Arsha menyimak baik baik apa yang di katakan oleh Fabian dan Fania, keduanya menjelaskan jika Rania tidak mau ikut kerja kelompok di rumah Arsha dan lebih memilih untuk keluar dari kelompok mereka jika tetap di rumah Arsha.
Cukup mengejutkan, memang apa yang salah jika di rumah Arsha? Kedua orang tuanya juga tidak akan melarang mereka belajar bersama di rumah tapi gadis itu sepertinya memang sudah sangat membenci Arsha. Padahal, Arsha tidak melakukan kesalahan fatal sebelumnya.
"Dia lebih milih enggak gabung sama kita daripada harus ke rumah lo," lanjut Fabian, mereka semua juga heran kenapa sampai seperti ini.
Arsha menghela nafas, "gue akan bujuk dia."
Fabian sudah tidak kaget dengan keputusan Arsha ingin membujuk gadis itu, seperti dugaan sebelumnya pasti Arsha mulai menyukai Rania dan Rania juga menyadari hal itu tapi mencoba untuk tidak mengetahui apapun.
"Tapi kalau Rania tetep enggak mau?"
Arsha menoleh, jika Rania tetap tidak mau itu urusan terakhir. Yang penting, ada usaha lebih pasti Rania juga akan mengerti.
"Gue enggak tau, tapi gue coba dulu. Kalau enggak di coba pasti kita enggak tau hasilnya,"
Mereka berdua sama sama mengangguk, apa yang di katakan Arsha benar. Tidak ada salahnya jika mencoba untuk membujuk Rania.
"Yaudah, gue cari Rania dulu. Lo berdua lanjut cari materi, besok ke rumah gue langsung dari pulang sekolah." Ucap Arsha berusaha meyakinkan teman temannya, padahal dia sendiri tidak terlalu yakin jika gadis keras kepala itu mau datang ke rumahnya.
Fania menatap punggung Arsha yang semakin menjauh dengan perasaan iba, sepertinya ada yang lain dari sorot mata laki laki itu jika membicarakan Rania. Padahal, mereka belum lama mengenal dan semua orang tahu bahwa menaklukkan hati seorang Rania tidak mudah. Dan bukan lagi menjadi rahasia umum bahwa banyak gadis cantik di sekolah mereka yang tergila-gila pada Arsha, Rania memang cantik mungkin mereka berdua cocok. Disisi lain, jika Rania menjadi kekasih Arsha apakah Arsha benar benar mau berubah?
"Orang kalau udah mulai suka pasti apapun di lakuin,"
Fania mendengar jelas apa yang di katakan Fabian, jadi benar Arsha menyukai Rania? Beruntung sekali gadis itu.
"Ayo Bian, lanjut cari buku yang lain. Coba di rak paling belakang deh, kita belum cari disana." Ajak Fania, sesuai perintah Arsha mereka berdua harus mencari materi untuk presentasi.
Fabian mengangguk, malas sebenarnya tapi menolak juga tidak mungkin. Jangan sampai, berada di kelas unggulan membuatnya malas belajar karena sudah merasa puas dengan prestasi selama ini sedangkan Rania masih begitu ambis mempertahankan peringkatnya.
---
Arsha sedari tadi mencari keberadaan Rania tapi tidak kunjung bertemu, entah kemana perginya gadis itu. Akhirnya Arsha pergi ke kantin karena perutnya merasa lapar dan juga haus, semangkuk bakso dan satu gelas jus jeruk kesukaan Arsha kini sudah siap, tinggal mencari bangku yang masih kosong untuk menikmati makan siangnya.
Langkahnya terhenti saat tidak sengaja melihat Rania dengan santai menikmati makan siangnya bersama seorang anak laki laki yang sangat tidak asing bagi Arsha.
Reno.
Teman Arsha yang sekarang berbeda kelas, jika di lihat gadis itu tidak merasa keberatan sama sekali duduk berdua dengan Reno. Dengan cepat Arsha menghampiri keduanya, tapi langkah Arsha menjadi pelan karena sempat mendengar obrolan keduanya.
"Gue seneng banget bisa ngobrol sama lo, ternyata lo asik juga orangnya." Puji Reno, membuat Arsha berdecih mendengarnya. Namun, tanggapan Rania membuat Arsha terkejut. Gadis yang selalu bersikap ketus dan cuek itu, malah tersenyum manis menanggapi pujian Reno.
"Gue enggak seasik itu Ren, gue emang gini orangnya."
Reno mulai paham dengan sifat gadis itu, teman temannya sering membicarakan Rania tapi mereka tidak seberuntung Reno yang bisa mengobrol langsung dengan gadis idola anak anak di SMA nya. Selain berprestasi, Rania juga cantik pantas saja banyak yang ingin mendekati Rania termasuk Reno sendiri.
"Lo punya pacar? Sorry kalau pertanyaan gue buat lo risih, gue enggak ada maksud apa apa. Cuma gue denger dari anak anak kalau dulu lo pernah nolak kapten basket di sekolah kita. Siapa namanya, kak Satya. Emang bener?"
"Bener."
Arsha semakin penasaran dengan kisah percintaan Rania, sekelas kapten basket di sekolahnya saja di tolak apalagi Arsha? Beruntung Satya sudah lulus satu tahun yang lalu jadi tidak akan ada yang mengancam keberadaannya untuk mendekati Rania.
"Wah, keren juga sih lo Ran. Cowok sekeren dan seganteng kak Satya lo tolak." Ucap Reno takjub, jika gadis lain ada di posisi Rania pasti akan menerima walaupun tidak suka dengan Satya. Namun, siapa yang akan menolak Satya? Hanya Rania.
Rania berdehem pelan, ini sudah hampir dua tahun lalu. Dan kini, Rania berteman baik dengan Rania.
"Dia emang ganteng, dan keren. Menurut gue, anak basket enggak ada yang enggak keren sih. Tapi balik lagi, perasaan seseorang enggak bisa di paksakan. Gue nolak kak Satya, karena gue enggak suka dia dan saat itu gue masih kelas X." Jelas Rania, mana mungkin gadis mengatakan pada Reno jika tidak mau berpacaran sampai saat yang tidak bisa di tentukan oleh siapapun.
Arsha merasa panas dengan obrolan keduanya, lebih baik Arsha duduk di depan Reno yang masih kosong.
"Hai Ren, gue dari tadi cari kursi enggak ada yang kosong. Gue boleh duduk?"
Baik Rania ataupun Reno sama-sama terkejut, tapi akhirnya Reno mengangguk pada Arsha membuat cowok itu tersenyum puas.
"Duduk sini Ar, lama juga kita enggak ngobrol semenjak lo pindah ke. Kelas unggulan, eh by the way kalian berdua satu kelas. Aduh, jadi pengen masuk kelas unggulan kalau gini."
Arsha duduk dengan tenang, sembari menambahkan kecap dan sambal di mangkuk bakso yang sejak tadi di bawanya.
"Iya Ren, bunda gue nanyain lo terus. Kapan kapan main aja kalau enggak sibuk, ajak anak anak yang lain. Tapi jangan besok ya, gue ada tugas kelompok di rumah." Sahut Arsha, lalu mulai menikmati makan siangnya.
"Tumben banget di rumah lo, biasanya lo selalu alasan panjang lebar kalau gue dulu minta ke rumah lo buat kerja kelompok." Cibir Reno, pasalnya dulu Arsha sangat royal pada teman temannya saat mengerjakan tugas tapi tidak pernah mengajak mereka untuk belajar di rumah.
Arsha terkekeh kecil. "Bunda gue yang minta, alasannya kok bisa gue masuk ke kelas unggulan padahal gue ini paling susah di suruh belajar. Katanya, mau kenal sama teman teman gue." Jawab Arsha, sembari melirik Rania yang sejak tadi menyimak obrolan mereka berdua. Apa yang di katakan Arsha memang benar, Jiwa merasa heran sekaligus bangga pada sang anak yang ternyata bisa masuk ke kelas unggulan.
"Pasti enggak bakalan kelaparan kalau di rumah lo, secara lo sama kita royal banget kalau di luar. Apalagi kalau dirumah lo, pasti udah di suruh anggap rumah sendiri."
"Lo tau lah bunda gue, enggak bakalan biarin teman anak anaknya kelaparan."
"Anak rumahan banget ya,"
Anak rumahan? Apa benar!