"Nona, mohon bangunlah. Hamba sangat ketakutan sekali, Nona" sang pelayan berupaya membangunkanku.
"Bibi, tolong ambilkan air" sahutku masih memejamkan mata.
"Baik Nona sebentar hamba ambilkan" jawabnya.
Aku terbangun duduk diatas tempat tidur, aku turun dari tempat tidur melangkah ke arah cermin. Aku memegang wajah itu, sangat terasa asing sekali.
"Ada apakah ini? Kenapa aku bisa sampai berada disini? Lalu siapakah gadis ini?" pikirku.
Tiba-tiba dari cermin muncul bayangan seorang perempuan dan sekelilingku terasa berhenti waktunya. Bayangan itu keluar dari cermin lalu menyentuh wajahku.
"Siapa kamu? Apakah kamu pemilik tubuh ini?" tanyaku.
"Perkenalkan aku adalah Wu Zetian. Aku adalah anak dari mendiang Ratu di kediaman Nanyi, aku diasingkan disini karena perintah Selir Pertama dari Raja Nanyi. Dia melakukan itu karena dia ingin menggantikan aku menikahkan anak perempuannya dengan Putra Mahkota Raja Lin Hua Ying Li Yunxiao. Aku sudah mati, lalu tergantikanlah arwahmu yang memasuki tubuhku. Tolong jaga tubuhku dan balaskan dendamku pada Selir dan anaknya. Selir dan anaknya lah yang membuatku terlihat seperti ini. Aku percayakan tubuhku padamu" jawab pemilik tubuh ini.
"Lalu seperti apakah perbuatan mereka hingga membuat kamu ingin membalas dendam pada mereka?" tanyaku kembali.
"Merekalah yang menyebabkan aku sakit, aku diracun sedikit demi sedikit. Dan racun itu membuat tubuhku menjadi seperti orang mempunyai penyakit menular. Ibu dan anak itu memang sangatlah kejam, Selir itulah yang juga menyebabkan Ibu ku mati. Dia meracuni ibuku, tetapi ayahku diam saja tidak mencoba mencari tahu semuanya. Aku membenci mereka semua, maka dari itu balaskan dendamku pada mereka semua. Jaga tubuhku dan Bibi Yin, aku percaya padamu Adinda" jawabnya.
"Baiklah aku akan menjaga tubuhmu ini, bagaimanapun juga kamu sudah meninggal dan sekarang tubuh ini akan menjadi tubuhku. Berikanlah saja ingatanmu padaku tentang masa lalumu, aku akan mencari cara bagaimana membalas dendam kepada mereka." sahutku pasti.
"Terima kasih Adinda" jawabnya sambil memegang wajahku lalu mendekatkan keningnya ke keningku.
Sekilas ingatan ingatan itu muncul satu persatu, membuat aku menjadi pusing. Tiba - tiba saja waktu seakan mulai berjalan lagi.
"Nona, ini air nya. Mari hamba bantu untuk membasuh tubuh Nona" kata Bibi Yin tiba-tiba.
"Terima Kasih, Bibi Yin" jawabku.
Lalu Bibi Yin menyeka seluruh tubuhku dengan lembut. Aku merasakan denyut nadi yang sangat lemah.
"Bibi Yin, apakah ada uang yang bisa dipakai untuk membeli sesuatu?" tanyaku.
"Ada Nona, Nona tidak pernah memakai uang tersebut selama berada disini. Jadi uang itu masih utuh, dan makanan juga dibawakan dari Rumah Utama." sahut Bibi Yin.
"Ambilkan kertas dan pena" jawabku.
Lalu Bibi Yin pergi mengambil beberapa barang yang aku minta, lalu menyerahkan padaku. Aku menulis beberapa obat herbal yang sekiranya ada dijaman sekarang ini.
"Pergilah keluar mencari beberapa herbal yang tertulis disana, jangan sampai ada orang yang tahu." ujarku.
"Baik Nona, hamba akan segera kembali" jawab Bibi Yin dengan heran.
Sambil menunggu Bibi Yin pulang dari membeli beberapa barang, aku memeriksa tubuh ini dengan seksama. Dan disana aku segera tahu bahwa aku sudah diracun sekian lama hingga menyebabkan tubuh ini menjadi lemah dan semakin memburuk. Meridian spiritual nya juga sudah memburuk hingga tidak bisa merasakan aliran udara dari luar.
"Nona, hamba kembali. Semua permintaan Nona sudah hamba belikan" kata Bibi Yin yang sudah pulang dari membeli barang.
"Tolong rebus semua lalu masukkan ke dalam bak mandi dan biarkan hangat. Aku ingin mandi menggunakan herbal itu" jawabku.
Bibi Yin lalu pergi untuk mempersiapkan perlengkapan mandi dan merebus herbal yang sudah aku minta. Sedangkan aku mencoba mencari titik akupuntkur yang sekiranya bisa membuatku merasa nyaman. Aku segera memberikan akupuntkur untuk tubuh ini, dan membiarkan reaksi yang sangat sakit menyiksa. Aku batuk dan mengeluarkan darah hitam, tanda racun itu sudah mulai berlarut dalam darahku.
"s**l, racun ini sangat membuat orang sakit seperti ini" gumamku.
"Nona, perlengkapan mandi sudah siap" kata Bibi Yin sembari masuk ke ruanganku.
"Tolong bantu aku membuka bajuku Bibi" jawabku.
"Baik Nona, mari hati-hati berjalan" kata Bibi Yin.
"Tolong aku mau mandi berendam. Apabila Bibi mendengar aku menjerit kesakitan, tidak perlu khawatir dan jangan mendobrak pintu. Aku akan berendam kira-kira sedikit lama, karena aku mau mencoba menyembuhkan sakit ini" kataku pada Bibi Yin.
"iya Nona, hamba akan mematuhi Nona" jawabnya dengan sedikit terheran-heran sambil keluar menutup pintu.
Aku lalu melangkahkan kaki untuk berendam diair yang sudah diberi obat herbal tadi. Aku merasakan seluruh tubuhku seperti ditusuk ribuan jarum, sangat menyakitkan. Akan tetapi aku sudah mencoba untuk membuat tubuh ini menjadi segar seperti sediakala. Semakin lama aku berendam didalam air berobat ini, semakin rasa sakit itu menyerangku. Dari perut terasa berputar-putar dan dari nadiku seolah sesuatu melesak ingin meledak. Darahku seakan mengalir deras dan kencang seakan-akan ingin meletus. Dan isi perutku seakan ingin mengeluarkan semua isinya. Air yang tadinya bening segar menjadi menghitam dan berubah menjadi bau yang sangat menyengat.
Setelah beberapa saat aku memanggil Bibi Yin untuk menyiapkan lagi 1 bak mandi yang berisikan obat herbal yang sudah dibelinya tadi. Bibi Yin terkejut melihat air yang aku gunakan untuk berendam sudah berubah warna menjadi menghitam. Aku meminta dia untuk tidak bertanya dan menunggu perintahku saja. Setelah selesai dia menyiapkan aku lalu berpindah ke bak yang baru, lalu memerintahkan dia untuk membuang bak yang sudah kotor tadi. Dan di bak kedua aku merasakan hal yang sama akan tetapi tidak lagi seperti tadi, aku merasakan aliran darahku sudah lancar dan normal kembali. Titik nadiku juga sudah tidak melemah lagi, perutku juga sudah terasa nyaman serta meridian spiritualku juga sudan terasa aliran udaranya. Air juga tidak berubah seperti tadi, aku sedikit lega. Aku bersyukur bisa membuang racun-racun yang ada ditubuh ini.
"Bibi, tolong siapkan baju gantinya" kataku.
"Baik Nona, hamba akan menyiapkannya" sahutnya.
Setelah selesai mandi aku pun mengganti pakaianku. Badanku terlihat lebih segar dan lebih harum, serta menjadi makin bersih dari yang sebelumnya.
"Bibi, apabila nanti ada pelayan yang membawakan makanan tolong jangan perbolehkan masuk" kataku.
"Baik Nona, tanpa Nona suruh juga mereka tidak akan mau masuk ke dalam rumah karena mereka takut tertular penyakit Nona" sahutnya.
Dari jauh terdengar langkah kaki, Bibi Yin segera keluar untuk menyambut kedatangan para pelayan. Dan segera mengambil makanam yang sudah dikirim kemari, mereka lalu pergi setelah menyerahkan makanan ke kami.
"Nona, makanannya sudah datang. Hamba akan menyiapkan untuk Nona" katanya.
"Tunggu, tolong letakkan saja disana dan keluarkan makanan itu. Dan ambilkan juga jarum perak yang sudah Bibi beli tadi" perintahku.
"Baik Nona" jawab Bibi Yin dengan penuh pertanyaan.
Aku segera mengecek makanan itu dengan jarum perak, dan benar juga dugaanku bahwa makanan itu sudah diracun dari Rumah Utama. Aku memerintahkan Bibi Yin untuk membuang makanan itu, lalu memerintahkan dia untuk pergi keluar membeli makanan dan beberapa herbal lagi.
Aku menyiapkan beberapa peralatan untuk memeriksa kesehatan Bibi Yin, setelah Bibi Yin pulang kami pun makan.
"Bibi, selepas makan aku akan memeriksa keadaan Bibi" kataku.
"Baik Nona" jawabnya.
Aku memeriksa keadaannya dan benar juga seperti dugaanku dia juga sudah terkena racun karena memakan makanan yang sama denganku. Aku meminta ke Bibi untuk mandi dengan herbal yang sama denganku dan menyiapkan 2 bak air yang sudah diberi herbal. Aku berpesan ke Bibi kalau merasakan sakit aku minta dia untuk menahannya.
Setelah beberapa lama menunggu keluarlah Bibi Yin.
"Saat hamba berendam tubuh dan perut hamba sangat sakit sekali Nona, lalu tiba-tiba air berubah menghitam dan bau sangat menyengat. Lalu hamba teringat perintah Nona agar berendam selama waktu yang sudah ditentukan. Setelahnya lalu hamba berpindah ke bak mandi yang baru, hamba merasakan tubuh menjadi segar kembali dan warna air tidak berubah sama sekali Nona. Ada apakah dengan tubuh hamba ini Nona" tanyanya padaku.
"Itu adalah racun, makanan yang setiap hari dikirim dari Rumah Utama itu sengaja diberikan racun untuk membunuh kita Bibi" jawabku.
"Kurang ajar jadi ini adalah ulah dari orang-orang Rumah Utama. Bagaimanapun kita harus mencari cara untuk membalasnya Nona" kata Bibi Yin dengan marah.
"Tenang saja Bibi. Kita akan membalas perbuatan mereka ini dengan perlahan dan sangat kejam, hingga mereka tidak akan berani lagi mengganggu kita" jawabku.
Ya, Rumah Utama kita akan membalas perbuatan kalian ini dengan cara yang sungguh berbeda dan membuat kalian akan berhenti mengganggu kehidupan kami kelak.