Bagian 1

546 Kata
Seorang perempuan cantik berkaki jenjang turun dari mobil. "Selamat Pagi, Dok" seseorang menyapa sambil membuka pintu mobil. "Selamat Pagi, Pak" jawabku. Seorang suster menghampiriku sambil membawa catatan medis seorang pasien yang menunggu untuk di operasi. "Apakah semua peralatan sudah siap?" tanyaku. "Sudah semua Dok" jawab suster itu. Kami lalu berjalan menuju ke ruang operasi. Peluh menetes dari dahiku, mukaku menunjukkan keseriusan menjalani operasi hari itu. Diluar sepasang suami istri menunggu di depan pintu operasi dengan kecemasan. Mereka mengkhawatirkan keadaan anaknya yang sedang dioperasi. Aku telah selesai mengoperasi pasien, kemudian berjalan membersihkan diri. "Tolong dilanjutkan dijahitnya ya, saya masih ada pasien lain yang menunggu" kataku "Baik Dok" jawab suster di dalam kamar operasi. Aku melangkah keluar dari ruang operasi, lalu menuju ke kamar pasien yang sedang mengamuk hebat di dalam kamarnya. "Bagaimana keadaannya Sus?" tanyaku pada suster yang melangkah dibelakangnya. "Sekarang dia sedang mengamuk Dok. Karena penyakitnya tidak kunjung sembuh" jawab suster itu. "Ya sudah mari kita lihat, siapkan peralatan akupuntkur nya" sahutku. "Baik Dok" jawab suster. Adinda ini selain menjadi Dokter Bedah dia juga pandai sekali dalam pengobatan Akupuntkur. Dia melangkahkan kakinya menuju ke kamar pasien tersebut. "Apa kabar Pak?" tanyaku ke pasien itu. "Kabar buruk Dok, rasanya ingin mati" sahut pasien itu. "Kalau begitu mari silahkan saya akan memulai pengobatan" kataku sambil membuka peralatan akupuntkurnya. "Tidak Dok, saya tidak mau ditusuk jarum - jarum itu" sahut si pasien dengan ketakutan. "Kan biar lekas sembuh Pak, makanya sini saya obati" jawabku sambil membuka baju si pasien. "Tidakk Dok, saya tidak mau" sahut pasien ketakutan. "Kalau tidak begini Bapak tidak akan sembuh" kataku sambil menusukkan jarum ke tubuh pasien. "Sakiittt Doookkkkkkkkk" teriak si pasien sampai terdengar keluar pintu. Orang - orang terkaget kaget mendengar teriakan pasien di dalam kamar rawatnya. Adinda keluar dari ruangan pasien dibelakangnya ada suster yang mengikutinya. "Sus, tolong dijaga pasien tersebut ya. Beliau tadi sudah tenang, nanti kalau ada keluhan segera hubungi saya ya?" kataku ke suster tersebut. "Baik Dok" sahut suster dengan tersenyum bangga melihat Adinda. Adinda segera keluar dari Rumah Sakit untuk menghirup udara segar. Dia tidak menyadari dari arah utara ada mobil yang melaju kencang. Seketika dia tertabrak mobil tersebut, badannya terpelanting dengan kerasnya ke tanah. Dia merasakan bumi berputar dengan kencang dan dia merasakan sakit dikepalanya, sakit seperti dihantam s*****a tumpul. "Nona Muda, saya tidak berbakti. Maafkan saya Nona Muda" sayup sayup terdengar suara menangis. Aku membuka mata dengan perlahan, dan aku melihat sekeliling. Terlihat begitu asing, dia melihat jari tangan dan melihat baju serta melihat orang-orang disekelilingnya. Dia kaget karena semua terasa asing buat dia. "Aku ada dimana ini?" kataku lirih. "Nona Muda, Anda sudah bangun. Maafkan hamba Nona Muda, hamba tidak bisa menjaga Nona Muda dengan baik" sahut seorang wanita paruh baya. "Siapa kamu? Dan aku ada dimana?" sahutku. "Nona Muda, hamba pelayan tua Nona. Apakah Nona Muda sudah lupa?" jawab wanita itu khawatir. "Aku lupa semuanya, dan aku lupa siapa aku" sahutku. "Nona, Anda adalah Nona Muda Wu Zetian. Anda diasingkan ke gubuk ini karena Nona terserang penyakit yang menular. Dan Anda adalah anak dari mendiang Ratu Kerajaan Nanyi. Nona diasingkan kesini oleh Selir Raja, dan Nona adalah calon Permaisuri dari Putra Mahkota Kerajaan Lin Hua" cerita pelayan itu. "Haahh??!!! Aku dimasa Kerajaan Lin Hua? Aku calon Permaisuri??" ucapku terkaget - kaget dan pingsan. "Nonaaaaa" teriak pelayan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN