Tamu tidak di undang

1008 Kata
"Rania, ada teman kamu di bawah." Itu suara Raka, ayah Rania. Pernah sekali Raka melihat teman anaknya di sekolah. Waktu itu Rania bilang hanya teman, tapi kenapa hari ini datang ke rumah? Sebagai seorang ayah, Raka berhak tahu siapa yang datang ke rumah menjemput anak gadisnya. Rania yang sejak tadi sudah bersiap, menoleh. Cukup terkejut mendengar ada teman yang datang, padahal hari ini Rania tidak memiliki janji dengan siapapun. Fabian tidak mungkin datang karena rumah Arsha bersebelahan dengan rumah Fabian, tapi selama ini yang sering datang hanya Fabian dan Raka juga sudah mengenal teman Rania yang satu itu. "Kok Fabian tumben banget jemput aku, ini belajar kelompoknya deket banget loh sama rumah Fabian." "Bukan Fabian," "Siapa?" tanya Rania bingung, jika bukan Fabian lalu siapa? Raka menggeleng, kenapa Rania malah bertanya padanya? Seharusnya gadis itu langsung turun, dan menemui teman laki lakinya. "Kamu punya pacar?" Pacar? Astaga. Sebenarnya siapa yang tidak datang, kenapa sang ayah malah bertanya seperti itu? Tidak ada yang tahu dimana rumah Rania, hanya dan Fabian dan Arsha yang tahu. Sedangkan Arsha baru kemarin mengetahui dimana rumahnya setelah memaksa untuk mengantarkan Rania pulang. Sontak gadis itu menggeleng, tidak mungkin Arsha. "Rania belum punya pacar yah, kalau gitu Rania turun sekarang. Ayah jadikan, anterin aku?" Raka mengangguk, semalam anak gadisnya memang meminta untuk mengantarkannya belajar kelompok di rumah temannya. Jarak yang cukup jauh, membuat Raka tidak bisa menolak permintaan sang anak. "Kamu turun duluan, ayah mau siap siap dulu. Tapi kayaknya, kamu enggak jadi ayah antar kan udah ada pacar kamu." Rania menghela nafas, kenapa sang ayah tidak percaya jika Rania tidak memiliki pacar? Gadis itu meraih tas yang sudah di isi laptop dan buku yang sudah Rania siapkan semalam. Tidak lupa ponsel yang selalu Rania bawa ke mana mana. "Rania enggak punya pacar ayah, aku masih SMA." Jawab Rania, gadis itu sedikit kesal saat sang ayah malah dengan sengaja meledeknya seperti ini. Mungkin bagi teman-temannya, saat SMA memiliki pacar merupakan sebuah keharusan tapi bagi Rania tidak. Bagi Rania, sebuah keharusan seorang pelajar adalah sebuah pencapaian dalam prestasi bukan kisah asmara putih abu abu. Raka tertawa kecil, prinsip Rania tidak pernah berubah. Anak gadisnya itu tidak mau berpacaran selama masih menggunakan seragam putih abu-abu, padahal baik Raka maupun istrinya tidak pernah melarang sang anak berpacaran tapi mereka juga tidak pernah bertanya apakah sang anak sudah memiliki pacar atau belum. Raka tahu ruang lingkup pergaulan Rania sangat sedikit, bahkan Raka juga tahu jika Rania tidak suka berada di antara teman-teman yang tidak satu frekuensi dengannya. "Ayo turun sayang, kasihan teman kamu udah nunggu dari tadi." Ajak Raka, lalu Rania mengangguk. Gadis itu juga merasa penasaran siapa yang datang ke rumahnya padahal Rania tidak memiliki janji dengan siapapun. Mereka berdua sudah sampai di ruang tamu, jika Raka masih penasaran dengan nama anak laki laki yang sekarang sedang duduk di ruang tamu rumahnya dengan begitu tenang. Sangat berbeda dengan Rania, gadis itu terdiam setelah mengetahui siapa yang datang menjemputnya. Arsha dharma dirgantara. Kenapa Arsha datang? Padahal, Arsha adalah tuan rumah. "Ngapain lo kesini?" tanya Rania dengan nada bicara tidak santai, sangat berbeda jika sedang berbicara dengan sang ayah. Arsha menoleh, menahan diri untuk tidak berkata kasar disini. Apalagi ada ayah Rania, Arsha masih tahu sopan santun jika berada di rumah orang lain. "Rania, kok kamu ngomong gitu. Jangan seperti itu, dia teman kamu kan? Nak siapa nama kamu?" Ditanya seperti ini, Arsha perlahan mengembangkan senyumnya. Tidak mungkin Arsha menanggapi ocehan Rania sekarang. "Hai om, kenalin nama saya Arsha dharma dirgantara. Om bisa panggil Arsha." Batin Rania ingin sekali mencaci maki Arsha, dasar orang yang sangat merepotkan. Padahal sang ayah hanya bertanya nama, tapi lihat apa yang Arsha lakukan malah menyebutkan nama lengkap. Raka terdiam, nama yang tidak asing. Berapa banyak orang yang menggunakan nama dirgantara di sekolah anaknya? Nama itu sangat familiar bagi Raka, ada sesuatu dengan nama itu mungkin lain kali Raka akan mencari tahu siapa Arsha sebenarnya. "Saya Raka, ayah Rania. Kamu kesini mau jemput anak saya?" Pertanyaan Raka membuat Rania heran, kenapa sang ayah malah bertanya seperti itu? Seharusnya, ayahnya langsung mengusir Arsha dari rumahnya bukan malah mengajaknya berbicara seperti itu. "Enggak yah, aku di anterin ayah aja." Sahut Rania cepat, jangan sampai sang ayah berfikir jika dirinya dan Arsha memiliki hubungan spesial. Jangan sampai! Arsha menghela nafas, gadis keras kepala itu sepertinya belum membaca pesannya semalam. "Iya om, apa boleh Arsha ajak Rania ke rumah? Soalnya, kerja kelompoknya di rumah saya. Ada Fabian sama Rania juga kok Om." Mendengar nama Fabian, Raka langsung mengangguk. Pasti sang anak akan baik-baik saja jika ada Fabian, karena mereka sudah lama saling mengenal dan Fabian juga baik pada Rania jadi bukan sebuah masalah besar jika Raka mengizinkan anak gadisnya itu berangkat bersama Arsha. "Boleh, asal jangan pulang terlalu malam. Kalau bisa, sore sudah sampai di rumah ini. Saya nitip anak saya, jangan macam macam ya Arsha. Salam buat orang tua kamu," Arsha mengernyit heran, kenapa malah orang tuanya? Apa mereka saling mengenal. "Apa om kenal sama orang tua saya?" tanya Arsha, sepertinya mereka memang saling mengenal. "Sepertinya saya kenal orang tua kamu, tapi saya juga belum yakin sepenuhnya. Mungkin mereka salah satu rekan bisnis saya, atau mungkin teman yang sudah lama tidak bertemu." Jawaban yang masuk akal, sementara itu Rania sudah merasa kesal saat sang ayah mengizinkan dan kenapa mereka malah mengobrol? "Ayah mendingan anterin aku aja deh, aku males tau satu mobil bareng dia. Atau aku bawa mobil sendiri aja ya?" Lebih baik Rania membawa mobil sendiri daripada harus berada satu mobil dengan Arsha, sudah pasti mereka berdua akan bertengkar jika dibiarkan berada dalam satu mobil tanpa orang lain. Mood belajar Rania akan hilang jika bersama Arsha siang ini, semoga saja sang ayah mengizinkan. Namun, Raka malah menggeleng. Bukan tidak mengizinkan, tetapi sudah ada Arsha yang jauh jauh dari rumahnya ingin menjemput Rania untuk berangkat bersama lalu kenapa Rania malah menolak? Sepertinya, mereka memang tidak pernah berdamai sejak pertama kali Raka bertemu dengan Arsha beberapa hari yang lalu. "Bareng Arsha aja, ayah ada meeting. Ayah mau jemput bunda di bandara hari ini, kamu hati hati ya belajar yang benar."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN