Terpaksa

1046 Kata
Disinilah Rania sekarang, berada di belakang gudang bersama Arsha. Jangan tanya kenapa mereka ada disini, sudah pasti Arsha yang memaksanya. Berulangkali Rania mencoba melepaskan cekalan tangan Arsha, tapi kekuatan gadis itu tidak sebanding dengan tenaga Arsha. "Kenapa sih? Gue cuma mau bicara empat mata sama lo bukan mau culik lo Ran." "Lepasin dulu tangan gue," desis Rania. Sepertinya tanahnya akan memerah jika terus menerus di cekal oleh Arsha. Seolah sadar jika sudah berlebihan, Arsha akhirnya melepaskan tangan Rania. "Awas lo sampai kabur." Ucap Arsha, perlahan-lahan melepaskan tangan gadis itu. Rania mendengus kesal, tangannya memerah pasti setelah ini sang ayah akan bertanya padanya dan apa yang akan di katakan oleh Rania? Tidak mungkin jika gadis itu hendak berbohong. Huftt, sial sekali nasib Rania hari ini. "Tangan gue merah, kesel banget gue sama lo Ar. Baru kelihatan sifat asli lo kasar." "Maaf, lo sih susah banget di ajak ngobrol." "Bentar lagi masuk, cepetan lo mau ngomong apa?" tanya Rania, gadis itu sudah lelah berdebat dengan Arsha lebih baik sedikit mengalah agar permasalahannya tidak terlalu rumit. "Jadi pacar gue mulai hari ini dan seterusnya, dan gue enggak menerima penolakan." Ucap Arsha dengan begitu santai, tapi nada bicaranya tidak terdapat keraguan sedikitpun. Tidak ada angin tidak ada hujan, seperti mimpi Rania tidak mengerti kenapa Arsha begitu mudah mengatakan hal itu. Berpacaran? Hal yang sangat tidak mungkin bagi Rania, dan Arsha malah meminta itu padanya. "Lo gila?" Arsha mengangguk, "gue gila karena sikap lo selama ini ke gue, dan lo malah akrab banget sama Reno. Lo enggak mikirin perasaan gue Ran?" tanya Arsha, perasaannya campur aduk saat melihat Rania dan Reno sama sama tersenyum dan Arsha juga tidak menyadari perasaan apa yang sedang ia rasakan. Yang Arsha tahu, ada perasaan tidak rela jika gadis yang selama ini menjadi incarannya malah dekat dengan temannya sendiri. "Gue mau akrab ke Fabian atau Reno sekalipun, itu bukan urusan lo. Minggir, gue mau pulang. Lo itu cuma buang buang waktu gue," Bukannya minggir, Arsha malah semakin mendekati Rania hingga gadis itu tidak bisa bergerak bebas karena Arsha menghimpit tubuhnya di tembok. Mereka berdua saling merasakan deru nafas masing-masing. "Kurang ajar banget sih lo, minggir gue mau pulang." Arsha menahan diri untuk tidak tertawa, wajah Rania sudah kepalang panik pasti gadis itu berfikir jika Arsha akan melakukan sesuatu padanya. "Jadi pacar gue dulu, nanti boleh pulang." "Jangan mimpi." Rania sudah pernah berjanji untuk tidak berpacaran selama masih menggunakan seragam putih abu-abu, baginya dimasa itu masa dimana seharusnya masih menikmati masa-masa remaja dengan kisah yang menyenangkan bukan malah harus merasakan galau atau mungkin sakit hati yang berlebihan. "Emang kenapa sih Ran kalau jadi pacar gue? Lo seharusnya bangga karena gue tembak Lo, dan lo akan menjadi pacar pertama gue Rania." Rania menghela nafas, memikirkan bagaimana caranya agar bisa lepas dari cowok sinting ini. "Lo jelek gue enggak suka." Jawab Rania asal, padahal ketampanan Arsha sudah melampaui batas menurut gadis lain. Kenapa Rania mengatakan itu? Karena Rania sudah kehilangan cara untuk mendapatkan jawaban secepatnya. Arsha cukup terkejut mendengar jawaban yang sangat tidak logis dari Rania, hanya gadis itu orang yang pertama kali mengatakan bahwa Arsha jelek. "Kok lo mandang fisik sih Ran? Gue enggak jelek ya, enak aja." "Gue emang Mandang fisik, kenapa? Lo enggak suka. Kalau gue mandang dompet, sorry gue punya uang sendiri. Enggak butuh uang atau janji janji manis. Atau janji janji manis lo mau gue bayarin sekalian?" tantang Rania, jika bisa kabur gadis itu pasti sudah melarikan diri dari himpitan Arsha. Baru kali ini Arsha menemukan gadis yang sangat menjengkelkan seperti Rania, hampir tidak memiliki kekurangan jadi Arsha tidak bisa menggunakan kekurangan gadis itu. "Gue enggak mau tau, lo harus jadi pacar gue." "Gue enggak mau Arsha, ngebet banget sih lo jadian sama gue." Bantah Rania, mana mungkin mereka berpacaran di usia yang masih belasan dan hal ini paling di hindari oleh Rania. Sebisa mungkin, apapun yang akan terjadi Rania tidak akan menjadi pacar Arsha sampai kapanpun. Arsha berdecak kesal, susah payah menurunkan gengsinya untuk menembak Rania agar mau menjadi pacarnya tapi reaksi gadis itu malah membuatnya kesal. "Gue enggak menerima penolakan Ran." Rania tersenyum sinis, "Dan gue selalu berhak menolak, karena gue tau lo enggak ada perasaan apapun sama gue dan begitu juga sebaliknya. Gue sama lo enggak ada perasaan apa apa sedikitpun, dan gue enggak mau menjalin hubungan kalau enggak ada perasaan sana lo. Berhenti bersikap konyol Arsha, mendingan lo pacaran sama fans fans lo yang lain. Jangan sama gue," "Gue enggak mau, gue maunya sama lo." "Ck, dasar keras kepala. Udah sana, gue mau pulang." "Terus jawabannya?" Rania memutar bola matanya malas, Arsha sangat sulit untuk mengerti. Jika Rania tidak akan berpacaran dengan siapapun saat ini. "No." "Why?" "Karena gue enggak mau pacaran Arsha, gue disini mau sekolah. Gue harus belajar setiap waktu, dan itu artinya gue enggak ada waktu cuma buat pacaran. Please, jangan maksa karena gue enggak suka di paksa." Jawaban Rania tidak masuk akal bagi Arsha, jika alasannya seperti ini mereka bisa berpacaran secara diam-diam tanpa orang lain tahu atau bahkan tanpa sepengetahuan kedua orang tua Rania. Mungkin Rania selalu di tuntut untuk belajar sehingga tidak ada waktu untuk berpacaran. "Oke, kalau hari ini lo nolak gue enggak masalah. Tapi gue mau anterin lo pulang, karena gue tahu tadi pagi lo enggak bawa mobil." Arsha menjauhkan badannya dari Rania, hingga akhirnya gadis itu mampu bernafas lega. Namun, Rania hanya mampu bernafas lega beberapa detik karena tidak lama Arsha meraih tangannya dengan lembut dan menggandengnya. Rania memberontak saat mereka berjalan beriringan menuju parkiran dengan tangan yang masih bergandengan. "Lepas." Desis Rania, beruntung sekolah sudah sepi tidak ada yang melihatnya bergandengan dengan Arsha saat ini. Jika ada yang melihat, pasti akan menjadi tranding Topic di grup sekolah. Atau yang paling parah, kedua orang tuanya akan mengetahui hal ini. "Masuk, atau gue bisa bertindak lebih jauh dari ini. Gue bisa aja berbuat apapun, karena sekolah sepi. Tapi gue enggak sejahat itu, lebih baik lo masuk ke mobil gue dan duduk manis disana gue anterin lo pulang. Udah sore, mau hujan juga enggak baik kalau gue biarin lo pulang sendirian." Ucap Arsha, tanpa menunggu lama gadis itu akhirnya masuk ke dalam mobil Arsha hingga tanpa sadar membuat Arsha mengembangkan senyumnya. "Nih cewek gemesin banget dah kalau lagi marah, damn gue bisa gila gara gara lo Rania." Batin Arsha, lalu menutup pintu mobilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN