1.Dinikahi Karena Hutang Keluarga
Hujan sore itu turun pelan, seperti sengaja mengulur waktu. Kylla Amora berdiri di ambang pintu ruang tamu, memeluk tas selempangnya erat-erat. Mata gadis sembilan belas tahun itu memerah, bukan karena lelah, tetapi karena ia baru saja mendengar sesuatu yang menghancurkan seluruh rencana hidupnya.
"Ayah... Kak Ardi... Kak Revan... tolong jangan bercanda seperti ini." Suaranya bergetar. "Aku aku masih kuliah. Aku sudah diterima. Bagaimana bisa kalian minta aku--aku--"
"Menikah," potong Revan, kakak keduanya, dengan nada dingin. "Kylla, ini bukan lelucon. Kita tidak punya banyak pilihan."
Ayahnya, yang sejak tadi duduk membungkuk sambil memijat pelipis, menatap putrinya dengan mata yang dipenuhi penyesalan. "Maafkan ayah, Nak. Tapi hutang kita terlalu besar. Kalau rumah ini disita, kita semua akan hancur. Ethan Maver Wilson sudah menyelamatkan kita... hanya dengan satu syarat."
"Yaitu menyerahkan aku?" suara Kylla pecah, seperti kaca yang jatuh ke lantai.
Ardi, sang sulung, berdiri dan mendekat. "Bukan menyerahkan, tapi... hanya sementara. Sampai hutang kita lunas."
"Hanya sementara?" Kylla tertawa miris. "Aku bukan barang yang boleh kalian pinjamkan. Aku bukan jaminan hidup kalian!"
Sementara itu, jauh dari rumah Kylla, sebuah kantor luas berwarna abu-abu metalik berdiri megah. Di lantai tiga puluh dua, Ethan Maver Wilson menatap keluar jendela kaca yang menyuguhkan pemandangan kota. Tubuh tegapnya bersandar pada meja kerja, jas hitamnya terlihat pas seperti biasa.
"Semua persiapan berjalan sesuai jadwal, Tuan," ucap asistennya, Samuel, sambil memeriksa tablet di tangannya. "Gedung sudah di-booking. Dokumen pernikahan disiapkan. Keluarga Amora hanya perlu--"
"Setuju," potong Ethan perlahan, suaranya rendah dan datar.
Senyap sejenak.
"Apakah Anda yakin ingin tetap menikah, Tuan?" tanya Samuel ragu-ragu. "Tuan tahu, ini mendadak. Dan... ini bukan cinta."
Ethan menghembuskan napas panjang--napas yang terdengar seperti menahan sesuatu lebih berat dari sekadar keputusan bisnis. "Kita sudah sepakat. Aku memenuhi tuntutan keluarga. Mereka menyelamatkan nama baik perusahaan lima tahun lalu. Sekarang aku--"
Ia terdiam. Matanya berkabut. Kenangan itu kembali.
Seorang wanita. Tertawa kecilnya. Aroma lavender. Suara lembut memanggil namanya.
Dan kemudian... berita itu. Kecelakaan. Manipulasi. Pengkhianatan bisnis. Kematian.
Bahwa cintanya direnggut oleh musuhnya. Bahwa ia tak pernah lagi menatap mata perempuan lain dengan cara yang sama.
"Kau belum bisa move on dari mendiang Naira, Tuan," ujar Samuel pelan. "Tidak salah untuk menunda pernikahan kalau--"
"Tidak." Ethan menoleh, tatapannya tajam, dingin, dan rapuh sekaligus. "Aku sudah berjanji pada Ayahku. Umurku sudah tiga puluh dua. Keluarga menuntutku menikah. Ini kewajiban... bukan pilihan."
Samuel mengangguk, tahu bahwa membantah hanya akan memperburuk suasana.
"Dan tentang gadis itu... Kylla Amora," Ethan melanjutkan. Nama itu meluncur dari bibirnya seperti sesuatu yang asing. "Pastikan semuanya siap. Aku tidak ingin ada yang salah."
"Kalian tidak bisa melakukan ini padaku!" Kylla menjerit, air mata jatuh membasahi pipi. "Aku punya mimpi! Aku sudah berkerja keras, aku ingin kuliah! Kenapa aku harus menjadi... tumbal?"
Ayahnya bangkit dan memeluk bahu Kylla, namun gadis itu menepisnya.
"Kylla... Ethan bukan orang jahat. Dia... dia hanya butuh seorang istri untuk memenuhi tuntutan keluarganya. Dan dia berjanji akan menjaga--"
"Sampai kapan?!" Kylla memotong. "Sampai kalian membayar hutang itu? Kapan? Lima tahun? Sepuluh tahun? Apa aku harus tinggal di rumah pria asing selama itu?"
Ardi menghentakkan napas berat. "Kylla, kalau kita menolak... rentenir itu akan mengambil semuanya. Termasuk keselamatan kita."
Kylla menutup wajah dengan kedua tangannya. Dunianya runtuh dalam hitungan jam.
Universitas, masa depan, kebebasan--semua menghilang seperti kabut.
Dan sebagai gantinya, sebuah nama terpatri kuat di kepalanya.
Ethan Maver Wilson.
Pria yang bahkan belum pernah ia temui.
Pria yang akan dipaksakan menjadi suaminya.
Di kantor, Ethan meremas jembatan hidungnya. "Kirim undangan keluarga kecil saja. Pernikahan ini hanya formalitas."
Samuel menunduk. "Baik, Tuan."
Saat Samuel keluar, Ethan menutup mata sejenak.
Hatinya kosong, setenang laut sebelum badai.
"Maafkan aku, Naira," bisiknya.
"Aku melakukan ini demi keluarga. Bukan karena aku sudah melupakanmu."
Dan pada hari yang sama--tanpa saling mengenal, tanpa menatap wajah masing-masing--
Kylla dan Ethan mengambil langkah pertama menuju pernikahan yang tidak mereka inginkan.
Sebuah perjanjian yang akan mengubah hidup mereka...
Dan tak satu pun dari mereka tahu bahwa perjanjian itu akan membawa mereka lebih jauh daripada sekadar hutang dan tuntutan keluarga.
***
Hari itu harusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup seorang perempuan. Namun bagi Kylla Amora, gaun putih yang melingkari tubuhnya terasa seperti rantai dingin yang mengikat, bukan simbol sebuah awal baru.
Ia duduk di ruang tunggu kecil di belakang aula pernikahan, jemarinya saling meremas hingga memutih. Pandangannya kosong. Nafasnya naik turun tidak teratur.
Hari ini... ia akan menikah. Dengan seseorang yang bahkan tidak ia kenal. Seseorang yang seharusnya bukan bagian dari hidupnya, apalagi masa depannya.
Pintu diketuk pelan. Revan masuk, wajahnya memancarkan rasa bersalah yang sama seperti beberapa hari terakhir.
"Kylla," panggilnya lembut. "Semua sudah siap."
Kylla tidak menjawab. Tak ada yang bisa ia katakan. Ia bangkit perlahan, langkahnya berat seakan tiap langkah adalah pengorbanan. Jantungnya berdebar, bukan karena bahagia menyambut hidup baru, melainkan... takut. Gelisah. Terperangkap.
Ketika pintu aula terbuka, Kylla terdiam. Ruangan itu tidak terlalu besar, namun cukup elegan. Bunga putih menghiasi setiap sudut. Para tamu hanya keluarga inti kedua belah pihak--sesuai permintaan Ethan yang menghendaki acara sederhana.
Mata Kylla langsung tertuju pada lelaki yang berdiri di altar.
Ethan Maver Wilson.
Untuk pertama kalinya ia melihat pria itu secara nyata--dan entah kenapa dadanya berdebar lebih keras.
Pria itu tinggi, posturnya tegap, wajahnya tegas dengan garis rahang tajam seperti pahatan terbaik. Setelan hitam yang ia kenakan membingkai tubuh besarnya dengan sempurna. Namun yang paling mencolok adalah matanya--gelap, datar, tanpa emosi.
Tidak ada senyum ketika Kylla melangkah mendekat. Tidak ada sambutan hangat. Tidak ada ketertarikan sedikit pun dalam tatapan pria itu.
Ia berdiri di sana seakan hanya menjalankan formalitas... seakan gadis yang akan menjadi istrinya hanyalah nama dalam dokumen kesepakatan.
Kylla menelan ludah, dadanya terasa sesak.
Upacara dimulai. Suara penghulu terdengar lembut namun tegas, tetapi bagi Kylla semuanya hanya terdengar seperti gema jauh yang kabur. Telinganya hanya menangkap suara detak jantungnya sendiri.
Saat tiba giliran mengucapkan janji suci, tangannya bergetar hebat.
"Silakan, Nona Kylla," ucap penghulu.
Kylla mengangkat wajah. Pandangannya bertemu tatapan Ethan. Tatapan tanpa kedalaman, tanpa rasa, tanpa secercah ketertarikan. Seolah pria itu menatap seseorang yang sama sekali tidak berarti baginya.
"Sa--saya... Kylla Amora..." suaranya tercekat. Nafasnya tertahan. "Menerima... Ethan Maver Wilson sebagai suami saya..."
Kata-kata itu nyaris tak keluar. Lagipula, bagaimana bisa ia menerima seseorang yang bahkan tidak pernah memilihnya?
Penghulu berpindah pada Ethan. Pria itu mengucapkan janjinya dengan suara rendah dan bariton, stabil tanpa sedikit pun ragu.
"Saya, Ethan Maver Wilson. Menerima Kylla Amora sebagai istri saya."
Tak ada jeda emosional. Tak ada kelembutan. Hanya suara yang begitu tenang hingga terdengar hampir... dingin.
Ketika cincin meluncur ke jari Kylla, tangannya nyaris tak terasa. Ethan menyentuhnya sebentar--singkat, sepersekian detik--namun cukup untuk membuat gadis itu merasakan betapa dinginnya pria ini. Bukan dingin jas, bukan dingin ruangan. Dingin hati.
"Dengan ini, kalian sah sebagai suami dan istri."
Para tamu bertepuk tangan pelan. Kylla merasa seperti sedang menyaksikan hidup orang lain.
Ia melirik ke arah Ethan. Pria itu tetap sama--wajah datar, tanpa senyum, tanpa emosi. Seolah pernikahan ini bukan apa-apa. Seolah Kylla hanyalah kewajiban yang harus ia tunaikan.
Tidak ada tatapan mesra. Tidak ada genggaman tangan menenangkan.
Hanya jarak dingin di antara dua orang asing yang tiba-tiba sah sebagai suami–istri.
Kylla menunduk. Air mata yang ia tahan sejak pagi terasa ingin pecah. Hari ini bukan miliknya. Masa depannya bukan lagi miliknya.
Dan kini ia harus menjalani hidup bersama lelaki yang bahkan tidak mau menoleh padanya. Ketika mereka berjalan keluar altar, Ethan hanya berkata satu kalimat tanpa menatapnya:
"Kita akan bicara di rumah nanti."
Nada suaranya rendah, datar, dan sulit ditebak. Kylla meremas buket bunga di tangannya, mencoba menahan gemetar.
Rumah.
Kini rumahnya adalah rumah pria asing itu.
Pernikahan ini baru saja dimulai...
Dan Kylla tidak tahu apakah ia harus merasa takut, pasrah, atau berharap bahwa semua ini hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir.