Semua murid keluar dari kelas saat bel istirahat baru saja berbunyi, tapi tidak untuk Rania. Seperti biasa, anak sultan yang begitu cerdas itu memilih menghabiskan waktunya di dalam kelas dengan membaca buku paket atau bermain game di ponsel. Tapi kali ini berbeda, di meja Rania terdapat sebuah novel dan sebuah kotak bekal yang tadi pagi sudah di siapkan oleh sang bunda.
Fania sempat mengajak Rania pergi ke kantin, tapi di tolak secara halus oleh Rania. Alasannya, untuk apa pergi ke kantin jika sang bunda sudah menyiapkan bekal untuknya. Berhemat? Bahkan uang jajan Rania lebih dari cukup untuk satu bulannya.
Ada orang lain yang masih didalam kelas, sengaja tidak pergi ke kantin hanya ingin melihat gadis itu. Siapa lagi kalau bukan Arsha, di awasi dari kejauhan tentunya Rania sadar tapi gadis itu memilih diam dan tidak mengatakan apapun. Bagi Rania, asal Arsha tidak mengganggunya itu tidak akan menjadi masalah besar.
Ponsel Rania berbunyi, nama sang ayah tertera di layar ponselnya. Gadis itu tersenyum, lalu meletakan kotak makanan di atas meja.
"Assalamualaikum ayah," sapa Rania, saat ini sang ayah memang sedang sibuk dengan pekerjaannya tapi di sela sela kesibukannya itu Raja masih meluangkan waktu untuk menghubungi Rania.
"Waalaikumsalam sayang, ini masih jam istirahat kan?" tanya Raka, yang langsung di angguki oleh Rania. Jam istirahat masih berlangsung dan ayahnya menghubungi di saat yang begitu tepat.
"Masih yah, ini Rania lagi makan."
",Kamu di kelas sendirian?"
Sebenarnya Rania malas jika harus menyebut nama Arsha, tapi gadis itu tidak terbiasa berbohong. Walaupun malas, tapi Rania memilih untuk berkata jujur.
"Enggak, ada teman kok." Jawab Rania, lalu tersenyum kembali. Tidak perlu menyebut nama Arsha, karena sang ayah tidak akan bertanya.
"Lanjut makan, ayah mau kerja dulu. Jangan main ponsel di saat jam pelajaran, ingat kan?"
"Iya aku ingat,"
"Good girl, yaudah ya bye sayang."
Rania mengangguk, " bye ayah."
Sambungan terputus, niatnya gadis itu akan melanjutkan makannya tapi cukup terkejut mendapati Arsha datang tanpa mengatakan apapun. Bahkan, dengan tidak tahu malu Arsha membuka buku paket Rania seolah-olah mereka berdua sudah sangat akrab padahal tidak sama sekali.
"Buset, udah lo isi semua ini Ran? Kapan gue di kasih contekan?"
"Mimpi lo ketinggian bisa dapetin contekan dari gue," tukas Rania, bahkan jika Arsha meminta jawaban tidak akan Rania berikan, biarkan laki laki itu berusaha dengan sungguh-sungguh. Lagipula, Arsha bisa masuk kedalam kelas unggulan sudah pasti anak itu tergolong murid berprestasi. Jika tidak, tidak mungkin masuk kedalam kelas unggulan ini.
Arsha berdecak, apa Rania tidak sadar jika itu hanya sebuah basa basi semata. Sepintar apapun Rania di bandingkan Arsha, meminta contekan dari Rania tidak akan pernah Arsha lakukan. Image Arsha bisa rusak di mata penggemar, dan pasti sang ayah akan marah padanya.
"It's my dream Ran, tapi mimpi gue semalem kita jadian loh. Amin paling serius enggak sih?"
Rania menghela nafas jengah, sangat bosan dengan Arsha. Untuk apa laki laki itu mengatakan hal yang tidak mungkin terjadi, sepertinya Arsha memang benar benar sudah hampir kehilangan kewarasannya.
"Stop Ar, gue bosen sama lo. Sana pergi."
Jika langsung menurut bukan Arsha namanya, " jahat banget ya ampun, masa gue di usir. Eh Ran, jangan bosen dong sama gue kan bentar lagi kita jadian."
"Amit amit gue jadian sama lo, enggak akan!"
"Amin, gue doain kita cepat jadian. Biar lo cinta mati sama gue, soalnya kalau lo udah cinta sama gue sekeras apapun hati lo pasti masih bisa luluh. Tinggal menunggu waktu," ucap Arsha percaya diri, bahkan Arsha masih sanggup tersenyum pada gadis itu yang sudah jelas jelas sangat malas melihat kehadirannya.
"Halu lo ketinggian, enggak akan pernah gue suka apalagi cinta sama lo."
"Really? Awas aja kalau lo cinta."
"Enggak akan,"
Arsha tersenyum miring, untuk sekarang ini mungkin Rania belum mencintainya tapi hari esok dan seterusnya Arsha tidak pernah tahu. Entah Rania yang akan mencintainya terlebih dahulu, atau mungkin bisa saja malah Arsha yang sekarang sudah mulai tertarik pada gadis itu. Perasaan seseorang bisa tumbuh kapan saja, tergantung Arsha maupun Rania mengartikan perasaan itu seperti apa.
"Kalau lo sampe suka sama gue, gue ikhlas kok Ran. Lagian nih ya, gue kurang apa sih? Ganteng? Banget. Tajir? Kurang tajir apa lagi. Pintar? Gue ada di kelas ini udah pasti gue pintar. Jadi, apa yang masih kurang buat lo suka sama gue? Ayo kasih tau gue?"
Di cerca pertanyaan itu, Rania hanya tersenyum tipis. Memang tidak ada celah untuk mencari kekurangan seorang Arsha saat ini, tapi bukan berarti tidak ada kekurangan dalam diri Arsha. Manusia tidak ada yang terlahir sempurna, Arsha mungkin terlalu pintar menutupi satu kekurangannya.
"Lo memang sempurna Ar, hampir enggak punya kekurangan."
Apa itu sebuah pujian untuk Arsha dari Rania? Jika benar, ini sebuah keajaiban di puji langsung oleh gadis itu.
Belum sempat Arsha berbicara, Rania sudah terlebih dahulu melanjutkan ucapannya.
"Tapi sayang, lo terlalu mudah buat anak anak baper sama lo. Dan lo selalu kasih mereka harapan yang mungkin lo sendiri cuma iseng, gue enggak suka orang yang suka mempermainkan perasaan orang lain apalagi perempuan. Jadi, gue punya satu atau mungkin dua alasan kuat untuk enggak suka sama lo Arsha."
Deg
Jadi kesimpulannya, Rania tidak menyukai orang yang suka tebar pesona dengan gadis lain? Apa itu artinya, gadis itu sudah lama cemburu dan akhirnya muak dengan sikap Arsha yang selalu berganti pasangan padahal mereka hanya sebatas teman.
"Gue enggak pernah kasih mereka harapan, mereka sendiri yang terlalu berharap sama gue. Jadi, salah gue dimana. Dan itu enggak bisa di jadikan patokan lo enggak suka sama gue, atau lo emang udah dari lama suka sama gue makanya lo cemburu kan liat gue banyak yang deketin." Ucap Arsha percaya diri, memang tidak ada salahnya memiliki rasa percaya diri yang tinggi tapi seharusnya Arsha sadar dengan siapa dirinya sedang berbicara. Rania bukan gadis yang mudah jatuh cinta dengan laki laki yang suka gonta-ganti pasangan, dan tentunya Arsha tergolong laki laki seperti itu bukan?
Rania melihat Arsha heran, kenapa ada manusia yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi semacam Arsha dan parahnya Rania mengenal laki laki itu.
"Lo mungkin enggak pernah sadar udah kasih mereka harapan, dan gue enggak pernah suka atau ada niatan untuk suka sama lo."