnya gadis itu sudah secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya pada Arsha. "Kenceng amat ketawa lo Fab, lo suka liat gue di tolak?" Fabian menggeleng, " bukan gitu Ar, cuma gue masih enggak nyangka aja lo berani halu di depan orangnya langsung. Ck, seorang playboy di tolak secara langsung. Hm, apa kabar fans lo kalau tau ya? Bisa patah hati berjamaah sih ini mereka." Di tengah tengah perbincangan mereka, seorang perempuan cantik dan anggun datang menghampiri Arsha dan teman temannya. Perempuan itu adalah Jiwa Prameswari, ibu kandung Arsha. "Arsha, sudah selesai tugasnya?" tanya Jiwa dengan nada lembut, aura keibuannya sangat terlihat. Arsha mengangguk, "udah Bun, tinggal nunggu Fabian aja kok. Kenapa bunda?" Jiwa tersenyum, perempuan itu baru saja selesai memasak. Jiwa memang sengaja memasak banyak hari ini karena Arsha mengajak teman temannya datang ke rumah, sang anak memang jarang mengajak teman temannya atau bahkan hampir tidak pernah. Yang paling sering datang hanya Fabian karena mereka sudah lama menjadi tetangga, wajar jika hampir setiap hari anak itu datang walaupun hanya sekedar mengajak Arsha bermain basket atau menonton bola bersama. "Kalau udah selesai kita makan bareng ya, ayah masih di jalan. Nanti kita makan bersama. Oh ya Arsha, itu kucing kamu kayaknya laper deh. Nanti di kasih makan ya sayang, kamu selalu lupa ngurus malah bunda terus padahal bunda udah pernah larang kamu buat beli beli kucing lagi." "Iya bunda, nanti aku kasih dia makan." "Oh iya Arsha, kamu belum kenalin kedua teman kamu ke bunda." Rania yang sejak tadi terdiam lalu tersenyum ramah pada Jiwa, setelah di perhatikan memang Arsha sedikit mirip dengan ibunya. "Hai Tante, aku Rania." Sapa gadis itu, Jiwa sempat tertegun sesaat setelah melihat wajah cantik gadis itu. Mirip dengan seseorang, tapi Jiwa lupa siapa. "Hai Rania, kamu teman baru Arsha? Soalnya, Tante baru liat kamu." Rania dengan terpaksa mengangguk, menjadi teman Arsha saja gadis itu sebenarnya tidak mau. "Iya Tante." Jawab Rania singkat, kemudian Jiwa beralih pada Fania. "Kalau yang satunya, siapa namanya?" Fania tersenyum manis pada Jiwa, kapan lagi berkenalan dengan ibu dari Arsha. Walaupun gadis itu tidak menyukai Arsha, tapi bisa berkenalan dengan nyonya dirgantara sebuah keberuntungan. "Aku Fania Tante," jawab Fania, Jiwa kembali mengangguk. "Panggil Tante Jiwa ya, Tante bundanya Arsha. Pasti di antara kalian ada pacar anak Tante kan? Siapa nih?" Mereka berdua terdiam, karena memang mereka bukan kekasih Arsha jadi tidak mungkin mengakui sesuatu yang bukan kenyataan. "Arsha jomblo Tan, baru aja di tolak sama Rania." Gadis yang di sebut namanya itu langsung melotot pada Fabian, kenapa mulut Fabian tidak bisa di jaga sama sekali saat berbicara dengan orang tua? Jika tidak ada ibu Arsha, pasti gadis itu sudah marah pada Fabian. Namun, kondisi yang tidak memungkinkan untuk marah jadilah Rania hanya menghela nafas lalu menyanggah ucapan Fabian yang tidak terbukti kebenarannya sama sekali. "Em, enggak kok Tan. Rania sama Arsha cuma teman." Jiwa tersenyum, lalu melihat sang anak yang bermain ponsel mendengar ucapan Rania. Perempuan itu pernah muda, pasti tahu siapa yang menyukai siapa disini. "Arsha, jangan main ponsel terus. Ayo bantu bunda nyiapin makan, bentar lagi ayah datang." Ajak Jiwa, lalu Arsha berdiri siap membantu sang bunda menyiapkan makanan untuk mereka semua. Sebelum Arsha pergi, cowok itu masih sempat berbicara pada teman temannya. "Jangan ada yang pulang sebelum makan, bunda gue udah masak banyak. Awas aja kalian enggak makan dulu." Peringat Arsha, lalu berjalan menuju dapur. Setelah Arsha tidak lagi terlihat, Fania memberanikan diri membuka suara. "Gila si Arsha, gimana enggak cakep gitu nyokap nya aja cantik banget subhanallah." Puji Fania, gadis itu memang selalu mengungkapkan apa yang selayaknya di ungkapkan salah satunya dalam mengagumi seseorang. Dalam hati, Rania sangat setuju jika Fania memuji kecantikan Jiwa. Namun, Rania tidak setuju jika temannya itu mengatakan bahwa Arsha tampan. Baginya Arsha sama seperti teman yang lain, biasa saja. "Gue juga ganteng by the way, tapi kok yang di puji cuma Arsha. Ck, nasib gue gini amat dah." Ucap Fabian, cowok itu baru saja menyelesaikan tugasnya dan menyerahkan pada Rania karena gadis itu adalah ketua kelompok. Fania menggeleng, menurutnya Fabian terlalu biasa jika di sandingkan dengan Arsha yang begitu luar biasa. "Lo cakep Bian, tapi di mata orang yang tepat. Dan sayangnya, bukan di mata gue." Cetus Fania, gadis itu memang selalu mengutarakan isi hatinya tepat waktu. Di depan orangnya langsung, langsung saja Fabian melayangkan tatapan tajam pada gadis. "Alhamdulillah kalau bukan lo orangnya, soalnya gue enggak mau sama cewek bar bar kayak lo." --- Setelah selesai makan bersama, Arsha dan teman temannya duduk di ruang tamu. Mereka saling bercanda, sesekali cowok itu melirik Rania yang semakin pendiam. Kenapa batin Arsha? "Ih lucu banget kucing lo Ar, udah lo kasih nama belum?" Fania begitu antusias melihat kucing kesayangan Arsha, bahkan gadis itu memangku kucing berwarna putih itu. "Belum, eh hati hati jangan sampai lecet kucing mahal woy!" Pekik Arsha karena Fabian hampir melukai kucing kesayangannya itu. Kucing berwarna putih itu turun dari pangkuan Fania dan berjalan mendekat ke arah Rania, detik berikutnya gadis berdiri lalu menjauh dari ketiga temannya itu hingga membuat Fania menoleh karena pergerakan Rania secara tiba-tiba. "Eh, mau kemana lo Ran?" tanya Fania, sementara gadis itu hanya menggeleng pelan. "Ar, toilet lo dimana?" Nada bicara Rania bergetar, seolah sedang ketakutan tapi gadis itu mencoba menyembunyikannya dari Arsha dan juga teman temannya yang lain. Merasa ada yang aneh, Arsha berdiri lalu menunjukkan kamar mandi yang ada di dekat dapur. "Lo lurus aja, nanti ada dapur di samping itu ada kamar mandi kok." Rania terus saja memperhatikan gerak gerik kucing berwarna putih kesayangan Arsha itu, semakin mendekat maka Rania dengan cepat berjalan menuju kamar mandi. Kedua mata Arsha memicing, merasa ada yang aneh dari Rania tapi apa? "Kemana Rania?" Arsha menoleh, " kamar mandi, yaudah gue ke kamar anterin kucing gue dulu." Pamit Arsha, dalam hati cowok itu masih berfikir kenapa Rania terlihat begitu pucat apa gadis itu sedang sakit? Tapi tadi masih baik baik saja, pikiran Arsha semakin kacau saat berfikir bagaimana jika gadis itu memiliki penyakit serius dan saat ini sedang kambuh. Pasti yang akan di salahkan adalah Arsha, dengan cepat Arsha keluar dari kamar menemui Rania. Pintu kamar mandi masih tertutup, tapi masih terdengar suara gemericik air dari dalam. Dengan sabar, Arsha menunggu gadis itu keluar. Cukup lama, hingga tidak ada lagi suara air dari dalam. Arsha semakin bingung, bukannya cepat keluar gadis itu malah semakin betah di kamar. "Nih bocah ngapain lama lama di dalam? Diare? Atau punya penyakit yang lain? Ck, suka banget buat gue khawatir."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN