Acara keluarga itu akhirnya berakhir menjelang larut malam. Satu per satu tamu mulai berpamitan, suasana rumah kembali lengang. Kylla berdiri di samping Ethan, masih mengenakan senyum sopan meski tubuhnya mulai terasa lelah. Ia sama sekali tidak menyangka malam itu akan begitu emosional baginya. Marisa mendekat ketika mereka hendak berpamitan. Dengan senyum hangat, ia meraih tangan Kylla. “Kylla, ikut Mama pulang satu mobil, ya,” ajaknya lembut. “Papa juga kangen ngobrol sama kamu.” Kylla sempat terkejut. Ia menoleh refleks ke arah Ethan, bingung harus menjawab apa. Belum sempat membuka mulut, Ethan lebih dulu bersuara. “Ma,” ucapnya datar namun tegas, “Kylla pulang sama aku saja.” Marisa mengangkat alis, menatap putranya dengan sorot penuh arti. “Kenapa? Dia kan menantuku. Masa pulan

