"Siapa yang buat keputusan?" tanya Rania, jika tidak teringat sedang berada di perpustakaan gadis itu pasti akan berbicara dengan nada tinggi. Tapi untungnya Rania bisa mengendalikan emosi yang hampir meledak.
"Em, ini usul Arsha." Jawab Fania, gadis itu sudah menyadari perubahan sikap Rania jika sedang marah. Untuk itu, semuanya akan terdiam. Bukan karena takut, tapi ini memang kesalahan mereka karena tidak mengajak gadis itu berdiskusi memilih tempat belajar bersama.
"Dan lo setuju?"
Mau tidak mau, Fania mengangguk karena memang kemarin tanpa berfikir panjang gadis itu menyetujui keputusan Arsha untuk mengerjakan tugas kelompok di rumah Arsha. Lagipula, siapa yang akan menolak jika Arsha sendiri yang menawarkan agar belajar di rumahnya?
Fania mengangguk, membuat Rania menghembuskan nafas kecewa.
"Egois." Ucap Rania, lalu pergi keluar dari perpustakaan. Dari awal, gadis itu sudah tidak setuju karena satu kelompok dengan Arsha tapi teman temannya malah setuju mengerjakan tugas kelompok di rumah Arsha.
Fania dan Fabian terdiam, awalnya mereka berdua menyetujui keputusan Arsha karena biasanya mereka selalu mengerjakan tugas kelompok di cafe atau di keramaian. Biasanya juga di rumah Rania, tapi karena Arsha sendiri yang menawarkan diri untuk bekerja kelompok di rumahnya yang pertama kali setuju adalah Fabian karena mereka berdua adalah tetangga dekat. Ya, Arsha dan Fabian sudah berteman sejak kecil.
"Lo sih, main setuju aja." Gerutu Fania, jika tahu begini lebih baik bertanya dulu pada Rania.
"Lah, kok gue. Kan lo juga kemaren seneng seneng aja tuh kerja kelompok di rumah Arsha, giliran Rania marah lo panik. Plin plan banget jadi cewek, oh iya cewek enggak pernah salah kan? Ya udah, enggak perlu panik. Biar gue aja yang bujuk Rania."
Setelah itu, Fabian pergi meninggalkan Fania. Gadis itu masih merasa bersalah karena sudah berani mengambil keputusan itu bersama Fabian dan tidak bertanya dulu pada Rania apa temannya itu setuju atau tidak. Lagipula menurut Fania, memang apa salahnya di rumah Arsha? Kenapa Rania begitu menghindari Arsha?
Akhirnya Fabian sampai di kelas, hanya ada Rania dan ini kesempatan terbaik untuk membujuk gadis itu.
"Ran gue mau ngomong." Ucap Fabian to the point, mendengar ucapan Fabian gadis itu lalu menutup buku paketnya.
Fabian duduk di bangku samping Rania, dan berhadapan dengan gadis itu langsung. Mau tidak mau, Rania harus setuju dengan keputusan kelompok mereka.
"Lima menit, atau enggak usah ngomong."
"Oke, jadi gini." Fabian menghela nafas pelan, berbicara dengan Rania harus membutuhkan waktu lama karena pasti gadis itu selalu mempunyai jawaban atas ucapan Fabian. Rania gadis pintar, tidak akan bisa di bohongi dengan mudah apalagi menggunakan alasan alasan yang tidak logis sama sekali.
"Lo harus setuju sama keputusan kita bertiga, karena gue dan Fania udah setuju kerja kelompok di rumah Arsha. Gue tau lo enggak setuju, tapi ini kelompok kita dan suara terbanyak setuju di rumah Arsha mau enggak mau lo enggak ada pilihan buat nolak. Emang apa yang salah kalau kita sekalian silaturahmi ke rumah Arsha, dia baru semester ini masuk kelas unggulan dan dia emang pintar kok jadi pasti kita cepet selesai ngerjainnya." Penjelasan Fabian bagi Rania sama sekali tidak masuk akal, kalau hanya alasan pasti cepat selesai dulu di kelompok mereka sebelum Arsha masuk juga selalu selesai tepat waktu.
"Kalau gue tetep enggak setuju?" tantang Rania, gadis itu tidak suka jika harus di paksa menerima apa yang tidak seharusnya terjadi.
"Lo disini enggak punya pilihan Ran, tiga banding satu? Lo pasti tahu siapa yang menang."
Rania mengangguk, "Kalian kan yang menang?" tanya Rania memastikan, dan langsung di angguki oleh Fabian.
Rania memainkan pulpen yang sejak tadi di genggam, tidak akan pernah bisa mengatur hidup Rania di sekolah selain guru.
"Oke, kalau gitu gue yang keluar dari kelompok ini. Gue enggak masalah kalau harus ngerjain semuanya sendiri, cari materi sendiri. Gue mampu presentasi sendiri, jadi gue lebih milih keluar dari kelompok kalian. Gue enggak mau satu kelompok sama orang orang toxic."
Toxic?
Fabian tidak habis pikir dengan pola pikir Rania, ini hanya perihal tempat dimana mengerjakan tugas kelompok. Tapi Rania malah merasa berada dalam lingkungan pertemanan yang toxic, sebaiknya pola pikir Rania di rubah menurut Fabian.
"Sekarang gue tanya, disini apa masalah lo sama Arsha. Ini bukan cuma lo sama Arsha, tapi ada gue dan Fania. Disini, lo yang egois. Jangan selalu mementingkan diri sendiri, tapi enggak mau mikirin orang lain. Lo itu egois Ran, gue tau lo pinter cuma jangan menggunakan kepintaran lo buat sombong. Mungkin lo sekarang bisa apa apa sendiri, tapi lo enggak akan selamanya hidup sendiri. Lo pasti butuh gue, butuh Fania. Atau mungkin, lo bisa aja butuh Arsha."
Rania menyimak baik baik semua keluhan Fabian tentang dirinya, tapi selama ini Rania memang tidak pernah merepotkan orang lain. Lalu dimana salahnya? Rania tidak mungkin memaksa orang untuk mengikuti kemauannya demi kepentingan pribadi, Rania tidak sejahat itu sehingga tidak mengizinkan orang lain untuk memilih. Mereka sudah sama sama tumbuh dewasa, mereka pasti tahu mana yang terbaik dan mana yang tidak.
"Gue enggak peduli, keputusan gue udah bulat. Gue keluar dari kelompok kalian, thanks lo udah ngeluarin semua unek unek lo tentang gue. Secara enggak langsung, lo udah nunjukin sisi buruk dalam diri gue. Satu hal yang harus lo tau Bian, gue ngelakuin itu bukan karena urusan pribadi gue tapi karena gue enggak suka orang yang suka menentukan keputusan sendiri padahal kita satu kelompok. Tadi lo bilang gue egoau? Ya, gue emang egois. Gue enggak apa apa lo bilang egois, kalau emang ucapan lo benar gue enggak masalah."
Fabian gelagapan setelah menyadari baru saja salah berbicara.
"Fan sorry gue kelepasan," sesal Fabian.
Rania mengangguk.
"Enggak masalah, justru gue bisa introspeksi diri sendiri. Dan gue enggak ngerasa egois sebenernya tapi setiap orang perlu mengungkapkan isi hatinya termasuk lo, gue juga enggak suka orang yang bermuka dua. Thank Bian untuk kejujurannya, walaupun gue kaget dengernya no problem. Sebaik apapun gue, di mata lo gue tetap salah." Balas Rania, untuk apa bersikap baik jika sebenarnya kebaikan yang kita lakukan tidak pernah di anggap baik oleh orang lain. Lebih parahnya, orang yang bersikap baik malah membicarakan kita di belakang.
"Ran, sorry gue enggak maksud nyakitin lo karena ucapan gue barusan."
"Terus? Lo pikir gue bakal ngerasa sakit hati cuma karena omongan lo? Ck, gue enggak mudah buat tersinggung tapi lo harus ingat sampai kapanpun ucapan lo bakal gue ingat."